Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 26 : Dihantui


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘


Dewi malam mulai menampakkan wajah. Membiaskan seberkas cahaya yang membuat kanvas langit malam terlihat lebih cerah. Membuat rasa tenang dan damai dalam jiwa tergugah. Serta menciptakan rasa nyaman tiada celah bagi jiwa-jiwa yang tengah dibalut oleh lelah.


Wisnu duduk sendirian di sebuah kursi yang berada di balkon. Di depannya sudah tersaji secangkir cokelat panas yang belum ia sentuh sama sekali. Ia justru nampak sibuk dengan id card yang berada di dalam genggaman tangannya ini. Berkali-kali lelaki itu mencoba mengingkari bahwa bukan gadis yang ada di dalam id card ini yang menolong sang putri. Namun semakin ia mengingkarinya, bayang sosok gadis itu semakin liar berkelana di dalam anginnya.


"Aaahhhh .... sepertinya aku kehilangan kewarasanku. Sejak pertemuan itu, aku seperti memiliki keterikatan dengan gadis itu. Bahkan apa yang terjadi di sekelilingku selalu berhubungan dengan gadis itu."


Wisnu mengacak rambutnya sedikit kasar. Ia mendongak, menatap ke arah rembulan yang seakan tengah tersenyum meledeknya. Meledek, karena gadis belia berusia sembilan belas tahun itu berhasil berkeliaran dalam pikiran dan sedikit mengusik ketenangan batinnya. Membuatnya selalu terbayang di dalam angan dan seketika mengunci raganya untuk tetap membayangkan akan pesona yang ada dimilikinya.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi kepadaku? Mengapa aku terus menerus dihantui oleh bayang gadis itu? Apa yang sebenarnya menarik dari gadis itu? Mungkinkah aku akan mengikuti jejak adikku? Di mana ia melabuhkan cinta terakhirnya kepada seorang gadis belia? Oh ya Tuhan ... aku seperti tidak tahu diri saja. Aku siapa? Usiaku berapa? Sepertinya begitu menggelikan, lelaki berusia empat puluh tahun seperti aku ini menaruh perhatian kepada seorang gadis belia."


Wisnu sibuk bermonolog lirih. Kejadian demi kejadian yang saling memiliki keterkaitan dengan gadis itu seakan semakin membuat pikiran Wisnu buntu untuk menyelami perasaannya sendiri. Sungguh, ia tidak paham dengan apa yang sejatinya tengah ia rasakan.


Wisnu beranjak dari posisi duduknya. Diayunkan sepasang kaki miliknya untuk bersegera kembali masuk ke kamar pribadinya. Tentunya masih sembari menggenggam erat id card yang berada di tangannya yang mungkin akan ia jadikan teman pengantar tidurnya. Sedangkan secangkir cokelat panas yang berada di atas meja, ia biarkan teronggok begitu saja tak sedikitpun ia sentuh. Wangi khas biji cokelat yang begitu nikmat tatkala menyeruak ke dalam indera penciuman, nyatanya tidak dapat mengembalikan keadaan jiwanya yang telah luruh. Meluruh ke dalam buaian bayang seorang gadis yang semakin menelusup ke dalam relung hati hingga jauh.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Ingat ya Jen, jangan keseringan begadang. Kalau berangkat kerja pakai jaket agar ketika pulang sampai larut kamu tidak masuk angin."


"Makan yang teratur juga Nak. Jangan keseringan makan mie instan. Makan makanan yang bergizi agar kamu tidak mudah sakit. Dan pastinya jangan tinggalkan shalat ya Nak."


Jenar yang sedang melakukan panggilan video dengan kedua orang tuanya itu pun hanya tergelak lirih. Hampir dua jam ayah dan juga bundanya melakukan video call, tiada henti mereka membuat daftar wejangan yang harus ia lakukan.


"Iya Ayah, iya Bunda. Jenar pasti akan selalu mengingat pesan dari Ayah juga Bunda. Sekarang, Jenar tidur dulu ya. Besok bang Firman akan mengantar Jenar berangkat kerja."


"Benarkah seperti itu Jen? Jika benar, Ayah juga bunda bisa tenang. Karena Ayah yakin jika Firman bisa menjaga kamu."


"Iya Yah, mulai besok, sepertinya bang Firman akan antar jemput Jenar."


"Syukurlah kalau begitu Nak. Ya sudah, sekarang beristirahatlah kamu Nak. Jaga diri baik-baik ya Nak."


"Iya Yah, Bun. Ayah dan Bunda baik-baik juga ya."

__ADS_1


"Selamat beristirahat dan mimpi indah ya Sayang..."


"Makasih Ayah, makasih Bunda!"


Layar ponsel yang sebelumnya dipenuhi oleh wajah sang ayah juga bunda, kini kembali menghitam sebagai pertanda berakhirnya panggilan video itu. Dan Jenar memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas pembaringan sembari memandang langit-langit kamar.


Senyum penuh kebahagiaan tiada henti terbit di bibir gadis itu. Ia kembali teringat akan obrolannya dengan Firman beberapa saat yang lalu. Bagaimana ia tidak bahagia, di kota perantauan yang jauh dari keluarga, ia masih memiliki sosok yang selalu ada untuknya. Dialah Firman. Lelaki itu mengatakan bahwa mulai besok ia akan rutin untuk mengantar jemput kekasihnya itu ke tempatnya bekerja.


"Aaaahhh ... Bang Firman memang manis sekali. Baru menjadi calon suami saja dia sudah memperlakukan aku seistimewa ini. Bagaimana jika nanti setelah aku menjadi istrinya? Ahhhh ... pasti akan jauh lebih manis dan romantis."


Gadis itu sibuk bermonolog lirih sembari bermain-main dengan angan dan mimpinya. Menjadikan angan dan mimpi itu sebagai pengantar tidur di malam hari ini. Hingga pada akhirnya, kelopak mata gadis itu terkatup dan mulai mengarungi lautan mimpi. Tanpa ia sadari jika di sudut kamar lain, ada sosok duda berusia empat puluh tahun yang berkali-kali mengubah posisi untuk menghindar dari bayang-bayang seorang gadis yang terus menghantui.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Mau kemana Fir? Tumben pagi-pagi seperti ini kamu sudah terlihat rapi?"


Firman, pemuda berusia dua puluh lima tahun itu nampak sedang memanaskan motor sport di halaman depan. Seorang pemuda yang tengah melanjutkan pendidikan di kota ini yang sudah berada di semester akhir. Hanya tinggal skripsi saja, sehingga membuatnya sedikit lebih santai untuk menyelesaikannya.


Firman kembali melipat kanebo yang ia gunakan untuk membersihkan body motor miliknya. Lelaki itu hanya tersenyum tipis kala mendengar pertanyaan salah seorang kawan satu kosnya.


"Cih, dasar sombong kamu Fir. Memang siapa cewek itu? Stevi?"


Firman tergelak lirih. "Kamu tidak perlu tahu Dil. Yang perlu kamu tahu, teman satu kos mu ini salah satu penakluk wanita yang begitu handal. Jadi, tidak ada kata jomblo dalam kamus hidupku. Hahahaha!"


"Dasar buaya kamu Fir!"


Firman hanya mengendikkan bahu sembari tersenyum sinis. Ia nangkring di atas jok. Menyalakan mesin motor dan perlahan memacu laju kendaraannya untuk bersegera menjemput wanita yang baru saja tiba di kota ini.


Lima belas menit waktu yang dibutuhkan oleh Firman untuk bisa sampai di mana Jenar tinggal. Dan gadis itu sudah nampak berdiri di depan pintu pagar untuk menyambut kedatangan sang calon suami.


"Bang Firman!"


Wajah berbinar penuh kebahagiaan nampak jelas tergambar di bingkai wajah gadis belia berusia sembilan belas tahun itu. Bagaimana tidak bahagia jika hari ini menjadi pertemuan pertama bagi Jenar dengan lelaki yang sudah hampir satu tahun tidak ia temui.


"Hai Sayang. Bagaimana kabar kamu? Baik kan?"

__ADS_1


Layaknya anak muda yang tengah dimabuk cinta, mendengar Firman memanggilnya dengan panggilan sayang saja sudah membuat hatinya dipenuhi oleh kelopak-kelopak kebahagiaan yang beterbangan di dalam hati. Tidak ada yang dirasakan olehnya selain rasa bahagia setengah mati.


"Aku baik-baik saja Bang. Bang Firman sendiri baik juga kan?"


Firman menganggukkan kepalanya. "Itu sudah pasti Sayang. Aku baik-baik saja. Kita berangkat sekarang?"


Jenar melirik penunjuk waktu yang ada di ponselnya. Masih pukul tujuh pagi. Namun ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mulai berdisiplin diri agar tidak terlambat lagi.


"Iya Bang, kita berangkat sekarang saja. Mumpung jalanan masih sepi dan pastinya masih sedikit polusi."


"Baik tuan putri. Naik gih! Setelah itu kita let's Go!!!"


Firman mengulurkan sebuah helm ke arah Jenar dan seketika diterima oleh gadis itu. Jenar mengayunkan kaki, mulai mengambil posisi untuk membonceng di belakang tubuh Firman.


"Sudah Bang, ayo berangkat!"


"Eitsss tunggu dulu dong!"


Dahi Jenar mengerut. "Ada apa Bang?"


Tanpa basa-basi Firman menarik lengan tangan Jenar untuk ia lingkarkan ke pinggangnya. "Pegangan yang erat. Takutnya kamu terbang terbawa angin."


Jenar sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Firman. Sejatinya dengan posisi seperti ini, membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Namun, daripada nanti ia terjatuh saat melintas di atas polisi tidur atau jalanan yang berlubang, ia pun tetap memeluk pinggang calon suaminya ini.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca

__ADS_1


__ADS_2