Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 62 : Playing Victim


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘😘


"Stop, berhenti sebentar Stev!"


Firman memberikan sebuah instruksi agar langkah kaki mereka yang tengah terayun berasamaan, dihentikan sejenak. Hal itulah yang membuat Stevi bertanya-tanya apa maksud kekasihnya ini.


"Ada apa sih Sayang? Bukankah kita akan mengisi perut? Tinggal sedikit lagi kita sampai, tapi mengapa kamu malah berhenti di sini?"


Stevi mendengus kesal melihat Firman yang tiba-tiba menghentikan langkah kakinya ini. Padahal, ia sudah sangat lapar namun masih saja terhalang oleh kemauan Firman yang entah apa maksudnya ini.


"Lihatlah! Bukankah itu Jenar?"


Firman menunjuk ke salah satu food court yang menyajikan menu fried chicken dan sejenisnya. Meski jarak di mana Firman berdiri dengan food court di mana ia melihat seseorang yang ia yakini sebagai Jenar itu cukup jauh, namun penglihatan Firman masih berfungsi dengan baik. Ia yakin jika perempuan yang ia lihat itu memanglah Jenar.


Stevi menautkan pandangannya ke arah jari telunjuk Firman. Sekilas, ia berdecak lirih. "Ckckckck ... mana aku tahu dia Jenar atau bukan? Aku sama sekali belum pernah bertemu secara langsung dengannya dan hanya melihat melalui foto saja. Jadi, aku tidak tahu dia Jenar atau bukan."


"Tidak salah lagi, dia memang Jenar, Stev!"


"Lalu, apa hubungannya denganku Sayang? Sudahlah, sekarang kita mencari makan terlebih dahulu. Aku sudah benar-benar lapar, tahu?"


Kesal juga Stevi terhadap kekasihnya ini. Mau mengisi perut saja masih mendapatkan gangguan dari perempuan bernama Jenar itu. Ia bahkan sangat tidak perduli, dia Jenar atau bukan, yang jelas saat ini ia hanya ingin bisa segera mengisi perutnya.


"Sebentar Stev. Lebih baik kamu mencari makan seperti yang kamu mau terlebih dahulu. Tunggu aku di sana."


"Apa? Menunggumu di sana? Lalu, kamu sendiri mau ke mana Sayang?" Stevi semakin mengeratkan lingkar lengannya di pinggang Firman, sebagai isyarat tidak mau ditinggal. "Pokoknya aku mau sama kamu Sayang. Aku tidak mau jauh-jauh darimu."


"Stev, please! Sekarang, kamu tunggu aku di restoran itu. Biarkan aku menghampiri Jenar terlebih dahulu."


"Tapi Sayang...."


"Please! Lagipula ini bisa menjadi jalan agar aku bisa melepaskan Jenar. Dengan begitu, kita bisa segera bersama."

__ADS_1


Seperti tahu akan apa yang menjadi kelemahan Stevi, pada akhirnya Firman bernegosiasi dengan wanita itu agar mau menuruti permintaannya. Ia mengatakan akan mencari jalan agar bisa melepaskan Jenar, namun pada kenyataannya ia hanya ingin melakukan drama. Ia akan menghampiri Jenar dan menampakkan raut wajah sendunya karena mendapati sang kekasih berkencan dengan atasannya, kemudian membuat gadis itu merasa bersalah. Dengan begitu, Firman yakin jika Jenar akan melakukan apapun agar mendapatkan kata maaf darinya.


Wajah yang sebelumnya dipenuhi oleh raut penuh kekesalan, kini mendadak hilang. Wajah Stevi nampak bersinar layaknya sang mentari pagi yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.


"Kalau kamu memang memiliki maksud seperti itu, aku pasti mendukungmu Sayang." Stevi merenggangkan pelukannya. Ia tersenyum lebar sembari mengecup pipi dan bibir kekasihnya inu. "Susullah Jenar, Sayang. Aku akan menunggumu di restoran itu."


"Terima kasih Sayang."


Pada akhirnya sepasang kekasih itu berpisah untuk sejenak. Stevi memasuki area restoran, sedangkan Firman mengambil langkah lebar untuk bisa segera tiba di tempat Jenar berada."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Apa-apaan kamu Jen?"


Dengan gerak cepat, Firman menepis tangan Jenar dan menghempaskannya kasar, sesaat setelah menyuapi Wisnu dengan tangannya. Kedatangan Firman yang tiba-tiba itulah yang sukses membuat Wisnu, Jenar dan Citra terperanjat seketika.


"Bang Firman!"


Jenar bangkit dari posisi duduknya dan kini berhadapan langsung dengan kekasihnya. Mendadak wajahnya berubah pias dan bulu-bulu halus yang ada di lehernya meremang kala menatap sorot mata bak seekor elang yang tengah mencari mangsa untuk mengisi perutnya yang lapar. Tatapan mata tajam. Rahang yang mengeras dan mungkin jika dilihat melalui mata batin, ubun-ubun kekasihnya ini mengeluarkan asap yang berasal dari api amarah yang membara.


Pertanyaan sederhana namun sukses membuat Jenar menundukkan kepala. Ia sadar jika apa yang dia lakukan sangat melukai perasaan calon suaminya ini.


"Bang, bukan seperti itu maksudku... Aku hanya..."


"Aku sungguh tidak menyangka jika kamu melakukan hal ini terhadapku Jen. Aku sadar diri bahwa aku tidak kaya seperti pimpinan perusahaanmu ini. Tapi aku tulus mencintaimu dan berupaya mati-matian segera lulus agar bisa segera menikahimu. Tapi apa yang kamu lakukan Jen? Kamu justru menolak untuk aku antar pulang dan pergi bersama lelaki ini!"


Jenar menggelengkan kepala. "Ceritanya bukan seperti itu Bang. Sebelumnya aku sungguh tidak memiliki rencana apapun dengan pak Wisnu. Jalan ke mall ini juga merupakan agenda dadakan."


"Kamu benar-benar jahat Jen. Kamu jahat."


Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja Firman meneteskan air mata seolah menjadi lelaki yang paling tersakiti di dunia ini karena melihat kekasihnya bermain hati. Apa yang diucapkan oleh Firman, sungguh membuat Wisnu semakin ingin muntah saja.


"Hei, Bung. Jaga bicara Anda. Anda tidak pantas untuk mengatakan hal itu kepda Jenar karena pada dasarnya Anda lah yang jahat. Anda harus sadar akan hal itu."

__ADS_1


Kedua bola mata Firman semakin melotot lebar. Ia bertanya-tanya akan maksud kata jahat yang diucapkan oleh Wisnu ini.


"Jahat? Jahat seperti apa maksud Anda, hah? Jelas-jelas yang jahat adalah Anda dan juga Jenar karena telah bermain di belakang saya."


"Hei, Om tampan yang masih tidak bisa menandingi ketampanan Papa Citra, mengapa Om berteriak-teriak seperti itu? Bukankah ini adalah tempat umum dan banyak anak-anak? Kata bu guru, kita tidak boleh membuat keributan di tempat seperti ini. Nanti bisa ditangkap pak polisi!"


Atmosfer yang sebelumnya dipenuhi oleh ketegangan, mendadak berubah setelah Citra berceloteh asal. Hal itulah yang sedikit mengurangi ketegangan yang tercipta.


"Hei, anak kecil, kamu jangan ikut-ikutan ya. Ini permasalahan orang dewasa. Jadi kamu diam saja!"


"Hei Om, Citra ini sebentar lagi berumur tujuh tahun dan bisa segera masuk SD. Itu artinya Citra sudah besar!"


Firman hanya berdecih. Bisa-bisanya anak kecil ini menyela pertikaian yang sedang terjadi antara dirinya dengan Jenar dan Wisnu. Firman kembali menatap lekat manik mata Wisnu.


"Apa maksud Anda mengatakan bahwa saya ini jahat, hah?"


Muak, itulah yang dirasakan oleh Wisnu ketika melihat kekasih Jenar ini melakukan upaya playing victim, di mana ia bersikap menjadi seseorang yang terluka karena telah diselingkuhi oleh sang kekasih. Ingin rasanya Wisnu membongkar semua kebusukan Firman saat ini juga. Namun ia berusaha untuk menahannya. Menahan sampai sang penulis menyuguhkan part nya. Karena jika saat ini terbongkar, bisa dikatakan novel ini akan segera tamat, padahal ia masih ingin lebih lama bersua dengan para pembaca semua. Dan pastinya menghibur para pembaca semua. πŸ˜™πŸ˜™


"Tidak ada maksud apa-apa. Namun yang pasti, serapat apapun seseorang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga aromanya."


Wisnu hanya tersnyum tipis, tiada terbaca, dan justru membuat Firman salah tingkah. Ia teramat takut jika sampai ada sesuatu yang diketahui oleh Wisnu perihal dirinya. Firman mencoba mengabaikan apa yang diucapkan oleh Wisnu. Ia kembali menatap wajah Jenar yang sedari tadi hanya terdiam.


"Apa yang ingin kamu jelaskan Jen? Apa yang akan kamu lakukan agar aku bisa kembali lagi percaya kepadamu?"


Jenar membuang nafas sedikit kasar. Entah mengapa hari ini rasa-rasanya jauh lebih banyak membuatnya kehilangan tenaga.


"Aku tidak akan melakukan apapun Bang. Jika Abang percaya bahwa aku memang tidak memiliki hubungan khusus dengan pak Wisnu, aku akan sangat berterima kasih. Namun jika Abang tidak percaya, aku tidak akan memaksa. Yang terpenting, aku sudah mengatakan yang sebenarnya!"


Hah, respon Jenar hanya seperti ini? Aku kira dia bakal menangis tergugu, bersimpuh di hadapanku untuk meminta maaf dan berusaha keras untuk kembali meyakinkanku. Tapi ternyata hanya seperti ini saja? Sungguh di luar ekspektasiku.


.


.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2