
Selamat Membacaπππ
Firman menarik tangan Jenar. "Ayo lekas naik, kita berangkat sekarang!"
Baru saja Jenar akan menggeser posisinya tiba-tiba...
"Tunggu! Jenar akan ikut dengan saya, karena saat ini ia masih berada di masa-masa hukumannya!"
Firman menunjukkan mimik wajah penuh keterkejutan. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba pimpinan perusahaan ini datang dan menghentikan langkah kaki Jenar yang sebelumnya sudah terayun untuk mendekat ke arah motor yang ia naiki. Alhasil gadis yang baru saja akan memboncengnya tiba-tiba mengurungkan niatnya.
"Apa maksud ucapan Anda? Hukuman apa yang Anda berikan kepada Jenar? Dan hal apa yang mendasari Anda memberikan hukuman untuk itu untuk Jenar?"
"Karena keterlambatan Jenar untuk kedua kalinya, mengharuskan dia untuk menerima hukuman dari saya. Dan karena masih berada di masa-masa hukuman, saya meminta Jenar untuk ikut dengan saya."
Firman semakin terperangah. Apa yang terucap dari bibir Wisnu ini sungguh terdengar sangat tidak masuk akal. Lelaki itu hanya bisa menatap wajah Wisnu dengan tatapan sinis dan pongah.
"Anda ini memimpin sebuah perusahaan besar atau sekolah TK? Perusahaan besar di kota ini tapi memberikan hukuman tidak masuk akal seperti ini. Sama persis dengan hukuman yang diberikan oleh guru TK."
Wisnu sungguh tidak perduli dengan ucapan Firman. Meski dianggap tidak masuk akal namun setidaknya ia bisa menyelamatkan Jenar dari lelaki ini. Entah mengapa setelah memergoki perselingkuhan Firman di belakang Jenar, ia merasa saat ini gadis itu sedang berada di tempat yang tidak aman. Ia merasa jika ketidakamanan mengintai gadis ini jika ia selalu berada di dekat Firman.
Tingkah vul*gar yang lelaki itu lakukan bersama dengan selingkuhannya, membuat Wisnu semakin mawas diri akan keselamatan Jenar. Terlebih kehormatannya sebagai seorang wanita. Jika di tempat terbuka saja Firman bisa melakukan hal semacam itu maka tidak akan menutup kemungkinan jika Firman akan melakukan hal serupa di tempat tertutup bukan? Hanya itu yang menjadi prioritas Wisnu. Selama ia masih berada di dekat Jenar, ia ingin melindungi gadis itu. Setidaknya melindungi keme*suman lelaki biawak ini.
Wisnu hanya menanggapi santai perkataan Firman. Ia mengedarkan pandangannya ke arah Jenar yang juga tengah memasang mimik wajah tiada terbaca. "Jen, mari ikut dengan saya. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan denganmu perihal hukuman yang kamu terima."
"Tapi Pak, bukankah ini..."
"Saya tidak menerima segala bentuk penolakan Jen. Kamu masih berada di lingkup kantor, jadi kamu harus mematuhi apa yang menjadi perintah saya."
Lagi-lagi Firman hanya bisa membelalakkan mata. Perintah Wisnu ini sungguh terdengar seperti sebuah pemaksaan kehendak. Ia berupaya keras untuk menghalangi Wisnu melakukan sesuatu yang di luar logika lagi.
"Anda jangan macam-macam. Ini sudah jam pulang kantor, sehingga Anda tidak berhak menghalangi Jenar untuk kembali ke rumah. Lagipula apa tidak memiliki waktu lainnya sampai membuat Anda menggunakan jam kantor yang sudah berakhir ini untuk menghukum Jenar?"
Wisnu menggelengkan kepala. "Tidak, saya tidak memiliki waktu lainnya. Bahkan saya berniat selama Jenar berada di masa hukuman, saya lah yang akan mengantar jemput Jenar. Baik menjemputnya untuk bekerja dan juga mengantarkannya pulang."
Kini bukan Firman saja yang terperangah. Jenar pun juga ikut terbengong-bengong tiada paham dengan maksud ucapan Wisnu.
__ADS_1
"Pak, ini maksdnya bagaimana? Antar, jemput bagaimana maksud Bapak?"
"Setiap pagi saya akan menjemputmu Jen. Dan di sore hari, saya akan mengantarkanmu pulang."
"Cih, jangan macam-macam Anda. Saya keberatan dengan ucapan Anda ini. Dan saya tidak setuju!"
Wisnu hanya memasang wajah cool dan santai. Ia memasukkan telapak tangannya ke dalam saku celana yang semakin memancarkan aura seorang pemimpin yang begitu berwibawa.
"Memang Anda siapa? Maksud saya, apa hubungan Anda dengan Jenar? Sampai mengharuskan saya untuk mendengarkan ucapanmu dan menurutinya. Anda bukan siapa-siapa Jenar bukan?"
"Hahahaha, Anda ini memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?" Firman menatap manik mata Wisnu dengan lekat. "Saya kekasih bahkan calon suami Jenar. Mengerti?!"
Firman sengaja memberikan sebuah penekanan di kata kekasih dan calon suami. Berharap jika Wisnu akan selalu mengingatnya dan berhenti untuk mengusik kehidupan Jenar.
"Oh ya? Kekasih dan calon suami Jenar? Yakin, jika Anda lah yang akan menjadi suami Jenar?"
Tidak gentar, Wisnu semakin menyudutkan Firman dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Firman semakin emosi. Ingin rasanya ia mematahkan perkataan Wisnu ini namun ia merasa akan sia-sia.
Firman kembali menautkan tatapan matanya ke arah Jenar. "Jen, lekas naik. Tidak perlu kamu perdulikan ucapan-ucapan konyol bos mu ini. Ayo naiklah!"
"Jen, jangan dengarkan lelaki gila ini! Ayo lekas naik, kita segera pergi dari sini!"
Menyaksikan Firman dan Wisnu beradu mulut dan argumentasi, membuat kepala Jenar berdenyut nyeri. Tiba-tiba saja kepalanya terasa begitu pening. Tidak hanya itu, cacing-cacing yang ada di dalam perutnya pun juga sudah berdemonstrasi minta untuk segera diberi asupan nutrisi.
"Bang, pulanglah terlebih dahulu. Aku akan mengikuti pak Wisnu karena bagaimanapun juga aku harus mendapatkan punishment akan keterlambatan yang aku lakukan."
Firman terperangah. Tidak menyangka jika sang kekasih memutuskan untuk mengikuti Wisnu. "Tapi Sayang, kamu berhak untuk menolak. Ini sudah berada di luar jam kerja. Ayo naik. Biar aku antar kamu sampai rumah!"
Jenar menggeleng pelan yang mengisyaratkan bahwa ia tidak akan ikut dengan Firman. "Tidak Bang. Pulanglah terlebih dahulu. Aku akan pulang bersama pak Wisnu."
Merasa semakin tersudut upayanya untuk membuat Jenar pulang bersamanya sia-sia, Firman memilih untuk menuruti apa yang menjadi keputusan kekasihnya ini. Ia merasa kali ini ia harus mengalah terlebih dahulu, sembari merencanakan sesuatu untuk memberikan pelajaran kepada lelaki bernama Wisnu ini.
Tanpa berbasa-basi dan berpamitan, Firman kembali menyalakan mesin motornya dan mulai tancap gas untuk segera meninggalkan pelataran kantor ini.
ππππ
"Mau sampai kapan kamu terus menekuk wajahmu seperti itu Jen?"
__ADS_1
Wisnu yang tengah fokus dengan setir mobilnya hanya dibuat gemas dengan raut wajah sang gadis yang seperti menahan rasa kesal itu. Sedari tadi wajah Jenar nampak ditekuk, bibir mengerucut dan nafasnya sedikit terengah-engah. Mungkin sebagai luapan rasa kesal yang berkumpul di dalam tubuhnya.
"Hei, saya sedang mengajakmu berbicara Jen!"
Jenar mendengus lirih. Ia raup sisa-sisa oksigen yang ada di dalam mobil ini untuk mengisi rongga dadanya. Nampaknya, mengekang dirinya dalam kebisuan membuatnya sedikit lelah dan kali ini ia memilih untuk menanggapi perkataan Wisnu.
"Apakah pak Wisnu menyalahgunakan kewenangan yang pak Wisnu miliki untuk kepentingan pribadi?"
Wisnu sedikit tersentak namun setelah itu tergelak. Pertanyaan Jenar ini membuatnya terperangah sekaligus tertawa. Wisnu sampai bertanya-tanya alasan apa yang mendasari gadis ini mempertanyakan sesuatu yang membuat telinganya sedikit tergelitik.
"Kewenangan seperti apa yang kamu maksud Jen? Saya merasa sudah mempergunakan kewenangan yang saya miliki sebagai seorang pimpinan dengan baik. Lalu kewenangan apa lagi yang kamu maksud?"
"Jika pak Wisnu tidak menyalahgunakan kewenangan yang pak Wisnu miliki, mengapa tiba-tiba pak Wisnu memaksa saya untuk ikut dengan pak Wisnu? Padahal kita tahu bahwa ini sudah jam luar kantor."
Dengan senyum manis yang terbit di bibirnya, Wisnu menanggapi apa yang menjadi pertanyaan Jenar ini. "Kali ini, apa yang saya lakukan mungkin belum akan menampakkan hasil apa-apa. Namun suatu saat nanti, kamu pasti akan mengerti Jen."
Tidak membuat dirinya semakin lega dengan jawaban yang diberikan oleh Wisnu, Jenar justru semakin merasa pusing saja. Ia benar-benar tidak paham dengan maksud ucapan Wisnu ini.
"Pak, hari ini saya sudah teramat pusing. Maka dari itu jangan lagi membebani pikiran saya untuk meraba maksud dari perkataan Anda ini. Bisakah Anda langsung to the point saja?"
"Saya tidak memiliki maksud apa-apa Jen. Namun hanya ada satu hal yang harus saya utamakan." Wisnu menghentikan laju mobilnya kala sampai di sebuah rumah yang cukup megah. Dengan pintu pagar yang tinggi menjulang. Dengan lekat ia menatap manik mata gadis ini. "Saya hanya ingin melindungimu! Dan memastikan kehormatan yang kamu miliki senantiasa terjaga."
Jenar yang juga tengah menatap lekat manik mata Wisnu ini hanya dibuat terkesima. Sorot mata yang nampak begitu tegas namun tetap hangat. Bahkan sorot mata lelaki ini sama persis dengan sorot mata milik sang ayah.
Jenar mengerjabkan mata, tidak ingin terlalu larut dalam pesona tatapan mata lelaki ini. Ia menggeser pandangannya ke arah depan di mana pagar tinggi itu nampak menjulang.
"I-ini tempat apa? Mengapa Anda membawa saya ke sini?"
"Ini adalah rumah saya. Setelah ini, saya akan mengajakmu ke mall untuk mencari angin dan melepas penat. Pastinya bersama Citra."
.
.
ππππππ
Maaf jika banyak typo ya Kak.. Ngejar deadline dulu, baru revisi.. hihihiππ
__ADS_1