Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 41 : Ambigu


__ADS_3


Selamat Membaca 😘😘😘


"Mengapa grafik penjualan kita sedikit menurun ya Bim? Aku merasa hasil penjualan kita tidak sebanding dengan bahan baku yang kita pergunakan untuk memproduksi produk kita."


Wisnu sibuk berjibaku dengan laptop yang ada di depan mata. Di dalam laptop itu nampak grafik-grafik yang merupakan hasil laporan bagian marketing pabrik miliknya. Dari grafik itu nampak jika penjualan produk di bulan ini mengalami penurunan.


"Saya juga sedang menyelidikinya Tuan. Karena rasa-rasanya ada sedikit yang janggal."


"Bagaimana dengan permintaan pasar Bim? Apakah memang mengalami penurunan?"


Masih enggan berpaling dari layar laptop, Wisnu mencoba untuk mengurai benang merah akan penurunan penjualan produk dari pabrik miliknya. Ia coba untuk mengetahui permintaan pasar yang barangkali memang menurun sehingga berdampak pula dengan penurunan omzet.


Bima yang juga tengah fokus dengan laptop yang ada di depan mata, mencoba untuk membuka data-data produk yang didistribusikan. Lelaki itupun terlihat mengangguk-angguk kecil seolah tengah memahami apa yang tersaji di layar laptop miliknya ini.


"Di sini jumlah permintaan justru lebih banyak dan meningkat, Tuan. Bahkan dua kali lipat dari bulan lalu. Dan, dari bagian produksi, juga melaporkan kita memesan bahan baku juga dua kali lipat lebih banyak dari bulan sebelumnya."


"Jika meningkat dua kali lipat dari bulan lalu, seharusnya omzet penjualan kita juga meningkat bukan? Tapi di sini mengapa justru menurun. Letak kesalahannya ada di mana?"


"Nah, karena hal itulah saya berniat untuk menyelidikinya Tuan. Saya rasa ada yang bermain curang di sini."


Ucapkan Bima sukses membuat perhatian Wisnu yang sebelumnya fokus ke layar laptop, kini beralih ke bingkai wajah milik asisten pribadinya ini. "Curang? Curang bagaimana maksudmu Bim?"


Bima hanya tersenyum simpul. Karena sejatinya ia sudah mencurigai beberapa orang yang mungkin terlibat dalam perkara ini. Namun, ia masih belum bisa melakukan apapun karena tidak memegang bukti-bukti.


"Izinkan saya menyelidiki untuk mencari bukti terlebih dahulu Tuan. Sehingga jika sampai ada kecurangan di perusahaan ini, kita bisa langsung menyeret orang itu masuk ke dalam penjara dengan bukti yang kita miliki. Semoga dalam waktu dekat, kita akan menemukan orangnya."


Wisnu menarik udara dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan. Jika berhadapan dengan situasi seperti ini, memori otaknya kembali berkelana ke beberapa tahun yang lalu di mana pabrik milik sang oma ini hampir kolaps. Dan yang lebih mengejutkan lagi Dira, yang merupakan mantan istrinya terlibat di dalam permainan itu.


"Segera kamu selidiki perkara ini Bim! Aku tidak ingin pabrik ini kembali mengalami kebangkrutan seperti apa yang telah dialami oleh almarhum oma beberapa tahun lalu. Aku tidak ingin mengecewakan oma dan juga Dewa dalam mengemban tugas ini."


"Baik Tuan. Akan saya usut tuntas perkara ini." Bima kembali menutup layar laptop miliknya kemudian bangkit dari posisi duduknya. "Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya terlebih dahulu Tuan."


"Kembalilah dan terima kasih banyak Bim!"


"Sama-sama Tuan!"


Pada akhirnya, Bima mengayunkan langkah kakinya untuk keluar dari ruangan Wisnu. Tak selang lama, bayang tubuhnya menghilang di balik pintu dari penglihatan Wisnu. Sedangkan Wisnu, pimpinan perusahaan ini menyandarkan punggungnya di sandaran kurasi ergonomis yang ia duduki. Sesekali ia memijit-mijit pelipisnya untuk mengusir rasa pening yang tiba-tiba terasa begitu mendera.

__ADS_1


Apakah ada Dira-Dira lain yang akan membahayakan perusahaan ini?


🍁🍁🍁🍁🍁


Langkah kaki Jenar terayun menyusuri lorong-lorong kantor. Sembari membawa satu cup Thai tea, gadis itu bermaksud untuk menuju sebuah tempat yang menjadi tempat favorit untuk menghabiskan jam istirahat siang ini. Di mana lagi jika bukan di rooftop gedung. Sesekali gadis itu bernyanyi lirih seakan mengabarkan kepada dunia bahwa jam istirahat kantor ini merupakan waktu-waktu yang paling ia tunggu. Pastinya dengan bersantai ria.


Ayunan langkah kaki Jenar tiba-tiba terhenti kala di depan lift, ia bertemu dengan sosok laki-laki yang sengaja ia hindari. Bibir yang sebelumnya komat-kamit menyanyikan sebuah lirik lagu, mendadak bibir itu terkatup dan membisu. Gegas, ia berbalik badan dan bermaksud untuk berbalik arah agar dapat menghindar dari lelaki ini.


"Jen, tunggu!"


Wisnu sedikit berteriak lantang untuk menghentikan langkah kaki Jenar yang nampak seperti seseorang yang bertemu dengan makhluk tak kasat mata. Wisnu begitu heran mengapa tiba-tiba Jenar berbalik arah, padahal ia tahu bahwa karyawannya itu akan menggunakan lift. Namun tidak ada angin, tidak ada hujan, gadis itu nampak ketakutan dan mengurungkan niatnya.


Puk...


Akhirnya tangan Wisnu mampu untuk meraih pundak Jenar. Dengan begitu, langkah sang gadis terhenti. Jenar sedikit terkesiap kala pimpinan perusahaan ini berhasil menghentikan langkah kakinya.


"Jen, ada apa denganmu? Mengapa kamu terkesan menghindar dari saya? Apakah saya punya salah kepadamu?"


Tidak ingin terjebak dalam kebimbangan akibat perubahan perilaku Jenar, Wisnu langsung melontarkan sebuah kalimat tanya, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih perihal perubahan sikap gadis ini. Seharusnya Wisnu tidak perlu berlebihan dengan meminta penjelasan dari Jenar seperti ini dan memilih untuk mengabaikannya saja, namun entah mengapa gelagat aneh yang ditampakkan oleh Jenar begitu mengusik ketenangan batinnya.


Masih dengan membelakangi Wisnu, Jenar menggelengkan kepala lirih. "Tidak Pak, Bapak tidak memiliki salah apa-apa terhadap saya."


"Ermmmm... saya tidak bermaksud untuk menghindar dari Bapak. Namun, tatkala saya bertemu Bapak di depan lift tadi, saya baru ingat jika handphone saya tertinggal di tempat penjual Thai tea maka dari itu saya buru-buru berbalik arah untuk mengambil handphone milik saya."


Perkataan seperti itu meluncur bebas dari lisan Jenar. Ia bahkan tidak perduli jika sebenarnya ia tidak pandai berbohong dan bisa saja Wisnu mengetahui kebohongannya.


Mendengar perkataan Jenar, sungguh hanya membuat Wisnu tergelak lirih. Entah mengapa alasan yang terlontar dari bibir gadis ini terkesan mengada-ada. Gegas, ia memutar tubuh Jenar agar bisa bertatap netra langsung dengannya.


Sekilas, Wisnu memindai ekspres wajah gadis yang masih kekeuh menundukkan kepalanya ini. Dan tiba-tiba sorot mata Wisnu terhenti di bagian saku kemeja yang dikenakan oleh Jenar. Sesuatu yang berada di balik saku Jenar inilah yang semakin membuatnya semakin tergelak.


"Jangan sekali-kali mencoba untuk berkata tidak jujur jika memang kamu tidak memiliki bakat berbohong, Jen!"


Jenar sedikit tersentak. Tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh atasannya ini. "Maksud Bapak apa? Saya tidak berbohong perihal apapun terhadap Bapak."


"Yakin jika kamu memang tidak sedang berbohong kepadaku?"


Reflek, Jenar menganggukkan kepala. Meskipun saat ini ia berbohong, namun ia yakin jika Wisnu tidak mengetahui akan kebohongannya ini. Kebohongan bahwa ia memang tidak berniat mengambil handphone ke penjual Thai tea namun memang sengaja menghindar dari Wisnu.


"Yakin Pak, saya memang tidak sedang berbohong kepada Bapak."

__ADS_1


Wisnu semakin tergelak kala melihat ekspresi wajah Jenar yang sedikit nampak pias ini. "Lalu, apa yang ada di bagian dadamu itu Jen?"


Perkataan Wisnu yang terdengar ambigu seketika membuat Jenar tersentak seketika. Buru-buru ia menyilangkan lengan tangannya untuk menutupi area dada. Saat ini sesuatu yang terlintas di dalam benaknya adalah bagian dada miliknya terekspos. Entah karena seragamnya terlalu ketat atau mungkin ada bagian kancing seragamnya yang terbuka. Namun, jika seragam yang ia kenakan terlalu ketat, itu tidaklah mungkin karena bisa ia pastikan, seragam yang ia kenakan ini tidak membentuk lekuk-lekuk tubuhnya. Jadi satu-satunya alasan Wisnu menanyakan hal itu pasti karena ada kancing baju yang terlepas.


"Jangan kurang ajar ya Pak. Apa hak Anda melihat dada saya? Yang Bapak pertanyakan itu sungguh sangat tidak sopan!" geram Jenar sambil menatap kedua bola mata Wisnu dengan tatapan membidik.


Kaget, itulah ekspresi yang ditampakkan oleh Wisnu saat mendengar perkataan Jenar. "Kurang sopan bagaimana maksud kamu Jen? Saya hanya bertanya apa yang ada di bagian dada kamu itu? Poin tidak sopannya dari mana?"


Jenar menatap sinis wajah pimpinan perusahaan ini. Ia sungguh tiada percaya jika bosnya ini justru mengulang apa yang menjadi pertanyaannya yang semakin membuat otaknya berkelana hingga jauh.


"Nah itu, itu poinnya. Bapak bertanya perihal apa yang ada di bagian dada saya. Sudah sangat jelas bahwa hal itu tidaklah sopan, Pak!"


Dahi Wisnu sedikit mengerut. Ia resapi apa yang salah dari pertanyaan yang ia lontarkan ini. Dan pada akhirnya, ia paham jika gadis ini menafsirkan hal lain dari apa yang ia tanyakan.


"Ah, maksud saya, apa yang ada di balik saku seragam yang kamu kenakan itu Jen?"


Jenar yang sebelumnya menatap lekat manik mata sang bos, kini ia tundukkan kepalanya dan melihat apa yang ada di balik saku seragam yang ia kenakan. Tubuhnya terperanjat, kala sebuah handphone tersimpan di dalam sana.


"Eh, ini anu, tadi saya eeee...."


Mendadak gadis itu berubah menjadi gagu. Tidak menyangka jika kebohongan yang ia lakukan dengan ingin mengambil handphone di penjual Thai tea justru terbongkar seketika. Ia pun hanya bisa nyengir kuda.


"Saya lihat, kamu memang tidak pandai berbohong Jen, jadi untuk apa kamu harus berbohong?"


"Itu saya tadi hanya..."


"Coba katakan kepada saya. Apa yang membuatmu terkesan menghindar? Apakah ini salah satu permintaan kekasihmu untuk membatasi interaksimu dengan saya?"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca

__ADS_1


__ADS_2