
Selamat membacaπππ
"Apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu muntah-muntah seperti itu?"
Selepas keluar dari kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi di dalam perutnya, Stevi menyusul Firman yang saat ini tengah duduk di atas sofa yang sebelumnya ia pakai untuk menyatukan raga. Dua manusia itu sama-sama menundukkan wajah layaknya dua orang terdakwa atas kasus kejahatan. Malu, mungkin itulah yang mereka rasakan saat ini karena pada akhirnya segala perbuatan mereka terbongkar dan sama sekali tidak menyisakan sebuah harga diri yang tinggi.
"S-saya hamil Om!"
Suara Stevi terdengar bergetar kala memberitahukan keadaan sesungguhnya. Sejatinya, sudah sejak tiga hari yang lalu ia merasakan mual-mual dan iseng untuk melakukan tes kehamilan pribadi. Hingga akhirnya, dua garis merah tercetak di dalam alat uji kehamilan itu.
Jawaban yang terlontar dari bibir Stevi berhasil membuat wajah-wajah orang yang berada di dalam kamar kos ini terkejut setengah mati. Mereka sama-sama terperangah dan saling melempar pandangan. Namun, hal yang berbeda diperlihatkan oleh Jenar. Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya di pelukan sang bunda. Lagi, sayatan-sayatan pisau tak kasat mata itu ia rasakan kembali dan hanya menyisakan luka yang tiada bertepi.
"Apa? Kamu hamil Stev? Bagaimana bisa? Bukankah kamu mengonsumsi pil kontrasepsi?"
Pertanyaan konyol keluar begitu saja dari bibir Firman. Selama ini, Stevi selalu mengatakan bahwa ia mengonsumsi pil kontrasepsi untuk mencegah terjadinya kehamilan. Namun kini Firman bertanya-tanya mengapa sang kekasih gelap ini bisa hamil.
Stevi menggelengkan kepala pelan dan masih sambil menunduk dalam. "Tidak Sayang, selama ini aku tidak pernah mengonsumsi pil kontrasepsi. Aku hanya mengelabuhimu."
Firman terkesiap. Meski ia tahu bahwa apa yang ia lakukan ini salah, namun ia merasa sedikit tidak terima dibohongi oleh Stevi. "Kamu membohongiku? Bagaimana bisa kamu melakukan itu Stev? Bagaimana bisa?"
"Aku sengaja melakukannya agar bisa dinikahi olehmu, Sayang. Aku tidak ingin hanya menjadi pemuas na*fsumu saja. Aku juga ingin menjadi istrimu."
Firman menggeleng-gelengkan kepala seolah tidak bisa menerima penjelasan dari Stvi. "Kamu sudah membohongiku Stev, kamu sudah me...."
"Hentikan omong kosongmu itu Fir, hentikan! Perilakumu ini sungguh sangat keterlaluan!"
"Tapi aku masih belum mau mempunyai anak Pa. Aku masih ingin melanjutkan kuliah dan tidak ingin menikah terlebih dahulu. Firman masih memiliki mimpi yang harus Firman raih, Pa."
"Cukup, jangan ucapkan apapun lagi. Jika kamu masih belum ingin memiliki anak, mengapa kamu melakukan perbuatan seperti ini, ba*ngsat? Dan ketahuilah jika kamu sendirilah yang memusnahkan mimpi-mimpi itu."
Sutopo menghentikan ucapan Firman yang seolah tidak ingin bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat. Amarahnya semakin mendidih ketika melihat sikap pengecut yang ditampakkan oleh Firman ini.
"Tapi Pa...."
"Hentikan, aku sudah tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun darimu lagi." Sutopo yang sebelumnya menatap lekat wajah Firman, kini sedikit ia edarkan ke arah lain. "Sekarang, bertanggung jawablah atas kehidupanmu sendiri. Sebelumnya, aku sudah memilihkan untukmu seorang gadis yang memiliki kecantikan lahir maupun batin. Namun ternyata kamu lebih memilih wanita binal ini."
Firman terkesiap ketika mendengarkan ucapan yang terlontar dari bibir sang papa. Ia masih belum mengerti akan maksud yang tersirat di ucapan Sutopo. "Bertanggung jawab atas kehidupanku sendiri? Maksud Papa apa?"
__ADS_1
Sutopo menghirup udara dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan. Sejatinya ia tidak tega mengambil keputusan ini, namun baginya perbuatan sang anak sungguh sudah sangat melampaui batas.
"Nikahilah wanita itu dan setelahnya bertanggung jawablah atas dirimu sendiri. Sepeserpun Papa tidak akan memberimu pegangan ataupun modal. Berusahalah berdiri dengan kakimu sendiri dan belajarlah untuk tidak menjadi lelaki pengecut yang lari dari tanggung jawab setelah merusak anak gadis seorang ayah."
Firman bangkit dari posisinya dan kemudian mengayunkan langkah untuk bersimpuh di bawah kaki Sutopo. "Pa, ampuni Firman Pa. Ampuni Firman."
Sutopo masih enggan untuk menatap Firman yang saat ini nampak begitu menyedihkan. Rasa kecewa itu teramat besar ia rasakan dan sangat sulit untuk ia lupakan. "Papa sudah memaafkanmu namun untuk melupakan semua yang kamu lakukan, rasa-rasanya akan sulit untuk Papa lakukan. Dan ingat, kamu tidak hanya melukai dan membuat kecewa Papa. Tapi juga melukai hati Jenar, om Sutha dan juga tante Rukmana. Kami semua sangat kecewa, Firman!"
Pada kenyataannya Firman menangis tergugu di bawah telapak kaki Sutopo. Namun hal itu sama sekali tidak dapat melunakkan hati Sutopo untuk merengkuh tubuh Firman untuk ia bawa ke dalam pelukan. Tanpa membuang banyak waktu, Sutopo ayunkan tungkainya untuk mendekat ke arah Sutha, Rukmana yang saat ini tengah menenangkan jiwa sang putri.
Sutopo menatap sendu wajah Sutha yang merupakan sahabat karibnya sejak SMA dahulu. "Maafkan aku Tha, maafkan aku. Karena perbuatan anakku lah yang membuat putrimu terluka seperti ini. Aku sungguh tidak menyangka semua akan terjadi seperti ini."
Senyum getir terbit di bibir Sutha. Di dalam lubuk hati yang paling dalam, sejatinya ia juga merasakan sesal itu. Karena perjodohan inilah yang ternyata justru melukai hati putri semata wayang yang begitu ia cintai ini.
"Kamu tidak perlu minta maaf Tha. Ini semua sudah merupakan kehendak yang Maha Kuasa. Ternyata putriku dan putramu memang tidak berjodoh."
"Aku sungguh tidak mengerti harus melakukan apa Tha? Kamu adalah sahabat terbaikku, namun justru aku sendirilah yang merusak semuanya."
Perlahan, Sutha menepuk bahu Sutopo. "Kita akan tetap bersahabat, Po. Kejadian ini tidak akan pernah memutus tali persaudaraan diantara kita. Jadi, sampai kapanpun kita akan tetap menjadi saudara."
Rasa haru memenuhi relung-relung hati Sutopo. Ia tidak menyangka jika sahabatnya ini memiliki hati seluas samudera. Tanpa basa-basi, ia memeluk tubuh tegap Sutha ini. "Terima kasih banyak Tha, terima kasih. Karena kamu masih menganggapku sebagai saudara."
"Sama-sama Po."
"Jen, Om minta maaf. Maaf karena Om tidak dapat menjaga kelakuan Firman, hingga membuatmu terluka seperti ini. Maafkan Om, Jen. Maafkan Om!"
Sutopo justru tergugu di saat berhadapan langsung dengan Jenar. Gadis cantik putri sahabatnya yang juga memiliki hati yang begitu baik ternyata mengalami luka hati yang justru ditorehkan oleh putranya sendiri. Ia sungguh tidak kuasa menahan rasa sesak dalam dada, melihat gadis sebaik Jenar justru akan mengalami luka seperti ini.
Jenar mencoba untuk menyeka sisa-sisa air mata yang masih membekas di pipi. Ia paksakan untuk melengkungkan senyum di bibir meski nampak begitu getir. "Jenar sudah memaafkan semuanya Om. Om tidak perlu lagi merasa bersalah. Semua ini memang sudah menjadi goresan takdir hidup Jenar dan bang Firman sendiri."
"Kamu masih tetap menganggap Om ini saudaramu kan Jen?"
Jenar mengangguk samar. "Iya Om. Om Sutopo akan tetap menjadi saudara Jenar."
Pemandangan yang nampak begitu nyata antara Sutopo dan Jenar, hanya bisa membuat hati Stevi dipenuhi oleh rasa iri dan juga dengki. Ia baru menyadari jika Jenar merupakan calon menantu idaman yang mungkin sampai kapanpun tidak akan pernah tergantikan.
Jenar mengedarkan pandangannya ke arah Sutha dan juga Rukmana. "Ayah, Bunda ... Jenar lelah. Jenar ingin segera beristirahat di kontrakan."
Sutha dan Rukmana saling melempar pandangan dan sama-sama menganggukkan kepala. "Baiklah Sayang. Kita pulang ya."
__ADS_1
Pada akhirnya, ketiga orang itu melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar terkutuk ini. Pada saat tubuh mereka melintas di depan Firman ...
"Jen, maafkan aku. Maafkan aku!"
Ucapan Firman sukses membuat langkah kaki Jenar terhenti. Ia menoleh ke arah Firman yang masih bersimpuh di atas lantai.
"Terima kasih untuk luka ini Bang. Aku sungguh tidak menyangka jika Abang lah yang tega melakukan ini semua."
"Jen, aku...."
Jenar berupaya untuk berlapang dada agar tidak terlihat lemah di hadapan lelaki biawak ini. "Oh iya, aku sampai lupa belum mengucapkan selamat ulang tahun untuk Abang."
Jenar mengambil kue ulang tahun yang sebelumnya ia letakkan di atas nakas. Kemudian, ia berjongkok di hadapan Firman. "Selamat ulang tahun, Bang Firman. Semoga hari-harimu selalu menyenangkan."
Tanpa basa-basi, Jenar mengayunkan telapak tangannya dan...
Plukkk!!!!
"Aaaaahhhhh...."
Firman seketika memekik di saat Jenar tiba-tiba membuang kue ulang tahun itu tepat di wajahnya. Dan saat ini wajahnya persis seperti badut yang sedang menghibur para penonton.
"Rasakan ini Bang. Ini belum seberapa dibandingkan dengan luka dan kecewa yang aku rasakan. Semoga Allah membalas semua perbuatan bang Firman dengan setimpal."
Firman hanya bisa terdiam dan tidak mencoba untuk melakukan apapun. Ia seolah sadar bahwa semua yang terjadi adalah kesalahannya, sehingga membiarkan Jenar melakukan apapun, sesuka hatinya.
Jenar bangkit dari posisinya. Kini, ia ambil kue kecil yang masih nampak berada di atas nakas. Tanpa banyak membuang waktu, Jenar membuang kue itu tepat di wanah Stevi dan juga di rambut hitamnya.
"Aaaahhh ... apa-apaan kamu!"
"Itu pantas untukmu. Wanita penggoda sepertimu memang pantas untuk mendapatkannya. Masih mending kamu aku lempar dengan kue. Karena seharusnya kamu dilempar dengan sampah lengkap dengan gerobak-gerobaknya. Sungguh sangat murahan!"
.
.
ππππππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
__ADS_1
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉ**Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca**