Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 32 : Permintaan


__ADS_3


Selamat Membaca 😘😘


Wisnu PoV


Kupijakkan langkah kaki ini di balkon yang langsung menjorok ke halaman belakang. Taman dan kolam ikan koi di bawah sana nampak memenuhi pandangan kedua netraku. Dan suara-suara hewan malam juga terdengar memenuhi indera pendengaran. Aku mendongak, menatap lekat goresan tinta alam yang terbentang di kanvas langit malam ini. Sama seperti malam-malam sebelumnya, langit malam hari ini tetap ramai dengan benda-benda langit yang memamerkan kebersamaan mereka. Dan masih sama dengan keadaanku sebelumnya, saat ini pikiranku masih bertumpu pada sosok seorang gadis yang telah berhasil mencuri perhatianku.


Ku buang helaan napas ini sedikit kasar. Mencoba mengurai lilitan tali perasaan yang terasa semakin erat mengikat. Bagiku, gadis itu seperti angin lembut yang menggoyahkan perasaanku.


Aku belum tahu sampai kapan perasaan ini akan terus tumbuh. Rasa yang begitu bergemuruh. Dan rasa yang membuat hatiku luruh.


Apakah mungkin aku sedang jatuh cinta? Jatuh cinta kepada seseorang yang baru saja masuk ke dalam lembar cerita hidup? Hati yang selama ini selalu aku jaga untuk Dira, kemudian ia patahkan tanpa belas kasih dengan ketamakan yang ia punya dan kemudian aku biarkan seonggok daging bernyawa itu tertutup dan terkunci rapat, tidak akan membiarkan siapapun menjamahnya, namun saat ini sosok gadis itu menelusup masuk tanpa permisi. Menelusuri tiap relung-relung dada dan bersemayam di salah satu tempat yang berada di sana.


Apakah mungkin kehadiran gadis itu yang akan membuatku melanggar sumpah yang pernah aku ucapkan? Sebuah sumpah jika tidak akan pernah aku biarkan siapapun singgah. Dan sebuah sumpah jika aku akan menutup rapat pintu hati namun tanpa terduga dengan perlahan gadis itu masuk melalui celah hati. Ataukah sejatinya ia adalah sosok pemegang kunci hati? Ah, semakin aku memikirkannya justru semakin membuatku terjerat dalam pesonanya.


"Papa?"


Tubuh yang mematung, seketika terhenyak kala sebuah gelombang suara merembet masuk ke dalam indera pendengaran. Aku berbalik badan dan terlihat sosok gadis kecil dengan membawa boneka beruang mengayunkan pijakan kakinya ke arahku.


"Sayang? Mengapa terbangun?"


Aku ikut merapat ke tubuh putriku. Kurengkuh tubuhnya untuk aku bawa ke dalam gendongan, dan ku daratkan bokongku di sofa kecil yang berada di tempat ini sembari memangku tubuh Citra.


"Papa tadi mengapa pulang malam? Sampai Citra ketiduran menunggu Papa pulang."


Kudengar cicitan lirih yang keluar dari bibir mungil putriku ini. Ada sedikit rasa bersalah karena membiarkan putriku ini menunggu, namun mau bagaimana lagi karena aku sedang dihadapkan oleh keadaan yang cukup darurat.


"Papa minta maaf ya Sayang. Tadi Papa mengantar pulang salah satu karyawan di kantor Papa terlebih dahulu. Sehingga membuat Papa pulang sedikit terlambat."


"Memang siapa Pa? Apakah yang diantar pulang Papa itu cantik? Sampai Papa mau mengantarkan pulang?"


Tidak hanya cantik Nak. Tapi sangat cantik. Dan yang Papa antar itu adalah perempuan yang beberapa waktu yang lalu menolongmu berangkat ke sekolah ketika mobil pak Kasim mogok di tengah jalan.


Aku tergelak lirih. Rupa-rupanya putriku ini sudah mulai kritis dalam berpikir dan mengutarakan pendapatnya. Mungkin dia berpikir, aku baru akan memberikan pertolongan kepada orang lain jika orang itu cantik.


"Nak, ketika kita menolong seseorang kita tidak boleh memandang dari cantik atau tidaknya. Setiap orang yang memerlukan pertolongan, wajib kita bantu."

__ADS_1


"Tapi apakah yang ditolong Papa itu cantik?"


Aku menganggukkan kepala. Karena Jenar memang cantik bukan?


"Iya Sayang, yang Papa tolong memang cantik."


"Apakah boleh, jika besok Citra main ke kantor Papa, Papa mengenalkan Citra dengan kakak cantik itu?"


Oh, ternyata gadis kecilku ini begitu penasaran dengan Jenar. Lalu bagaimana jika ia bertemu langsung dengan sosok gadis yang pernah menolongnya itu? Ah, mungkin putriku ini akan sangat berbahagia.


Aku hanya mengulas senyum sembari menganggukkan kepala, sebagai isyarat bahwa aku menyetujui permintaan putriku ini.


"Tentu boleh Sayang. Besok Papa kenalkan dengan kakak itu ya."


"Terima kasih Pa."


Kudengar putriku sedikit memekik kegirangan. Dari raut wajahnya, ia terlihat begitu bahagia tiada terkira. Melihat putriku yang seperti ini entah mengapa aku semakin merasa bahwa putriku ini benar-benar kesepian. Karena memang pada dasarnya di rumah, ia hanya berinteraksi dengan mbok Darmi dan pak Kasim saja.


"Sama-sama Sayang."


Raut yang terbingkai dalam rona penuh kebahagiaan di wajah Citra mendadak sirna. Perubahan ekspresi putriku inilah yang membuat keningku seketika mengerut. Kulihat gadis kecilku ini tengah memikirkan sesuatu.


Wajah yang sebelumnya menunduk, kini sedikit ia dongakkan. Hingga aku dan Citra saling bertatap netra.


"Hari Sabtu yang akan datang, akan ada pentas kreativitas di sekolah Citra, Papa. Dan Citra akan tampil di atas panggung."


Aku sedikit terkejut dengan ucapan putriku ini. Aku tidak menyangka jika putriku ini menjadi salah satu murid yang terpilih untuk menunjukkan salah satu bakat yang ia punya.


"Benarkah seperti itu? Jika memang benar, seharusnya Citra berbahagia bukan? Karena dapat menunjukkan bakat yang Citra miliki di hadapan banyak orang?"


Kulihat gadis kecilku ini menganggukkan kepala. "Iya Papa. Citra sangat senang."


"Lalu, apa yang membuat putri Papa ini murung?"


Aku belai rambut milik putriku ini dan aku berikan kecupan-kecupan lembut di sana. Aku merasa, Citra memang sedang memikirkan sesuatu.


"Papa akan datang ke sekolah Citra untuk melihat Citra tampil di atas panggung kan?"

__ADS_1


Kudengar gadis kecilku ini sedikit takut dalam menyampaikan apa yang menjadi kegundahan hatinya. Namun seketika senyum manis terbit di bibirku saat tahu bahwa Citra khawatir jika aku sampai tidak dapat melihat penampilannya di atas panggung.


"Itu sudah pasti Sayang. Papa akan menghadiri acara itu. Apalagi putri Papa ini akan tampil di atas panggung. Akan sangat rugi jika Papa tidak turut menemanimu Sayang."


"Terima kasih, Pa."


Kulihat, Citra menganggukkan kepala dengan seutas senyum tipis yang terbit di bibirnya. Meski semburat kebahagiaan itu sudah sedikit nampak di wajah putriku, entah mengapa aku merasa jika masih ada sesuatu yang mengganjal di hati putriku ini.


"Apakah ada lagi sesuatu yang Citra pikirkan? Papa lihat, Citra masih sedikit murung?"


"Seandainya Citra masih punya bunda, pasti akan sangat menyenangkan bisa tampil di hadapan Papa dan juga bunda. Seperti teman-teman yang lain, Pa. Mereka mengatakan bahwa papa dan juga mama mereka akan hadir menemani teman-teman Citra itu."


Kulihat Citra sedikit menjeda ucapannya. Aku masih terdiam, bermaksud mendengarkan dengan seksama apa yang sebenarnya dirasakan dan diinginkan oleh putriku ini.


"Papa?"


"Ya Sayang?"


"Jika besok ketika Citra tampil, Papa mengajak seseorang untuk menjadi bunda Citra, apakah Papa bisa mengabulkannya? Citra ingin seperti teman-teman yang lain, didampingi oleh papa dan mama."


Permintaan Citra sukses membuat tubuhku terhenyak seketika. Aku terperangah sedikit tidak percaya dengan apa yang menjadi permintaan putriku ini. Kalau saja Mara ada di kota ini, mungkin aku bisa langsung meminta tolong kepada adik iparku itu. Namun saat ini, aku tidak memiliki siapa-siapa dan hanya ada mbok Darmi seorang.


Aku hanya tersenyum simpul. Meski nampak begitu sulit untuk mengabulkan permintaan Citra, namun aku tidak ingin membuatnya bersedih hati. Pada akhirnya aku menganggukkan kepala. "Coba lihat besok ya Sayang. Papa akan mencarikan seseorang yang bisa menjadi bunda untuk Citra."


Wajah Citra kini terlihat berbinar sempurna. Ia seperti seorang anak kecil yang ditinggal ibunya pergi merantau dan saat ini mendengar kabar bahwa sebentar lagi ibunya akan pulang dari tanah perantauan. Putriku ini mencium pipiku dan kembali memelukku dengan erat.


"Terima kasih Papa. Citra sayang Papa!"


Oh ya Tuhan, aku sungguh tidak sanggup jika harus membuat hati putriku ini dirundung oleh duka. Dan sekarang, aku harus memutar otak untuk bisa mencari wanita yang akan berpura-pura menjadi bunda untuk putriku. Semoga Engkau senantiasa memberiku kemudahan untuk menemukan wanita itu, Tuhan.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2