Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 33 : Rencana yang Sama


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘


Sayup suara adzan subuh telah terdengar di telinga. Diiringi dengan kokok suara ayam jantan yang seketika membuat mata-mata penduduk bumi terbuka dan segera meraih kesadaran. Bangun dari mimpi yang telah memeluk mereka semalaman.


Tubuh Jenar menggeliat kala merasakan hembusan angin malam yang masuk melalui jendela kamar yang ternyata ia biarkan terbuka lebar. Gadis itu nampak begitu kelelahan sampai-sampai membuatnya lupa untuk menutup jendela kamar. Beruntung, tidak ada orang jahat yang berkeliaran. Jika sampai ada orang jahat yang berkeliaran, entah apa yang akan dialami oleh putri Rukmana dan Sutha itu.


Bola mata yang bersemayam di balik kelopak yang sebelumnya terkatup, saat ini nampak bergerak-gerak. Perlahan, kelopak itu terbuka hingga pada akhirnya, terbuka. Kedua mata Jenar sedikit memincing, kala sinar lampu kamar terasa begitu menusuk kornea mata. Ia menggeser tubuhnya untuk bersandar di head board ranjang. Ia meregangkan otot tubuhnya yang terasa begitu kaku dan sesekali terlihat menguap.


"Hah ... alhamdulillah, aku masih diberikan kesempatan untuk bisa menghirup oksigen di dunia ini. Dan ini hari Minggu, itu artinya waktunya untuk rebahan di atas kasur, yeaayy!!!"


Jenar bermonolog lirih sembari memekik kegirangan kala menyadari jika hari ini adalah hari minggu. Bagi kaum pekerja seperti dirinya, hari minggu merupakan hari yang paling membahagiakan. Dengan hari ini ia bisa menghabiskan waktu untuk bersantai di atas pembaringan seraya bermalas-malasan. Namun seketika kebahagiaanya itu sirna kala teringat akan satu hal.


"Huh ... bagaimana aku bisa santai? Cucian baju sudah menumpuk dan ah... hampir saja aku lupa jika hari ini aku memiliki janji untuk pergi dengan bang Firman."


Jenar mulai bangkit dari posisi rebahannya. Ia ambil tali rambut yang ada di atas nakas untuk mengikat rambutnya asal.


"Hemmm ... lebih baik aku segera shalat, mencuci baju, mandi, dan setelah itu bersiap-siap untuk jalan-jalan dengan bang Firman."


Lagi-lagi gadis itu bermonolog lirih. Rupa-rupanya hari ini ia begitu bahagia karena akan jalan keluar bersama sang calon suami. Gegas, ia mulai mengayunkan kaki, masuk ke dalam kamar mandi. Bersuci kemudian ia awali hari ini dengan bersujud dan bersimpuh di hadapan sang Ilahi.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


"Papa, mau ke mana kita hari ini?"


Citra yang tampil sporty nampak berdiri di sisi mobil yang sudah terparkir di depan garasi. Gadis itu rupa-rupanya tengah menunggu sang papa yang saat ini sedang memakai sepatu sneakers. Tidak mau kalah dari sang putri, pria berusia empat puluh tahun itu juga nampak sporty dengan celana jeans dipadukan dengan t-shirt warna putih, hoody, dan juga topi warna senada.


"Mau ke taman kota Sayang."


"Memang di taman kota ada apa Pa?"


Wisnu yang sudah selesai dengan aktivitasnya, mulai mengayunkan kaki untuk lebih dekat dengan sang putri. Lelaki itu mengulas senyumnya sembari merapikan rambut Citra yang sedikit berantakan.


Citra nampak manggut-manggut seakan paham dengan apa yang dikatakan oleh sang Papa. "Oh jadi sedari tadi Citra tidak diperbolehkan sarapan karena kita akan makan di taman kota ya Pa?"


Wisnu yang mendengar cicitan kecil dari bibir putrinya ini hanya tergelak. Kata-kata yang diucapkan Citra seperti seorang anak kecil yang tidak diperbolehkan untuk menikmati sarapan pagi. Padahal sejatinya ia hanya memiliki maksud agar Citra tidak terlalu kekenyangan. Karena nanti pastinya akan ada banyak makanan yang dapat ia nikmati di taman kota.


"Bukan tidak boleh sarapan Sayang. Hanya saja Papa ingin mengajak Citra untuk sarapan di taman kota. Papa yakin Citra akan senang karena di sana banyak sekali para penjual makanan. Dan Citra boleh memakan apa saja."


"Waaaah asyik... Pokoknya Citra mau makan yang banyak ya Pa!"


"Tentu boleh Sayang, tapi ingat ya jangan berlebihan karena yang berlebihan itu tidaklah baik. Oke?"

__ADS_1


"Oke Papa!"


Wisnu meraih tubuh Citra untuk ia bawa ke dalam gendongan. Melihat wajah sang putri terbingkai oleh rona penuh kebahagiaan, membuat senyum sumringah tiada henti terbit di bibir Wisnu. Sungguh begitu sederhana cara membahagiakan putrinya ini. Hal-hal kecil seperti ini ternyata bisa membuat Citra bahagia tiada terkira.


Wisnu dudukkan Citra di bangku sebelah bangku kemudi. Setelahnya, ia pun mengambil posisi di balik kemudi. Perlahan, mobil yang dikemudikan oleh Wisnu bergerak dan mulai melesat untuk menuju taman kota.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Mohon maaf, pendek dulu ya Kak.. Masih ada di rest area menuju Madura. InshaAllah, nanti saya sambung lagi ya.. πŸ₯°



Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca

__ADS_1


__ADS_2