
Sang raja siang mulai menaiki singgasananya. Jika hari-hari biasanya ia menampakkan wajahnya secara sempurna, hari ini ia sedikit bersembunyi di balik awan tipis yang membentuk jaring-jaring kapas untuk dapat meredam sedikit energi panas yang tersimpan di dalamnya.
Suasana yang tidak terlalu terik inilah yang membuat murid-murid taman kanak-kanak tempat Citra berada semakin bersemangat untuk bermain dan berlarian di jam istirahat siang ini. Riuh suara tawa yang keluar dari bibir murid-murid itu seakan turut meramaikan suasana siang hari ini.
"Citra Sayang, sini main sama bu Viona!"
Viona yang baru saja keluar dari kamar mandi gegas mengambil langkah kaki lebar kala manik matanya menangkap sosok Citra yang tengah bermain ayunan bersama salah seorang teman sepermainannya.
Citra yang sedang asyik bermain bersama teman lelakinya itu hanya menatap penuh tanda tanya, karena tiba-tiba sang guru datang menghampirinya.
"Citra main sama Darrel saja bu Guru. Karena dari tadi tadi Darrel tidak memiliki teman."
"Tapi Sayang, lebih baik Citra bermain bersama bu Viona. Kita bisa main jungkat-jungkit di sana. Bagaimana? Mengasyikkan bukan?"
Citra hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak bu Guru, Citra main bersama Darrel saja."
Viona membuang nafas sedikit kasar. Ternyata memang tidak mudah membuat Citra tertarik dengan apa yang ia tawarkan.
"Ahahaha gagal ya Bu? Itu tandanya, bu Viona memang tidak bisa mengambil hati Citra. Coba lihat saya. Saya pasti bisa membujuknya untuk bermain bersama saya."
Viona sedikit terkejut dengan kehadiran Poppy yang tiba-tiba. Kedatangan teman sejawatnya ini sungguh seperti makhluk halus saja karena tiba-tiba wanita ini berdiri di sisinya. Viona menatap jengah wajah Poppy. Sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas, seakan meremehkan kemampuan Poppy untuk menarik perhatian Citra.
"Ckckck, coba saja bu Poppy membujuk Citra. Saya yakin, bu Poppy akan mengalami hal sama seperti apa yang saya alami."
Poppy juga tidak kalah menatap sinis Viona. Ia tersenyum penuh rasa percaya diri. Ia yakin jika ia bisa menarik perhatian salah satu anak didiknya yang saat ini tengah mejadi bahan rebutan untuk ditarik simpatinya ini. "Jangan coba-coba untuk meremehkan saya ya Bu. Bu Viona pasti akan kalah telak dari saya."
Viona kembali menatap remeh wajah Poppy. "Kalau begitu silakan langsung dicoba, Bu!"
Poppy menggeser sedikit tubuhnya untuk bisa lebih dekat dengan Citra. Ia ulurkan tangannya agar bisa menjangkau pundak gadis kecil ini.
"Ehem... Ehem...!"
Poppy berdehem untuk mengawali usahanya. Setelah perhatian Citra tertuju kepadanya, seketika Poppy menyunggingkan seutas senyum termanis yang ia punya. "Hallo anak cantik!"
"Hallo juga bu Guru!" Citra menjawab singkat kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Darrel kembali.
"Ayo Sayang, main bersama bu guru Poppy. Kita main perosotan di sana. Pasti Citra akan senang!"
Dengan suara mendayu-dayu dan terdengar begitu lembut di telinga, Poppy mencoba untuk membujuk Citra. Jika Viona gagal membujuk Citra dengan bermain jungkat-jungkit, ia percaya jika Citra akan senang jika ia ajak untuk bermain perosotan. Karena pada dasarnya anak-anak di sekolah ini begitu senang jika bermain perosotan.
__ADS_1
Citra yang sebelumnya mengacuhkan wajah Poppy, kini ia tautkan pandangan matanya ke arah sang guru. Dahinya sedikit mengerut. "Perosotan? Apakah permainan itu menyenangkan, bu Guru?"
Poppy seakan mendapatkan angin segar karena berhasil menarik perhatian Citra. Viona yang melihat respon Citra, sedikit ketar-ketir karena ia beranggapan bahwa upaya Poppy ini akan membawa hasil.
Sekilas, Poppy melirik ke arah Viona. Ia tersenyum bangga karena hampir bisa membujuk salah satu muridnya ini. Guru muda itu kembali menatap Citra seraya menganggukkan kepala dengan mantap. "Tentu saja sangat menyenangkan Sayang. Apalagi jika Citra bermain bersama bu guru Poppy, pasti akan sangat-sangat menyenangkan." Poppy kembali mengulurkan tangan, bermaksud untuk menggandeng tangan Citra untuk ia giring ke arah perosotan. "Ayo Sayang kita ke sana!"
Citra nampak berpikir sejenak. Sembari menimbang-nimbang akan apa yang ditawarkan oleh gurunya ini. Namun tak selang lama, Citra kembali menggelengkan kepala. "Tidak bu Guru. Citra di sini saja. Citra ingin main bersama Darrel."
Wajah Poppy berubah menjadi pias. Ia yang sudah sangat percaya diri bisa menarik perhatian Citra, seketika rasa percaya dirinya itu dipatahkan oleh penolakan Citra. "Tapi Sayang, permainan perosotan jauh lebih menyenangkan daripada ayunan ini. Mau ya main sama bu guru Poppy di sana?"
Pantang menyerah dan pantang mundur, itulah jargon yang ditanamkan di dalam diri Poppy sendiri. Ia tidak akan menyerah sampai muridnya ini mau untuk dibujuk. Sedangkan Citra tetap menggelengkan kepalanya.
"Tidak bu guru Poppy, Citra di sini saja. Citra ingin makan roti panggang selai strawberry yang Citra bawa bersama Darrel di ayunan ini." Citra meraih kotak bekal yang ia letakkan di sisi kirinya. Ia ulurkan sepotong roti panggang ke arah teman kecilnya ini. "Ini untuk kamu, Darrel. Roti panggang ini buatan Papa dan ini lezat sekali. Kamu pasti akan sangat menyukainya."
Tangan kecil Darrel menerima sepotong roti yang diberikan oleh Citra. "Terima kasih Citra, kamu memang teman yang sangat baik."
Poppy semakin terperangah kala melihat respon dari Citra. Ia berpikir, Citra bisa tertarik namun pada kenyataannya gadis kecil ini tetap kekeuh dengan pendiriannya. Bahkan ia seakan mengacuhkan keberadaannya.
Berbeda dengan wajah Poppy yang nampak pias, kini raut wajah penuh kebahagiaan tergambar jelas di wajah Viona. Ia teramat senang karena temannya ini juga mendapatkan sebuah penolakan dari Citra.
"Ha..."
"Hahaha hahahaha... Oh kasihan... Ternyata bu Poppy dan bu Viona gagal semua ya. Sungguh sangat menyedihkan!"
"Bu Elsa!" ucap Viona dan Poppy bersamaan.
Elsa semakin merapatkan tubuhnya ke arah dua temannya ini. Ia tersenyum tipis. "Bagaimana, bagaimana? Apakah bu Viona dan bu Poppy sudah menyerah? Jika sudah menyerah, sekarang giliran saya yang membujuk Citra."
Poppy memandang sinis salah satu guru yang juga ia anggap sebagai salah satu rivalnya ini. "Saya saja gagal menarik perhatian Citra, apalagi bu Elsa!"
"Oh jangan salah, bu Poppy! Saya ini biasa menaklukkan hati dan perhatian laki-laki, jadi untuk menaklukkan hati dan mendapatkan perhatian Citra adalah perkara yang sangat mudah bagi saya."
Elsa dengan bangga memberitahukan apa yang menjadi nilai plus yang ada dalam dirinya sembari memainkan anak rambutnya yang berada di dekat telinga. Ia begitu percaya diri jika ia bisa membujuk Citra untuk bermain bersamanya.
Ucapan Elsa tidak lantas membuat Viona dan Poppy menjadi terkesima. Dua guru muda itu saling bertatap netra dengan tatapan penuh tanda tanya namun setelah itu keduanya sama-sama terkikik geli.
"Hahahaha, bu Elsa jika ingin menyebarkan berita palsu jangan kepada kami. Masa iya bu Elsa ini pandai menaklukkan hati laki-laki?" timpal Viona
Elsa bersedekap dada. Dengan santai, ia menanggapi ucapan Viona ini. "Bu Viona jangan memandang rendah saya ya. Mantan kekasih saya ini banyak, dan itu artinya apa jika saya tidak pandai menaklukkan hati para kaum lelaki?"
Kini giliran Poppy yang tergelak. Sungguh perkataan Elsa ini hanya terdengar menggelitik telinganya saja. "Haha hahaha itu bukan karena bu Elsa pandai menaklukkan hati para kaum lelaki. Itu sebagai indikator bahwa kekasih-kekasih bu Elsa ini tidak tahan dengan sikap bu Elsa sendiri."
__ADS_1
"Eh, eh, eh, jangan salah ya bu Poppy! Mereka itu bukan tidak tahan dengan sikap saya, namun mereka itu merasa minder dengan diri mereka sendiri. Mungkin di tengah perjalanan mereka merasa tidak pantas untuk menjadi pendamping hidup saya, oleh karena itu mereka memutuskan untuk mundur."
"Ahahaha hahahaha alasan macam apa itu bu Elsa?" sambung Viona pula. Ia menjeda sejenak ucapannya kala perutnya terasa dikocok habis-habisan dengan perkataan Elsa ini. "Lagipula ya Bu. Jika bu Elsa ini pandai menaklukkan laki-laki mengapa sampai saat ini bu Elsa masih melajang? Bukankah itu karena sebagai pertanda bahwa bu Elsa ini memang tidak laku? Hahahaha!"
Elsa semakin tersudut. Bibirnya mencebik seakan menggambarkan kekesalannya. Ia pun meraup udara dalam-dalam seakan mencari suplai oksigen baru untuk dapat mengisi rongga dadanya. "Jangan meremehkan saya ya Bu. Akan saya buktikan jika saya bisa menarik perhatian Citra."
"Ayo, silakan dicoba Bu!" ucap Poppy mempersilakan.
Elsa menautkan pandangannya ke arah Citra. Ia sangat yakin bisa mendapatkan perhatian gadis kecil ini. Dengan mendapatkan perhatian Citra, ia percaya jika papa dari anak didiknya ini juga akan terkesima kepadanya.
"Citra Sayang!" panggil Elsa dengan lembut sembari mengusap rambut putri dari seorang duda yang di matanya sangat tampan dan memesona ini.
Citra sedikit mendongakkan kepala. "Iya bu guru Elsa!"
Elsa tersenyum simpul. Telapak tangannya memegang pundak kecil Citra. "Ikut bu guru Elsa yuk! Kita main jaring laba-laba di sana. Pasti akan sang...."
Kringgggggg.... Kringgggg..... Kringgggg....
Bunyi bel yang berdering sukses membuat ucapan Elsa terpangkas. Ia yang baru saja akan menunjukkan kepiawaiannya dalam menaklukkan hati Citra namun malah kandas di tengah jalan karena bel tanda berakhirnya jam istirahat berdering.
Citra dan Darrel bangkit dari posisinya. Perlahan mereka turun dari ayunan ini. "Bu Guru, Citra dan Darrel kembali ke kelas dulu ya."
Citra dan Darrel berlari-lari kecil meninggalkan Elsa yang tengah berdiri terpaku. Guru muda itu hanya bisa tersenyum kikuk sembari menggaruk pucuk hidungnya yang tiada gatal. Ia benar-benar tidak menyangka jika bel masuk lah yang menggagalkan upayanya.
"Ckckckck ckckckck... Yang sabar ya bu Elsa!" ucap Poppy dengan nada penuh rasa keprihatinan yang mendalam.
"Tenang bu Elsa, selama pak Wisnu belum menyebar undangan, dia masih menjadi milik bersama. Jadi siapapun boleh untuk berusaha mendekatinya dan kita akan bersaing secara sehat, oke!" sambung Viona pula.
Elsa hanya mengangguk-anggukkan kepala. "Baiklah kalau begitu bu Viona, bu Poppy. Kita akan bersaing secara sehat!"
Pada akhirnya siang hari ini, upaya ketiga guru muda itu untuk menarik perhatian Citra tidak ada yang satupun yang berhasil. Ketiganya gagal total seakan semakin mempertegas bahwa Citra memang tidak mudah untuk didekati. Sedangkan burung-burung pipit yang bertengger di salah satu dahan pohon yang berada tidak jauh dari tempat ketiga guru berdiri itu hanya bisa bercicit riuh. Mereka seakan menertawakan kegagalan ketiga guru muda itu.
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift, atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺
Happy reading kakak...
__ADS_1
Salam Love, love, love❤❤❤
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca