
Selamat Membacaππ
"Papa berangkat ya Sayang. Citra semangat belajar ya?"
Di depan pintu gerbang sekolah, Wisnu mensejajarkan tinggi badannya dengan tinggi sang putri. Dengan erat, lelaki itu memeluk tubuh Citra, memberikan kecupan-kecupan kecil di pipi dan di pucuk kepala. Bak sebagai pertanda jika lelaki itu tiada kurang dalam mencurahi sang anak dengan cinta dan kasih sayang.
Citra merenggangkan sedikit pelukannya. Ia raih telapak tangan sang papa dan mencium punggung tangannya. "Papa hati-hati di jalan ya. Jangan lupa untuk menjaga kakak cantik. Kalau bisa, Papa antar pulang kakak cantik lagi."
Wisnu mengulum senyum yang ia miliki disertai dengan lirih gelak tawa yang keluar dari bibirnya. Rupa-rupanya sang anak belum mau menyerah untuk menjadi makcomblang cilik bagi papanya sendiri. Gadis kecil itu masih nampak begitu menggebu untuk mendekatkannya dengan Jenar.
"Kalau kakak cantik mau untuk Papa antar pulang, pasti akan Papa antar, Sayang. Namun jika kakak cantik tidak mau, Papa juga tidak bisa memaksa."
Mendengar ucapan sang papa yang seperti tidak bersemangat untuk mendekati kakak cantik yang baru beberapa hari ia kenal, membuat bibir gadis kecil itu sedikit mengerucut dengan pipi yang menggembung layaknya ikan buntal. Ia seperti kecewa melihat sang papa yang tidak memiliki semangat seperti itu.
"Mengapa Papa tidak bisa memaksa kakak cantik untuk Papa antar pulang? Padahal Papa sebagai pimpinan perusahaan, jadi bisa memakai alasan itu untuk membuat kakak cantik menuruti permintaan Papa, kan?"
Ulalaaa... Wisnu semakin terperangah mendengar cicitan-cicitan kecil yang dilontarkan oleh Citra. Ia sungguh tidak menyangka, jika sang anak memberinya usulan untuk menggunakan posisi pimpinan perusahaan agar yang disebut kakak cantik itu menuruti apa yang menjadi kemauannya. Benar-benar sebuah usulan dan ide cemerlang yang mampu dilontarkan oleh gadis kecil seusia Citra ini. Entah dari mana putrinya ini mendapatkan ide semacam itu.
Lagi-lagi Wisnu hanya bisa mengulum senyum. Meski ide yang diucapkan oleh Citra ini terlihat akan banyak membuka peluang untuk berhasil, namun bukan dengan cara seperti itu Wisnu mendekati gadis belia bernama Jenar itu.
"Sayang, jika Papa menggunakan cara-cara seperti itu, itu artinya Papa menyalahgunakan jabatan yang Papa miliki. Terlebih jika seperti itu, akan membuat kakak cantik merasa terpaksa. Padahal memaksa seseorang untuk menuruti kemauan kita jika hal itu sama sekali tidak membawa kebaikan untuk orang itu pasti akan berdampak buruk. Papa tidak ingin jika sampai kakak cantik merasakan keburukan itu."
"Tapi Citra lihat, kakak cantik akan menemukan banyak kebaikan bersama Papa. Bukan abang yang katanya kekasih kakak cantik itu, Pa."
Seperti tidak kehabisan akal dan cara, Citra berceloteh mengeluarkan argumentasi yang ia miliki. Ia berupaya untuk berdiplomasi dengan sang Papa, agar papanya ini menuruti apa yang menjadi usulannya. Ah, sudah persis diplomat cilik saja.
Wisnu terkekeh lirih. Ternyata putrinya ini belum menyerah juga untuk membujuknya mendekati Jenar. Ia mengacak sedikit rambut milik putrinya ini dengan gemas.
"Sudah ya Sayang, sekarang Citra tidak perlu memikirkan hal itu. Yang terpenting, saat ini Papa hanya berupaya untuk membuat nyaman kakak cantik. Jika memang kakak cantik tidak dijemput oleh abang yang merupakan kekasih kakak cantik, pasti akan Papa antar. Yang terpenting jangan sampai memaksa. Oke ya Sayang?"
Pada akhirnya, gadis kecil itu mengangguk samar. Masih ada sedikit rasa tidak rela, namun ia tetap menurut apa yang menjadi ucapan sang Papa. "Baik, Pa!"
__ADS_1
"Anak pintar!" Wisnu kembali menepuk pundak sang putri. Seakan mentransfer energi agar putrinya ini bisa lebih semangat. "Ya sudah, sekarang Citra masuk ke dalam ya. Papa berangkat dulu!"
"Baik Papa!"
Citra memutar tumit dan mulai mengayunkan langkah kakinya. Hingga tubuh kecil gadis kecil itu menghilang dari penglihatan Wisnu. Tak jauh berbeda dari Citra, Wisnu juga mulai melangkahkan kaki untuk meninggalkan tempat ini. Sesekali, ia memperhatikan keadaan sekitar. Ada yang berbeda dengan area depan sekolah putrinya ini. Sebelumnya, beberapa guru berjajar rapi untuk menyambut kedatangan para murid. Namun sejak peristiwa sidang beberapa waktu yang lalu, guru-guru muda itu sudah tidak lagi berdiri di depan pintu gerbang. Untuk menciptakan suasana yang sedikit lebih nyaman dan tenang, mereka pindah ke depan kelas masing-masing untuk menyambut kedatangan para murid.
Duda berusia empat puluh tahun itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sembari tersenyum simpul. Tidak pernah ia sangka, jika kehadirannya sempat membuat resah para guru-guru di sekolah. Beruntung saat ini keadaan sudah kembali seperti semula. Hubungannya dengan guru-guru di sekolah sang putri pun juga sudah seperti sedia kala. Murni hubungan antara wali murid dengan wali kelas.
Ah ... mungkin jika statusku bukan duda, tidak akan timbul keresahan itu. Apakah saat ini aku harus bangga dengan status duda? Yang bisa memikat hati setiap wanita?
πππππ
"Aku berangkat ya Sayang. Ingat, apa yang menjadi pesanku, jangan lagi kamu dekat-dekat dengan lelaki bernama Wisnu itu."
Turun dari motor sport yang mengantarkannya sampai ke tempat kerja, Jenar hanya tersenyum samar mendengar petuah yang disampaikan oleh Firman. Entah sudah berapa kali pemuda ini mengingatkannya agar menjauh dari Wisnu. Jika sempat direkam, mungkin ada lima puluh kali pemuda itu memberinya peringatan.
"Iya Bang, aku paham dengan apa yang harus aku lakukan."
"Terima kasih ya Sayang. Jika seperti ini, aku bisa sedikit lebih tenang." Firman sejenak menjeda perkataannya sembari melepas helm dari kepala Jenar. "Apakah kamu tahu Sayang?"
"Aku sampai tidak nyenyak tidur saat memikirkan kamu berada satu tempat bersama Wisnu itu Sayang. Aku sungguh takut kalau kamu sampai direbut olehnya."
Jika saat ini ada seorang produser sinetron yang sedang mencari pemain, yakinlah bahwa Firman akan langsung direkrut oleh produser sinetron itu. Lelaki itu sungguh lihai dalam memerankan karakter ganda yang ada dalam dirinya. Ia menjelma menjadi lelaki paling sweet untuk menutup segala kepahitan yang ia ciptakan di belakang hubungannya dengan Jenar.
Seorang wanita yang biasanya berbunga-bunga saat mengetahui sang kekasih cemburu, namun kali ini tidak dirasakan oleh Jenar. Entah apa yang terjadi, sejak Firman berkata-kata kasar, ia sedikit hilang perasaan terhadap lelaki itu.
"Iya Bang. Aku mengerti."
Jenar tetaplah Jenar. Ia tidak ingin membuat Firman berpikiran buruk terhadapnya jika sampai ia menyanggah perkataan Firman ini. Gadis belia itupun hanya mengiyakan apa yang menjadi pesan Firman.
"Terima kasih Sayang. Kalau begitu, aku kembali ke kos dulu. Jam sepuluh nanti aku ada kelas."
"Baik Bang. Hati-hati!"
__ADS_1
Firman kembali menyalakan mesin motor miliknya. Dan bayangan lelaki itu perlahan mulai menghilang dari penglihatan Jenar.
Jenar kembali menjejakkan telapak kakinya untuk menyusuri lorong-lorong yang ada di kantor ini. Kepalanya menunduk seakan menekuri jejak-jejak langkah yang telah tercipta, hingga...
Bughh!!!
"Aahhhhhhh!!"
Fokus dengan jejak-jejak kaki, membuat Jenar tidak berkonsentrasi akan tempat yang ia lalui. Gadis itu menubruk sosok seorang laki-laki yang harum aroma parfumnya sedikit tidak asing di indera penciumannya. Gegas, kepala gadis itu mendongak dan...
"Pak Wisnu?"
"Selamat pagi Jen!"
Dengan senyum manis yang ia miliki, Wisnu memberikan ucapan selamat pagi kepada salah satu karyawannya ini. Inilah salah satu cara Wisnu untuk membangun sebuah hubungan yang baik dengan para karyawannya.
"Selamat pagi Pak. Maaf saya harus buru-buru masuk ke ruang kerja saya."
Alih-alih merespon ucapan Wisnu dengan kata-kata dan senyuman manis, Jenar justru nampak terkejut dan bergegas meninggalkan Wisnu sendirian. Hal itulah yang membuat Wisnu terperangah tiada percaya dengan apa yang terjadi dengan gadis belia ini.
"Ada apa dengannya? Mengapa dia nampak tidak seperti biasanya? Biasanya ia begitu ceria tatkala berjumpa denganku. Namun mengapa hari ini ia sangat berbeda?"
Wisnu bermonolog lirih. Ia masih bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Jenar. Sedangkan Jenar sendiri hanya bisa mempercepat langkah kakinya untuk bisa segera menjauh dari Wisnu. Ia sungguh tidak mengerti bagaimana cara menjauhi Wisnu seperti apa yang diinginkan oleh Firman. Oleh karenanya, ia hanya bisa sesegera mungkin untuk menjauh dari Wisnu hingga tidak terlibat obrolan yang lebih jauh lagi.
Saat aku melakukan ini, mengapa rasa-rasanya ada yang berbeda ya? Mengapa aku merasa sedikit tidak rela jika harus menjauh dari pak Wisnu? Ya Tuhan, sebenarnya apa yang telah terjadi kepadaku?
.
.
ππππππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
__ADS_1
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca