Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 53 : Bersembunyi


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘😘


"Hehe hehe selamat pagi pak Kahar!"


Sembari cengar-cengir, Jenar melintas di depan loby. Menyapa Kahar dengan senyum manis yang ia lengkungkan di bibir. Berharap agar security di tempat ia bekerja ini tidak terlalu banyak bertanya perihal keterlambatannya yang sudah setengah jam lebih.


"Bangun kesiangan lagi Neng?"


Meski baru pertama Kahar mendapati Jenar terlambat datang ke tempat kerja, namun lelaki itu sedikit paham dengan kebiasaan Jenar yang bangun kesiangan. Karena, alasan apa lagi yang masuk akal bagi seorang karyawan terlambat masuk kerja jika bukan kesiangan?


Benar seperti itu kan Kakak-kakak semua? Kalau Kakak-kakak mah biasa telat bangun karena kecapekan. Kecapekan.... hihihihi hihihihi... silakan diisi sendiri ya semua 😘😘😘


"Hehehehe iya Pak. Pak Kahar kok tahu? Punya indera keenam jangan-jangan."


"Hmmmm... Neng Jenar ini hampir sama dengan keponakan saya. Sering bangun kesiangan. Ya sudah, lekas masuk ke ruang kerja saja Neng. Beruntung pak Wisnu belum tiba, jadi neng Jenar tidak akan ketahuan kalau terlambat."


"Pak Kahar itu bagaimana?" Jenar menunjuk ke arah salah satu sudut dinding. "Itu kan ada fingerprint, pasti akan ketahuan Pak, kalau saya terlambat."


"Ahahaha... iya, saya lupa Neng."


Dua orang berbeda generasi itu malah justru nampak tertawa terbahak-bahak. Sampai-sampai tidak sadar jika ada sebuah mobil yang akan memasuki area kantor. Ekor mata Jenar menangkap bayangan mobil itu dan mendadak tubuhnya terperanjat seketika. Mobil itu memasuki area dalam kantor dan kemudian menuju tempat parkir.


"Mati aku Pak. Itu sepertinya mobil pak Wisnu."


Gadis belia itu malah terlihat heboh sendiri. Ia seharusnya bisa langsung berlari untuk memasuki ruang kerjanya, namun entah mengapa ia seperti menjelma menjadi seseorang yang loading lama untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan.


Kahar yang seharusnya mengarahkan Jenar untuk segera memasuki ruang kerja, malah juga ikut-ikutan panik. Entah apa yang terjadi, dua orang itu mendadak seperti orang linglung saja.


"Aduh, bisa gawat ini Neng. Sudah, sudah, sekarang neng Jenar bersembunyi dulu saja. Agar tidak ketahuan pak Wisnu."


Kahar merotasikan kedua bola matanya. Nampaknya lelaki itu berupaya keras membantu Jenar agar bisa bersembunyi terlebih dahulu. Hingga akhirnya, ia menangkap sebuah meja yang merupakan tempat dimana resepsionis berada.


"Neng Jenar lebih baik bersembunyi di bawah meja mbak Dinda lebih dulu saja. Setelah pak Wisnu memasuki ruangannya, barulah neng Jenar masuk ke ruang kerja. Bagaimana?"


Bagai seekor kerbau yang dicocok hidungnya, Jenar menurut saja dengan apa yang menjadi usulan Kahar. "Wah, ide yang bagus Pak. Saya akan bersembunyi terlebih dahulu di bawah meja mbak Dinda."


"Mbak Din, aku numpang sembunyi sebentar ya. Tunggu sampai pak Wisnu masuk, baru aku keluar dari sini."


"Oh, baik Mbak. Langsung jongkok saja di bawah kolong meja!"

__ADS_1


Sama seperti Jenar dan Kahar, resepsionis bernama Dinda inipun juga justru menganggukkan kepala, mengiyakan apa yang menjadi ide dari Kahar sendiri. Padahal tinggal lari lalu masuk ke ruang kerja, Jenar malah terlihat mempersulit dirinya sendiri.


Tak ingin membuang banyak waktu, Jenar gegas mengambil posisi jongkok untuk bersembunyi di bawah kolong meja. Dalam hati, gadis itu berdoa agar persembunyiannya ini tidak diketahui oleh Wisnu.


Tap.. Tap.. Tap...


Derap langkah telapak kaki seseorang yang berbalut sepatu fantofel terdengar ke segala penjuru. Memecah keheningan yang tercipta di lobi kantor ini. Dari langkah kakinya saja sudah menunjukkan kewibawaannya sebagai seorang pimpinan. Namun siapa yang mengira, jika kewibawaan sang pimpinan itu pernah luruh seketika tatkala ia berjaga di depan toilet layaknya penjaga kamar mandi.


"Selamat pagi pak Wisnu!"


Kahar dan Dinda menyambut kedatangan Wisnu dengan mengucapkan selamat pagi secara bersamaan. Tak kalah dari dua orang karyawannya ini, Wisnu juga menyapa ramah keduanya.


"Selamat pagi Dinda, pak Kahar. Bagaimana pagi ini? Sehat dan semangat kan?"


"Itu sudah pasti Pak Bos. Kami selalu semangat dan sehat. Kalau tidak sehat dan semangat, lalu bagaimana bisa saya mencari nafkah untuk anak dan istri saya Pak?"


"Betul itu Pak. Namun jika semisal kesehatan Pak Kahar terasa sedikit menurun, saya izinkan untuk beristirahat di rumah Pak. Karena jika masih gejala awal, penyakit itu mudah sekali disembuhkan."


"Siap Pak Wisnu. Saya akan menjalankan wejangan-wejangan dari Pak Bos ini."


Kahar mengira obrolan-obrolan ringan dari Wisnu ini hanya akan terjadi beberapa saat saja. Namun pada kenyataannya, hampir setengah jam Kahar, Wisnu dan Dinda terlibat dalam sebuah obrolan yang entah sampai mana. Pada awalnya mereka hanya membicarakan perihal kesehatan, lalu merembet ke obat-obat herbal dan berakhir ke pembahasan bubur ayam.


Hufftt... lama-lama kakiku bisa kram ini. Sudah setengah jam aku jongkok seperti ini. Itu lagi, pak Wisnu mengapa tidak pergi-pergi sih? Apa dia memiliki feeling kalau aku berada di sini dan dia menungguku sampai aku keluar? Uppss... Jenar, jangan aneh-aneh ya pikiranmu.


Ketiga orang itu masih terlihat asyik mengobrol seakan tidak kehabisan bahan pembicaraan. Sampai pada akhirnya...


Hah, bau apakah ini? Mengapa tiba-tiba tercium aroma-aroma tidak sedap seperti ini?


Jenar menjapit ujung hidung dengan jemarinya kala aroma tidak sedap mulai menguar, memenuhi kolong meja tempatnya bersembunyi. Aroma itu tidak kunjung hilang namun malah semakin pekat saja. Tidak tahan dengan aroma yang semakin menjadi-jadi pada akhirnya...


Hoek... Hoekkk... Hoek....


Jenar keluar dari tempat persembunyiannya dan gegas keluar dari lobby kantor. Tubuhnya menunduk dan memuntahkan isi di dalam perutnya. Kahar, Wisnu dan Dinda yang melihat kejadian itupun ikut menyusul ke mana Jenar berada.


"Mbak Jen, kamu tidak apa-apa?"


Dinda ikut memijit-mijit tengkuk Jenar, berupaya untuk membuat tubuh Jenar sedikit lebih rileks. Setelah dirasa sudah puas, gadis itupun kembali menegakkan tubuhnya dan mulai menghirup udara dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan.


"Haduhh Mbak, di kolong meja tadi aku mencium aroma-aroma tidak sedap. Aku sampai dibuat muntah."


Jenar bergidik ngeri kala sisa-sisa aroma sedikit busuk layaknya bunga bangkai itu kembali terekam di dalam otak kemudian menstimulus syaraf-syaraf di hidungnya. Ia sampai keheranan aroma apa yang ia hirup tadi.

__ADS_1


Mendengar ucapan Jenar, Kahar, Dinda dan Wisnu saling melempar pandangan. Mereka seakan tidak paham dengan bau apa yang dimaksud oleh Jenar. Namun, tak selang lama..


"Pffft .... maafkan aku mbak Jen."


Jenar sedikit kebingungan dengan maksud ucapan Dinda. Karena tiba-tiba, wanita itu meminta maaf namun sambil menahan tawa. "Minta maaf perihal apa ya Mbak?"


"Maaf, tadi aku kelepasan membuang gas. Dan aroma itu berasal dari saya. Hihihihi, maaf ya."


Dengan santainya, Dinda mengatakan hal itu. Padahal, di bawah kolong meja tadi ia berupaya mati-matian untuk bisa menahannya. Namun mau bagaimana lagi. Gas itu sudah terlanjur keluar dan aromanya sudah terlanjur terhirup.


"Ya ampun Mbak. Aromanya, mashaAllah sekali," ucap Jenar dengan senyum miris yang terlihat begitu kentara. Miris karena dialah yang menjadi korban keganasan aroma itu.


"Hahahaha maaf ya Mbak."


Wisnu yang melihat keadaan ini hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Mengapa gadis ini bisa berada di lobby di jam kerja seperti ini.


"Jenar!"


Jenar terhenyak kala suara bariton yang sudah mulai familiar di telinganya ini kembali merembet ke indera pendengarannya. Kedua bola matanya membulat penuh kala ia teringat akan satu hal. Ya, ia teringat jika sebelumnya ia bersembunyi.


"Eh pak Wisnu. Selamat pagi Pak. Pak Wisnu sehat?"


Jenar tersenyum kikuk sembari menggaruk ujung hidungnya yang tiada gatal. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, ia hanya bisa berpasrah diri.


"Saya sehat." Wisnu memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana. Ia berjalan mendekat ke arah Jenar. "Bisakah kamu menjelaskan, mengapa kamu berada di lobby di jam kerja seperti ini?"


"Maaf Pak Wisnu, saya terlambat lagi."


"Apa? Terlambat lagi?"


"I-iya Pak, saya minta maaf."


"Karena ini sudah kali kedua kamu terlambat, mari ke ruangan saya. Akan saya berikan hukuman untukmu!"


"Apa? Hukuman?"


.


.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2