Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 12 : Terbayang


__ADS_3


"Tuan, apakah ada sesuatu yang terjadi pada Tuan di acara talkshow tadi?"


Bima yang tengah fokus dengan mobil yang ia kemudikan sesekali menatap lekat pantulan wajah sang bos yang terpantul di kaca spion yang berada di atas kemudinya. Asisten pribadi Wisnu itu nampak sedikit kesal karena bos nya ini seperti tidak menganggap keberadaannya.


Bagaimana Bima tidak merasakan bahwa Wisnu mengacuhkannya jika sejak Wisnu memasuki mobil, tiada henti lelaki itu menyapu pandangan matanya ke arah luar kaca sembari merekahkan senyum lebar di bibirnya. Lelaki itu nampak larut dalam dunianya sendiri dan seakan tidak perduli dengan keadaan di sekitarnya.


"Tuan? Tuan Wisnu!"


Krik... Krik... Krik...


Masih tidak ada sahutan dari Wisnu. Hal itulah yang membuat Bima semakin bergidik ngeri. Ia teramat takut jika bos nya ini kemasukan jin penunggu sekolah yang membuatnya kehilangan akal sehatnya. Dan...


Pluk!!!


Satu pack tisu, Bima lempar ke arah Wisnu. Ia tidak perduli jika dianggap sebagai asisten yang tidak punya sopan santun, yang jelas ia bisa membangunkan sang bos dari lamunannya. Dan benar saja, upaya Bima kali ini membuahkan hasil. Wisnu yang sebelumnya menatap lekat keadaan luar, kini ia geser pandangannya ke arah depan, di mana Bima berada.


"Ada apa Bim? Apakah ban mobil ini bocor lagi?"


Sungguh konyol, yang pertama kali ditanyakan oleh Wisnu adalah kondisi ban mobil. Padahal sedari tadi asistennya ini khawatir akan kondisi Wisnu sendiri. Yang tiba-tiba seperti seseorang yang hilang akal karena senyum-senyum sendiri seperti penulis novel ini ketika dapat transferan uang jajan dari sang suami.


Bima membuang nafas kasar karena memang kenyataannya tingkah polah sang bos ini sungguh sangat konyol sekali. Bak seorang laki-laki yang tengah jatuh hati.


"Apakah ada sesuatu yang menimpa diri Tuan selama mengisi acara talkshow tadi? Saya lihat Tuan senyum-senyum sendiri sejak memasuki mobil ini?"


Pertanyaan Bima sedikit membuat Wisnu terkejut. Namun, buru-buru ia kembalikan ekspresi wajahnya seperti semula. Tidak ingin jika asisten pribadinya ini berpikir yang tidak-tidak terhadapnya. Bahwa memang sebenarnya ada sesuatu yang membuat hatinya sebahagia ini.


"Tidak ada Bim. Aku sama sekali tidak mengalami apapun saat talkshow tadi," kilah Wisnu mencoba untuk menyembunyikan isi hatinya.


Bima kembali menatap bayang wajah Wisnu dari pantulan kaca spion. "Tapi mengapa saya merasa sebaliknya ya Tuan? Tuan Wisnu ini seperti seseorang yang sedang jatuh cinta saja."


Wisnu sedikit terperangah kala dengan santainya sang asisten mengatakan hal semacam itu. Perkataan Bima sukses menyentil hati kecilnya.


Jatuh cinta? Apakah mungkin ucapan Bima ini benar adanya? Aku jatuh cinta? Tidak-tidak, aku tidak mungkin jatuh cinta dengan gadis itu. Ya, mana mungkin aku jatuh cinta. Ini pasti hanya keterkejutanku saja karena tiba-tiba gadis itu menciumku. Ayolah Nu, jangan berpikir terlalu jauh. Gadis itu menciummu karena hal itu ia lakukan di bawah alam sadarnya.


Bima semakin mengerutkan dahi ketika keheningan semakin kian terasa memeluk atmosfer yang berada di dalam mobil ini. Ia yang baru saja berhasil menarik tubuh Wisnu dari lamunannya kini bosnya itu kembali larut dalam pikirannya sendiri lagi. Bahkan saat ini Wisnu nampak semakin parah. Berkali-kali lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


"Tuan! Tuan Wisnu Kunto Aji!"


Wisnu tergagap. Sungguh kejadian yang ia alami di aula beberapa saat yang lalu itu hanya semakin membuat pikirannya menerawang jauh.


"Eh, maaf Bim. Tadi kamu berbicara apa?"


Tanpa merasa berdosa, Wisnu malah kembali melempar sebuah pertanyaan yang semakin membuatnya seperti orang bo*doh saja. Padahal baru saja ia memikirkan kata demi kata yang terucap dari bibir Bima.


Bima hanya bisa terperangah, ingin rasanya ia memakan setir mobil yang ada di depannya ini. Ia teramat gemas, karena ternyata bos nya ini tidak memahami apa yang ia katakan.


"Saya rasa Tuan ini sedang jatuh cinta. Dan jika boleh saya tebak, Tuan ini jatuh cinta kepada salah satu peserta talkshow."


Ucapan Bima sukses membuat Wisnu tak dapat berkutik sama sekali. Tidak ingin sang asisten tahu lebih jauh akan apa yang tengah ia rasakan, lelaki itupun dengan gerak cepat mengambil posisi menyenderkan punggung di sandaran kursi tempatnya terduduk.


"Sudahlah Bim, tidak perlu lagi kamu ributkan hal itu. Aku ingin tidur sebentar. Mataku benar-benar terasa berat."


Itulah kata-kata pamungkas yang dapat diucapkan oleh Wisnu untuk dapat menghindar dari pertanyaan Bima yang semakin membuatnya merasakan sesuatu yang terasa asing dalam hatinya. Asing karena entah mengapa bayang-bayang tragedi gadis di acara talkshow yang tiba-tiba menciumnya tadi justru semakin mengusik hati dan pikirannya.


Wisnu memejamkan mata. Mencoba untuk menghindar dan lari dari siluet wajah sang gadis yang masih menancap erat di dalam memori otaknya. Namun semakin ia berusaha untuk menghindar, bayang-bayang itu justru terasa semakin menggoda. Alhasil membuat Wisnu kelimpungan sendiri.


Ayolah Nu, jangan seperti ini. Untuk apa kamu mengingat-ingat gadis aneh itu? Bukankah pertemuan kalian ini merupakan pertemuan yang tidak direncanakan? Itu artinya hari ini adalah hari pertama sekaligus hari terakhir kamu bertemu dengan gadis aneh itu. Jadi untuk apa kamu terlalu memikirkannya? Percayalah, setelah ini kalian tidak akan pernah dipertemukan lagi.


🍁🍁🍁🍁


Sutha hanya bisa mengernyitkan dahi kala melihat wajah sang anak yang tidak seperti biasanya. Biasanya di saat-saat seperti ini, ada saja yang menjadi bahan obrolan yang disampaikan oleh Jenar. Namun entah apa yang terjadi, tiada angin tiada hujan putri semata wayangnya ini seperti larut dalam pikirannya sendiri.


Ternyata tidak hanya Sutha, Rukmana, sang bunda pun juga memperlihatkan gelagat aneh dari raut wajah Jenar. Hari ini, anak gadisnya ini terkesan seperti orang yang memiliki beban pikiran yang cukup berat. Layaknya orang tua yang mendapatkan surat peringatan dari bidang tata usaha karena sudah lima bulan menunggak uang SPP.


Jenar terlihat bengong sendiri sembari mengaduk-aduk nasi goreng yang ada di hadapannya tanpa ia masukkan ke dalam mulutnya sama sekali. Perilaku tidak biasa itulah yang membuat Sutha dan juga Rukmana sama-sama menghentikan kunyahan nasi goreng di mulut mereka sembari bertatap netra. Kedua paruh baya itu sama-sama mengendikkan bahu, tidak mengerti akan apa yang menimpa putri semata wayang mereka ini.


Rukmana bangkit dari posisi duduknya. Ia melenggang pergi meninggalkan meja makan untuk dapat menjangkau bufet yang berada di ruang tengah. Ia ambil sesuatu dari dalam laci bufet itu dan akan ia pergunakan untuk menarik paksa kesadaran Jenar.


Pluk!!!!


"Jen, tikus!!!"


Teriakan sang bunda benar-benar sukses membuat Jenar terperanjat seketika. Ia menoleh ke arah sang bunda dengan tatapan penuh tanda tanya. "Ada apa Bunda? Mengapa Bunda berteriak seperti itu?"

__ADS_1


Dengan memasang ekspresi wajah sedikit bergidik ngeri, jari tangan Rukmana menunjuk ke arah pangkuan Jenar. "Itu ada tikus di pangkuanmu Jen. Ada tikus!"


Mendengar kata tikus, Jenar hanya menyipitkan kedua bola matanya. Ia geser sorot matanya tepat ke arah pangkuannya. Dengan santai, Jenar mengambil ekor tikus itu, ia angakat dan ia tatap lekat-lekat.


"Ohh... Tikus karet? Kalau seperti ini sih Jenar tidak takut Bunda!"


Gadis belia itu malah justru meletakkan tikus itu di samping piringnya. Ia sedikit menundukkan kepala. "Hey tikus. Apa kamu ingin ikut makan malam? Ayolah ikut aku makan!"


Rukmana menjadi mati gaya melihat ekspresi wajah Jenar. Ia kira putrinya ini akan terkaget-kaget sembari berlari tunggang langgang karena takut namun ia justru malah menampakkan wajah santainya. Hal itulah yang membuat Sutha seketika tertawa kencang.


"Ahahahaha tidak mempan ya Bun? Apa Bunda lupa? Jangankan tikus karet, tikus bernyawa saja berani dia pegang kok."


Rukmana hanya mendengus kesal. Ia ayunkan kembali langkah kakinya untuk kembali duduk di tempat semula. "Jen, kamu ini sebenarnya kenapa? Mengapa sedari tadi Bunda melihat wajahmu bermuram durja?"


"Jenar tidak apa-apa Bunda. Perasaan, biasa saja!"


Jawaban dari bibir Jenar yang berupaya untuk mengelak ucapan sang Bunda. Padahal sejatinya ia tengah dibuat kalut akan sesuatu yang tadi ia alami di sekolah. Setelah dipaksa oleh Anki dan Nania akan apa yang ada di dalam mimpinya, akhirnya Jenar dapat mengingat sepenuhnya. Dan kini yang tersisa hanyalah rasa malu sendiri. Malu, karena ia telah berprasangka buruk kepada seorang laki-laki yang sejatinya adalah lelaki baik-baik.


"Jen, kamu itu putri Ayah satu-satunya. Selama sembilan belas tahun Ayah dan Bunda ada di sisimu. Dari mulai kamu bangun tidur hingga tidur lagi. Jadi kamu bisa tahu seberapa kuat ikatan batin Ayah, Bunda dan juga kamu bukan?" Sutha menjeda sejenak ucapannya sembari meneguk segelas air putih yang ada di hadapannya. "Katakan, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, Nak? Mengapa wajahmu muram seperti itu?"


Jenar ikut membuang nafas kasar. Ia melupakan satu hal, bahwa ia teramat dekat dengan kedua orang tuanya ini. Sehingga upaya apapun yang ia lakukan untuk menyembunyikan sesuatu yang ia rasakan dari hadapan kedua orang tuanya adalah satu hal yang mustahil. Ayah dan Bundanya pasti akan tahu.


Jenar menatap wajah kedua orang tuanya ini secara bergantian. Di raut wajah keduanya benar-benar mengeluarkan sebuah isyarat bahwa mereka begitu ingin tahu akan apa yang mengusik dan mengganggu pikirannya. Jika sudah seperti ini tidak ada yang dapat Jenar lakukan selain hanya berupaya untuk jujur di depan kedua orang tuanya.


"J-Jenar mencium dan memeluk seorang laki-laki, Yah, Bun!"


"Apa???!!"


Jenar mengangguk pelan sembari menundukkan wajahnya. "Iya Ayah, Bunda. Jenar mencium dan memeluk seorang laki-laki dan itu bukan bang Firman."


Kedua paruh baya itu hanya bisa terkejut setengah mati. Sang putri yang selama ini tidak pernah berhubungan dengan lelaki selain Firman, tiba-tiba mengatakan ia memeluk dan mencium lelaki lain? Sungguh sangat membagongkan.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Salam love, love, love❤️❤️❤️❤️


__ADS_2