
Selamat Membaca😘😘
Tiga puluh menit memangkas jarak yang tercipta antara tempat tinggal dan tempat kerja, pada akhirnya motor sport yang dikendarai oleh Firman tiba di depan kantor PT WUW. Gegas, Jenar melepaskan lengan tangan yang melingkar di pinggang Firman dan bersegera turun dari motor.
Jenar berdiri di sisi motor. Ia bermaksud ingin melepas pengait helm yang ia pakai namun buru-buru dicegah oleh Firman. Ia sedikit mencondongkan wajahnya di wajah Jenar dan dengan cekatan, Firman melepas pengait helm milik kekasihnya ini. Dengan posisi sedekat itu, membuat Jenar merasa kikuk. Dengan posisi seperti ini, ia bisa merasakan hembusan nafas dari lelaki yang merupakan calon suaminya ini. Bagi siapapun yang kebetulan melihat posisi Jenar dan Firman, pasti akan langsung memberikan sebuah penilaian bahwa pasangan itu nampak begitu manis dan romantis. Terlebih sang lelaki, yang begitu perhatian dengan kekasihnya.
"Nah, sudah lepas. Sekarang, kamu masuk ya Sayang. Nanti, kalau sudah jam pulang kantor, kamu langsung WA aku saja, biar aku jemput. Mulai sekarang, aku lah yang bertanggung jawab atas kamu."
Jenar hanya tergelak lirih mendengar ucapan Firman ini. "Bertanggung jawab perihal apa Bang? Transportasi ke tempat kerja?"
"Ya, itu salah satunya Sayang."
"Sudah seperti abang ojek online saja Abang ini!"
"Bagiku tidak masalah Sayang, yang terpenting aku bisa memastikan keselamatanmu." Firman merapikan anak-anak rambut Jenar yang sedikit menutupi kening seraya menatapnya dengan tatapan yang di mata orang penuh cinta, namun di mata Firman sendiri entah tatapan penuh apa. Bisa jadi, tatapan penuh konspirasi. "Aku ke kampus dulu ya Sayang. Kamu hati-hati ya kerjanya."
Jenar menganggukkan kepala. "Iya Bang. Bang Firman juga semangat ya. Semangat biar cepat lulus."
Firman mencubit hidung mancung milik Jenar dengan gemas. "Iya Sayang. Kamu tenang saja, aku pasti akan segera lulus."
Sementara itu tidak jauh dari tempat Firman memamerkan ke-so sweet-annya kepada sang kekasih, terlihat seorang laki-laki dengan pakaian formalnya baru saja keluar dari mobil. Ia berjalan dengan penuh wibawa dan diekori oleh sang asisten. Namun tiba-tiba...
Bugg!!!!
"Astaga Tuan!!!"
Bima yang berjalan di belakang Wisnu tiba-tiba memekik kala tubuhnya menubruk punggung tegap bos nya ini. Ia yang sedang fokus dengan lembaran-lembaran kertas yang berada di tangannya sampai tidak sadar jika sang bos tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Alhasil tubuh Bima menubruk punggung sang bos.
"Sssttt ... tenang Bim. Jangan keras-keras!"
Sembari mengedarkan pandangannya fokus ke satu titik, Wisnu memberikan peringatan kepada sang asisten agar mengecilkan volume suaranya. Ia bahkan tidak perduli dengan sang asisten yang wajahnya sedikit ngilu akibat menubruk punggung tegap miliknya ini. Ia masih intens menikmati salah satu pemandangan yang tersaji di hadapannya.
Bima hanya bisa menatap sang bos dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia teramat heran mengapa tiba-tiba Wisnu menghentikan langkah kakinya di depan pos security seperti ini. Ia yang begitu penasaran, ikut mengedarkan pandangannya ke satu titik yang dituju oleh Wisnu. Dan betapa terkejutnya ia, karena Wisnu rela menghentikan langkah kakinya mendadak hanya untuk menatap lekat seorang gadis yang baru saja diantar ke tempat kerja oleh kekasihnya.
__ADS_1
"Tuan, ada apa? Mengapa Tuan menatap lekat gadis yang diantar oleh kekasihnya itu?"
"Bim, ketika seorang gadis diperlakukan manis seperti itu oleh kekasihnya, apa ia akan begitu bahagia?"
Bima benar-benar terperangah mendengar pertanyaan atasannya ini. Ia begitu tidak percaya, seorang Wisnu yang bisanya bertukar pikiran perihal pekerjaan dan perkembangan perusahaan, kini tiba-tiba mengajaknya berdiskusi perihal seorang gadis yang diperlukan manis oleh kekasihnya. Sungguh sangat menakjubkan. Namun, Bima berusaha keras untuk menyembunyikan kebingungan yang ia rasakan karena sikap aneh bos nya ini.
"Gadis manapun pasti akan sangat bahagia diperlukan seperti itu Tuan. Namun saya rasa tidak dengan gadis yang Tuan lihat itu."
Mendengar perkataan Bima, membuat pikiran Wisnu sedikit terusik. Sorot mata yang sebelumnya tidak lepas dengan satu objek yang berada tidak jauh dari hadapannya, kini ia alihkan ke wajah Bima. "Maksud kamu bagaimana Bim? Aku sungguh tidak paham."
"Gadis itu memang nampak begitu bahagia Tuan, namun seperti hanya sebuah kamuflase saja."
"Kamuflase seperti apa maksudmu Bim? Coba, coba jelaskan kepadaku. Aku sungguh tidak mengerti."
"Saya ra..."
Hampir saja Bima membuka mulut untuk menjawab pertanyaan sang bos, namun tiba-tiba.
"Selamat pagi pak Wisnu!"
Wisnu tersenyum kikuk. Bisa dilanda oleh rasa malu dia jika gadis yang menjadi topik pembicaraan dengan asistennya ini tahu adalah dirinya sendiri. "Eh, pagi juga Jen!"
"Kok tumben pak Wisnu dan pak Bima berdiri di depan pos security seperti ini? Sedang menunggu siapa Pak?"
Seperti itulah Jenar. Supel, dan humble. Baru beberapa jam ia mengenal Wisnu, gadis itu bisa langsung mengakrabkan diri. Meski pertemuan pertama mereka diawali dengan kejadian yang cukup ekstrim namun ia sudah tidak lagi mengingat-ingat akan hal itu. Dan seperti inilah cara dia menghormati seorang pimpinan perusahaan.
"Bukan siapa-siapa. Saya baru saja membicarakan pekerjaan dengan Bima. Namun sudah selesai kok." Wisnu melirik ke arah sang asisten. "Benar begitu kan Bim?"
Bima hanya bisa nyengir kuda. Bisa-bisanya sang bos berkilah sedang membicarakan pekerjaan. Padahal gadis di depannya inilah yang menjadi bahan pembicaraan.
Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada bos Wisnu ini. Jika aku lihat, dia seperti salah tingkah saat bertemu dengan gadis ini. Terlebih tadi saat ia menatap intens gadis bernama Jenar ini diperlakukan manis oleh kekasihnya. Ada apa ya sebenarnya? Apa mungkin bos Wisnu menaruh hati kepada gadis ini? Tapi wajar saja sih, gadis bernama Jenar ini parasnya cantik dan sepertinya hatinya juga baik.
Buru-buru Bima mencoba untuk keluar dari jebakan rasa penasarannya. Ia sedikit berdehem untuk menetralisir keadaan. "Ah, itu betul sekali Jen. Saya dan juga pak Wisnu sedang membicarakan pekerjaan. Oh iya, apakah yang mengantarmu tadi adalah kekasihmu? Saya lihat kalian begitu serasi dan manis sekali."
Jenar hanya mengangguk pelan dan sedikit tersipu. "Iya Pak, lelaki tadi adalah kekasih saya dan sekaligus menjadi calon suami saya."
__ADS_1
Bima menampakkan ekspresi wajah yang seakan-akan ia begitu terkesima. "Waaah ... calon suami? Ternyata gadis belia seusia kamu sudah memiliki calon ya Jen? Lalu, apa kabar yang masih jomblo sampai sekarang?"
Bima sedikit melirik ke arah sang bos dengan tatapan mengejek yang seketika mendapat balasan tatapan membidik dari bos nya itu. Lagi-lagi, sang asisten itu hanya nyengir kuda.
Dasar Bima, bisa-bisanya dia menyindirku. Awas saja kamu Bim. Gaji kamu bulan ini aku potong lima puluh persen.
Sorry Bos, sorry. Saya tidak bermaksud julid kepada Anda. Damai ya Bos. Jangan potong gaji saya.
Tidak bisa. Gaji kamu akan tetap aku potong Bim. Berani-beraninya kamu menyindirku.
Ampun Bos, ampun!!!
Layaknya sepasang kekasih yang sedang melakukan telepati, Wisnu dan Bima saling berkomunikasi melalui tatap mata. Sampai-sampai membuat Jenar bingung sendiri akan apa yang tengah dilakukan oleh dua orang di depannya ini.
"Pak Wisnu dan pak Bima mengapa saling menatap seperti itu? Hati-hati Pak loh ya Pak!"
Dua lelaki yang tengah ber telepati itu sama-sama tersentak dan mengerjapkan mata. Berupaya meraih kesadarannya.
"Hati-hati perihal apa Jen?"
"Hati-hati bisa jatuh cinta. Karena cinta itu biasanya datang dari mata dan kemudian turun ke hati."
"Ahahaha kamu ini ada-ada saja Jen. Ya sudah, aku dan Pak Wisnu masuk terlebih dahulu. Sekali lagi selamat ya, semoga hubungan kamu dan calon suami selalu langgeng sampai saatnya kalian menikah."
Seperti seorang sahabat, Bima memanjatkan doa terbaik untuk Jenar. Kata-kata dari Bima itulah yang membuat hati Wisnu seperti ditusuk dengan benda tak kasat mata yang seketika menyisakan sensasi rasa perih.
Ahh... Perasaan apa ini? Mengapa ada rasa sesak di ulu hati? Apakah kali ini aku termasuk orang jahat jika tidak ikut mengaamiin-kan doa Bima ini??
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺
Salam Love, love, love❤❤❤
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca
__ADS_1