
Selamat Membaca ππππ
"Jadi ini bagaimana Mbak? Kepala saya benjol seperti ini? Dan saya tidak mau tahu, pokoknya saya harus minta ganti rugi!"
Jenar yang masih menimang-nimang si bayi di depan teras rumah seseorang nampak begitu kalut kala di depannya ada seseorang bapak-bapak yang sedikit botak memijit-mijit pelipisnya. Yang membuat Jenar kalut rupa-rupanya pelipis sang bapak yang sudah terlihat memar dan sedikit benjol. Tidak ia sangka jika balada kaleng bekas yang ia tendang, kembali menjatuhkan korban.
"Pak, sekali lagi saya minta maaf. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya sungguh tidak menyangka jika kaleng yang saya lempar akan mengenai kepala Bapak. Maafkan saya Pak."
Buntu, itulah yang dialami oleh Jenar. Gadis belia itu dilanda oleh perasaan tidak menentu, tidak tahu harus mengambil jalan apa untuk ia tempuh. Bagaimana caranya ia bertanggung jawab? Apakah dengan merawat memar bapak ini sampai sembuh? Atau bagaimana? Sungguh ia tidak tahu.
Terlihat, bapak berkepala botak ini semakin mempercepat ritme mengelus-elus bagian pelipis sembari sesekali meringis. "Saya sudah memaafkan Mbaknya, tapi saya tetap meminta ganti rugi."
"Ganti rugi seperti apa Pak?"
"Saya meminta ganti rugi tiga ratus ribu untuk biaya berobat. Sampai benjolan di kepala saya ini hilang."
Jenar terperangah tiada percaya. Bibirnya sedikit menganga dan kedua bola matanya membulat sempurna. "Tiga ratus ribu?"
Si bapak menganggukkan kepala. "Iya Mbak, tiga ratus ribu. Untuk periksa ke dokter dan juga membeli salep."
Tubuh Jenar seakan lemas tiada berdaya. Ia seakan kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya dan akhirnya ia terduduk di kursi kayu yang ada di teras, masih sambil menggendong si bayi. Kali ini pikirannya melanglang buana ke dompet yang ia bawa.
Ya Allah, bagaimana aku bisa mengganti rugi senilai tiga ratus ribu, jika di dalam dompetku saja hanya tinggal dua puluh ribu? Dua puluh ribu, itu tadi juga aku niatkan untuk membeli gado-gado. Haduh bagaimana ini?
Ketika Jenar larut dalam pikirannya, tak selang lama si ibu bayi keluar untuk bergabung di depan teras bersama Jenar dan di bapak berkepala botak.
"Haaah ... lega. Akhirnya, aku bisa mengeluarkan seluruh isi di dalam perutku dengan santai." Si ibu mendekat ke arah Jenar dan mencoba untuk mengambil alih si bayi yang sudah kembali terlelap. "Terima kasih banyak sudah meninabobokkan anak saya ya Mbak. Ternyata kaleng bekas yang Mbak tendang itu membawa berkah. Berkahnya, ada yang menggendong anak saya sampai tertidur pulas di saat saya harus memenuhi panggilan alam."
"Berkah, berkah, berkah bagaimana maksud Ibu ini? Lihatlah, kepala saya sampai benjol gara-gara kaleng terkutuk itu."
__ADS_1
Ucapan si Ibu tidak ditanggapi oleh Jenar malah justru ditanggapi oleh si bapak. Ia tidak terima jika kaleng bekas itu membawa berkah karena pada kenyataannya ia merasa kesakitan ketika kepalanya benjol dan memar.
"Hahahaha ya ampun, kasihan sekali si bapak ini. Tapi bagi saya kaleng bekas itu tetap membawa berkah."
Si bapak berkepala botak hanya bisa bedecak lirih sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Jadi bagaimana ini Mbak? Pokoknya saya tetap minta ganti rugi sejumlah tiga ratus ribu. Seharusnya saya minta lima ratus ribu, tapi karena saya masih memiliki belas kasih, saya turunkan jadi tiga ratus ribu."
Si bapak berkepala botak itu sudah seperti penjual pakaian yang mengobral barang dagangannya saja. Menurunkan patokan harga. Namun berapa banyak si bapak itu menurunkan harga, sama sekali tidak berpengaruh apa-apa untuk Jenar. Karena memang, ia tidak memiliki uang sama sekali.
"Pak, saya benar-benar minta maaf. Bukan maksud saya untuk tidak bertanggung jawab. Tapi saya benar-benar tidak memiliki uang sema sekali. Saya ini hanya seorang perantau dan uang yang ada di dalam dompet saya hanya sisa dua puluh ribu saja."
Jenar pada akhirnya memilih untuk berkata sebenarnya saja agar permasalahan ini tidak berkepanjangan. Ia berpikir si bapak ini akan merasa iba sehingga bisa memaafkannya dengan ikhlas tanpa meminta pungutan biaya.
"Sudah sih Pak, ikhlaskan saja. Lagipula Mbak ini kan sudah mengatakan bahwa ia tidak memiliki uang sama sekali. Kasihan."
Si ibu ternyata ikut membujuk si bapak agar tidak memaksa Jenar untuk ganti rugi. Melihat hal itu, Jenar seperti kembali memiliki energi karena merasa ada yang membela. Si bapak nampak sejenak berpikir. Dan kemudian...
"Tidak, saya tetap meminta ganti rugi, titik. Jika saat ini uang di dompet Mbak ini hanya tinggal dua puluh ribu, tapi tidak dengan yang ada di kartu ATM nya bukan? Mbak ini pasti memiliki tabungan."
Lagi-lagi Jenar hanya bisa terperangah. Ternyata si bapak belum juga mau menyerah. Ia ingat di ATM hanya tinggal beberapa ratus ribu saja, itupun untuk menopang hidup di tanah rantau ini. Sungguh, kebuntuan semakin memenuhi kepala Jenar. Namun di saat ia merasakan kebuntuan itu ia teringat akan sesuatu. Gegas, ia mengambil ponsel dari dalam tas dan kemudian ia gulirkan jemarinya untuk menghubungi seseorang.
ππππππ
"Ahahahaha ternyata kepala si bapak yang benjol tadi karena ulahmu? Astaga Jenar, Jenar!"
Tawa Wisnu terdengar membahana memenuhi warung gado-gado di mana saat ini merupakan tempat Wisnu dan Jenar berada. Wisnu yang baru saja membaringkan tubuh Citra di atas tempat tidur, tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata panggilan dari Jenar. Dari sanalah duda berusia empat puluh tahun itu mengerti bahwa Jenar sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dan ia pun gegas untuk menyusul sang gadis.
"Pak, jangan menertawakan saya seperti itu. Saya malah semakin merasa bersalah tahu. Saya benar-benar tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Padahal saya tadi berencana untuk segera istirahat, eh tapi ternyata banyak penghalangnya."
Satu porsi gado-gado yang sudah tersaji di hadapan Jenar, ternyata masih belum bisa untuk mengubah mood gadis itu menjadi lebih baik lagi. Ia masih bertopang dagu dengan bibir yang mengerucut karena masih merasakan kesal terhadap kaleng bekas itu. Wajah Jenar yang seperti inilah yang membuat Wisnu semakin merasa gemas.
"Sudah, tidak perlu kamu pikirkan lagi. Yang terpenting sekarang bapak itu sudah mendapatkan ganti rugi bukan?"
__ADS_1
Wisnu menggeser piring berisikan gado-gado itu, perlahan menyendoknya dan mengarahkannya ke arah Jenar. "Ayo buka mulutmu, Jen!"
Jenar memperhatikan sendok di depannya ini sekilas. Namun kemudian ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Wisnu. Meski hatinya terasa kesal namun ternyata pesona gado-gado ini sedikit demi sedikit berhasil mengubah mood nya. yang sedikit hancur. Cita rasa khas gado-gado ini terasa begitu memanjakan lidahnya.
"Saya rasa bapak tadi hanya mengada-ada Pak. Masa iya minta ganti rugi tiga ratus ribu. Bagi saya sungguh sangat tidak masuk akal. Apa mungkin bapak itu bermaksud untuk memeras?"
Wisnu hanya menanggapi santai celotehan Jenar ini. Entah memeras atau tidak, bagi Wisnu tidak menjadi masalah asalkan gadis ini baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang menimpanya. Baginya uang tiga ratus ribu tidaklah berarti apa-apa dibandingkan dengan keselamatan gadis ini.
"Sudah ya Jen, tidak perlu kamu ingat-ingat lagi kejadian tadi. Sekarang, ayo habiskan gado-gado ini. Bukankah kamu yang memintanya?"
"Tapi Pak, karena kejadian tadi yang membuat saya berhutang tiga ratus ribu kepada Bapak. Besok dipotong dari gaji saya saja ya Pak."
Wisnu hanya tergelak mendengar usulan Jenar ini. Bagaimana mungkin ia memotong gaji Jenar? Sesuatu yang mustahil untuk bisa ia lakukan. Padahal, ia berniat untuk memberikan gaji yang lebih dari gaji yang telah disepakati.
"Sudah ya, tidak perlu dibahas lagi. Sekarang habiskan gado-gado ini."
Wisnu masih intens menyuapi Jenar layaknya seorang ayah yang menyuapi sang anak. Sedangkan Jenar terlihat begitu menikmati apa yang dilakukan oleh duda ini. Entah karena lapar atau apa, ia seperti tidak sadar jika ia tengah disuapi oleh seorang laki-laki dewasa yang menyimpan perasaan terhadapnya. Tidak ada yang nampak dari wajah Jenar, selain rasa nyaman yang begitu kentara. Bahkan ini semua tidak pernah terjadi diantara dirinya dengan Firman.
Sembari mengunyah, Jenar menyapu pandangannya ke arah luar di mana banyak orang berlalu lalang. Sepersekian menit ia menyapu pandangannya, tiba-tiba ia menghentikan kunyahannya di kala manik matanya menangkap sosok manusia yang familiar.
"Orang itu?" Jenar bergumam lirih. Ia pun menepuk-nepuk pundak Wisnu masih sambil menatap lekat objek yang ia lihat. "Pak Wisnu, orang itu, orang itu Pak!"
.
.
πππππππ
Kira-kira, siapa ya yang dilihat oleh Jenar? Hihihi hihihihi tunggu episode selanjutnya ya Kak.. β€οΈβ€οΈβ€οΈ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
__ADS_1
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca