Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 82 : Menangislah Dalam Pelukanku


__ADS_3


Selamat membaca😘😘😘


Surya mulai tenggelam di ufuk barat. Goresan tinta langit warna jingga di cakrawala nampak memeluk erat. Hendak berpamitan dengan melambaikan tangan kepada bumi layaknya perpisahan antara kedua sahabat. Menyerahkan singgasananya untuk sang dewi malam yang akan berjaga semalaman yang juga memiliki tugas yang sama berat.


Jenar mendaratkan bokongnya di kursi ergonomis miliknya yang langsung bersitatap dengan suasana senja berada di luar sana. Melalui sekat jendela kaca ini, netranya langsung dimanjakan dengan sajian alam yang terlihat begitu mengagumkan. Tinta alam yang tergores di hamparan kanvas senja yang seakan tiada pernah bosan untuk dipandang.


Meski perhatian gadis itu harus terbagi dengan sajian data dan angka yang berada di dalam layar laptop, namun sedikitpun ia tidak ingin melewatkan momen ini. Menikmati keindahan senja tenggelam yang merupakan surganya saat sang surya hendak berpamitan. Tidak hanya di pantai, bahkan di lantai tiga gedung ini, bisa menjadi tempat terbaik untuk menikmati suasana senja yang nampak begitu dramatis dengan sajian-sajian gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.


Derap langkah kaki seseorang sayup-sayup terdengar menapaki lorong-lorong kantor. Hingga pada akhirnya terhenti di depan pintu sebuah ruangan. Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar namun begitu nyaman untuk ditempati. Kedua bola mata lelaki itu menatap lekat seorang gadis yang tengah fokus dengan layar laptop di hadapannya. Jemarinya pun juga nampak begitu lihai dalam membelai papan keyboard yang ada di sana.


"Jen, kamu tidak pulang?"


Suara seorang laki-laki yang berdiri tegap di depan pintu, membuat perhatian Jenar sedikit terusik. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sumber suara dan terlihat Wisnu tengah berdiri di sana.


"Sebentar lagi Pak, tanggung."


Jenar hanya menatap Wisnu sekilas, kemudian ia lanjutkan kembali pekerjaannya. Jenar yang biasanya begitu riang dan selalu berceloteh tiada henti, kini mendadak berubah. Gadis itu tidak seperti biasanya dan hal itulah yang membuat Wisnu bertanya-tanya, ada apa gerangan? Terakhir kali, Wisnu melihat Jenar yang meneteskan air mata ketika berada di kedai Thai tea siang tadi. Dan setelah itu, ia tidak tahu akan apa yang dialami oleh Jenar dan hingga akhirnya, ia memilih untuk bertanya langsung kepadanya.


"Jen, apakah ada perkataan dari saya yang menyinggung perasaanmu?"


Wisnu menggeser sebuah kursi ergonomis persis yang diduduki oleh Jenar ke samping gadis itu. Sejak peristiwa di kedai Thai tea siang tadi membuat hati Wisnu sedikit tidak nyaman karena tidak biasanya Jenar tiba-tiba seperti itu. Gadis itu tiba-tiba menangis dan mood nya nampak buruk sekali.


Jenar menggelengkan kepala pelan sembari masih fokus dengan layar laptop yang ada di hadapan. "Tidak Pak. Perkataan Pak Wisnu tidak ada yang menyinggung perasaan saya."


"Jika memang tidak ada, mengapa siang tadi kamu langsung meneteskan air mata Jen? Bukankah itu artinya saya lah yang membuatmu menangis? Dan sekarang lihatlah, kamu sampai belum pulang padahal jam kerja sudah berakhir sedari tadi. Apakah itu bisa saya simpulkan jika kamu sedang memiliki satu permasalahan?"


Jenar masih terlihat tidak merespon apa yang diutarakan oleh Wisnu. Gadis itu tetap diam seribu bahasa dan seakan tidak merespon akan apa yang diucapkan oleh Wisnu.


"Jen? Apakah kamu sedang memiliki masalah? K-kamu bisa bercerita kepada saya. Siapa tahu saya bisa membantumu."

__ADS_1


Kali ini, ucapan Wisnu berhasil sedikit mengalihkan perhatian Jenar dari layar laptop di hadapannya. Ia geser sorot matanya untuk bisa memandang lelaki yang duduk di sampingnya ini.


Hening, tidak ada suara sama sekali. Jenar hanya terus menatap kedua manik mata Wisnu dengan lekat dan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Beberapa saat gadis itu larut dalam kebisuan yang sukses membuat hati Wisnu dipenuhi oleh tanda tanya besar. Dan sorot mata gadis itu benar-benar bisa mengalihkan dunianya.


Kedua bola mata lebar nan bening yang terbingkai indah dengan bulu mata lentik kini perlahan memerah seiring dengan deru nnafas Jenar yang terdengar sedikit memburu. Wisnu merasakan gadis ini diserang oleh sebuah rasa yang bergemuruh layaknya ombak yang memecah batu karang dan siap menghempaskan dirinya ke tepian. Tak butuh waktu lama, pelupuk mata itu kini berubah menjadi teluk dan perlahan mulai mengalirkan titik-titik air yang sudah bertumpuk.


"Hiks ... hiks ... hikss .... huaaaa..... pak Wisnu ... huaaaaa!!!"


Tubuh Wisnu terhenyak di kala tiba-tiba Jenar menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapannya. Gadis itu menangis sesenggukan seakan menumpahkan seluruh air matanya. Kondisi seperti ini justru membuat Wisnu kelimpungan setengah mati. Ia takut jika sampai ada orang lain yang melihat adegannya ini ia dianggap telah melakukan hal buruk terhadap gadis ini.


"Jen, ada apa denganmu? Mengapa kamu menangis seperti ini? Apa yang terjadi?"


"Huaaaaa .... bang Firman, Pak, bang Firman..."


Dahi Wisnu mengerut. Tidak ia sangka jika Jenar menangis karena Firman.


"Firman? Memang ada apa dengan Firman Jen? Apakah dia jadi melamarmu? Sehingga membuatmu menangis bahagia seperti ini?"


"Aaaaahhhh ... sakit Jen. Mengapa kamu mencubit saya?"


"Jaga bicara Anda Pak. Saya sedang tidak bercanda."


Jenar masih saja berceloteh tidak jelas sembari menghujani Wisnu dengan cubitan-cubitan kecil. Tanpa ia sadari ia dalam posisi wuenak di dalam dekapan Wisnu. Sungguh tidak tahu malu ya Kak? Sudah marah-marah sambil cubit-cubit. Eh taunya masih nyaman dan enggan lepas dari delapan sang duda. Hahahahahaha...


"Ya sudah, sekarang ceritakan kepada saya. Ada apa sebenarnya Jen?"


Jenar berupaya untuk menghentikan tangisnya. Hingga kini hanya tersisa suara isakan tangisnya saja. "Bang Firman berselingkuh, Pak! Dia telah bermain api di belakang saya!"


"Firman berselingkuh?"


"Iya Pak, dia berselingkuh."

__ADS_1


"Akhirnya kamu tahu juga Jen!"


Jenar terkesiap. Ia lerai tubuhnya dari pelukan Wisnu. "Akhirnya tahu? Apakah ini bisa saya artikan bahwa sebelumnya Bapak pernah mengetahui sesuatu yang tidak saya ketahui?"


Wisnu mengulas sedikit senyumnya. Ia rogoh saku celananya dan ia ambil ponsel yang ada di dalam sana. Dengan cepat, Wisnu menunjukkan video yang pernah ia rekam ketika berada di kafe beberapa waktu yang lalu.


Jenar membelalakkan mata ketika melihat adegan demi adegan yang tersaji di layar ponsel ini. Tubuhnya kembali lemas ketika melihat begitu intimnya perbuatan yang dilakukan oleh dua orang yang terekam di ponsel milik Wisnu ini.


"Jadi, Pak Wisnu tahu bahwa bang Firman berselingkuh di belakangku?"


Wisnu menganggukkan kepala mantap. "Iya Jen, bahkan bukan hanya aku. Bima pun juga tahu perihal tingkah laku Firman."


"Hiks ... hiks ... hiks... mengapa Anda tidak langsung memberitahu saya Pak? Mengapa Anda tega menyembunyikan ini dari saya? Anda benar-benar jahat, Pak!"


Wisnu sedikit terkejut dengan respon Jenar ini. Namun, ia berupaya untuk tetap tenang agar bisa mengatasi semuanya. "Saya tidak bermaksud jahat kepadamu Jen. Saya hanya ingin kamu melihatnya secara langsung atas perselingkuhan yang dilakukan oleh Firman. Dengan begitu, kamu bisa memutuskan jalan yang akan kamu tempuh dengan lebih bijaksana dan tanpa intimidasi apapun dari siapapun."


"Tapi dengan seperti ini, jauh lebih membuat saya terluka, Pak. Seandainya saat itu Anda memberitahu saya lebih dahulu, pasti saya tidak akan sesakit ini."


Mendadak hati Wisnu terasa seperti dicubit. Ia baru sadar jika Jenar serapuh ini. Tanpa basa-basi, Wisnu kembali menarik tubuh Jenar untuk kembali ia bawa ke dalam dekapan. Ia dekap tubuh gadis ini dengan erat sembari ia belai punggungnya dengan lembut.


"Sssttt .... sudah ya.. Semua sudah diatur oleh sang penulis cerita tentang bagaimana caramu mengetahui perselingkuhan Firman. Saya minta maaf jika apa yang saya putuskan justru semakin membuatmu terluka. Menangislah di dalam pelukanku dan biarkan saya yang akan membalut luka hatimu, Jenar."


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❤❤❤

__ADS_1


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan


__ADS_2