
Selamat Membaca πππ
"Wah, kalau setiap hari ada tante Rukmana, pasti kami tidak akan kelimpungan untuk mencari sarapan pagi. Mending tante Rukmana di sini saja deh."
Rukmana nampak sibuk di dapur sembari menyiapkan beberapa lunch box yang telah terisi dengan menu nasi uduk. Wanita paruh baya itu memang sengaja menyiapkan beberapa porsi nasi uduk untuk para penghuni kontrakan. Ia berencana menyiapkan bekal makanan untuk Jenar dan teman-teman sang putri yang tinggal di sini.
"Hmmmmm.. Kalau Tante di sini, lalu siapa yang mau mengurus suami Tante di kampung? Kalian ini ada-ada saja."
"Mending Tante dan om Sutha pindah ke sini saja deh. Jadi kan bisa setiap hari menemani Jenar. Betul kan teman-teman semua?"
"Betulllll...."
Rukmana hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat polah tingkah teman-teman Jenar ini. "Hmmmm.. kalian ini. Sudah, sudah, ayo lekas berangkat."
"Jenar mana Tante? Kok belum kelihatan?"
"Jenar masih ada di kamar. Sebentar lagi juga berangkat. Sudah, sekarang masing-masing ambil satu lunch box ya. Ingat, untuk sarapan. Jangan sampai tidak sarapan."
"Siap Tante. Makasih banyak."
Teman satu kontrakan Jenar mulai meninggalkan kontrakan dan lekas mencari angkot yang berlalu lalang di jalan raya depan gang.
Rukmana menoleh ke arah suara derap langkah kaki yang terdengar semakin mendekat kepadanya. Terlihat Sutha dan Jenar berjalan menuju ke arahnya.
"Jen, kamu yakin mau masuk kerja? Jika kondisi hatimu masih tidak baik-baik saja ada baiknya kamu libur terlebih dahulu Jen."
Sekilas, Rukmana memindai wajah sang putri yang terlihat masih begitu sendu. Matanya masih nampak sembab setelah semalaman ia menangis dalam diam. Ia begitu khawatir jika sampai kondisi hati sang putri berpengaruh buruk akan kinerjanya di kantor.
Jenar tersenyum simpul ke arah sang bunda. Seakan mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja dan tidak perlu mencemaskannya.
__ADS_1
"Jenar tetap masuk kerja Bunda. Hari ini ada kunjungan industri dari salah satu sekolah yang ada di Jogja dan Jenar harus berada di sana."
"Tapi Bunda khawatir Jen. Kamu kan masih..."
Jenar merapatkan tubuhnya di tubuh Rukmana. Ia bergelayut manja di sana. "Masih apa Bunda? Apa bunda mengira jika Jenar masih terpikirkan oleh apa yang dilakukan oleh bang Firman?"
Rukmana mengangguk pelan. "Iya Jen, Bunda masih mencemaskanmu."
Jenar tersenyum kecut seraya menggenggam jemari Rukmana. "Jenar memang terluka dan merasa dihianati, Bunda. Namun itu semua tidak akan pernah menghentikan langkah kaki Jenar untuk meraih kebahagiaan Jenar sendiri. Jenar yakin jika di depan sudah ada kebahagiaan yang menanti."
Rukmana sedikit terhenyak dengan apa yang diucapkan oleh putrinya ini. Ia mengira kandasnya cinta pertama akan membuat para pencinta dirundung duka yang begitu lama. Namun ternyata itu semua tidak berlaku untuk Jenar. Rukmana berpikir jika putrinya ini begitu cepat untuk move on dan melupakan semuanya. Entah memang cepat move on atau memang sengaja menyembunyikan luka di balik tawa. Nampaknya Rukmana harus menyelidikinya. Ia tidak ingin melihat sang putri berpura-pura bahagia padahal sejatinya batinnya terluka.
"Jen, kamu serius mengatakan hal itu? Bunda tidak salah dengar kan?"
Jenar menggelengkan kepala. "Tentu tidak, Bunda. Jenar baik-baik saja. Bahkan saat ini Jenar jauh lebih bersemangat. Rasa-rasanya sangat tidak pantas untuk menangisi penghianatan yang dilakukan oleh bang Firman. Karena dia memang tidak pantas untuk Jenar tangisi."
Rukmana melirik ke arah Sutha. Dari lirikan matanya seakan tersirat sebuah tanda tanya mengapa sang putri bisa sedewasa ini. Sutha pun hanya bisa tersenyum simpul sembari menganggukkan kepala, sebagai pertanda bahwa semua sudah berjalan seperti sedia kala.
"Sudah, sudah, lebih baik kamu segera berangkat, Nak. Nanti terlambat dan kalau terlambat bisa potong gaji kamu."
"Ya sudah, Jenar berangkat dulu ya Yah, Bun. Driver ojek online yang Jenar pesan sudah hampir sampai."
"Baiklah Jen, kamu hati-hati ya Nak. Jangan lupa, nasi uduknya di bawa."
Jenar memasukkan lunch box ke dalam tas yang ia bawa bekerja. Ia peluk tubuh Rukmana dan Sutha bergantian untuk mendapatkan suplay semangat dan kekuatan dalam menapaki hari-harinya. Gadis itupun berlalu, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih setia berada di dapur.
"Yah, Ayah yakin Jenar baik-baik saja? Bunda benar-benar merasa khawatir Yah."
"Ssssttt ... buang jauh-jauh rasa cemas Bunda itu. Saat ini Ayah justru merasa ada sesuatu yang secara tidak langsung membuat Jenar lebih kuat."
Sorot mata Rukmana yang sebelumnya menatap lekat punggung Jenar yang sudah menghilang di balik dinding, kini ia geser untuk menatap wajah sang suami. Dahinya mengernyit seakan dipenuhi oleh tanda tanya besar. "Maksud Ayah apa? Sesuatu apa yang membuat Jenar lebih kuat?"
__ADS_1
Sutha mengedikkan bahu namun masih ia sisipi dengan senyuman tipis. Hatinya berkata jika ada seseorang yang membuat putrinya ini nampak begitu kuat.
"Entahlah Bun, namun Ayah merasakan ada nama lain yang saat ini ada di dalam hati Jenar. Dan seseorang itulah yang membuat Jenar lebih kuat."
Rukmana membelalakkan mata. "Maksud Ayah, selama ini Jenar juga memiliki lelaki lain yang ia cinta? Itu sama saja Jenar berselingkuh kan Yah?"
"Ckckckck ... bukan seperti itu Bun. Maksud Ayah ada seseorang yang kehadirannya mungkin bisa membuat Jenar lupa akan rasa sakit yang ditorehkan oleh Firman. Sehingga ia bisa cepat untuk bangkit kembali. Dan bisa jadi kehadiran sosok orang lain itulah yang semakin menyadarkan Jenar bahwa Firman memang tidak pantas untuk ditangisi berlebihan."
"Hmmmmm... begitu ya Yah? Kira-kira siapa ya Yah?"
"Entahlah Bun, Ayah juga tidak tahu."
"Hmmmm ... terkadang tidak tega juga melihat Jenar mengalami hal seperti ini Yah. Baru sekali ia jatuh cinta namun. malah seperti ini."
Sutha menepuk-nepuk bahu sang istri dan berupaya untuk sedikit menenangkannya. "Tidak apa-apa Bun. Itu artinya putri kita kuat untuk mendapatkan ujian cinta seperti ini. Dan Ayah juga yakin jika ada kebahagiaan yang menanti Jenar di depan nanti."
"Bunda juga berharap seperti itu Yah."
Sutha kembali menghela nafas dalam dan ia hembuskan perlahan. Ia menatap langit-langit ruangan dengan tatapan menerawang. "Satu hal yang harus Ayah syukuri Bun, setidaknya kita mengetahui kebejatan Firman sebelum kita menyerahkan Jenar untuk menjadi istrinya. Ayah tidak tahu bagaimana Jenar akan semakin terluka jika hal ini menimpanya ketika ia sudah menikah dengan Firman."
Rukmana menganggukkan kepala sebagai isyarat sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Sutha. "Bunda semakin yakin bahwa setiap ujian yang menimpa seorang hamba pasti menyisakan hikmah di dalamnya, Yah."
.
.
πππππ
Pendek dulu ya Kak... InshaAllah lanjut nanti lagiπππ Oh iya, bagi Kakak-kakak yang bertanya apa itu Tatas? Tatas itu bisa diartikan putus ya Kak. Jadi dalam part kemarin bisa diartikan jika Jenar dan Firman sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. π₯°π₯°
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
__ADS_1
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan