
Selamat membacaππ
Sang surya mulai menampakkan wajahnya, kembali bertahta menggantikan rembulan yang lelah berjaga semalaman. Kicau burung gereja yang beradu dengan kokok ayam jantan seolah melantunkan kidung cinta yang terdengar menentramkan. Semilir angin yang berhembus, membelai dedaunan, berayun-ayun seiring seirama dengan hembusannya menyisakan suasana yang begitu menyejukkan.
Di sebuah home stay yang berada satu kota dengan tempat tinggal Jenar, Wisnu dan keluarga bermalam. Tidak ingin terlambat untuk melaksanakan ijab qabul yang akan dilangsungkan hari ini tepat pukul delapan, ia memilih untuk menyewa penginapan yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal calon istrinya ini.
"Bagaimana? Apakah aku terlihat tampan hari ini?"
Menggunakan setelan jas berwarna putih, Wisnu mematutkan diri di depan cermin. Dengan lekat ia memindai semua bayang raga yang terpantul, memastikan bahwa hari ini ia telah tampil sesempurna mungkin. Jika setiap hari aura yang terpancar dari dalam dirinya adalah aura pemimpin, hari ini aura itu hilang, terganti oleh aura pengantin.
Dewa, yang menjadi lawan bicara Wisnu, menatap lekat kakak lelakinya ini dari ujung kaki hingga ujung kepala. Siapa sangka jika pesona sang kakak ini masih begitu kentara. Meski dapat dikatakan ia adalah seorang duda yang tidak lagi muda. Namun, tetap terlihat awet muda dan memesona.
"Ya, Kakak memang tampan. Namun, masih kalah tampan denganku. Karena pada kenyataannya aku yang lebih dulu mendapatkan istri baru, bukan?"
Meskipun alasan yang terlontar dari bibir Dewa terdengar amat sangat tidak masuk akal, namun lelaki itu tetap saja berbangga diri jika dirinya jauh lebih tampan. Tidak tahu saja Dewa jika sang kakak pernah menjadi bahan rebutan. Jika sampai tahu, jiwa narsisnya itu pasti akan menghilang dan merasa terkalahkan.
"Ckckckck ... kamu ini, untuk mengakui aku tampan saja harus beralasan seperti itu."
Wisnu kembali merapikan rambut tatkala merasa masih sedikit berantakan. Ia berikan sedikit gel untuk memberikan kesan rapi sepanjang hari. Lelaki itu tiada henti memahat senyum termanis yang ia miliki seolah memberi kabar kepada dunia bahwa pagi ini hanya ada kebahagiaan yang menyelimuti hati.
"Papa, apakah Papa sudah siap? Kata tante Mara, kita sudah harus berangkat."
Gelombang suara yang terdengar lirih mulai merembet masuk ke dalam indera pendengaran Wisnu dan juga Dewa. Kedua kakak beradik itu menoleh ke arah sumber suara dan nampak gadis kecil dengan gaun berwarna putih itu memasuki ruangan. Buru-buru, ia menghamburkan tubuhnya ke dalam gendongan sang Papa.
"Iya Sayang, ini Papa juga sudah siap kok. Sebentar lagi kita berangkat."
"Sayang, calon mama kamu memang seperti apa? Apakah ia cantik seperti tante Mara?"
Celetukan yang dilontarkan oleh Dewa membuat Citra menatap lekat wajah pamannya ini. Seketika, gadis kecil itu menganggukkan kepala.
"Tentu Paman, Kakak cantik tidak kalah cantik dengan tante Mara. Bahkan sepertinya, mama juga seusia tante Mara." Citra kembali menautkan pandangan ke arah Wisnu. "Benar begitu kan Pa?"
Wisnu mengangguk pelan sembari menerbitkan senyum tipis di bibirnya. Yang menjadi isyarat jika apa yang dikatakan oleh Citra menang benar adanya.
"Iya Sayang, mama memang seusia tante Mara. Jadi mereka sama-sama cantik."
"Dengarkan apa kata Papa Citra ini, Paman. Itu artinya, mama dan tante Mara sama-sama cantik."
Dewa mengalah. Iya pun hanya bisa mengedikkan bahu. "Baiklah, Paman percaya itu. Tapi kalau Paman dengan papamu ini lebih tampan mana Sayang? Pastinya lebih tampan Paman bukan?"
Secara bergantian, Citra memindai raut wajah Wisnu dan juga Dewa. Gadis itu nampak seperti seorang anak kecil yang kebingungan menentukan pilihan. Namun pada akhirnya...
"Lebih tampan Papa, Paman. Karena Papa pernah dijadikan bahan rebutan oleh guru-guru Citra di sekolah. Sedangkan Paman, tidak pernah menjadi bahan rebutan kan? Itu artinya, Papa Citra yang jauh lebih tampan dari paman Dewa."
Dewa terperangah. "Bahan rebutan? Sampai seperti itu? Aku sungguh tidak percaya."
"Hahaha, kamu boleh tidak percaya Wa. Namun seperti itulah kenyataannya."
"Mas Dewa, kak Wisnu, ayo kita berangkat. Nanti bisa telat kita. Lihatlah, sudah jam berapa ini?"
Peringatan yang diucapkan oleh Mara, benar-benar bisa membuat kakak beradik itu menghentikan perdebatan perihal sesuatu yang tidak berfaedah. Perlahan, tungkai keduanya terayun untuk bersegera berangkat ke rumah calon mempelai wanita.
πππππ
Sinar lembut matahari mulai menelusup menembus kain gordyn yang berada di kamar Jenar. Tetesan embun masih sedikit terlihat melekat di atas dedaunan yang membiaskan sinar matahari yang berkilauan. Tak lupa, hembusan angin pagi juga terasa begitu sejuk menyentuh kulit, dan membuat kaingordyn itu meliuk-liuk seiring seirama dengan hembusannya.
Jenar tengah duduk manis di depan sebuah cermin. Ia nampak begitu anteng menikmati jemari-jemari MUA yang begitu telaten merias wajahnya. Setelah dua jam berkutat dengan alat-alat make up itu, pada akhirnya, pekerjaan sang MUA telah paripurna dengan sempurna.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga Mbak," ucap MUA itu sembari kembali memasukkan alat tempurnya ke dalam tempat make up. "Silakan di lihat hasil akhirnya!"
__ADS_1
Jenar mematutkan dirinya di depan cermin. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Riasan yang begitu nampak flawless dengan sanggul dan kebaya modern warna putih gading yang membuat ia semakin terkesima melihat pantulan dirinya sendiri di dalam cermin itu. Hari ini, ia nampak jauh lebih dewasa dari usia sebenarnya.
"Bagaimana Mbak? Apakah ada yang kurang? Jika ada, biar saya perbaiki, mumpung masih ada waktu."
Jenar menggelengkan kepala. "Tidak Mbak, ini sungguh sangat sempurna. Aku benar-benar puas dengan hasilnya."
Sang MUA tersenyum manis. Bagi seseorang yang memiliki profesi seperti dirinya ini, tidak ada yang jauh lebih membahagiakan daripada kepuasan pelanggan. Dengan seperti itu saja sudah membuat mereka bahagia tiada terkira.
"Alhamdulillah jika mbak Jenar puas. Kalau begitu, saya keluar dulu ya Mbak."
Jenar mengangguk. "Silakan Mbak. Terima kasih."
Jenar kembali menatap lekat pantulan wajahnya yang berada di dalam cermin. Rasa-rasanya ini semua masih seperti mimpi. Ia menikah di usia sembilan belas tahun dan yang lebih mengejutkan lagi, ia menikah bukan dengan seorang laki-laki yang sebelumnya dijodohkan dengannya. Ia justru menikah dengan seorang laki-laki yang mendaptkan ciuman pertamanya. Sungguh, sebuah skenario kehidupan yang sama sekali tidak pernah terbayangkan.
"Jenar!"
Suara seseorang yang begitu familiar di dalam pendengaran milik Jenar, membuat gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Kedua bola matanya terbelalak sempurna dengan bibir yang menganga lebar. Ia masih tidak percaya akan siapa yang datang saat ini.
"Nania ... Anki?"
"Aaaaaaa .... Jenar, akhirnya kamu menikah juga!"
Nania berlari kecil ke arah Jenar dan kemudian memeluk erat tubuh sahabatnya ini. Sahabat yang sudah dua bulan tidak pernah ia temui dan hanya menyisakan kerinduan di dalam hati.
"Nania, aku menikah...."
"Iya aku tahu Jen. Kamu menikah bukan dengan bang Firman tapi dengan pak Wisnu. Ternyata apa yang pernah aku ucapkan saat itu benar-benar menjadi kenyataan, bahwa kamu berjodoh dengan pak Wisnu."
Nania mengurai pelukannya. Ia tatap lekat wajah sahabatnya ini. "Kamu benar-benar cantik Jen. Aku yakin, pak Wisnu akan bahagia sekali memiliki seorang istri seperti kamu."
"Terima kasih banyak Nan."
"Selamat ya Jen. Aku turut berbahagia melihat pernikahanmu ini. Ternyata pengganti bang Firman jauh-jauh lebih baik dan sempurna."
"Terima kasih banyak An. Pak Wisnu memang lelaki terbaik yang telah Tuhan pilihkan untukku."
"Semoga hanya ada kebahagiaan yang menyertaimu Jen."
"Aamiin..."
Derap langkah kaki seseorang terdengar memenuhi indera pendengaran tiga orang yang berada di dalam kamar. Tak selang lama..
"Mashaallah, kamu cantik sekali Jen. Bibit bunda Rukmana dan ayah Sutha itu memang unggul."
Ucapan Rukmana hanya membuat Jenar, Nania dan Anki tergelak seketika. Ternyata wanita paruh baya inu juga memiliki sedikit sifat narsis.
"Iya Bunda, iya, bibit Bunda dan ayah memang unggul. Kalau tidak unggul, mana bisa membuat kesengsem bos besar PT WUW. Tahu gitu, Nania dulu sebelum dilahirkan memilih untuk dilahirkan Bunda saja ya, biar sama-sama unggul."
Nania menimpali perkataan ibunda Jenar ini dengan candaannya. Rukmana juga hanya bisa tergelak mendengarkan celotehan sahabat putrinya ini.
"Nania juga cantik. Bunda restui kalau mau menikah dengan Anki. Sepertinya kalian sangat cocok. Dari sahabat menjadi cinta pasti akan sangat menyenangkan."
"Ishh ... ishhhh ... ishhh ... Tante ini ada-ada saja."
"Nak, bersiap-siap ya. Setelah ijab qabul, kamu menyusul Ayah di depan."
Kedatangan Sutha, memangkas perbincangan orang-orang yang sebelumnya berada di kamar Jenar. Perlahan, lelaki paruh baya itu mendekat ke arah sang putri dan tiba-tiba memeluknya.
"Ayah ...."
Suara Jenar serasa tercekat di dalam tenggorokan kala merasakan sang ayah meneteskan air mata di dalam dekapannya.
__ADS_1
"Maafkan Ayah jika selama ini Ayah belum bisa menjadi Ayah yang terbaik untukmu, Nak. Saat ini Ayah hanya bisa berdoa, semoga suamimu nanti akan memberikan limpahan cinta dan kasih sayang yang tiada pernah habis untukmu."
"Ayah .... Ayah dan Bunda sudah menjadi orang tua terbaik untuk Jenar. Justru Jenar yang meminta maaf jika selama ini Jenar belum bisa menjadi anak yang berbakti."
"Nak, kamu sudah menjadi anak terbaik untuk Bunda dan juga ayah. Semoga setelah ini hidupmu jauh lebih bahagia Nak."
Tidak berbeda dengan Sutha, Rukmana juga ikut memeluk tubuh sang anak dengan erat. Ketiga orang itu saling menumpahkan air mata dan seketika membuat atmosfer di ruangan ini dipenuhi oleh keharuan. Anki dan Nania pun juga turut meneteskan air mata.
"Ayah, Bunda, jangan menangis lagi. Jika seperti ini make up Jenar bisa luntur karena ikut-ikutan menangis."
Untuk menutupi segala gejolak rasa yang ada di dalam dadanya, Jenar melontarkan sebuah candaan. Sungguh, saat ini jantungnya berdegup kencang karena gugup.
"Kamu ini bisa saja!"
Sutha kembali menatap lekat manik mata putrinya ini. "Apakah kamu sudah siap untuk menjadi seorang istri?"
Jenar mengangguk mantap. "Jenar siap Yah."
"Baiklah. Ayah akan melaksanakan proses ijab qabul di depan. Dan setelah itu, kamu menyusul Ayah."
"Baik Yah."
πππππ
"Mas Wisnu, apa sudah siap untuk prosesi ijab-qobul?" tanya bapak penghulu yang duduk di sampingnya.
Wisnu menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. "Bismillah, saya sudah siap Pak."
Penghulu itu mengangguk. "Pak Sutha, mas Wisnu silakan berjabat tangan!"
Keduanya kemudian berjabat tangan. Saat menjabat tangan Wisnu, dada Sutha terasa begitu sesak, matanya memanas. Ia merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya.
Sebentar lagi, putri kesayangan dan semata wayangnya akan menjadi milik lelaki yang ada di hadapannya ini. Sebentar lagi, hidup putrinya akan diserahkan untuk berbakti kepada suaminya ini. Dan sebentar lagi, surga anaknya akan berpindah kepada laki-laki yang ada di depan matanya ini.
"Bisa kita mulai, Pak?" tanya penghulu yang seketika membuyarkan tatapan Sutha yang menerawang.
Sutha mengangguk. "Bismillahirrahmanirrahim. Saudara Wisnu Kunto Aji bin Wijaya Adi Kusuma."
"Saya!"
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya Jenar Budiani Candrakanti binti Sutha Ajisaka dengan mas kawin seperangkat alat shalat, seratus gram emas dan uang senilai dua milyar dibayar tunai!"
Wisnu menarik nafas dalam. "Saya terima nikah dan kawinnya Jenar Budiani Candrakanti binti Sutha Ajisaka dengan mas kawin tersebut dibayar tuuuuunaaiii!!!"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Saaahhhh!!!!"
"Alhamdulillahirobbil 'alaamiin."
Suara microphone yang terdengar menggema itu sukses membuat seorang laki-laki yang diam-diam mencuri dengar di belakang rumah milik Jenar terkejut setengah mati.
"Apa? Lelaki itu memberikan uang dua milyar sebagai mas kawin? Gila, setelah putus dariku ternyata Jenar justru banyak mendapatkan rezeki nomplok. Sedangkan aku? Ah ya Tuhan ... hidupku makin mengenaskan seperti ini!"
Lelaki itupun hanya bisa menangis di belakang rumah Jenar sembari ngemil kerikil-kerikil kecil yang ada di sana.
πππππππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
Salam Love, love, loveβ€β€β€
__ADS_1
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca