Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 18 : Sidang?


__ADS_3


Selamat Membaca 😘😘


"Astaga Sayang, yang kamu bawa ini apa?"


Wisnu yang tengah berkutat dengan laptopnya, seketika tubuhnya terperanjat kala melihat sang putri yang tiba-tiba datang memasuki ruang kerjanya. Terkejut bukan karena kedatangan Citra karena memang saat ini sudah waktunya pulang sekolah, namun lelaki itu terkejut bukan main saat melihat beberapa paper bag menghiasi genggaman tangan kecil sang putri. Tidak hanya genggaman tangan Citra saja yang dipenuhi oleh paper bag itu, namun tangan Darmi dan Kasim juga terlihat menggenggam beberapa paper bag seperti yang dibawa oleh Citra.


Tidak hanya Wisnu, Bima yang juga tengah berada di dalam ruangan bos nya ini, ikut terkejut pula. Nampaknya putri dari sang bos sedikit kesusahan untuk membawa paper bag itu. Gegas, ia membantu Citra, Darmi dan juga Kasim untuk mengambil alih paper-paper bag itu. Ia letakkan semuanya di atas meja yang berada di dekat sofa.


Setelah menyimpan beberapa file ke dalam folder, ia menutup layar laptopnya. Ia beranjak dari posisi duduknya dan mengayunkan kakinya untuk mendekat ke arah sang putri yang memilih untuk duduk di atas sofa.


"Ini semua pemberian guru-guru Citra, Papa!"


Sembari mendaratkan bokongnya di atas sofa, Citra mulai sedikit menceritakan apa yang ia alami, terlebih perihal paper bag itu. Gadis kecil itu menyenderkan punggungnya di sandaran sofa seperti seseorang yang tengah dilanda oleh rasa lelah namun wajah polosnya justru nampak begitu menggemaskan.


Dahi Wisnu sedikit mengerut hingga kedua alisnya saling bertaut. "Pemberian dari guru-guru Citra? Memang tadi di sekolah sedang acara apa Sayang? Apakah sedang ada acara kado silang?"


Mendengar sang putri mengucapkan kata 'guru-guru', membuat Wisnu sedikit berkesimpulan bahwa yang memberikan hadiah untuk Citra ini bukan hanya satu orang saja. Ada beberapa guru yang memberinya hadiah, dan ia berasumsi bahwa memang di sekolah Citra tengah ada acara kado silang.


Gadis kecil itu hanya menggeleng pelan. "Tidak, Papa. Di sekolah tidak sedang ada acara apa-apa. Tapi ini semua pemberian dari guru-guru Citra."


"Siapa saja itu Sayang? Dan apakah teman-teman Citra yang lain juga mendapatkan hadiah seperti ini?"


Lagi-lagi kepala Citra menggeleng. "Ini semua dari bu guru Viona, bu guru Poppy dan juga bu guru Elsa, Pa. Mereka semua memberikan hadiah ini untuk Citra. Katanya agar Citra bisa selalu bahagia."


Terkesiap, itulah ekspresi wajah pertama yang ditampakkan oleh Wisnu. Ada maksud apa para guru muda di sekolah Citra itu memberikan hadiah? Jika satu macam, mungkin masih bisa dimaklumi namun yang dibawa oleh Citra ini terlalu banyak.


"Bim, menurut kamu apa maksud guru-guru Citra ini memberikan hadiah untuk Citra? Bukankah ini terlihat sangat berlebihan?"


Sembari memijit-mijit kening, Wisnu mencoba untuk mencari jawaban akan maksud dan tujuan guru-guru muda itu memberikan sang putri hadiah. Puzzle, Lego, boneka Barbie, boneka kuda poni, minion, berbagai macam buku-buku ensiklopedia khusus anak, tas, sepatu, semakin membuat kepala Wisnu terasa pening. Sungguh hadiah-hadiah ini sangat berlebihan.


Bima hanya tersenyum simpul. Dari sini ia dapat menyimpulkan bahwa memang ada sesuatu yang tersembunyi di balik hadiah-hadiah yang diberikan untuk putri bosnya ini.


"Saya rasa ada udang dibalik bakwan, Tuan!"


Wisnu melirik ke arah sang asisten dengan tatapan membidik. Ia yang tengah berbicara serius justru ditanggapi bercanda oleh Bima. "Hey, aku serius Bim! Mengapa kamu justru bercanda?"


"Loh, saya juga serius Tuan. Ada udang dibalik bakwan itu maksudnya ada maksud terselubung di balik pemberian hadiah-hadiah ini."


Dahi Wisnu sedikit mengerut. Kali ini ia dibuat penasaran akan apa yang diucapkan oleh Bima. "Coba jelaskan lebih detail Bim! Maksud terselubung apa yang kamu maksudkan?"


"Sepertinya guru-guru Citra tengah berebut perhatian Citra agar bisa dekat dengan Tuan. Jadi, mereka memberikan hadiah-hadiah ini. Mereka berharap agar Citra merasa senang dan mungkin akan memilih satu diantara mereka."

__ADS_1


Seusai sang asisten mengutarakan argumentasinya, Wisnu mencoba menelaah semuanya. Pikirannya kembali menerawang. Ia teringat akan sikap guru-guru muda itu yang memang sedikit berbeda. Cara mereka memperlakukan Citra, nampak jauh berbeda dengan sikap yang mereka berikan ke siswa yang lain. Bahkan cara menyambut kedatangan Citra ketika tiba di sekolah pun juga berbeda. Guru-guru muda itu terlihat bersikap sesempurna mungkin di hadapannya.


"Apakah memang seperti itu? Jika memang seperti itu apa yang membuat mereka tertarik kepadaku? Aku ini duda yang berumur hampir setengah abad, jadi apa menariknya?"


Bima hanya tergelak lirih. Sebelumnya, ia beranggapan bahwa bos nya ini berusia sekitar tiga puluh lima tahunan, namun ternyata sudah empat puluh. Wajah bosnya ini memang lebih muda dari usianya, sehingga mungkin menjadi daya tarik tersendiri untuk wanita-wanita di luar sana.


"Tuan itu masih terlihat sangat muda. Meski usia Tuan sudah hampir setengah abad namun saya yakin tidak akan melunturkan ketampanan dan pesona yang Tuan miliki."


"T-tapi Bim..."


Perkataan Wisnu terpangkas kala tatapan matanya menangkap sinyal mengantuk dari wajah Citra. Berkali-kali putrinya ini nampak menguap dan mengucek-ucek mata.


"Sayang, kamu mengantuk?"


Gadis kecil itu mengangguk pelan. "Iya Papa, Citra mengantuk. Bisakah Papa memangku Citra? Citra ingin tidur sambil dipangku Papa!"


Wisnu hanya tersenyum simpul. Ia menggeser tubuhnya untuk duduk di sofa panjang yang ditempati oleh Citra dan duduk di sisinya.


"Duduklah di sini Sayang!" ucap Wisnu sembari menepuk-nepuk pahanya.


Citra mengambil posisi duduk di atas pangkuan Wisnu. Gadis itu bergelayut manja di dalam dekapan sang papa dan tak selang lama ia terlelap di dalam sana. Ya, saat ini, pelukan dari Wisnu lah yang menjadi tempat ternyaman untuk gadis berusia enam tahun itu.


Drrrrtt... Drrrrtt... Drrrrtt...


"Ini Tuan, sepertinya ada telepon penting." ucap Bima seraya mengulurkan ponsel milik Wisnu.


Sekilas, Wisnu membaca nama kontak yang tertera di layar ponsel. Wajah lelaki itu menggambarkan ekspresi seseorang yang tengah terkejut. "Dari sekolah Citra? Ada apa ya Bim?"


"Coba diangkat saja Tuan. Barangkali ada sesuatu yang penting."


Wisnu menggeser warna hijau di layar ponsel dan terdengar seorang wanita menghubunginya.


"Iya Bu, selamat siang. Iya benar saya orang tua dari Citra."


".... "


Dahi Wisnu sedikit mengerut. "Besok datang ke sekolah? Kalau boleh tahu, ada acara apa ya Bu?"


"....."


Kedua bola mata Wisnu terbelalak sempurna. "Apa? Sidang? Sidang perihal apa Bu?"


"..... "

__ADS_1


Terlihat, Wisnu membuang nafas sedikit kasar. "Ya Tuhan, ternyata begitu? Baiklah, besok pagi saya akan datang ke sekolah Bu. Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan ini!"


Seusai berbicara dengan kepala sekolah, wajah duda berusia empat puluh tahun itu justru nampak semakin pias. Ia menyenderkan punggungnya di sandaran sofa. Hal itulah yang membuat Bima, sang asisten dipenuhi oleh raut wajah penuh dengan tanda tanya.


"Ada apa Tuan? Apakah ada masalah di sekolah Citra?"


"Bim?"


"Ya Tuan?"


Pandangan Wisnu sedikit menerawang ke segala arah. "Memang seberapa tampannya aku, sehingga membuat guru-guru muda di sekolah Citra terpesona?"


Bima semakin tidak paham kemana arah pembicaraan bosnya ini. "Maksud Tuan bagaimana? Saya tidak paham."


"Karena mereka saling berebut perhatian kepadaku melalui Citra, membuat beberapa wali murid yang lain merasa cemburu. Mereka merasa bahwa Citra mendapatkan perlakuan yang istimewa dari ketiga guru itu."


"Dan besok, Tuan akan disidang?"


Wisnu mengangguk perlahan. "Ya, seperti itulah. Besok akan dicarikan sebuah solusi untuk perkara ini." Wisnu kembali membuang nafas kasar. "Bim?"


"Ya Tuan?"


"Apakah memiliki wajah yang tampan itu merupakan kejahatan? Sampai aku harus disidang seperti seorang tersangka?"


Kejadian hari ini benar-benar membuat tubuh duda itu seakan kehilangan energinya. Tubuhnya melemas seketika. Dan ia memilih untuk memejamkan mata untuk menghalau segala rasa pening yang terasa begitu menyiksa.


Sedangkan Bima, ia hanya bisa tersenyum kecil. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Apakah merasa kasihan atau malah sebaliknya ia tertawa karena sungguh apa yang dialami oleh bosnya ini begitu konyol.


"Yang sabar ya Bos! Hahahahahaha!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Apa yang dilakukan oleh Viona, Poppy, dan Elsa murni merupakan imajinasi saya saja ya kak, jadi jangan dianggap mencoreng citra seorang guru. Mereka masih muda. Ya tahu sendirilah jika bagaimana hebohnya tatkala bertemu dengan lelaki tampan. Perkara para guru yang saling berebut perhatian, akan ada penyelesaiannya di part selanjutnya.. Jadi setelah part besok, tidak akan ada lagi cerita guru-guru muda yang saling berebut perhatian. Part tiga guru yang ngefans dengan Wisnu itu hanya sebagai pengembangan cerita sebelum Wisnu bertemu dengan Jenar.. ☺☺


Kemarin saya menjanjikan Jenar dan Wisnu akan bertemu di part 20 ya kak? Jika mundur sedikit gak apa-apa ya? Paling jadinya di part 30, wkkkwkkk bercanda😉 InshaAllah jika tidak di part 21 ya 22 ya kak... Hehehe ❤️❤️


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift, atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❤❤❤

__ADS_1


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2