Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 09 : Di Tepi Jalan


__ADS_3


"Eh Bim, ini mobil kita kenapa?"


Wisnu sedikit terkejut kala merasakan ada sesuatu yang tidak biasa dengan mobil yang ia tumpangi ini. Tiba-tiba mobil ini terasa sedikit oleng seperti sebuah mobil yang mengalami kempes ban. Dengan sigap, Bima segera menepikan mobil yang ia kemudikan di bahu jalan dan berniat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Sebentar Tuan, biar saya lihat terlebih dahulu."


Bima keluar dari mobil. Lelaki berpawakan tinggi dan juga tegap itu mulai memeriksa masing-masing ban mobil. Perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan ban mobilnya ini. Dan benar saja salah satu dari ban itu mengalami kebocoran.


"Bagaimana Bim? Apa yang terjadi dengan mobil kita ini?"


Seakan tidak sabar untuk mengetahui apa yang terjadi, Wisnu ikut keluar dari mobil. Hatinya dipenuhi oleh rasa cemas karena ia sudah sangat terlambat untuk menghadiri acara talkshow yang diadakan oleh almamaternya dahulu, dimana ia diundang untuk menjadi pembicara.


"Ban mobil kita bocor Tuan. Sehingga kita harus menggantinya terlebih dahulu, baru bisa kita lanjutkan kembali perjalanan kita."


Wajah Wisnu nampak gusar dan begitu pias. Berkali-kali ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah lebih setengah jam dari undangan yang seharusnya ia hadiri. Padahal tinggal sedikit lagi jarak yang harus ia tempuh untuk bisa mengantarkannya hingga sampai ke almamaternya, namun malah mendapatkan halangan tiada terduga seperti ini.


"Astaga, sekarang aku harus bagaimana Bim? Aku sudah sangat terlambat. Mereka pasti menganggapku sebagai seseorang yang tidak menghargai waktu."


Wisnu sangat mencemaskan apa yang akan orang-orang pikirkan terhadapnya. Sejauh ini ia dikenal sebagai seseorang yang selalu ontime. Namun kali ini ia yakin jika persepsi orang mulai sedikit berbeda terhadapnya. Terlebih orang-orang yang berada di tempat di mana dulu ia mendapatkan ilmu untuk menjadi bekal meraih kesuksesannya saat ini.


Pandangan Wisnu mengedar, melihat dengan seksama kondisi di sekitarnya. Sepi, satu pun tidak nampak kendaraan yang berlalu lalang. Hanya ada tanah lapang yang sepertinya merupakan lapangan milik kampung yang biasa dipakai untuk bermain sepak bola. Dan hanya terdengar suara gemerisik dedauanan yang berterbangan terseret angin.


Bima sang asisten juga nampak memikirkan sesuatu. Ia ikut mencoba mencari cara agar bos nya ini bisa keluar dari apa yang tengah terjadi.


"Tuan, lebih baik Tuan memesan ojek online saja. Hal itu akan jauh lebih efektif dan efisien untuk bisa mengantarkan Tuan sampai ke sekolah. Dan, sebelum Tuan memesan ojek online, ada baiknya Tuan menghubungi pihak sekolah terlebih dahulu, untuk memberi kabar bahwa Tuan terlambat."


Entah mengapa dalam kondisi seperti ini, Wisnu merasa bahwa Bima jauh lebih pandai dari dirinya. Asistennya ini begitu cepat untuk mencari solusi akan apa yang menimpanya. Senyum simpul terbit di bibir Wisnu dan ia merogoh saku celana untuk mengambil ponsel yang ia simpan di sana. Lelaki itu mulai menghubungi pihak sekolah.


Seusai menghubungi pihak sekolah, Wisnu berniat untuk memesan ojek online via salah satu aplikasi yang ada di dalam ponselnya. Namun sayang beribu sayang, kemudahan pun seakan tidak mau menghampiri Wisnu. Berkali-kali ia mencoba memesan ojek online namun sebanyak itu pula ia mendapatkan notifikasi bahwa di tempatnya berdiri saat ini merupakan salah satu lokasi yang jarang disinggahi oleh para driver.

__ADS_1


"Bagaimana Tuan? Apakah sudah dapat ojek online nya?"


Wisnu hanya menggeleng pelan sembari mengacak rambutnya frustrasi. "Bahkan driver pun tidak ada yang berada di sekitar sini Bim!"


Bima terperangah. Ia harus memutar otak untuk dapat mengeluarkan sang bos dari situasi seperti ini. Jika harus menunggunya mengganti ban mobil ini pastilah akan sangat terlambat. Asisten pribadi itu hanya bisa berjalan ke sana kemari sembari memikirkan jalan keluar untuk sang bos.


Di sela kebingungan yang ia rasakan dan aktivitas mondar-mandirnya yang bagaikan setrikaan, tanpa sengaja ekor mata Bima menangkap bayangan sepeda motor yang dikendarai oleh seseorang. Dan yang lebih membahagiakan lagi, sepeda motor itu mengarah ke arahnya. Tidak ingin melewatkan kesempatan ini, ia pun sedikit menggeser tubuhnya dan mulai menghadang laju sepeda motor itu dengan melambaikan tangan.


Ckiiitttt....


Bunyi suara rem berdecit. Terlihat seorang wanita yang berusia sekitar empat puluh lima tahun menghentikan sekuter maticnya.


"Ada apa Pak? Mengapa Bapak tiba-tiba menghadang saya? Bapak mau membegal saya? Awas saja kalau Bapak berani membegal saya. Akan saya ambilkan palu dari bagasi motor untuk memukul kepala Bapak!"


Wanita hampir mendekati usia paruh baya itu melihat ke arah Bima dengan tatapan penuh intimidasi. Ia terlihat menghujani Bima dengan rentetan pertanyaan yang diselilpi oleh nada mengancam. Ia teringat akan para begal motor yang akhir-akhir ini sering melakukan aksinya di kawasan sepi seperti ini. Dan ia berpikir jika lelaki yang berdiri di hadapannya ini salah satu dari anggota komplotan begal itu.


Bima dan Wisnu saling bertatap netra. Kedua bola mata mereka terbelalak dan membulat sempurna. Mungkin dalam benak mereka sama-sama berpikir bagaimana bisa mereka dianggap sebagai anggota komplotan para begal motor.


Wisnu sibuk bermonolog dalam hati. Ia pikir wanita yang mengendarai sekuter matic ini belum pernah bertemu dengan seorang begal secara langsung. Sehingga menganggap orang asing yang menghadangnya sebagai seorang begal atau penjahat.


Apa-apaan ibu ini? Masa ada begal motor yang memiliki ketampanan wajah di atas rata-rata seperti ini. Biasanya begal itu memiliki wajah seram seperti bang napi yang ada di salah satu program berita kriminal di salah satu stasiun televisi itu.


Tak jauh berbeda dengan Wisnu, Bima pun juga turut bermonolog dalam hati. Ia teramat heran karena ada seseorang yang menganggapnya sebagai seorang begal, padahal dilihat dari sisi manapun ia sama sekali tidak pantas disebut sebagai begal.


"Maaf Bu, jika apa yang saya lakukan ini membuat Ibu terkejut dan terkaget-kaget. Namun di sini saya tegaskan bahwa kami bukanlah begal seperti apa yang Ibu pikirkan."


Wanita itu tersenyum miring dan menatap wajah Bima dan Wisnu secara bergantian dengan tatapan sinis. "Hei Pak, jika Anda mau mengelabui saya dengan pakaian yang Anda kenakan ini, Anda salah besar. Saat ini banyak juga kok para begal yang memakai pakaian formal seperti ini. Jadi jangan macam-macam terhadap saya ya."


Wanita itu tetap kekeuh pada pendiriannya. Menganggap Wisnu dan Bima sebagai anggota komplotan begal motor. Seumur-umur baru kali ini ia dihadang oleh dua orang laki-laki di tengah jalan seperti ini. Karena biasanya yang menghadangnya adalah salah satu tetangga yang menagih hutang.


Bima menghela nafas sedikit dalam dan perlahan ia hembuskan. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana. Pada akhirnya ia memilih untuk langsung mengutarakan maksud dan tujuannya.

__ADS_1


"Bu, saya menghadang Ibu karena ingin meminta tolong. Bos saya ini akan mengisi acara di salah satu SMK yang ada di dekat sini. Namun tiba-tiba salah satu ban mobil ini pecah. Ingin naik ojek online namun tidak mendapatkan driver. Karena kebetulan Ibu melewati tempat ini, saya ingin minta tolong agar Ibu mengantarkan bos saya ini sampai ke tempat tujuan."


Wanita itu mengedarkan pandangannya ke arah salah satu ban mobil yang menepi di bahu jalan ini. Tak selang lama, ia kembali menatap lekat wajah dua orang laki-laki yang sedang berdiri ini. Dan ia baru percaya jika dua lelaki ini bukanlah begal seperti apa yang ada di dalam pikirannya.


Oh Tuhan.... Sungguh sangat sempurna makhluk ciptaanMu ini. Lelaki ini terlihat dewasa dan berkharisma sekali. Andai saja anakku belum terikat janji dengan anak sahabat suamiku, pasti lelaki ini sudah aku mintai nomor ponselnya dan akan aku berikan kepada anakku.


Wanita itu terpaku melihat ketampanan lelaki yang sedari tadi sama sekali tidak bersuara ini. Kesan dingin lelaki ini justru semakin menambah tingkat pesona yang ia miliki. Hal itulah yang membuat Wisnu yang Bima terheran-heran.


"Bu, Ibu baik-baik saja kan?" ucap Bima sembari melambaikan telapak tangannya di depan wajah wanita ini.


Wanita itupun sedikit terkesiap. Ia mengerjapkan mata untuk dapat meraih kesadarannya. "Ya, saya baik-baik saja. Baiklah akan saya antar Bapak ini sampai di tempat tujuan. Namun sebelum itu, ikut saya mengantarkan makan siang untuk suami saya terlebih dahulu di bengkel yang ada di ujung jalan sana. Bagaimana?"


Tanpa berpikir panjang Wisnu menganggukkan kepala. Daripada membuang waktu lebih banyak lagi, ia pun menuruti apa yang menjadi rencana Ibu ini. "Baik Bu, saya ikut Ibu saja."


"Ya sudah, ayo lekas naik!"


Wanita itu menggeser tubuhnya untuk sedikit ke belakang. Dan Wisnu mengambil posisi depan dan bersiap untuk melajukan motor ini.


"Bim, aku tinggal dulu. Nanti jika sudah selesai mengganti ban mobil ini, lekaslah susul aku di sekolah!"


Bima mengangguk mantap. "Baik Tuan. Setelah selesai saya akan langsung menyusul Tuan."


Wisnu menyalakan mesin motor. Ia melajukan motor ini dengan pelan. Perlahan, bayang tubuhnya hilang dari penglihatan Bima.


Waaaoowww punggung laki-laki ini begitu proporsional dan harum aroma tubuhnya sungguh sangat memabukkan. Ternyata memang beda parfum yang dipakai oleh orang kaya dengan kaum duafa seperti aku ini. Sudah tampan, wangi, gagah, aduhh membuat aku kesengsem setengah mati. Uppsss... Hihihihi mas Sutha, maafkan aku. Sepertinya aku memiliki idola baru selain kamu.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2