
Selamat membacaππ
Udara dingin masih terasa menusuk pori-pori kulit hingga menembus tulang. Membuat manusia- manusia yang merasakannya lebih memilih untuk tetap meringkuk di bawah selimut tebal atau mungkin bagi yang terpaksa keluar rumah, mengharuskan mereka memakai jacket tebal.
Udara yang begitu terasa dingin sekarang ini mungkin dampak dari musim bediding, yang mana merupakan musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Suhu udara pada masa musim bediding memang tidak sedingin di daerah subtropis, tetapi sudah dapat membuat badan menggigil kedinginan bagi yang tinggal di daerah dataran tinggi.
Jenar berbaring di sisi Wisnu dengan posisi lengan Wisnu berada di bawah kepala Jenar dan satu tangannya memeluk pinggang Jenar. Mereka terlihat asyik bercengkerama, menceritakan semua hal yang terjadi sebelum pertemuan mereka.
"Sayang, terima kasih karena kamu sudah bersedia menjadi istriku," ucap Wisnu sambil menghujani sang istri dengan ciuman bertubi-tubi di pipinya.
"Iya Mas, aku juga berterima kasih karena kamu telah memilihku untuk menjadi pendamping hidupmu."
"Maaf juga karena resepsi pernikahan kita baru bisa aku selenggarakan bulan depan Sayang. Karena aku ingin semuanya sempurna Sayang."
Jenar tergelak lirih. Ia usap pipi suaminya ini dengan lembut. Mencoba merasakan apa yang mengganggu pikirannya. Setelahnya, ia labuhkan sebuah kecupan di bibir Wisnu.
"Tidak perlu minta maaf Mas. Bahkan seandainya hanya resepsi sederhana saja tidak masalah bagiku. Karena aku sudah cukup berbahagia dengan menjadi istrimu."
Senyum manis terbit di bibir Wisnu. Ya, Jenar tetaplah Jenar. Seorang gadis yang sangat sederhana dan tidak pernah banyak menuntut.
"Tapi aku akan mempersiapkan semuanya dengan sempurna Sayang. Karena kamu memang istimewa."
Jenar kembali mengusap bibir Wisnu. Ia pandang manik mata suaminya ini dengan intens. "Aku tidak akan pernah menuntut apapun darimu Mas. Aku hanya minta kamu bisa menjalankan kewajibanmu sebagai seorang suami dengan baik."
Wisnu meraih jemari tangan Jenar dan mengecup buku-buku jarinya. Lelaki itu menganggukkan kepala. "Itu sudah pasti Sayang. Aku akan menjalankan peranku dengan sebaik-baiknya."
"Terima kasih banyak Mas." Jenar sejenak menjeda ucapannya sebelum pada akhirnya ia lanjutkan kembali. "Mas, apakah aku boleh meminta sesuatu?"
"Apa itu Sayang? Akan aku lakukan semuanya untukmu."
"Jangan pernah menduakan aku, Mas. Aku sadar bahwa aku ini jauh dari kata sempurna. Mungkin di luar sana banyak wanita-wanita yang jauh lebih segalanya. Tapi aku minta, jangan pernah sekalipun kamu membagi perasaanmu dengan wanita lain di luar sana."
Wisnu tersenyum simpul. Ia tahu jika apa yang pernah dilakukan oleh Firman menyisakan bekas luka yang teramat dalam. Sehingga membuatnya sedikit ragu bahwa tidak semua laki-laki itu sama. Mungkin memang ada sebagian laki-laki yang mudah untuk berbagi. Namun pastinya lebih banyak laki-laki yang menjunjung tinggi apa itu ikatan suci pernikahan dan hanya setia pada satu orang istri saja bukan?
Semoga para pembaca tulisan ini yang memiliki gelar sebagai seorang suami, termasuk ke dalam golongan laki-laki yang hanya setia pada satu orang istri ya... Aamiin βΊ
"Aku janji akan selalu mencintaimu Sayang, dan tidak akan pernah menghadirkan wanita lain di tengah-tengah kita." Wisnu menjeda kalimatnya. "Eh tapi sepertinya tidak bisa Sayang. Aku tetap menghadirkan seorang wanita yang aku cinta selain kamu."
Jenar mengernyitkan dahi. Dadanya terasa sedikit bergemuruh tatkala mendengarkan Wisnu mengatakan hal itu. Ucapan sang suami benar-benar membuat perasaannya bercampur aduk dan kepalanya dipenuhi oleh tanda tanya besar.
"Apakah itu sama artinya jika kamu sebelas duabelas dengan bang Firman, Mas? Apakah itu artinya kamu juga mencintai wanita lain?"
Kedua mata Jenar memanas. Tak ayal membuat titik-titik bening berkumpul di pelupuk matanya. Mungkin tidak memerlukan waktu lama, titik-titik bening itu akan menetes.
__ADS_1
Wisnu mengulas sedikit senyumnya sebelum pada akhirnya ia peluk tubuh Jenar dengan erat. Ia tempelkan bibirnya ke leher sang istri seraya berbisik. "Aku memang sudah mencintai wanita lain Sayang. Dia adalah Citra. Dan mungkin jika nanti kita diberikan anugerah anak perempuan, akan aku bagi lagi cintaku untukmu, untuk Citra dan untuk anak perempuan kita."
Jenar seketika terperangah. Tidak menyangka jika wanita yang dimaksud oleh Wisnu adalah Citra. Padahal ia sudah overthinking terhadap suaminya ini.
"Iiihhhh ... kamu jahil ya Mas."
Merasakan hembusan nafas Wisnu yang berada di antara ceruk leher juga telinga membuat Jenar seperti terkena sengatan listrik yang mengaliri tubuhnya. Membuat gadis itu merinding tak terkira.
"Sayang, kita bikin dedek bayi yuk." Wisnu berujar dengan seringai menggoda, sambil mengedipkan mata.
Wajah Jenar memerah, dadanya terasa bergemuruh. Reflek ia menganggukkan kepalanya sambil tersipu malu.
Pada akhirnya, mereka hanyut dalam lautan hasrat yang menggelora diiringi dengan deru nafas yang menggebu layaknya ombak pantai yang bergulung-gulung memecah batu karang. Dan malam ini adalah malam panjang sepasang suami istri itu untuk menyatukan raga yang sempat tertunda selama satu minggu akibat kehadiran tamu bulanan. πππ
ππππ
Tubuh Jenar tergolek lemas. Ini merupakan kali pertama ia merasakan lelah yang luar biasa justru ketika berada di atas tempat tidur. Hawa dingin malam ini nyatanya tidak bisa menahan tetesan peluh di sekujur tubuhnya dan membuatnya malah merasa gerah yang teramat sangat di dinginnya malam seperti ini.
"Aaawwwwww..."
Jenar merintih tatkala merasakan sensasi rasa nyeri di bagian se*nsitifnya.
"Sayang, masih sakit?"
Kedua bola mata Jenar membulat penuh sembari menatap sinis wajah lelaki ini. Ia pun hanya bisa bermonolog dalam hati mendengar pertanyaan konyol suaminya ini.
Jenar meringis menahan sakit dan juga perih. Entah bagaimana permainan di atas kasur itu terjadi. Saat Wisnu mencium lehernya tadi, seakan aktifitas bagian tubuh mereka yang lain tidak bisa dikendalikan.
Dari sebuah kecupan lembut, berubah menjadi ciuman panas. Dari sapuan tangan yang pelan menjadi sebuah remas-an yang membuat keduanya dipenuhi dengan keinginan yang lebih dari sebuah ciuman maupun sebuah remasan- remasan tangan.
Rambut Wisnu juga terlihat basah oleh keringat. Laki-laki berumur empat puluh tahun itu ternyata memiliki power yang kuat, yang membuat Jenar hampir tidak berhasil mengimbanginya. Namun dengan rasa cinta yang Jenar miliki juga sebuah niat untuk beribadah, akhirnya Jenar bisa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik. Nafas mereka masih terdengar memburu setelah pelepasan yang mereka raih. Mungkin Wisnu masih ingin meneguk manisnya sari tubuh Jenar lagi, namun melihat istrinya menahan rasa sakit, maka cukup sekali ia meraih pelepasan itu.
"Sayang ... mengapa diam saja, masih terasa sakit?" Wisnu bertanya kembali. Mengulang pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh sang istri.
"Hehehe iya Mas, di situ sakit sekali," jawabnya sambil menunjuk area sensitif nya.
Wisnu mengecup pucuk kepala Jenar. "Maaf ya Sayang, karena aku sudah membuatmu kesakitan."
Rasa bersalah itu tetap ada saat melihat Jenar seperti berusaha untuk menyembunyikan rasa sakitnya. Namun mau bagaimana lagi karena ia tidak dapat menghentikan segala gejolak yang ada. Tubuh Jenar sungguh terasa begitu manis dan nikmat untuk ia reguk kenikmatannya.
"Mas, ini sudah menjadi kewajibanku. Kamu tidak perlu meminta maaf." Jenar mengusap lembut pipi Wisnu dan menatap manik mata lelaki ini dengan lekat. "Eemmmmm, apa kamu merasa puas, Mas? Apakah aku sudah bisa melayanimu dengan baik?"
Wisnu tersenyum. Dilabuhkannya kecupan lembut di bibir istrinya ini. "Aku sangat puas sayang. Terima kasih banyak karena kamu dengan penuh keikhlasan telah memberikan sesuatu yang begitu berharga untukku. Aku merasa mendapatkan anugerah terindah dari Tuhan dengan kehadiranmu."
"Sama-sama Mas. Aku juga merasa kamu adalah anugerah terindah bagiku. Karena hadirmu lah yang membalut semua lukaku."
__ADS_1
Jenar menggeser posisi tubuhnya. Ia bermaksud ingin beranjak dari posisi rebahannya. Mata wanita itu terbelalak melihat bercak merah di sprei tempat tidurnya. Sebuah jejak yang menjadi tanda jika saat ini ia telah menjadi istri seutuhnya. Yang telah memberikan semua yang ia miliki untuk sang suami tercinta.
"Sayang, aku gendong ya. Aku rasa kamu akan kesusahan untuk sampai kamar mandi?"
Wisnu menawarkan diri seraya memakai kembali celana pendek dan kaos tipis yang sebelumnya ia pakai.
Jenar menggeleng. "Tidak per..."
Seketika Wisnu mendekat ke arah Jenar, kemudian ia raih tubuh sang istri lalu memanggulnya seperti memanggul karung beras.
"Aaaaaaaaaa Mas...." Jenar berteriak karena terkejut dengan perilaku suaminya ini.
"Sssttt diam sayang, jangan berteriak, nanti tetangga bisa mendengar teriakanmu ini dan aku bisa dianggap pencuri."
Wisnu memperingatkan Jenar sembari mengayunkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Untung saja ada kamar mandi dalam di kamar yang mereka tempati. Sehingga Jenar tidak perlu merasa canggung untuk mandi di tengah malam seperti ini.
Wisnu mendudukkan tubuh Jenar di atas closet. Kemudian mengguyurkan air ke seluruh tubuh istrinya.
"Sudah Mas, aku bisa mandi sendiri. Tidak perlu pakai acara dimandikan segala."
"Tidak apa-apa Sayang, aku ingin memandikan kamu. Siapa tahu nanti di tengah jalan, kamu minta seperti tadi lagi. Jadi kamu tidak perlu berteriak memanggilku," seloroh Wisnu sambil mengguyurkan air ke tubuh Jenar.
"Mas, ini masih sakit, masak masih mau dibobol lagi?"
Dengan bibir sedikit mengerucut dan pipi menggembung, Jenar memprotes ucapan suaminya ini. Rasa-rasanya sudah cukup untuk malam ini. Entah untuk malam-malam selanjutnya. Mungkin bisa dua kali, tiga kali atau malah tujuh kali.
"Hahahaahaha iya Sayang, aku hanya bercanda saja kok. Tapi besok kalau sudah tidak sakit, aku boleh minta lebih dari sekali ya."
Jenar hanya bisa tersenyum tipis seraya mengangguk. "Iya Mas, iya. Berapapun kamu minta, akan aku kasih."
"Hahaha hahaha terima kasih istriku."
.
.
ππππ
Mohon maaf telat sekali ya Kak.. Sebenarnya sudah dari tadi pagi saya update tapi tidak lolos review. Dan sebenarnya part nya lebih hot daripada ini tapi apalah daya ditolak sama NT. πππ Meski tidak terlalu hot sekali, semoga bisa tetap menikmatinya ya Kak... π₯°π₯°π₯°
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
Salam Love, love, loveβ€β€β€
__ADS_1
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca