Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 68 : Kabur


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘😘


"Apa Pak, perbuatan Anda terbongkar?"


Setelah berdiskusi panjang dengan sang anak, di mana ia akan pergi meninggalkan kota ini, Arya menyempatkan diri untuk menemui Heri. Arya paham, jika nantinya pihak perusahaan akan menyeret nama Heri dalam kasusnya ini. Maka dari itu, ia menemui sang driver mobil pengantar bahan baku untuk membantunya dalam misi pelarian diri ini.


"Ya, kecurangan yang kita lakukan terbongkar. Dan aku memutuskan untuk pergi dari kota ini."


Sembari mengepulkan asap dari lintingan kertas yang berisikan tembakau, Arya mencoba sesantai mungkin untuk menghadapi permasalahan yang ia hadapi. Meski sejatinya, di dalam hati lelaki itu begitu ketakutan sekali.


"Apa, kita? Bapak saja kali."


Heri sedikit risih mendengar kata 'kita' yang terucap dari bibir Arya. Kata-kata itu seakan menggambarkan jika dirinya juga harus ikut bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh Arya. Padahal sejauh ini, ia hanya menjalankan perintah lelaki itu saja.


"Kamu jangan mengelak Her. Ingat, kamu juga terlibat dalam kasus ini karena kamu telah mendapatkan uang suap dariku untuk melarikan kain-kain itu ke rumahku. Jadi, aku akan tetap menyeretmu ke dalam pusaran kasus ini jika sampai aku tertangkap."


"Anda jangan gila Pak. Saya tidak mau ikut terlibat dalam perkara ini. Karena sejatinya Bapak lah yang bersalah. Saya hanya menjalankan perintah Bapak."


Tawa Arya menggema kala mendengar celotehan Heri yang ia rasa tidak berbobot ini. Bagaimana ceritanya ia akan cuci tangan perihal kasus ini? Padahal sudah banyak pula, uang yang ia berikan kepada driver ini. Dan sekarang, ia ingin lepas tangan begitu saja? Arya sungguh tidak terima.


"Maka dari itu, jika kamu tidak ingin tertangkap, ayo kita sama-sama pergi dari kota ini untuk melarikan diri."


"Maksud Bapak, saya ikut kemana Bapak pergi gitu?"

__ADS_1


"Ya silakan jika kamu ingin ikut aku. Tapi jika kamu ingin pergi sendiri ke tempat lain yang kamu mau ya silakan. Namun ingat, jangan sampai tertangkap."


"Baiklah, saya akan pergi sendiri ke tempat yang saya mau. Jadi Bapak saat ini juga boleh pergi. Karena saya juga akan bersiap-siap."


Arya beranjak dari posisi duduknya. Dengan langkah santai dan sedikit pongah, laki-laki itu pergi meninggalkan rumah Heri ini. Sedangkan Heri, lelaki itu masih dalam mode terdiam, membisu dan terpaku. Pikirannya tetiba diusik oleh bayang-bayang wajah istri dan anak-anaknya yang saat ini berada di kampung.


Lelaki itu merenung sejenak akan apa yang harus ia lakukan. Awal-awal ia menerima suap dari Arya memang terasa begitu membahagiakan. Karena berkat uang dari Arya itulah ia bisa mengirim jatah untuk keluarga di kampung dengan nominal yang cukup banyak. Namun, saat ini, kala ia dibenturkan pada kasus yang menimpa Arya, ia semakin mengerti bahwa sampai kapanpun uang yang didapatkan dari hasil kecurangan tetap tidak akan membawa manfaat dan tidak akan pernah berkah.


Atau aku menyerahkan diri saja ya? Mungkin, jika aku menyerahkan diri, hukuman ku akan jauh lebih ringan. Ah, ya Tuhan, maafkan aku karena telah melakukan kesalahan fatal ini.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Jadi, kamu juga ikut melarikan diri dan bersembunyi?"


Firman sedikit terkejut ketika Stevi tiba-tiba mendatangi kos miliknya di jam sepuluh malam ini. Firman yang baru saja asyik nongkrong dengan teman-teman yang lain terpaksa harus pulang terlebih dahulu ketika mendapatkan telepon jika simpanannya itu menuju kos miliknya. Alhasil, lelaki itu juga terlihat buru-buru untuk segera tiba di kos.


Firman nampak tengah memikirkan sesuatu. Ia berpikir dalam situasi seperti ini, akan banyak keuntungan yang ia dapat. Termasuk mencari keuntungan dari kekayaan yang Stevi miliki.


"Aku tidak keberatan jika kamu tinggal di kos milikku ini. Tapi rasanya sangat tidak leluasa jika kos sesempit ini ditinggali oleh dua orang.... "


"Kamu tenang saja Sayang. Aku bahkan sudah memikirkan hal itu. Aku memiliki sebuah paviliun, untuk tempat tinggal kita bersama. Bagaimana? Kamu setuju?"


Lelaki itu masih seperti menimbang-nimbang sesuatu. "Paviliun? Apakah di paviliun itu kita juga hanya menyewa? Atau bagaimana?"


Stevi hanya tersenyum penuh arti. Karena pada dasarnya ia sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari sebelum sang papa tersandung kasus ini. Ia telah membeli satu unit paviliun di pusat kota.

__ADS_1


"Ide yang bagus. Kalau begitu, kapan kita mulai pindah?"


Stevi mengayunkan kaki untuk mendekat ke arah Firman yang sedang duduk di sofa. Tanpa basa-basi wanita itu mulai duduk di pangkuan Firman dan mulai menggencarkan aksi sensualnya. Wanita itu menghujani Firman dengan ciuman di ceruk leher yang seketika membuat tubuh Firman menegang. Terlebih di bagian bawah sana yang seketika meminta untuk dimanjakan. Firman terbuai dengan permainan pacar simpanannya ini. Dengan gerak cepat, ia pun membuka kaos tipis yang dipakai oleh Stevi dan kemudian menikmati apa yang tersaji di balik kaos itu.


"Aaahhhh .... manjakan aku Baby!!"


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Ah sial, ternyata pergerakan Arya jauh lebih cepat. Bahkan saat ini rumah ini dalam keadaan kosong, sama sekali tidak berpenghuni."


Setelah mendapatkan laporan dari Bima dan juga barang bukti yang diberikan, pada akhirnya pihak kepolisian bersama Bima mendatangi kediaman Arya. Namun sayang beribu sayang. Rumah mewah ini nampak kosong seperti tidak terdapat kehidupan sama sekali.


"Jadi bagaimana Pak? Apakah selain rumah ini ada tempat lain lagi yang mungkin bisa untuk kita jadikan petunjuk di mana keberadaan Pak Arya?"


"Selain Arya, ada driver mobil suplier yang sebenarnya bisa kita jadikan petunjuk Pak. Namun baru saja saya mendapatkan kabar bahwa driver itu sudah sejak tiga bulan yang lalu pindah kontrakan dan saat ini tidak ada yang mengetahui di mana tempat tinggalnya."


Beberapa petugas kepolisian itu nampak saling berbincang dan kemudian salah satu dari mereka memberikan keputusan. "Baiklah kalau begitu Pak. Kami akan tetap berusaha untuk mencari keberadaan Pak Arya dan juga driver itu. Mungkin mulai besok, kita bisa kembali melanjutkan misi ini. Dan semoga kami bisa segera mendapatkan petunjuk itu."


Bima menganggukkan kepala. Dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan beberapa polisi itu. "Baik Pak. Saya tunggu kabar baiknya."


"Baik pak Bima, kami permisi terlebih dahulu."


Beberapa anggota kepolisian itu mulai meninggalkan kediaman Arya dan hanya menyisakan Bima sendirian. Lelaki itu menatap lekat bangunan mewah yang ada di hadapannya ini.


Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Dan sepandai-pandainya kamu bersembunyi, pasti suatu hari akan tertangkap pula, Arya.

__ADS_1


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2