Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 39 : Tertohok


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘


Hati yang sebelumnya berbalut oleh rasa takut kini kian tersudut kala lelaki yang berdiri di depannya ini semakin tenggelam ke dalam riak ombak cemburu yang tiada menyusut. Menghempaskan raga ke palung luka tak kasat mata namun terasa begitu menyayat jiwa. Cemburu yang menguasai jiwa lelaki yang tiada lain adalah sang kekasih, ternyata telah mengubahnya menjadi sosok yang begitu mengerikan. Ia berteriak kasar dan lantang tanpa memikirkan jika raga gadis yang menjadi lawan bicaranya itu terperosok ke dalam jurang. Jurang lara yang kian terbentang. Alih-alih membuat sang gadis tenang, lelaki itu justru semakin membuat tubuh Jenar semakin berguncang.


Rasa sakit di ulu hati rasa-rasanya jauh lebih terasa perih daripada sakit di tubuh. Rasa sakit yang tidak nampak secara nyata namun akan lebih sulit untuk sembuh. Lisan bak sebilah pedang yang membabibuta telah membabat habis tunas-tunas keceriaan hingga hanya menyisakan raut wajah sendu yang terpampang.


Jenar semakin menunduk dalam. Hingga pada akhirnya, bendungan air mata yang berkumpul di pelupuk mata tak lagi mampu untuk ia tahan. Seketika mengalir deras, menerjang sudut-sudut wajah yang sebelumnya telah terbingkai oleh kabut kesedihan. Dan diiringi isak tangis yang tertahan. Sayup suara isak tangis itu pula lah yang membuat perhatian Firman seketika tertambat pada gadis yang tengah menundukkan kepala itu. Tetiba, ada sesuatu yang menyentil hati kala mendengar lirih isak tangis gadis ini.


Dikuasai oleh api amarah, membuat Firman seakan berjalan tiada berarah. Hingga membenturkannya pada rasa bersalah. Rasa bersalah terhadap gadis yang sedari tadi memilih untuk mengalah. Membentangkan hati seluas samudera untuk menerima segala ucapan yang terlisan dari bibirnya yang seakan tidak bisa dibantah. Ia pun beranjak dari posisi duduknya , menggeser tubuh untuk bisa duduk lebih dekat dengan Jenar.


Tangan Firman terulur bermaksud untuk meraih jemari milik Jenar. Namun sebelum tangan lelaki itu menyentuh jemarinya, buru-buru ia tepis. Ia selipkan di balik cardigan yang ia kenakan.


"S-Sayang ... aku minta maaf jika ucapanku melukai hatimu. Aku sungguh tidak bermaksud untuk bersikap kasar kepadamu."


Firman membuang nafas serta mengacak rambutnya kasar. Api amarah yang sempat menguasai hati, kini mereda kala melihat gadis yang duduk di sisinya ini hanyut dalam air duka yang mengalir menyusuri wajah cantiknya.


"Baru kali ini aku dihujam kata-kata kasar dari mulut seorang laki-laki, Bang. Padahal ayah, lelaki yang selama ini ada di sisiku, membesarkanku dan mencurahiku dengan kasih sayang sekalipun tidak pernah berteriak lantang ataupun berbicara kasar di hadapanku. Tidak aku sangka, jika Abang lah orang pertama yang meneriaki ku dengan kata-kata kasar seperti itu."


Jenar yang sedari tadi membisu, membungkam mulutnya, mulai membuka suara. Terlalu banyak diam, ternyata justru semakin membuat lelaki di hadapannya ini berbuat semaunya sendiri. Ia bahkan tidak mencoba mengerti jika sang gadis memilih mengalah. Mengalah untuk menjadi air agar dapat memadamkan gejolak amarah yang tercipta.


Ucapan ringan namun terasa menghunus seonggok daging bernyawa dalam dada. Lelaki itu sedikit tersadar jika tidak seharusnya ia berperilaku demikian. Membuat Jenar ketakutan akan teriakannya yang lantang.

__ADS_1


"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku hanya khawatir kalau sampai kamu terpikat oleh lelaki itu Sayang. Hanya karena lelaki itu mengendarai mobil, lalu kamu bisa berpaling begitu saja. Sehingga lupa jika kamu sudah memiliki kekasih."


Jenar menyeka sisa-sisa air mata yang masih membasahi wajah. Ada sedikit rasa kecewa. Namun, ia masih berpikir jernih dan menganggap kekasihnya ini memang tengah dikuasai oleh rasa cemburu hingga membuatnya mengatakan hal seperti itu.


"Meski aku hidup di tengah-tengah keluarga yang penuh dengan kesederhanaan, namun aku bukanlah perempuan matre seperti yang Abang tuduhkan. Dan asal Abang tahu, ingatanku masih tetap terjaga bahwa aku memiliki seorang kekasih bahkan seorang calon suami."


"Aku mohon mulai hari ini kamu menjaga jarak terhadap lelaki itu Sayang. Jangan pernah lagi berinteraksi dengan lelaki itu. Aku sungguh cemburu."


Playing victim itulah yang dilakukan oleh Firman. Ia seakan-akan menyalahkan Jenar yang telah membuat cemburu dan melukai hatinya karena pulang bersama lelaki lain. Sadar atau tanpa ia sadari jika sesungguhnya, ia sendirilah yang telah membuat hati Jenar terlukai oleh perselingkuhannya dengan Stevi.


"Bagaimana bisa aku menjaga jarak dengan pak Wisnu, Bang? Dia adalah atasanku. Tepatnya pimpinan perusahaan yang menjadi tempatku magang saat ini. Itu artinya, aku akan lebih sering berinteraksi dengan pak Wisnu bukan?"


Jenar sejenak menjeda ucapannya. Ia raup udara dalam-dalam untuk mengisi rongga dadanya dengan oksigen. "Maksud menjaga jarak itu seperti apa? Aku sungguh tidak paham."


Jenar hanya membisu. Tidak mengiyakan dan tidak juga menolak apa yang menjadi kemauan Firman. Ingin rasanya ia menganggukkan kepala dan mengatakan iya, namun entah mengapa rasanya begitu berat dan lidahnya juga terasa begitu kelu.


"Pulanglah Bang! Aku lelah. Aku ingin segera beristirahat."


Firman sedikit terkesiap kala gadis di hadapannya ini tidak memberikan jawaban sama sekali. Meski ia sudah memiliki cadangan kekasih gelap, namun melihat Jenar begitu dekat dengan Wisnu sungguh membuatnya tidak rela. Ia masih ingin memiliki Jenar seutuhnya.


"Berjanjilah padaku bahwa kamu akan menjaga jarak dari lelaki itu Sayang. Berjanjilah!"


"Aku tidak akan berjanji apapun Bang. Namun, aku bisa membawa diriku tentang bagaimana harus bersikap dengan lelaki lain. Aku masih bisa menjaga perasaanmu."

__ADS_1


Firman tersenyum penuh arti. Hatinya sedikit lega karena ucapan Jenar ini menjadi pertanda bahwa gadis itu menurut dengan apa yang menjadi permintaannya.


"Terima kasih Sayang. Aku sungguh bahagia mendengarnya. Aku hanya sedang tidak percaya diri dan merasa takut saja kalau sampai kamu terpikat oleh lelaki bernama Wisnu itu. Karena bagaimana pun juga, keadaan dia jauh lebih segala-galanya daripada aku."


Tubuh Firman semakin merapat ke tubuh Jenar. Ia condongkan bibirnya untuk bisa menyentuh pipi gadis di hadapannya ini. Rupa-rupanya Firman bermaksud mencuri ciuman sang kekasih. Merasakan aura-aura negatif mengelilingi, gegas gadis itu beranjak berdiri. Hingga hanya membuat Firman terkejut setengah mati dan gigit jari. Tidak menyangka jika Jenar menghindari.


"Aku sanggup menerima apapun keadaanmu Bang asal kamu tidak bermain belakang. Aku sanggup setia dengan seorang laki-laki, asal ia juga menjunjung tinggi apa itu makna setia hingga ujung usia nanti."


Ucapan Jenar sukses membuat Firman tertohok seketika. Tubuhnya sedikit bergetar. Khawatir jika permainannya dengan Stevi sampai terendus oleh kekasihnya ini.


Mati aku!!!!


.


.


🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❤❤❤


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca

__ADS_1


__ADS_2