
Selamat Membaca😘😘😘
Jenar POV
Aku jejakkan telapak kaki berbalut heels yang tidak terlalu tinggi ini menyusuri lantai marmer yang telah dilapisi oleh karpet berwarna merah. Ku edarkan pandangan mataku ke arah sekeliling, dan berpasang-pasang bola mata nampak menatap lekat ke arahku. Eh, tapi tunggu, sepertinya sorot mata mereka tidak mengarah kepadaku tetapi mengarah ke sosok seorang laki-laki yang juga tengah berjalan, di sampingku. Siapa lagi jika bukan pak Wisnu?
Pada akhirnya detik yang berjalan, memangkas jarak antara tempat duduk yang sebelumnya aku duduki dengan panggung ini, hingga saat ini aku berdiri bersama pak Wisnu dan juga Citra. Ini merupakan pengalaman pertamaku naik ke atas panggung bersama seorang duda dan putrinya dan disaksikan oleh orang banyak. Jika para pembaca saat ini berada di posisi yang sama, apa yang akan kakak lakukan? Apakah diam saja? Terpaku dan membisu? Atau minta untuk segera dihalalkan oleh duda itu? Hahaha, enatahlah. Aku tertawa karena memang sengaja untuk menutupi kegugupan ini. Apa yang tersaji di atas panggung ini sungguh semakin menggambarkan bahwa aku, pak Wisnu dan Citra seperti cerminan keluarga yanh harmonis, bahagia dan dipenuhi oleh aura-aura positif.
"Nah, ini adalah papa Citra, namanya papa Wisnu."
Terlihat Citra menarik tangan pak Wisnu dan memeluk pimpinan perusahaan di tempatku bekerja ini. Karena tinggi badan Citra yang masih belum terlalu tinggi, kulihat gadis kecil itu hanya bisa memeluk pinggang sang papa. Tak selang lama, pak Wisnu sedikit berjongkok untuk mensejajarkan badannya dengan badan Citra dan memeluknya erat.
"Meski baru bebarapa saat Citra menjadi putri papa, namun Citra ingin mengatakan, terima kasih Papa. Terima kasih karena Papa sudah membawa Citra untuk tinggal bersama Papa dan memberikan Citra kasih sayang juga cinta yang teramat besar."
Suara gadis kecil itu kudengar sedikit bergetar sebagai tanda bahwa dalam dadanya tersimpan rasa sesak yang mungkin tertahan. Dan itu justru yang membuat hatiku tergerus seketika. Mendengar cerita tentang Citra dari Pak Wisnu semakin menyadarkan aku bahwa di luar sana masih teramat banyak Citra-Citra lain yang kehidupannya jauh dari kata beruntung.
__ADS_1
Beruntung karena memiliki kehidupan yang layak. Beruntung karena memiliki keluarga yang utuh dan beruntung karena selalu berada di dalam pelukan hangat kedua orang tua yang menguatkan langkah kaki mereka untuk menjalani masa-masa kecilnya. Dan pak Wisnu hadir, mengulurkan tangannya untuk menarik tubuh Citra dari kubangan kepedihan karena ditinggal oleh orang-orang yang ia cintai dan kemudian merentangkan kedua tangannya untuk memeluk, mendekap, dan memberikan kehangatan untuk gadis kecil itu yang mungkin selama ini tidak pernah ia rasakan. Jika boleh aku memuji, pak Wisnu memang sosok lelaki sempurna. Meski Citra bukanlah anak kandungnya namun lelaki itu tidak kurang-kurang mencurahi Citra dengan cinta kasih dan yang pastinya membuat Citra merasakan apa itu kebahagiaan yang sesungguhnya.
"Papa juga berterima kasih kepadamu, Sayang. Karena kehadiranmu lah yang bisa mewarnai hari-hari Papa yang kosong. Kosong karena Papa juga merasakan bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang begitu Papa cintai. Ayah, ibu dan juga oma."
Kulihat pak Wisnu juga tidak kalah erat memeluk tubuh Citra. Lelaki itu meneteskan air mata. Mungkin karena teringat akan kedua orang tua dan juga sang oma yang sudah lebih dulu pergi menghadap Tuhan. Apakah mungkin pak Wisnu juga teringat kepada mantan istri? Ah, entahlah. Sama sekali bukan ranahku untuk mencampurinya. Yang aku tahu, saat ini mantan istri pak Wisnu mendekam di dalam penjara karena pernah berniat mencelakai istri dari pak Dewa namun ternyata salah sasaran. Justru nenek dari pak Wisnu lah yang menjadi korban hingga beliau meregang nyawa. Jadi, aku rasa saat ini pak Wisnu tidak menangis karena teringat akan mantan istrinya. Masa orang yang sudah berbuat jahat ditangisi?
Astaga Jenar, mengapa kamu jadi julid seperti ini? Katapun pak Wisnu menangisi mantan istrinya juga tidak masalah bukan? Urusannya denganmu apa coba? Kamu kok seperti tidak rela jika pak Wisnu menangisi mantan istrinya? Jangan-jangan kamu sudah mulai terbiasa dengan kehadiran pak Wisnu dan mulai terpikat dengan duda itu? Ayo ngaku!
Pikiranku bertambah kacau kala dua sisi batinku saling berperang. Aku sampai menggeleng-gelengkan kepala agar bisa terlepas dari pikiran random ku ini. Sampai membuatku lupa jika saat ini aku sudah memiliki bang Firman yang notabene akan menjadi calon suamiku. Eh, tapi apa kabar bang Firman ya? Sejak kejadian di mall saat itu, aku sama sekali tidak berhubungan dengannya. Baik melalui ponsel ataupun bertemu secara langsung. Bukan berarti aku mengabaikannya ya. Aku memang sengaja melakukannya karena aku tengah merencanakan sesuatu. Sesuatu untuk memberinya kejutan di hari ulang tahunnya.
"Nah, kalau kakak cantik ini adalah calon bunda Citra. Citra juga sayang sekali dengan kakak cantik ini. Karena wajah kakak cantik ini mirip sekali dengan bunda Citra yang sudah tiada."
"Citra berdoa semoga Kakak cantik bisa menjadi bunda Citra dan setiap hari bisa tinggal bersama Citra dan Papa."
Aku hanya bisa mengulas sedikit senyum yang aku miliki sembari mengusap-usap punggung Cita. Dan... "Aamiin Sayang."
Tanpa beban, aku turut mengaamiinkan doa yang terlisan dari bibir mungil gadis ini. Dan taukah kalian semua apa yang aku rasakan saat ini? Aku merasakan atmosfer di sekelilingku seketika berubah menjadi dingin. Aku merasa angin yang berhembus di dekatku ini sedikit lebih kencang dari sebelumnya.
__ADS_1
Masih berada dalam posisi memeluk tubuh Citra, aku merotasikan kedua bola mataku. Apakah mungkin, saat ini almarhum ibunda dan nenek Citra hadir di tempat ini dan menyaksikan semua ini? Atau apakah mungkin hawa dingin ini sebagai isyarat kehadiran malaikat-malaikat Allah yang turut mengaamiinkan doa-doa Citra? Dimana aku akan menjadi bundanya dan tinggal bersama pak Wisnu?
Aku pasrahkan bagaimana jalan cintaku kepadaMu. Aku tidak pernah tahu akan apa yang terjadi di masa depan nanti. Saat ini aku memang menjalani hubungan dengan bang Firman, namun tidak menutup kemungkinan bukan jika ternyata jodohku bukan bang Firman namun pak Wisnu?
Eh, eh, eh, mengapa aku mengatakan hal seperti itu? Bukankah kata-kataku itu semakin menegaskan jika aku... mulai terpikat oleh duda tampan ini? Arrrggghhh... ini semua gara-gara mbak Rasti, dia yang membuat aku semakin dekat dengan pak Wisnu?Jangan salahkan aku ya para pembaca semua jika pada akhirnya, aku memang terpikat oleh pesona duda tampan bernama Wisnu Kunto Aji ini...
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Ayeyeyeeee Jenar udah mulai oleng nih, tapi dia juga masih punya tanggung jawab menjaga perasaan karena saat ini ia masih memiliki hubungan dengan Firman. Hehehe tinggal kita tunggu kandasnya hubungan Firman dengan Jenar ya kakak-kakak semua... InshaAllah dua atau tiga part lagi semua akan terbongkar 🥰🥰🥰
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺
Salam Love, love, love❤❤❤
__ADS_1
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca