
Selamat Membacaππ
Di salah satu kamar kos yang terletak di pojok belakang, terlihat dua orang manusia tengah larut dalam lautan hasrat yang bergelora. Posisi wanita itu tengah terkungkung di bawah tubuh lelaki kekar yang sedang memacu tubuhnya untuk memberikan kenikmatan yang begitu diinginkan oleh keduanya. Wanita itu terlihat berkali-kali menggigit bibir bawahnya seperti menegaskan jika rasa nikmat itu tengah menguasai batinnya.
Selepas dari kafe, mereka melanjutkan acara kencan mereka di kamar kos milik si lelaki. Kos dengan akses bebas yang siapa saja bisa memasuki bahkan melakukan apa saja di tempat ini. Bahkan antar sesama penghuni kos, tidak saling turut campur akan apa yang mereka lakukan dan tidak saling mengganggu privasi masing-masing.
Kedua tubuh manusia itu menyatu. Tidak ada sehelai benang pun yang menghalangi pandangan keduanya untuk saling menatap penuh damba segala pesona yang ada di lekuk tubuh masing-masing. Tubuh keduanya berpacu. Saling meremas, saling menghentak, menggoyang hingga mengeluarkan bunyi khas ranjang yang bergoyang.
******* demi ******* yang keluar dari bibir keduanya layaknya simfoni-simfoni cinta yang mengalun merdu. Membuat kobaran hasrat yang menguasai raga dan juga jiwa mereka semakin berkobar hebat. Membumihanguskan akal sehat yang mereka miliki. Membuat mereka lupa bahwa keduanya belum memiliki ikatan apa-apa.
"Ooohhhh Baby .... Aku akan sampai... Ohhh... Ohhh...."
"Yeaaahhhh.. Honey.... Mari kita raih sama-sama...."
"Ooohhhh... Ohhhhh... Ohhhh..."
"Ssshhhh.... Sssshhh....Sssshhhh....."
"Aaaaarrrgghhhhh Baby..... Honeyyy...."
Lenguhan panjang dari kedua manusia itu menjadi akhir dari pergumulan mereka di petang hari yang berbalut mendung ini. Tubuh mereka nampak lemas, namun sedikitpun tidak mengurangi rasa puas yang mereka rasakan. Puas, karena kebutuhan batin keduanya dapat tersalurkan. Dan dengan cara seperti ini, mereka dapat merasakan apa itu surga dunia.
Sang lelaki merengkuh tubuh pasangannya untuk ia bawa ke dalam dekapan. Ia berikan kecupan-kecupan intens di kening wanitanya ini. Sebagai ucapan terimakasih yang tiada terhingga. Karena darinyalah ia bisa mereguk kenikmatan dunia yang tidak bisa tergantikan dengan apapun.
"Sayang ... jam berapa sekarang?"
Stevi menjulurkan tangannya untuk dapat menjangkau ponsel yang berada di atas nakas. Ia lirik penunjuk waktu yang terpampang jelas di layar display ponselnya.
"Jam enam lebih lima belas menit Sayang!"
Tubuh Firman terperanjat seketika. Ia bangkit dari posisi berbaringnya, mulai memungut pakaian yang berserakan di lantai dan lekas memakainya.
"Aku lupa kalau harus jemput Jenar, Sayang. Sudah dari jam setengah enam tadi ia keluar kantor."
Stevi hanya menatap sinis sang kekasih yang nampak begitu tergesa-gesa ini. "Lalu aku bagaimana Sayang? Antar aku pulang dulu. Setelah itu baru kamu jemput calon istrimu itu."
Ada sesuatu yang menyesakkan hati Stevi kala mengucapkan kata calon istri. Ia sungat tahu bahwa kekasihnya ini telah dijodohkan dengan salah satu anak sahabat orang tuanya. Namun nampaknya, cinta yang ia miliki untuk Firman begitu besar, hingga ia pun tetap bungkam dan menerima semuanya.
Firman yang sudah terlihat rapi dengan pakaian yang ia kenakan, kembali merapatkan tubuhnya di dekat tubuh sang kekasih. Ia berikan lagi sebuah kecupan di dahi.
"Kamu pulang naik taksi online dulu ya Sayang. Kalau aku mengantarmu terlebih dahulu, aku pasti sudah sangat terlambat menjemput Jenar."
Stevi mendengus kesal. Wajahnya seakan dilipat karena begitu kesal. "Tapi Sayang, aku juga mau di..."
Cup!!!
Sebuah kecupan lekat, diberikan Firman untuk Stevi. Berharap agar kekasihnya ini tidak banyak membantah. "Sudah ya, kali ini kamu naik taksi online terlebih dahulu. Biarkan aku jemput Jenar. Kalau sampai aku tidak menjemput, dia bisa semakin curiga."
Stevi membuang nafas kasar. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia hanya bisa menyetujui permintaan Firman. "Baiklah kalau begitu. Tapi ingat, jangan mesra-mesra sama dia!"
__ADS_1
Firman tergelak lirih. Buru-buru ia cubit hidung mancung kekasih gelapnya ini. "Kamu tenang saja Sayang. Hanya kamu yang bisa menyenangkan aku. Jadi, posisi kamu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun."
Mendengar ucapan Firman, membuat hati Stevi luluh seketika. Raut wajah yang sebelumnya terbingkai ekspresi penuh kekesalan, kini binar kebahagiaan itu terbit sedikit demi sedikit. "Ya sudah, berangkat gih! Setelah ini aku pulang."
Firman mengacak rambut Stevi sedikit kasar. "Aku berangkat dulu ya Sayang."
"Hati-hati!"
πππππ
"Yeahh, saya menang lagi Pak!"
Di pos security, Jenar memekik kegirangan kala kartu remi di tangannya yang bergambar hati sukses bernilai empat puluh satu. Sebagai pertanda jika gadis belia itu tujuh kali berturut-turut telah mengalahkan dua security yang tengah berjaga di malam hari ini. Kahar dan Komar hanya bisa membelalakkan mata dengan mulut yang menganga. Tiada percaya jika gadis belia ini tiujuh kali berturut-turut berhasil mengalahkan mereka.
"Ckckck ... baru kali ini saya kalah bermain empat satu Neng. Biasanya saya selalu menang, namun entah mengapa saat ini saya menjadi orang yang paling tidak ahli dalam bermain kartu remi?"
Kahar berdecak lirih, ia benar-benar tidak menyangka jika ada anak gadis yang lihai bermain remi. Tak berbeda jauh dari Kahar, Komar pun juga turut terkesima. Sedari tadi ia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kepiawaian Jenar dalam bermain kartu.
"Harga diri saya sebagai seorang laki-laki juga seperti diinjak-injak, Neng. Baru kali ini saya kalah telak. Dan yang lebih memalukan lagi, saya dikalahkan oleh seorang gadis."
Jenar hanya terkikik geli. Ia yang frustrasi menunggu jemputan sang kekasih yang tidak kunjung datang, membuatnya terjebak di pos security. Ia yang sudah begitu lelah menunggu, akhirnya memilih untuk bergabung dengan dua security yang berjaga malam hari ini. Dan berkat Kahar dan Komar lah ia dapat membunuh segala rasa jenuh yang bertumbuh.
"Ahahaha seharusnya saya bisa masuk rekor MURI Pak. Tujuh kali berturut-turut loh saya mengalahkan pak Kahar dan pak Komar."
"Ahahaha si Eneng ini bisa saja. Apa perlu saya bilang ke pak Wisnu? Biar neng Jenar mendapatkan penghargaan karena bisa mengalahkan saya dan juga pak Kahar?" Komar bertanya sembari menyeruput kopi hitam yang telah tersaji.
"Wah, boleh juga itu Pak. Lumayan bisa jadi tambahan untuk biaya hidup saya di kota perantauan ini."
Jenar mengambil ponsel yang ia letakkan di dalam tas yang ia bawa. Ia melirik penunjuk waktu yang terpampang di sana. "Ya ampun, hampir jam tujuh. Mengapa bang Wisnu belum juga sampai? WA juga hanya di read saja. Sebenarnya dia itu jadi menjemputku atau tidak?"
"Pacar neng Jenar sudah sampai di mana? Hampir satu jam lebih loh neng Jenar menunggu."
"Entahlah Pak. Sedari tadi saya hubungi tapi tidak ada respon. Atau saya pulang naik ojek online saja ya? Saya pesimis bang Firman bisa menjemput saya."
Rasa lelah sekaligus rasa kantuk yang sedikit terbias di wajah Jenar, semakin membuat Kahar dan Komar merasa kasihan. Seharusnya sudah sejak tadi gadis ini bisa beristirahat di rumah. Namun gegara sang pacar yang memberikan harapan palsu, membuatnya harus menunggu begitu lama seperti ini.
Netra Kahar menangkap seberkas sinar lampu yang berasal dari sebuah mobil yang keluar dari tempat parkir. Sinar lampu itu nampak semakin dekat dengan pos security. Tanpa membuang banyak waktu, Kahar menghampiri si pemilik mobil itu.
"Pak Kahar? Ada apa Pak?"
Seorang lelaki yang tak lain adalah Wisnu itu sedikit terkejut karena tiba-tiba Kahar membuat laju kendaraannya terhenti. Ia yakin bahwa ada hal penting yang ingin disampaikan oleh security pabriknya ini.
"Pak Wisnu, apakah pak Wisnu bisa membantu saya?"
Lama mengenal dan berinteraksi dengan keluarga oma Widuri, membuat Kahar begitu hafal dengan sifat dan karakter pemilik perusahaan ini. Kahar yakin bahwa Wisnu salah satu keturunan almarhum oma Widuri yang memiliki hati yang begitu baik. Dan ia yakin jika bos nya ini bersedia membantunya.
"Jika saya bisa, pasti akan saya bantu Pak. Pak Kahar memerlukan bantuan apa dari saya?"
Kahar mengulas sedikit senyumnya. "Di pos security ada seorang gadis yang sedari tadi menunggu jemputan namun tidak kunjung datang Pak. Bisakah pak Wisnu mengantarnya pulang? Ini sudah malam, kasihan jika dia harus menggunakan ojek online."
Dahi Wisnu sedikit mengerut. "Memang siapa Pak? Apakah salah satu karyawan pabrik?"
__ADS_1
Kahar menganggukkan kepala. "Betul Pak, dia salah satu karyawan pabrik. Pak Wisnu bisa lihat sendiri di dalam."
Wisnu mulai melepas safety belt yang melingkar di depan dadanya, Ia matikan mesin mobil dan mulai turun untuk mengekor di belakang Kahar. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui siapa gerangan yang dimaksud oleh Kahar.
"Jenar?"
Jenar yang tengah fokus dengan ponsel yang ada di dalam genggamannya sedikit terkesiap. Ia menggiring manik matanya untuk menatap ke arah sumber suara. "Pak Wisnu?"
"Mengapa masih ada di sini? Bukankah seharusnya sudah sejak tadi kamu pulang?"
Jenar hanya bisa meringis. "Saya sedang menunggu jemputan Pak."
"Sudah berapa lama kamu menunggu?"
"Satu jam lebih Pak."
Wisnu berdecak pelan. Ternyata gadis ini begitu kuat untuk menunggu. "Satu jam lebih belum dijemput. Dan tidak ada kabar sama sekali. Lalu, mau sampai kapan kamu ada di sini?"
Jenar tersenyum kikuk sembari menggaruk ujung hidungnya yang tiada gatal. "Ini saya baru akan memesan ojek online, Pak. Setelah ini saya akan pulang."
Jenar menggulirkan jemari tangannya untuk membuka aplikasi ojek online. Namun tiba-tiba....
"Stop! Kamu tidak perlu memesan ojek online, Jen!"
Jenar kembali melirik ke arah Wisnu. "Jika tidak memesan ojek online, lalu bagaimana saya bisa pulang Pak?"
"Ikut saya! Saya akan mengantarmu pulang."
Jenar terperangah. "A-apa? Pak Wisnu akan mengantar saya pulang?"
"Ya, sudah jelas bukan? Saya akan mengantarmu pulang."
Jenar menggelengkan kepala. "Tidak perlu Pak. Saya bisa pulang naik ojek online!"
Wisnu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Rupa-rupanya gadis ini memiliki keteguhan hati yang tidak dapat diremehkan. "Ini perintah dari saya, Jenar! Jika kamu tidak menurut, akan saya berikan surat peringatan untukmu!"
Kedua bola mata Jenar terbelalak dan membulat sempurna. Dalam hati ia berkata...
Apa-apaan pak Wisnu ini. Menggunakan kewenangannya untuk memaksaku pulang bersamanya? Ini kan bukan perihal pekerjaan, tapi mengapa disangkut pautkan dengan surat peringatan?
Wisnu hanya tersenyum simpul. Ia tahu jika gadis ini sedang bermonolog dalam hati. "Saya memang memaksa kamu. Ini semua demi keselamatan kamu, sebagai salah satu peserta magang di perusahaan saya."
Ya Tuhan, ternyata pak Wisnu bisa membaca pikiranku. Punya indera keenam kah dia?
.
.
ππππππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
__ADS_1
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca