Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 24 : Saling Mengagumi?


__ADS_3


Selamat Membaca 😘😘😘


Ruang pimpinan PT WUW ini terasa begitu dingin meski pendingin ruangan masih berada dalam mode off. Dinginnya sampai merasuk ke dalam kulit dan terasa menusuk-nusuk tulang. Dua orang yang berada di dalam ruangan ini sama-sama terdiam, membisu dan hanya keheningan dan kebekuan yang tercipta. Meski keduanya duduk dengan saling berhadapan namun tidak saling menatap. Kepala keduanya sama-sama menunduk layaknya dua orang yang kehilangan uang logam dan sibuk untuk mencarinya hingga berhasil mereka temukan.


Hanya suara detak jarum jam dan suara cicak-cicak di dinding yang terdengar sedikit memecah keheningan yang ada. Mungkin jika mereka dapat berbicara, mereka akan melancarkan aksi protes karena hampir setengah jam dua manusia itu berada di dalam ruangan namun hanya sama-sama terdiam.


Jenar, gadis yang terkenal bagitu pemberani hari ini mendadak menjadi manusia yang jauh berbeda. Ia hanya bisa terus menundukkan kepala sembari merem*as-re*mas jemari tangan yang terasa sudah begitu dingin akibat keringat yang keluar dari pori-pori kulit. Mendadak ia kicep, tidak berani bersuara sedikitpun.


Ya Tuhan, sampai kapan akan seperti ini? Sebenarnya aku akan diapakan oleh pimpinan perusahaan ini? Mengapa bulu kuduk ku tiba-tiba meremang begini?


Jenar sibuk bermonolog dalam hati. Perilaku bos besar yang berhadapan langsung dengannya ini sungguh membuat nyalinya menciut bahkan hilang layaknya debu yang terbang dibawa oleh angin. Ia sampai berpikir jika sang bos besar sedang merangkai kata untuk mendepaknya dari perusahaan ini.


Wisnu yang juga hanya terdiam sedikit melirik ke arah gadis belia yang kini masih berada dalam mode silent. Senyum tipis terbit di bibir duda berusia empat puluh tahun itu yang seketika justru mengeluarkan aura tampan yang semakin kentara.


Mengapa aku justru lebih senang jika melihat gadis ini banyak bicara? Meski saat itu dia nampak begitu uring-uringan namun mengapa terlihat jauh lebih menggemaskan? Ah Wisnu, bangunlah! Jangan seperti ini! Sebenarnya apa yang membuatmu begitu terkesima dengan gadis ini? Sampai-sampai kamu cari keberadaannya saat ia tidak menampakkan wajahnya di saat kamu memberikan sambutan tadi?


"Ehemmm ... Jadi, apa yang ingin Anda sampaikan perihal keterlambatan ini?"


Pada akhirnya, keheningan dipecah oleh suara Wisnu yang mulia membuka sebuah pembicaraan. Ia ingin tahu, apa yang membuat siswa dengan nilai kelulusan terbaik ini tidak disiplin dalam bekerja.


"S-saya minta maaf atas keterlambatan saya Pak. Tadi saat saya berangkat, saya lebih dulu menolong seorang anak kecil yang akan berangkat ke sekolah."


Masih dengan kepala menunduk, Jenar mencoba menyampaikan apa yang ia alami di tengah jalan kala berangkat tadi. Seharusnya ia tidak perlu menundukkan kepala mengingat salah satu yang menyebabkan ia terlambat adalah menolong gadis kecil bernama Citra. Namun entah mengapa saat ini jiwa pemberani yang ia miliki tiba-tiba menguap begitu saja.


"Apakah seperti ini yang diajarkan kepadamu tentang bagaimana berhadapan dengan pimpinan perusahaan? Dengan menundukkan kepala tanpa menatap lawan bicara?"


Ucapan Wisnu sukses membuat Jenar terkesiap. Gadis itu benar-benar tidak memiliki maksud untuk bersikap tidak sopan, namun entah mengapa terbesit rasa tidak enak hati kala melihat wajah pemilik perusahaan ini. Terlebih, setelah kasus tertidur di saat talkshow itu terjadi.


Dengan sisa keberanian yang dimiliki, Jenar mendongakkan wajahnya. Ia tatap lekat netra lelaki yang tak lain adalah pimpinan perusahaan ini. Hingga kini manik mata keduanya saling bertaut.


Deg...!!!


Astagah ya Tuhan .... mengapa lelaki ini terlihat begitu tampan dan memesona? Padahal ini bukanlah kali pertama aku bertemu dengannya. Namun mengapa saat ini aku merasa jika lelaki ini sangat tampan? Tidak-tidak. Sadar Jen! Tidak seharusnya kamu memuji lelaki lain di saat kamu telah memiliki sebuah ikatan dengan seorang laki-laki. Bang Firman jauh lebih tampan. Ingat itu Jen!

__ADS_1


"Sekali lagi saya minta maaf atas keterlambatan saya Pak. Saya siap untuk menerima hukuman apapun."


"Mengapa Anda lebih memilih untuk menolong gadis kecil yang akan berangkat ke sekolah itu daripada bersegera berangkat ke kantor? Apakah keberadaan gadis kecil itu jauh lebih penting daripada posisi Anda yang justru dipertaruhkan?" Wisnu melayangkan beberapa pertanyaan kepada Jenar yang menatapnya dengan tatapan sulit terbaca itu. Sejenak ia jeda ucapannya dan kembali ia lanjutkan. "Apakah Anda tidak memikirkan posisi Anda, jika saya sebagai pimpinan akan mengambil langkah untuk mengeluarkan Anda karena keterlambatan Anda ini?"


Ucapan Wisnu membuat Jenar merasa sedikit tersudut. Saat ini ia seakan kesulitan untuk memberikan sebuah jawaban. Namun, ia beranikan diri untuk menjawab apa yang dipertanyakan oleh pimpinan perusahaan ini.


"Posisi saya di kantor sebagai peserta magang memanglah penting mengingat akan menjadi gerbang awal bagi saya untuk meraih apa yang saya impikan sejak dulu. Namun, membiarkan seorang gadis kecil yang tengah mengalami kesulitan berangkat ke sekolah dikarenakan mobil yang ia tumpangi mogok di tepi jalan, sungguh bertentangan dengan nurani saya sebagai manusia. Maka dari itu saya memilih untuk mengantarkannya terlebih dahulu hingga tiba di sekolah." Masih dengan lekat menatap wajah Wisnu, Jenar menjeda sejenak ucapannya. "Namun, saya akan bertanggung jawab atas semuanya. Termasuk mendapatkan sanksi dari Bapak."


Sebuah ekspresi yang dipenuhi oleh rasa kagum, tercetak jelas di bingkai wajah tampan Wisnu. Ia benar-benar terkesima saat mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh salah satu peserta magang ini. Gadis belia yang memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesama.


"Apakah hanya faktor mengantar gadis kecil ke sekolah itulah yang membuat Anda terlambat? Saya merasa ada faktor lain yang belum Anda ceritakan."


Matilah kamu Jen. Setelah ini pimpinan ini akan tahu mengapa kamu terlambat. Bahwa faktor utama kamu terlambat adalah kesiangan.


"S-Saya..."


"Kesiangan?"


Jenar terkesiap karena Wisnu bisa menebak dengan jitu. Ingin rasanya ia menggelengkan kepala agar selamat namun tetiba ada perkataan dari sang ayah yang telah terpatri dan melekat erat di otak dan juga hati.


Nak, jadilah orang yang jujur di manapun kamu berada. Meskipun pahit namun kejujuran lah yang akan menyelamatkanmu.


Ingin rasanya Wisnu terbahak saat ini juga, mengingat wajah sang gadis yang begitu menggemaskan, namun sebisa mungkin ia tahan. "Jadi, saat ini saya harus menyalahkan insomnia yang menyerang Anda? Dan menghukumnya?"


"Bukan. Bukan begitu maksud saya Pak. Saya memang diserang oleh insomnia, namun yang patut mendapatkan sanksi adalah saya sendiri. Saya siap menerima sanksi apapun dari Bapak, asalkan saya masih tetap bisa magang di perusahaan ini."


Wisnu mengangguk-anggukkan kepala sekolah mencoba memahami apa yang diucapkan oleh gadis ini. Namun, percayalah Wisnu saat ini sedang berusaha menahan rasa gemas yang merajai hati. Gemas terhadap gadis belia ini.


"Apa yang membuat Anda begitu ingin magang di perusahaan saya? Apakah itu salah satu cara Anda meminta saya untuk bertanggung jawab atas apa yang pernah terjadi di acara talkshow beberapa waktu yang lalu? Anda meminta saya untuk bertanggung jawab karena sudah memeluk Anda?"


Kedua bola mata Jenar terbelalak dan membulat sempurna. Tiba-tiba rasa panas menjalar di pipi gadis itu. Panas bukan karena sebuah tamparan. Namun karena malu. Malu karena tiba-tiba pimpinan perusahaan ini membahas kejadian yang berujung kesalahpahaman itu. Yakinlah, saat ini wajah Jenar sudah memerah layaknya buah tomat.


"Tidak Pak, sama sekali tidak. Saya yang justru minta maaf karena saya telah berpikir yang tidak-tidak terhadap Bapak dan juga sempat memfitnah Bapak. Saya benar-benar minta maaf."


"Itu artinya, Anda sudah tidak lagi meminta pertanggungjawaban dari saya?" Wisnu bertanya sembari beranjak dari kursi kebesarannya dan ia ayunkan kakinya untuk berdiri di sisi Jenar.

__ADS_1


Jenar menggelengkan kepala. "Tidak Pak. Saya tidak meminta pertanggungjawaban apapun dari Bapak."


Wisnu tersenyum simpul. Rasa-rasanya begitu mengasyikkan menggoda gadis belia seperti ini. "Padahal saya berniat untuk menikahi Anda jika Anda masih menginginkan saya untuk bertanggung jawab."


Jenar tersentak. Ia menautkan pandangan matanya ke arah Wisnu yang berdiri di sisinya ini dengan intens. Hingga pandangan keduanya saling mengunci. Jenar terdiam, membisu. Lidahnya seakan kelu. Berucap sepatah katapun ia tidak mampu.


Sedangkan Wisnu hanya bisa tersenyum simpul. Ia memindai ekspresi wajah cantik gadis di hadapannya ini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sampai pada akhirnya...


"Ada apa dengan kaki Anda?"


Jenar yang sedikit larut dalam lamunannya, seketika terperanjat. Buru-buru ia melirik ke bagian kaki yang ternyata terdapat lecet di sana. Ia sendiri pun juga teramat kaget melihat kakinya terluka. Ia yang terburu-buru sampai tidak sadar jika kakinya lecet dan berdarah. "I-ini tadi saya..."


"Diamlah di situ. Jangan ke mana-mana!"


Tanpa membuang banyak waktu dan tanpa basa-basi, Wisnu mulai mengayunkan kakinya untuk menuju kotak obat yang menempel di salah satu sisi dinding ruang kerjanya. Ia ambil rivanol, kapas dan obat merah.


"Selain hobi tidur, Anda juga memiliki kebiasaan tidak berhati-hati kah? Mengapa bisa luka dan lecet seperti ini?"


Dengan cekatan Wisnu membersihkan luka di kaki Jenar dengan rivanol dan kemudian ia oleskan obat merah di sana. Hal itulah yang membuat tubuh Jenar semakin mematung, tidak dapat berkutik sama sekali. Ada beberapa pertanyaan yang bergelayut manja di dasar hati yang hanya bisa membuatnya bingung setengah mati.


Deg... Deg... Deg....


Entah jantung siapa yang bertalu-talu layaknya bunyi suara bedug kala menjelang waktu adzan berkumandang. Keduanya nampak larut dalam pikiran masing-masing.


Jenar ... ada apa dengan jantungmu? Mengapa ia berdegup kencang seperti itu. Sadar Jenar, lelaki ini hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Hanya membantumu membersihkan lukamu.... -Jenar-


Mengapa aku melakukan ini? Mengapa rasa-rasanya aku tidak tega melihat gadis ini terluka? Dan mengapa tiba-tiba aku mengobati luka gadis ini? Wisnu ... sebenarnya apa yang sedang terjadi kepadamu? Sejak kapan kamu mulai peduli dengan gadis asing? -Wisnu-


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2