
Selamat Membaca 😘😘😘😘
Bima bangkit dari posisi duduknya dan ia ayunkan langkah kakinya untuk mendekat ke arah Firman. Nasib baik memang sedang berpihak kepada asisten pribadi Wisnu itu. Kursi yang berada di belakang Firman nampak kosong dan akan Bima gunakan untuk mengintai gerak-gerik lelaki itu.
"Ahhh Sayang, mengapa nanti malam kita tidak bisa berkencan? Padahal aku ingin jalan-jalan keluar bersamamu."
Masih bergelayut manja di pelukan Firman, Stevi mulai melancarkan aksi-aksi manjanya untuk bisa membujuk sang kekasih agar mau diajak berkencan. Semakin hari, wanita itu justru terlihat lebih posesif, seakan ingin segera memiliki Firman seutuhnya. Dan tidak mau jika sampai kekasihnya ini mengabaikannya.
Firman membuang nafas sedikit kasar. Sedari tadi, ia sudah berupaya untuk menolak kemauan Stevi ini, namun lagi-lagi hanya kegagalan yang ia dapatkan. Stevi masih kekeuh ingin berkencan malam ini.
"Tidak bisa Stev. Sudah beberapa hari aku mengabaikan Jenar, aku tidak ingin jika sampai Jenar curiga."
"Jadi, kamu jauh lebih memikirkan perasaan pacar kamu itu daripada aku? Ingat ya Sayang, aku yang sudah memberikan kenikmatan untukmu. Sedangkan gadis kampung itu? Tidak ada yang bisa ia berikan ke kamu!"
Stevi merenggangkan pelukannya. Masih berada di atas pangkuan Firman, wanita itu bersedekap dada. Bibirnya mengerucut seakan mengeksprsikan rasa kesal yang memenuhi ruang-ruang hati.
"Bukan seperti itu Stev, maksudku...."
"Apa maksudmu jika kamu tidak memprioritaskan aku Fir? Kamu masih saja mengabaikan kemauanku. Dan justru lebih memperdulikan perasaan gadis kampung itu."
Melihat amarah Stevi yang sudah meletup-letup, membuat Firman semakin frustrasi saja. Ia sampai tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa membujuk kekasih gelapnya ini agar mau mengerti.
"Ya sudah begini saja. Nanti malam kita berkencan, namun di sore hari, biarkan aku menjemput Jenar terlebih dahulu ya. Aku melakukan ini agar dia tidak curiga."
__ADS_1
Saat semuanya terasa semakin frustrasi, Firman mencoba untuk bernegosiasi dengan Stevi. Barangkali saat ini wanita itu mau untuk diajak berkompromi.
"Huh, lagipula apa yang kamu harapkan dari gadis kampung itu sih? Sampai kamu selalu memprioritaskan dia? Ingat ya Fir, dia tidak bisa memberikan seperti apa yang aku berikan kepadamu."
"Iya, aku paham itu Stev. Namun sekali saja biarkan aku menjemput Jenar agar aku bisa tetap mempertahankan hubunganku dengannya sampai nanti saat aku meninggalkannya."
Stevi nampak menimbang-nimbang akan apa yang diucapkan oleh Firman. Pada akhirnya, wanita itu menganggukkan kepala. Tidak jadi masalah juga jika Firman menjemput Jenar terlebih dahulu. Toh pada akhirnya ia tetap bisa berkencan dengan lelaki itu bukan?
"Baiklah. Aku mengizinkanmu menjemput Jenar. Tapi awas, jangan mesra-mesra dengan gadis itu. Aku tidak rela kalau kamu sampai bermesraan dengan Jenar."
Firman sedikit melongo kala mendengar permintaan Stevi yang terdengar sedikit berlebihan ini.
Permintaan itu sungguh sangat berat untuk aku lakukan Stev. Karena pada dasarnya tubuh Jenar seperti memiliki daya magnet yang bisa menarik perhatianku. Tubuhnya yang sempurna juga membuatku terbuai. Dan aku yakin jika Jenar masih memiliki keperawanan itu. Berbeda dengan kamu yang sudah bekas dari pertama aku nikmati. Sebelum aku meniggalkan Jenar, aku ingin lebih dulu menikmati lekuk tubuh gadis itu.
"Baiklah, aku tidak akan bermesraan dengan Jenar. Dan kamu bisa memegang perkataanku ini Stev!"
Bima yang melihat adegan sepasang manusia itu hanya bisa terperangah. Jemari yang memegang ponsel untuk merekam adegan Firman seketika bergetar hebat. Ia teramat shock dengan apa yang dilakukan oleh Firman dan Stevi. Tidak menyangka jika ada sepasang kekasih yang tanpa tahu malu melakukan hal-hal semacam ini. Merasa bukti yang ia dapatkan sudah cukup, gegas Bima beranjak dari posisinya dan kembali ke tempat semula.
Sedangkan Wisnu, telapak tangan duda itu mengepal erat. Dadanya seakan terasa bergemuruh layaknya ombak di lautan yang memecah batu karang. Gadis sebaik dan secantik Jenar, ternyata memiliki calon suami tiada berakhlak dan begitu tega menghancurkan hati sang gadis dengan berselingkuh di belakang Jenar.
Aku pastikan sampai kapanpun Jenar tidak akan pernah menjadi milikmu Fir. Jika aku tidak bisa memiliki Jenar, setidaknya Jenar tidak boleh memiliki calon suami macam biawak seperti kamu ini. Lihat saja, mulai hari ini, aku lah yang akan melindungi Jenar.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Jadi Tuan tidak ingin langsung memberikan bukti ini kepada Jenar?"
__ADS_1
Kala jam kantor telah berakhir, Wisnu dan Bima masih terlihat duduk santai di dalam ruangan Wisnu. Dua orang itu masih harus membicarakan perihal rekan bisnis yang mereka temui siang hari tadi dan kini merembet ke perihal hasil rekaman yang mereka dapatkan di kafe siang tadi.
Wisnu hanya bisa membuang nafas sedikit kasar. Batinnya seakan berperang akan langkah apa yang harus ia ambil. Memperlihatkan rekaman ini kepada Jenar atau menyembunyikannya terlebih dahulu.
"Sepertinya memang begitu Bim."
"Apa alasannya Tuan? Bukankah jika saat ini Tuan bongkar langsung di hadapan Jenar, akan menjadi peluang bagi Tuan untuk mendekati gadis itu? Tuan pasti akan menjadi seorang pahlawan yang telah membongkar kebusukan Firman dan pastinya akan membuat Jenar berbahagia."
Bima sedikit keheranan dengan apa yang menjadi keputusan Wisnu. Seharusnya, Wisnu bisa mempergunakan peluang ini untuk bisa lebih dekat dengan Jenar. Namun kenyataannya, ia malah akan menyia-nyiakannya.
"Aku hanya ingin Jenar melihat apa yang dilakukan oleh Firman dengan mata kepalanya sendiri Bim. Aku hanya menginginkan itu."
"Tapi, jika Jenar melihat perselingkuhan Firman secara langsung, bukankah hal itu justru akan membuat Jenar semakin terluka Tuan? Akan berbeda rasa sakitnya antara Jenar melihat perselingkuhan Firman melalui rekaman ini dengan dia melihat secara langsung. Dan pastinya akan lebih sakit ketika ia melihat secara langsung."
Bak seorang konsultan yang merangkap sebagai psikolog, Bima mengutarakan argumentasinya. Ia berpikir akan jauh lebih menyakiti hati seorang gadis ketika melihat secara langsung perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangannya daripada melihat melalui rekaman ponsel.
Wisnu tetap menggelengkan kepala. Ia telah berpikir matang jika ia akan menyembunyikan rekaman ini terlebih dahulu.
"Saat ini aku lah yang akan menguatkan Jenar, Bim!"
"Hah, bagaimana? Bagaimana? Saya kurang paham Tuan."
"Mulai saat ini aku akan memberikan perhatian lebih untuk Jenar. Setidaknya aku bisa menjadi seseorang yang selalu mendukung apa yang ia lakukan. Dan jika nanti ia terluka akan perselingkuhan yang dilakukan oleh Firman, aku bisa menjadi bahu untuknya bersandar. Menjadi telinga di kala ia berkeluh kesah. Dan menjadi penawar lukanya."
.
__ADS_1
.
🍁🍁🍁🍁🍁