Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 06 : Tragedi Pagi Hari


__ADS_3


Byurrrr!!!!


"Aaahhhh ... Bundaaaa!!!!"


Seorang gadis belia yang tengah lelap dalam tidurnya, seketika terperanjat kala sensasi rasa dingin dan basah tiba-tiba mengenai tubuhnya. Ia yang sebelumnya meringkuk di bawah selimut tebal, kini seketika dalam posisi terduduk di atas ranjang. Sekilas gadis itu tergagap, tatkala sebagian air itu masuk ke dalam hidungnya.


"Ya Allah Gusti.... Ini anak perawan jam segini masih belum beranjak dari tempat tidur? Laa illaha illaallah..."


Seorang wanita berusia paruh baya sedikit berteriak sembari mengelus dada. Tekanan darahnya tiba-tiba naik melihat polah tingkah anak perempuannya ini.


Gadis korban siraman air kamar mandi itu mengusap-usap wajahnya. Meski wajahnya telah basah kuyup namun masih sempat ia menguap. Sesekali ia mengucek-ucek mata dan...


Bug!!


Ia kembali menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Kembali memejamkan mata dan mencoba untuk kembali merajut mimpinya. Namun baru saja ia ingin meraih jarum dan benang untuk memulai merajut, tiba-tiba...


"Jenar Budhiani Candrakanti!!!!!"


Bak menggunakan toa masjid, suara wanita paruh baya itu terdengar begitu menggema memenuhi langit-langit kamar dan memekak telinga.


Pluk... pluk... pluk...


Ckk.. ckkk... ckkkk...


Tiga ekor cicak yang sebelumnya merayap di langit-langit kamar sukses berjatuhan. Sepertinya suara wanita paruh baya itu benar-benar membuat ketentraman hidup hewan itu terusik. Mereka sampai terkaget-kaget dan jatuh satu persatu. Dan pada akhirnya mereka mulai melarikan diri sebelum terjadi sebuah bencana lagi.


"Ayo bangun anak malas.....!!!! "


Wanita paruh baya itu mendekat ke ranjang sang anak. Ia ulurkan tangannya ke arah telinga dan...


"Aaawwww.... Sakit, sakit Bunda!!!!"


Jeweran dari sang bunda berhasil membangunkan gadis itu dari upayanya untuk tertidur lagi. Kini matanya benar-benar terbuka lebar dan kesadarannya berangsur pulih.


"Mau sampai kapan kamu berada di dalam kamar, Jenar?"


Sembari menyilangkan lengan tangannya di depan dada, wanita itu mulai melayangkan sebuah pertanyaan retoris terhadap sang anak.


"Jenar masih mengantuk Bunda. Ingin tidur lagi."


Wanita itu berdecak lirih sembari menggeleng-gelengkan kepala. Di saat anak-anak seusia anaknya sudah siap dengan seragam putih-abu mereka, anak perempuannya ini justru masih ingin bernegosiasi agar bisa kembali memeluk mimpi.


"Mau sampai kapan kamu berada di atas kasur Jenar? Ini sudah jam tujuh kurang lima belas menit. Apa kamu mau terlambat datang ke sekolah lagi?!"


"Apa? Jam tujuh kurang lima belas menit? Mengapa Bunda baru membangunkan Jenar? Kalau begini Jenar bisa terlambat lagi!"


Gegas, gadis itu mulai beranjak dari tempat tidur. Ia menyambar handuk yang menggantung di daun pintu. Dan mengambil langkah seribu untuk segera masuk ke kamar mandi. Namun, ketika kakinya menginjak depan pintu kamar mandi, tiba-tiba...

__ADS_1


Bug.. Bug!!!


"Awwwwwwww!!!!"


Gadis bernama Jenar itu memekik kesakitan kala terpeleset di depan pintu kamar mandi. Ia meringis, menahan sensasi rasa nyeri yang tiba-tiba terasa menjalar di bokongnya.


"Itulah akibatnya jika tidak nurut apa kata Bunda. Bunda bilang jangan ikut-ikutan ayah main kartu remi 41 dengan bapak-bapak tetangga. Kalau sudah seperti ini, siapa yang mau kamu salahkan?"


"Iya Bunda iya, Jenar yang salah!"


Ia bawa tubuhnya untuk bangkit dari posisi sebelumnya. Dan ia langkahkan kaki untuk memasuki kamar mandi.


Byur.. Byurrrr... Byur.....


Terdengar suara guyuran air dari sebuah gayung dari dalam kamar mandi, pertanda gadis itu benar-benar telah membersihkan diri dan tidak mencoba kembali tidur di dalam kamar mandi.


Sedangkan wanita yang hampir memasuki usia paruh baya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia lepas sprei yang masih membalut kasur busa yang ada ada di dalam kamar sang anak dan ia masukkan ke dalam keranjang cucian.


Tap.... Tap.... Tap....


Derap langkah kaki seseorang terdengar mengarah ke kamar Jenar. Tak selang lama, tubuh seorang lelaki paruh baya terlihat memasuki kamar ini.


"Drama guyur mengguyur air lagi Bun?"


Wanita paruh baya itu sedikit mendengus. "Kalau tidak seperti ini mana bisa anak Ayah itu bangun? Hampir tiap pagi Bunda selalu menjemur kasur. Sampai-sampai para tetangga pada tanya 'anaknya masih ngompol Bun?' Bunda kan malu Yah!"


Wanita paruh baya itu memutar kedua bola matanya malas. "Tapi lain kali jangan biarkan Jenar ikut main kartu remi, Yah. Dia itu sudah kelas tiga, sebentar lagi ujian. Masa setiap malam ikut nimbrung Ayah main kartu remi dengan bapak-bapak komplek?"


Lelaki paruh baya itu semakin tergelak. Melihat wajah bibir sang istri yang mengerucut dengan pipi sedikit menggembung, membuat lelaki itu gemas seketika. "Biarkan Jenar merefresh pikirannya Bun. Dia itu sudah terlalu sumpek dengan semua mata pelajaran di sekolah. Biarkan dengan bermain remi bersama ayah dan bapak-bapak komplek bisa sedikit merefresh pikirannya."


"Tapi Yah ...."


Lelaki paruh baya itu mencubit pipi sang istri dengan gemas. "Sudah Bunda, percayalah putri kita itu tahu batasannya. Lagipula ini masih pukul enam pagi bukan? Bisa Ayah pastikan Jenar tidak akan terlambat."


Sang istri hanya bisa membuang nafas sedikit kasar. Jika sudah seperti ini, tidak ada yang dapat dilakukan selain hanya menyetujui apa yang dikatakan oleh sang suami. "Terserah Ayah saja lah. Ayah sama anak, sama saja."


Sang suami hanya terkekeh geli. "Kan buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, Bunda. Kalau jauh pasti pohonnya tetangga."


Bibir wanita itu hanya semakin mengerucut saja. "Ayah!!"


"Hahahaha!"


🍁🍁🍁🍁


Dug... Dug.. Dug!!!


"Adudududuhhhh!!!!!"


Lagi, suasana pagi yang biasanya dibalut dengan suasana hening, kini dipecah oleh teriakan yang terdengar sedang mengaduh kesakitan. Dua paruh baya yang terlihat sedang duduk di kursi makan, kompak menoleh ke arah sumber suara dan keduanya sama-sama terkejut setengah mati kala mendapati tubuh sang putri terjengkang di bawah tangga.

__ADS_1


"Ya Allah Jenar!!!!"


Entah bagaimana ceritanya gadis itu tiba-tiba bisa jatuh dari tangga. Namun jika dilihat dari dekat, nampaknya gadis itu keserimpet tali sepatu yang ia kenakan. Dan hal itulah yang sukses membuat dua paruh baya itu beranjak dari kursi makan dan menghampiri sang putri.


"Ayah, Bunda, sakit!!" keluh Jenar sembari meringis memegang pelipisnya karena terbentur salah satu anak tangga.


Kedua orang tua Jenar sama-sama membantu sang anak untuk beranjak dan perlahan memapahnya untuk duduk di kursi makan.


"Mengapa bisa seperti ini sih Nak? Bisa-bisanya kamu jatuh dari tangga?" ucap Sutha, sang ayah, yang begitu keheranan melihat drama jatuhnya Jenar dari tangga.


Masih sambil memijit-mijit pelipisnya, gadis itu meringis kesakitan. "Jenar buru-buru Yah. Ini sudah jam berapa? Jenar pasti harus lompat pagar lagi."


Rukmana, sang ibu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Drama lompat pagar memang kerap dilakukan oleh putri semata wayangnya ini. Sampai-sampai guru BK di sekolah hafal akan siapa Jenar. Karena hampir empat kali dalam satu bulan, putrinya itu selalu masuk ke ruang BK untuk mendapatkan apresiasi. Apresiasi dari guru BK berupa poin pelanggaran.


Entah sudah berapa banyak poin yang dikumpulkan oleh sang putri. Jika poin itu berasal dari supermarket yang sering didatangi oleh Rukmana pasti wanita itu akan sangat berbahagia karena bisa dipastikan ia akan mendapatkan give away. Namun jika poin yang diberikan oleh guru BK untuk Jenar justru akan menjadi malapetaka bagi masa depan Jenar sendiri. Bisa-bisa, putrinya itu dikeluarkan secara tidak terhormat dari sekolah.


"Sarapan dulu Jen! Ini, sudah Bunda buatkan semur telur kesukaan kamu!"


Meski terkadang Rukmana dibuat gemas oleh polah tingkah Jenar, namun itu semua tidak menyurutkan cinta dan kasih sayangnya untuk sang putri. Buktinya, meski pagi ini masih ada drama guyur mengguyur namun ia tetap memasak masakan kesukaan Jenar.


"Jenar langsung berangkat saja ya Bun. Jenar pasti sudah sangat terlambat!"


Gadis berusia hampir sembilan belas tahun itu mencoba untuk beranjak dari posisi duduknya untuk dapat segera berangkat ke sekolah, namun buru-buru lengan tangannya ditarik oleh Rukmana.


"Ayo sarapan dulu, Jen! Isilah perutmu terlebih dahulu agar kamu mendapatkan suplay energi untuk menerima hukuman dari guru BK. Barangkali kamu harus mengelilingi lapangan sepak bola lagi sebanyak tujuh kali."


"Tapi Bunda, ini sudah pukul bera..."


Niat hati ingin membantah ucapan sang bunda sembari melirik ke arah jam dinding yang menempel di ruang tengah, namun tiba-tiba...


"Bunda!!!!!! Ini masih pukul enam lebih lima belas menit. Mengapa tadi Bunda mengatakan sudah pukul tujuh kurang lima belas menit?!!!!"


Di dalam memori otak Jenar masih terekam jelas kata-kata sang Bunda saat membangunkannya. Sang Bunda mengatakan bahwa sudah pukul tujuh kurang lima belas menit, namun ternyata itu semua hanyalah bualan semata.


Rukmana hanya mengendikkan bahu sembari menyendok nasi lalu ia masukkan ke dalam mulut. "Ya, jika tidak seperti itu pasti kamu tidak akan bangun kan?"


Wajah Jenar nampak pias. Ia kembali mendaratkan bokongnya di kursi makan. Gegara drama jam tujuh kurang lima belas menit, entah sudah berapa banyak ia terjatuh dan membuat bokongnya terasa nyeri bertubi-tubi.


"Bunda!!!!!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Ulaalaaaaa.... Satu tokoh bernama Jenar mulai masuk scene cerita. Apakah dia yang akan menjadi jodoh Wisnu?? Hiihiihiiii hihihihi ikuti terus kelanjutan ceritanya ya Kak.. ☺☺☺


Thor, itu usia sembilan belas tahun SMA kelas 3? Apa tidak ketuaan? hihihihi hihihihi saya rasa tidak ya kak. saat ini di tempat saya, anak-anak yang akan memasuki SD negeri itu usia minimal harus 7 tahun, jadi jika dihitung-hitung pas ya 😚😚😚

__ADS_1


__ADS_2