
Selamat membaca๐๐๐
"Terima kasih banyak ya Mbak sudah menjaga Citra selama tiga hari ini."
Mengenakan daster rumahan, dua wanita yang merupakan istri dari para duda tampan masa kini itu nampak tengah sibuk beraktivitas di dapur. Meski hanya mengenakan daster rumahan saja namun sama sekali tidak menyurutkan pesona yang ada dalam diri keduanya. Dua wanita itu tetap saja terlihat cantik walau hanya berbalut pakaian sederhana saja.
Jenar tidak lupa berterima kasih kepada Mara yang memiliki inisiatif mengajak Citra untuk berlibur. Atas inisiatif dari Mara itulah yang membuatnya memiliki waktu untuk bisa berbulan madu bersama sang suami. Tak heran jika setelah kembali dari Ancol, ia mengucapkan rasa terima kasihnya itu.
"Sama-sama Jen. Itu semua sudah menjadi tugasku agar kamu dan mas Wisnu bisa quality time, semoga bisa segera membuahkan hasil ya."
"Aamiin Mbak, semoga."
Mara yang tengah berkutat dengan potongan daging sapi yang akan dijadikan rendang itu tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Ia menautkan pandangannya ke arah Jenar yang tengah sibuk memarut kelapa.
"Eh, sebaiknya aku memanggil kamu apa ya Jen? Kamu kan istri dari mas Wisnu, otomatis kamu kakak iparku kan? Jadi seharusnya aku memanggilmu mbak ya."
Jenar hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Mara ini. Ternyata istri dari Dewa itu masih bingung perihal panggilan.
"Panggil aku Jenar saja Mbak, lagipula lebih tuaan mbak Mara daripada aku. Meski posisiku adalah kakak ipar namun untuk usia tetap lebih tua mbak Mara. Seandainya aku memanggil mbak Mara dengan nama Mara saja atau dengan 'dik', masa iya aku juga memanggil mas Dewa dengan sebutan nama saja atau dengan 'dik' pula? Terdengar lucu tahu Mbak."
"Hahaha benar juga ya Jen. Tapi aku heran dengan dua kakak beradik itu. Kok bisa ya dua-duanya memiliki selera yang sama. Sama-sama suka daun muda. Jarak usia kita dengan suami-suami kita itu jauh sekali loh Jen. Aku dan mas Dewa tujuh belas tahun, sedangkan kamu dengan mas Wisnu dua puluh satu tahun."
Jenar juga hanya bisa tergelak mendengar ucapan dari Mara ini. Sampai saat ini pun ia juga masih sedikit tidak percaya pada akhirnya bisa menjadi istri dari Wisnu.
"Aku sendiri juga tidak paham mengapa bisa jatuh cinta kepada mas Wisnu, Mbak. Meski usia keduanya sudah sama-sama tua, namun mereka masih nampak awet muda ya Mbak? Apa mbak Mara tahu apa yang menjadi rahasia di balik wajah mereka yang awet muda?"
Sorot mata Mara nampak menerawang. Tiba-tiba saja bayangan seseorang terlintas di dalam benaknya. Seseorang yang telah lama tiada yang kini pastinya sudah mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
"Mungkin itu turunan dari almarhum oma, Jen. Oma Widuri juga seperti itu, meski sudah memasuki usia senja, namun beliau juga masih nampak muda dan cantik jelita."
Jenar yang mendengarkan penuturan Mara hanya mengangguk-anggukkan kepala. Ia juga ingat akan sebuah foto yang terpajang di kamar sang suami. Foto seorang wanita yang masih nampak begitu cantik di usia senja.
"Iya Mbak, meski aku belum pernah melihat almarhum oma Widuri secara langsung, aku bisa merasakan beliau adalah orang yang sangat baik. Dan kebaikannya itu terpancar melalui wajah cantiknya itu."
Mara mengangguk, membenarkan apa yang diucapkan oleh Jenar. "Itu memang betul Jen. Oma Widuri adalah wanita terbaik setelah ibu kandungku. Dengan siapapun beliau selalu bersikap baik. Tidak heran jika siapa saja yang mengenal beliau merasakan sebuah kenyamanan. Dan, karena kebaikan beliaulah yang semakin mendekatkan aku kepada mas Dewa, di saat kita sempat berpisah karena sebuah kesalahpahaman."
__ADS_1
"Aahhhh ... benarkah seperti itu? Rasa-rasanya aku ingin sekali mengunjungi makam oma, Mbak."
"Kamu tenang saja Jen. Aku dan mas Dewa sudah memiliki rencana untuk mengunjungi makam oma, sore ini. Aku rasa tidak ada salahnya kamu dan mas Wisnu ikut juga. Oma pasti akan sangat bahagia kedatangan cucu menantunya yang baru."
"Baik Mbak, sore nanti aku akan ikut ke makam."
Dua wanita itu kembali melanjutkan aktivitas memasaknya. Satu persatu semua bahan mereka masukkan ke dalam panci. Aroma gurih santan dan aroma sedap dari bumbu rendang mulai menguar. Yang pasti membuat siapa saja sudah tidak sabar ingin segera menikmatinya.
๐๐๐๐๐
Angin berhembus kencang membelai kelopak-kelopak bunga kamboja. Membuatnya berjatuhan menghiasi sebuah gundukan tanah yang hanya berhias sebuah batu nisan. Sebuah gundukan tanah yang merupakan 'rumah' terakhir seorang wanita mulia yang begitu baik dengan sesama. Tidak ada yang membekas di dalam ingatan orang-orang yang berada di sekelilingnya, selain kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukannya.
Kelopak-kelopak bunga kamboja itu seakan menjadi hiasan alam. Tanpa ditaburi oleh bunga-bunga tabur pun, 'rumah' terakhir oma Widuri itu selalu nampak cantik dengan guguran kelopak-kelopak dari pohon Kamboja yang memayunginya. Kelopak-kelopak bunga itu layaknya kebaikan yang pernah dilakukan oleh oma Widuri. Meski saat ini ia telah tiada, namun kecantikan dan kebaikan wanita itu tidak akan memudar dari ingatan orang-orang yang pernah berada di sekelilingnya.
"Oma, hari ini Dewa dan keluarga kecil Dewa datang mengunjungi Oma. Lihatlah cucu menantu oma ini, dia masih tetap cantik bukan? Dan lihatlah cucu buyut oma ini. Semakin hari ia semakin tampan persis seperti papanya, oma."
Dewa berjongkok di samping pusara oma Widuri. Dewa tetaplah Dewa. Dalam keadaan apapun, lelaki itu masih saja menyempatkan untuk berbangga diri dengan ketampanan yang ia miliki. Suasana yang semestinya dipenuhi oleh keharuan yang mendalam, justru berubah menjadi suasana yang dipenuhi dengan geleng-geleng kepala. Seiring bertambahnya usia, maka semakin bertambah pula jiwa kenarsisannya.
Dewa membuka tangkupan lengan tangannya ke arah sang istri, bermaksud untuk menggendong Nendra. "Sini Sayang, biarkan aku yang menggendong Nendra."
Dengan penuh kehati-hatian, Mara menyerahkan tubuh sang putra untuk diambil alih oleh Dewa. Bayi berusia enam bulan itupun nampak begitu nyaman di dalam gendongan sang papa.
Layaknya seorang anak yang tengah mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh sang papa, Nendra menatap lekat wajah papanya ini.
"Ma-ma-ma..."
"Sayang, bukan mama. Tapi Ooooo-ma. Oooo-maaa..."
"Ma-ma-ma."
"Aduh Sayang, bukan mama tapi ooooo-maaaa... Oma ya Sayang, ooooo-maaaa..."
"Ma-ma-ma."
"Astaga Nak, Oma, Nak, oma. Bukan mama."
Bayi berusia enam bulan itu hanya tergelak melihat ekspresi wajah sang papa. Bahkan tangan mungilnya menyentuh pipi Dewa kemudian ia remas. (bahasa Jawanya dikruwes๐)
__ADS_1
Mara hanya bisa berdecak melihat polah tingkah suaminya ini. Buru-buru, ia pun menepuk pundak Dewa. "Sudah lah Mas, saat ini Nendra masih belum bisa mengucapkan kata Oma. Nanti ia pasti akan bisa dengan sendirinya, Mas." Mara bangkit dari posisi jongkoknya. "Sudah, gantian mas Wisnu dan Jenar yang menyapa oma."
Dewa menurut, ia juga bangkit dari posisi jongkoknya untuk kemudian bergeser. Mempersilahkan Wisnu dan Jenar untuk menyapa oma Widuri.
Wisnu menatap lekat batu nisan yang ada di hadapannya ini. Ia usap baru nisan itu kemudian ia kecup dengan intens. Batu nisan ini layaknya wajah oma Widuri yang bisa ia kecup kapanpun ia mau.
"Oma, Wisnu datang untuk menjenguk oma. Semoga oma senantiasa berada di tempat terbaik di sisi Tuhan ya Oma."
Rasa sesak itu tiba-tiba datang menghampiri. Membuat seonggok daging yang bersemayam di dada Wisnu merasakan sensasi rasa nyeri. Jika seperti ini, apa yang telah terjadi kembali berkeliaran menghantui. Terlebih, semua yang telah dilakukan oleh sang mantan istri.
"Oma, perkenalkan. Wanita yang ada di samping Wisnu ini adalah istri Wisnu. Dia cantik kan Oma? Bahkan bukan saja parasnya yang cantik, hatinya pun juga baik. Meski oma tidak bisa bertemu dengannya langsung, tapi Wisnu percaya jika oma melihatnya."
Wisnu menoleh ke arah Jenar. "Sayang, perkenalkan dirimu kepada oma."
Jenar menganggukkan kepala seraya tersenyum simpul. "Oma, saya Jenar, istri mas Wisnu. Semoga oma senantiasa mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan ya oma. Doa kami akan senantiasa mengalir untuk oma."
Kelopak bunga kamboja kembali berjatuhan selepas Jenar memperkenalkan diri. Wisnu yang melihat kelopak-kelopak bunga itu hanya bisa tersenyum penuh arti. Ia yakin jika sang oma menyambut baik kehadiran Jenar ini.
Awan putih yang sebelumnya membentuk jaring-jaring kapas, kini bergeser menjadi gerombolan awan kelabu yang membentuk bulu-bulu domba. Kepala Wisnu mendongak, merasakan jika sebentar lagi akan turun hujan. Lelaki itupun kembali mengecup batu nisan milik sang oma.
"Oma, saat ini oma bisa tenang di sana. Wisnu sudah mendapatkan kebahagiaan yang selama ini Wisnu cari. Dan kebahagiaan Wisnu ada pada diri istri Wisnu ini. Terima kasih banyak atas limpahan cinta dan kasih sayang yang telah oma berikan. Dan maafkan Wisnu, karena Wisnu pernah membuat oma kecewa."
Sekali lagi, Wisnu mengecup nisan milik sang oma dan mengusapnya dengan lembut. "Wisnu pamit ya Oma. Semoga Oma senantiasa tenang di alam sana."
Wisnu dan Jenar bangkit dari posisi jongkok mereka. Keempat orang itu mulai mengayunkan tungkai untuk bersegera keluar dari tanah pemakaman ini sebelum air langit turun membasahi bumi.
Sementara itu di sudut pemakaman, nampak seorang wanita cantik dengan pakaian putih berdiri di sana. Wanita itu tersenyum manis ke arah orang-orang yang baru saja mengunningi rumah terakhir miliknya ini. Dari senyum yang ditampakkannya, tersimpan sebuah isyarat bahwa ia ikut berbahagia.
.
.
๐๐๐๐๐
InshaAllah tinggal satu part lagi ya kak... Tinggal satu part lagi novel ini akan tamat. Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang masih setia menemani hingga titik ini ya.๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... โบโบ
__ADS_1
Salam Love, love, loveโคโคโค
๐นTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca