Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 08 : Almamater


__ADS_3


Semburat warna oranye sudah nampak di ufuk timur pertanda sang matahari akan bersegera naik ke singgasananya. Diiringi oleh kokok suara ayam jantan dan cicit burung pipit yang terdengar di balik dedaunan seperti menjadi nada alam yang terdengar begitu selaras dengan hembusan sang bayu yang mengalun lirih. Harum aroma tanah basah sisa hujan semalam masih begitu menyeruak di dalam indera penciuman yang justru membuat siapapun merasakan kesegaran dalam tubuh mereka.


"Selamat pagi Tuan. Selamat pagi eneng cantik!"


Di kediaman Wisnu sudah terlihat para penghuni rumah melakukan aktivitasnya masing-masing. Sembari menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Wisnu, Darmi menyambut papa dan anak yang tengah turun dari lantai dua itu. Di gendongan Wisnu, Citra nampak bergelayut manja sama persis seperti seorang anak kandung kepada ayahnya.


"Selamat pagi, Mbok!" ucap Wisnu dan Citra bersamaan. Wisnu menarik salah satu kursi makan dan mendudukkan gadis kecil itu di sana.


"Wah, eneng cantik sudah rapi dan wangi. Memang mau pergi ke mana hari ini sama Papa?"


Entah bakat yang menurun dari siapa, Wisnu yang notabene sama sekali belum pernah memiliki pengalaman merawat anak, kali ini ia terlihat begitu piawai mengurus Citra. Pagi ini, gadis kecil itu sudah terlihat rapi dengan penampilannya. Rambut dikucir kuda, memakai rok dan atasan berupa kemeja kecil dan memakai sepatu fantofel warna hitam. Tak lupa tas kecil dengan gambar karakter peri warna ungun juga terlihat menghiasi punggung Citra.


"Citra mau ke sekolah Mbok. Kata Papa hari ini Citra sudah mulai masuk sekolah." Citra menautkan pandangannya ke arah Wisnu. "Iya kan Pa?"


Wisnu yang duduk di samping Citra menganggukkan kepala. "Iya Sayang, mulai hari ini Citra sudah bisa sekolah. Namun pakai baju bebas dulu ya. Mungkin seragam Citra baru bisa diambil besok."


"Iya Pa."


"Biar Simbok ambilkan sarapan untuk Tuan dan eneng cantik ini, Tuan!" ucap Darmi bermaksud untuk mengambilkan menu sarapan pagi ini untuk Wisnu dan juga Citra.


Wisnu yang tengah menyendok nasi, seketika ia hentikan aktivitasnya. Ia hanya mengulas senyum ke arah asisten pribadi rumahnya ini. "Tidak perlu Mbok. Biar aku ambil sendiri. Lebih baik sekarang Simbok panggil pak Kasim. Kita sarapan sama-sama."


"Iya Tuan. Simbok dan pak Kasim makannya nanti saja."


Wisnu hanya bisa membuang nafas kasar. Asisten rumah tangganya ini memang sangat sulit untuk diajak makan bersama. Wanita yang hampir memasuki usia lanjut itu masih saja merasa tidak enak hati. "Ya sudah kalau mbok Darmi tidak mau sarapan sama-sama. Oh iya, nanti sekitar pukul sebelas, tolong jemput Citra ya Mbok. Aku kebetulan ada acara mengisi talkshow di almamaterku dulu. Dan baru pulang sore hari."


"Baik Tuan, nanti biar simbok minta Kasim untuk mengantar. Eneng cantik tidak apa-apa kan kalau dijemput oleh Simbok dan pak Kasim?"


Citra hanya mengangguk pelan sembari memasukkan sesendok nasi lengkap beserta sayur dan lauknya ke dalam mulut. "Tidak apa-apa Mbok. Citra malah senang bisa dijemput sama Simbok dan pak Kasim." Gadis kecil itu menoleh ke arah Wisnu. "Memang Papa mau ke mana? Kok pulang sore?"


Duda berusia empat puluh tahun itu mengusap lembut rambut Citra. "Papa ada acara di almamater Papa dulu Sayang."


"Almamater itu apa Pa? Citra tidak paham?" tanya gadis kecil itu dengan dahi sedikit mengerut.

__ADS_1


Sedang Wisnu hanya tersenyum simpul sembari menowel hidung mungil putrinya ini. "Almamater itu tempat di mana dulu Papa bersekolah, Sayang. Hari ini Papa di undang untuk mengisi acara talkshow yang diadakan oleh sekolah Papa dulu."


Gadis kecil itu mengangguk-anggukkan kepala. Seakan mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Wisnu. "Ooh seperti itu? Jadi nanti Papa akan ditanya-tanya seperti artis di televisi itu Pa?"


Wisnu tergelak. "Kurang lebih seperti itu Sayang. Namun jika artis ditanya-tanya perihal kehidupan pribadi mereka. Namun kalau Papa nanti bercerita perihal pekerjaan Papa."


"Sama saja Pa. Sama saja Papa seperti seorang artis yang ditanya-tanya oleh banyak orang."


"Hahaha anak Papa ini bisa saja. Sudah, ayo dihabiskan sarapannya. Setelah itu Papa antar ke sekolah ya."


"Baik Papa!"


Ayah dan anak itu kembali melanjutkan aktivitas sarapan pagi mereka. Mulai hari ini, acara sarapan Wisnu akan terasa jauh lebih berbeda dari biasanya. Ya, mulai hari ini ia akan mengawali harinya dengan ditemani oleh sang putri yang pastinya akan menjadikan hari-harinya jauh lebih berwarna.


🍁🍁🍁🍁


"Jen, ayo kita segera ke aula! Acara sebentar lagi akan dimulai!"


Glek!!! Uhuk.. Uhuk...!!


"Apa sih Nan? Kamu ini tiba-tiba datang dan membuatku terkejut saja!"


Jenar mengelus-elus dada. Mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena tersedak buah melon yang menjadi salah satu komposisi es oyen itu. Kedatangan Nania sungguh seperti jelangkung. Tanpa diundang, tiba-tiba ia sudah ada di dekatnya.


Nania hanya berdecak lirih. "Ayo kita segera ke aula. Acara talkshow akan segera dimulai, Jen! Kita harus segera masuk ke aula agar bisa mendapatkan kursi paling depan!"


Sahabat Jenar itu nampak begitu bersemangat untuk mengikuti acara talkshow yang akan diadakan hari ini. Gadis itu sampai memaksa Jenar untuk segera masuk ke aula agar bisa mendapatkan kursi paling depan.


Bibir Jenar sedikit mencebik. "Mengapa kamu begitu antusias untuk berburu kursi paling depan sih Nan? Mau di depan atau di belakang sama saja kan? Sama-sama bisa mengikuti acara itu?"


Jenar masih terlihat begitu santai menikmati es oyen yang ada di tangannya. Es oyen merupakan salah satu minuman favorit, sehingga tidak akan ia biarkan apapun dan siapapun mengganggu acaranya dalam menikmati es oyen ini.


"Memang kamu tidak antusias bertemu dengan lelaki tampan Jen?"


Jenar terperangah. "Lelaki tampan? Lelaki tampan siapa yang kamu maksud Nan?"

__ADS_1


Nania menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata sahabatnya ini belum mendengar kabar yang beredar tentang siapa yang akan mengisi acara talkshow hari ini. "Yang akan mengisi acara nanti adalah salah satu alumnus sekolah kita ini Jen. Dia salah satu pengusaha sukses yang memiliki wajah yang sangat tampan."


Jenar hanya menanggapi ucapan Nania dengan malas. Ternyata ketampanan pengisi acara nanti yang membuat sahabatnya ini bersemangat untuk berburu barisan kursi paling depan.


"Nan, setampan apapun lelaki itu, pastinya dia sudah memiliki istri kan? Memang kamu mau nge-fans sama laki orang? Bisa di cap sebagai pelakor kamu!"


Nania tersenyum sinis, dengan mengangkat satu sudut bibirnya ke atas. "Ini, ini nih jika tidak up to date akan berita yang beredar di seantero sekolah. Kamu benar-benar kudet, Jen!"


Jenar mengerutkan dahinya. "Kudet? Kudet perihal apa?"


Nania sedikit merapatkan tubuhnya ke tubuh Jenar. "Ini dengar-dengar ya. Menurut kabar yang beredar, pengusaha itu seorang duda. Bisa jadi pengusaha itu akan menjadi duda tampan pemikat hati!"


Jenar semakin dibuat terperangah. "Hmmmm mau setampan apapun pengusaha itu tidak ada yang mengalahkan ketampanan dua orang laki-laki yang ada dalam hidupku, Nan. Jadi aku sama sekali tidak akan tertarik."


"Hemmmm iya, iya, lelaki paling tampan yang ada di dalam penglihatanmu hanya ada bang Firman dan juga ayah kamu kan?"


Jenar tergelak lirih. "Nah itu kamu tahu. Jadi setampan apapun pengusaha yang kata kamu duda itu, sama sekali tidak akan membuatku terpikat, oke?!"


Nania hanya bisa menghela nafas dalam kemudian perlahan ia hembuskan. Memang tidak mudah menggoyahkan hati seorang Jenar apalagi hanya dipameri dengan sosok lelaki tampan. Hati sahabatnya ini sudah terpaut dengan sosok Firman yang merupakan anak dari salah satu sahabat ayah Jenar. Sejak dulu mereka memang sudah dijodohkan. Dan rencananya setelah Firman lulus kuliah, mereka akan segera menikah.


"Awas kena karma kamu Jen!"


"Karma apa Nan?"


Nania mengendikkan bahu. "Ya siapa tahu, kamu malah terpikat dengan pengusaha yang notabene seorang duda itu!"


"Hahahaha hahahaha candaanmu ini sungguh tidak lucu Nan!" Jenar bangkit dari posisi duduknya setelah es oyen yang ia nikmati telah tandas tanpa bekas. "Ayo kita ke aula. Aku ingin lihat seberapa tampan pengusaha itu. Apakah ia benar-benar lebih tampan dari bang Firman dan ayahku?"


Pada akhirnya kedua sahabat itu berjalan beriringan menuju aula. Pastinya untuk mengikuti acara talkshow yang akan diisi oleh salah satu alumnus yang saat ini telah sukses menjadi seorang pengusaha. Mungkin pihak sekolah mengadakan acara seperti ini untuk memotivasi para siswa agar kelak mereka juga bisa menjadi seorang pengusaha sukses seperti lelaki itu.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2