Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 07 : Jenar Budhiani Candrakanthi


__ADS_3


"Sudah siap?"


"Sudah Ayah! Let's Go!!"


Menggunakan motor astrea 800 yang sudah dimodifikasi dan meninggalkan kesan motor klasik, Sutha melajukan motornya untuk mengantar Jenar ke sekolah. Seperti inilah rutinitas Sutha setiap pagi. Sebelum lelaki paruh baya itu membuka gerai bengkel motor miliknya yang berada di ujung jalan, terlebih dahulu ia mengantarkan sang putri ke sekolah. Jika waktunya pulang, apabila bengkel milik Sutha sedang tidak ramai oleh pengunjung, Sutha sempatkan untuk menjemput Jenar. Namun jika sedang ramai, Jenar pulang sendiri naik angkot.


"Kapan kamu akan ujian Jen?"


Di sela perjalanannya mengantar sang anak, Sutha mencoba untuk membuka obrolan. Yang ia tahu, beberapa hari terakhir ini sang putri terlihat begitu sibuk dengan buku-buku pelajaran yang ia miliki. Ia yakin jika anaknya ini akan segera menghadapi ujian akhir.


"Satu minggu lagi Yah. Doakan Jenar ya Yah, agar bisa lulus dengan nilai yang baik."


"Itu sudah pasti Jen. Tanpa kamu minta pun Ayah selalu mendoakanmu. Lalu, setelah ini apa yang menjadi rencamu?"


Gadis belia itu hanya terkekeh lirih. "Ayah lupa kalau Jenar masih harus praktek kerja industri selama satu tahun? Untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah Jenar peroleh selama tiga tahun ini?"


Sutha ikut tergelak lirih. Rupa-rupanya ia sudah terserang syndrom pikun dini karena lupa jika SMK tempat sang putri bersekolah masa pendidikannya selama empat tahun.


"Ayah benar-benar lupa Jen. Lalu setelah ini kamu akan praktek di mana? Kalau bisa jangan jauh-jauh. Maksud Ayah yang berada di satu provinsi. Jangan sampai keluar provinsi."


"Memang jika beda provinsi kenapa Yah? Yang terpenting masih satu negara kan? Hehehe," kekeh Jenar di sela obrolannya dan mengeratkan lingkar lengan tangannya di perut sang ayah.


Sutha berdecak sembari menghela nafas dalam. "Apa kamu ingin melihat Ayah seperti Dilan?"


Jenar sedikit terperangah. Tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya ini. "Ayah bicara apa? Apa maksud Ayah sama dengan Dilan. Sama apanya Yah? Padahal untuk wajah jauh berbeda. Jauh lebih ganteng Dilan daripada Ayah."


"Maksud Ayah, jika Dilan menahan rindu kepada Milea. Namun jika Ayah menahan rindu kepada putri semata wayang Ayah ini. Rindu itu berat loh Nak. Apakah kamu tega membiarkan Ayah menahan rasa rindu begitu dalam kepadamu?"


"Hahahaha Ayah ini ada-ada saja."

__ADS_1


"Eh tapi apakah kamu tahu Jen? Waktu muda ketampanan Ayah ini sama seperti Dilan. Kalau tidak seperti Dilan, mana mau bunda kamu menerima cinta Ayah."


Salah satu sudut bibir Jenar terangakat. Ia mencebik. Seakan meremehkan ucapan sang ayah. "Ishhh, isshh, issshh... Bunda menerima cinta Ayah bukan karena Ayah tampan. Tapi karena bunda kasihan sama Ayah. Kasihan karena sejak SMP Ayah mengejar-ngejar cinta bunda."


"Hahahaha ternyata kamu sudah tahu semuanya ya Jen? Jika bunda menerima cinta Ayah karena rasa kasihan itu masih mendingan. Tapi sebenarnya bunda menerima cinta Ayah karena risih. Risih karena hampir setiap hari Ayah selalu buntutin bunda."


"Hmmmm ternyata Ayah pantang menyerah juga ya."


"Ya, itulah salah satu kelebihan Ayah. Pantang menyerah dan pastinya setia hanya kepada seorang wanita. Yaitu bundamu seorang. Jika Ayah tidak setia pada seorang wanita, mana mau Ayah berjuang selama hampir lima tahun untuk mendapatkan cinta bundamu."


Jenar kembali terkikik geli. Mendengar sang ayah bernostalgia tentang masa mudanya sungguh hanya membuat gadis belia itu merasa terhibur. Inilah salah satu cara sang ayah membangun komunikasi dengannya. Hal itulah yang membuat Jenar begitu dekat dengan sang ayah. Dengan bundanya pun juga tidak jauh berbeda. Ia selalu menganggap sang bunda seperti sahabatnya sendiri, sehingga apapun yang dialami olehnya selalu ia ceritakan kepada sang bunda.


"Hahahaha apakah ucapan Ayah ini secara tidak langsung meminta Jenar untuk memuji Ayah? Bahwa bunda sangat beruntung memiliki seorang suami seperti Ayah?"


"Hahaha dunia sudah mengakui itu, Nak." Sutha terbahak dan menjeda sejenak ucapannya. "Ayah berharap Firman juga merupakan lelaki seperti itu, Jen."


Hati Jenar seketika menghangat kala nama Firman disebutkan oleh sang ayah. Gadis belia itupun hanya bisa tersipu malu. "Jenar yakin jika bang Firman adalah lelaki seperti itu Yah. Dia lelaki yang setia pada seorang wanita. Dan apakah Ayah tahu?"


"Tempat prakerin Jenar sama dengan kota di mana bang Firman kuliah. Itu artinya Jenar bisa lebih dekat dengan bang Firman, Yah?"


"Oh ya? Kalau tidak keliru, Firman kuliah di Bogor. Itu artinya kamu akan prakerin di kota Bogor juga Jen?"


Jenar menganggukkan kepalanya. "Iya Yah. Jenar akan prakerin di PT WUW, sesuai dengan jurusan yang Jenar ambil di sekolah. Dan itu artinya, Jenar juga bisa semakin dekat dengan bang Firman."


Wajah Sutha dipenuhi oleh kebahagiaan yang tiada terkira. Pada akhirnya apa yang selama ini menjadi pintanya dikabulkan oleh Allah. Sang putri tidak akan berada jauh dari sisinya. Meski berbeda kota, namun setidaknya masih satu provinsi.


"Alhamdulillah, Ayah lega mendengarnya Jen. Semoga Firman merupakan lelaki terbaik untuk menjadi pendamping hidupmu kelak."


"Aamiin Yah."


Terlalu asyik larut dalam obrolan, tanpa terasa motor yang dikendarai oleh Sutha telah sampai di depan pintu gerbang sekolah. Perlahan, Jenar turun dari boncengan sang ayah. Ia berdiri di sisi sang ayah untuk menjabat tangan lelaki yang paling ia cintai itu.

__ADS_1


"Dilepas dulu dong helm nya!"


Tangan Sutha terulur untuk melepas tali pengikat helm di bawah dagu sang putri. Jenar pun hanya tersenyum simpul dibuatnya. Jika yang melakukan ini adalah Firman, pastinya akan nampak begitu romantis.


"Jangan cengar-cengir seperti itu Jen! Pasti kamu membayangkan bahwa Ayah ini adalah Firman!"


Mendadak, wajah Jenar dipenuhi oleh rona merah seperti buah tomat. Ternyata sang ayah tahu dengan apa yang ada di dalam pikirannya. "Ihhhh ... apa sih Yah? Jenar kan jadi malu."


Sutha tergelak lirih. Ia acak sedikit rambut Jenar. Tak lupa, ia berikan satu kecupan di kening putrinya ini. "Semangat belajar putri Ayah yang cantik. Semoga sukses ya."


"Ayah .... Jenar ini sudah besar. Masa masih dicium kening di depan umum seperti ini? Malu Yah. Nanti dikira Jenar ini anak manja."


Sutha menowel hidung mancung putrinya ini. "Meski kamu sudah dewasa, namun sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi putri kecil Ayah, Jen!"


"Hmmmm iya, iya, putri kecil Ayah yang akan selalu Ayah manjakan kan?"


Seakan tahu akan kelanjutan ucapan sang ayah, Jenar mulai menebaknya. Kata-kata itulah yang selalu diucapkan oleh sang ayah, bahwa selamanya sang ayah akan menganggap dirinya sebagai putri kecil yang selalu ia manjakan.


"Nah pinter anak Ayah. Ya sudah, masuk gih. Menjelang hari-hari terakhir kamu berada di sekolah ini, jangan pernah terlambat lagi ya."


"Siap bos! Jenar masuk ya Yah!"


"Iya Nak. Semangat ya!"


Jenar membalikkan badan. Dengan penuh semangat, gadis belia itu berjalan menyusuri lorong-lorong yang ada di sekolahnya. Sedangkan Sutha masih intens menatap gerak langkah kaki Jenar hingga pada akhirnya bayangan tubuh sang putri menghilang kala ia berbelok arah untuk menaiki anak tangga.


Sutha menghidupkan kembali mesin motornya dan perlahan mulai melajukan laju kendaraannya, meninggalkan area depan sekolah putrinya ini.


🍁🍁🍁🍁🍁


Prakerin : Praktek Kerja Industri

__ADS_1


__ADS_2