Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 61 : Bertemu?


__ADS_3


Selamat Membaca 😘😘😘😘


"Ini kamar adikku. Dan baju-baju yang ada di dalam almari itu merupakan milik istrinya. Namanya Mara. Usianya mungkin tidak terpaut jauh dari kamu."


Perkataan Wisnu masih terngiang jelas di telinga Jenar kala ia mematutkan tubuhnya di depan cermin. Sebuah cerita yang menjadi rentetan awal duda berusia empat puluh tahun itu menceritakan sekilas perihal kehidupan pribadinya. Dan kini, gadis itu sedikit tahu bagaimana awal mulanya Wisnu menjadi seorang duda.


Jenar sempat terhenyak kala mengetahui cerita sebenarnya bahwa Wisnu menjadi seorang duda bukan karena sang istri meninggal di saat melahirkan. Ternyata istri dari pawaris PT WUW ini merupakan salah satu peran antagonis yang dihadirkan oleh sang penulis sebagai jalan menjadikan Wisnu sebagai seorang duda. Dan juga sangatlah miris kala nasibnya dengan sang adik juga hampir sama. Sama-sama mendapatkan seorang istri yang jahat dan membuat keluarga masing-masing porak poranda. Bukankah penulis cerita ini sungguh tega? Menjadikan kakak beradik itu bernasib sama? Yakni dengan menjadikan mereka seorang duda? Sungguh malangnya.


Jenar masih menatap lekat bayangan tubuhnya yang terpantul di dalam cermin ini. Setelah mandi dan berganti pakaian, tubuhnya serasa begitu segar. Dan rasa pusing yang sebelumnya terasa begitu kuat menghujam kepala, kini seakan reda bahkan sirna.


Jenar masih menatap lekat dress yang ia kenakan ini. Sungguh sangat pas kala membalut sempurna tubuhnya. Benar apa kata Wisnu, bahwa adik iparnya memiliki postur tubuh yang hampir sama dengannya. Ekor mata Jenar menangkap sebuah bingkai foto yang menggantung di salah satu sudut dinding. Dari tempat Jenar berdiri, sekilas foto itu menampakkan foto pernikahan. Dikuasai oleh rasa penasaran, Jenar pun mengayunkan kakinya untuk bisa mendekat ke arah bingkai itu.


"Adik ipar pak Wisnu yang bernama Mara ini memang sangat cantik. Dan terlihat serasi sekali dengan pak Dewa. Dan oh, pak Dewa juga masih nampak begitu muda. Padahal usianya juga tidak terpaut jauh dari Pak Wisnu. Dan aku juga heran, mengapa pak Dewa dan pak Wisnu itu masih terlihat awet muda di usia mereka yang bisa dikatakan tua? Wajah mereka masih nampak seperti seorang laki-laki berusia tiga puluh tahunan. Apa sebenarnya yang menjadi rahasianya? Apakah mereka memakai formalin? Sehingga bisa awet?"


Jenar menyentil keningnya sendiri saat merasa bahwa perkataannya ini sedikit ngawur. "Apaan sih Jen? Formalin itu untuk mengawetkan mayat. Dasar Jenar!"


Begitu terkesimanya terhadap sosok Dewa, Wisnu, dan juga perempuan bernama Mara ini sampai-sampai membuat Jenar tidak menyadari jika sedari tadi ada seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu yang melihat dengan seksama apa yang dilakukan oleh gadis itu. Lelaki itupun hanya bisa tersenyum renyah sembari mengayunkan kakinya ke arah sang gadis.


"Baru kamu, seseorang yang memuji saya awet muda dan terlihat tampan. Sepertinya kamu pantas untuk mendapatkan hadiah dari saya Jen!"


Jenar terkesiap kala suara bariton tiba-tiba masuk ke dalam indera pendengarannya. Ia berbalik badan dan sang bos sudah berdiri di balik punggungnya.


"Maaf, tapi siapa yang mengatakan Anda tampan Pak? Bukankah saya hanya mengatakan Anda awet muda saja?"


"Oh, benarkah seperti itu? Tapi saya mendengar kamu mengatakan saya ini tampan. Atau apakah saya yang salah dengar?"


"Ckckckck, bisa-bisanya Anda mengatakan sesuatu yang memang tidak saya katakan. Lagipula, Anda mendengar dari mana?"


"Ya, dari sini. Tapi mengapa kamu malah justru tidak mengakuinya ya?"


"Di sini? Di sini di mana maksud Bapak?"


Wisnu sedikit mengendikkan bahu. "Sepertinya di dalam hatimu."


Kedua bola mata Jenar terbelalak sempurna kala Wisnu mengatakan hal ini. Meski sedikit terkejut, namun ia sama sekali tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa hatinya sedikit berdebar. Yang seketika mencetak semburat warna merah jambu di tulang pipinya.


"Apa sih Pak? Jangan asal bicara ya. Saya tidak mengatakan apapun."

__ADS_1


Wisnu hanya tergelak melihat ekspresi wajah Jenar yang sudah sedikit memerah ini. Namun, ia tahu apa yang harus ia lakukan. Tidak ingin membuat gadis ini merasa risih akibat sikapnya, Wisnu mencoba untuk mengangkat obrolan yang berbeda. Yang diinginkan oleh duda itu sesungguhnya hanya satu. Yaitu, Jenar dapat merasakan kehadirannya atas rasa yang muncul di hatinya secara natural. Tanpa paksaan. Tanpa drama dan tanpa settingan.


Karena jika dipaksa, dijadikan drama, terlebih dijadikan settingan, sungguh hanya akan membuat para pembaca semakin pusing saja. Sudah dibuat pusing dengan tingkah pak Dodi Sudrajat perihal hak waris, hak asuh, tes DNA, donasi rumah Gala dan yang terakhir drama penjemputan sang cucu dengan mengajak orang satu desa, masa iya mau ditambah pusing dengan sang duda? πŸ˜„πŸ˜„ Jadi, biarkan rasa itu datang dengan sendirinya di hati Jenar ya Kak.. Dengan begitu ia bisa merasakan apa itu cinta yang sesungguhnya.


"Ya sudah, mari kita berangkat Jen. Mumpung belum terlalu malam."


"Baik Pak."


Pada akhirnya, dua orang itu keluar dari kamar milik Dewa dan Mara. Dan gegas menghampiri Citra yang sudah menunggu di bawah yang terlihat sudah sangat tidak sabar untuk bisa segera jalan-jalan ke mall.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Ayo Sayang, buka mulutnya. Aaaaa....."


Selepas mengelilingi mall dengan memasuki beberapa outlet pakaian, sepatu, tas dan menyempatkan bermain di Timezone, kini Jenar, Wisnu dan Citra terlihat menikmati salah satu hidangan yang berada di food court mall ini. Sesuai selera anak seumuran Citra, maka menu fried chicken menjadi pilihan ketiga orang itu. Dan di bawah kolong meja, nampak beberapa paper bag yang merupakan hasil perburuan mereka di mall ini.


Sejatinya, Jenar merasa tidak enak hati kala dibelikan oleh Wisnu beberapa barang seperti tas, sepatu, heels, dan bermacam-macam dress. Namun mau bagaimana lagi jika Wisnu dan Citra sudah bekerja sama yang secara tidak langsung memaksa Jenar untuk menerima pemberian Wisnu ini.


Kerjasama? Ya, Citra akan merengek bahkan menangis jika kakak cantiknya ini tidak menerima apa yang dibelikan oleh sang papa. Alhasil, mau tidak mau ya meski kebanyakan maunya sih Jenar menerima pemberian Wisnu ini. Meski awalnya menolak lama-lama ia ingin dibelikan yang lebih banyak lagi. (Jen, jangan ngelunjak seperti authormu ini ya. Awas kamu!) πŸ˜‚


"Hmmmm.. ayam goreng ini terasa lebih nikmat ketika Kakak cantik yang menyuapinya. Aku suka, aku suka!!"


Seperti seorang anak kecil yang begitu bahagia disuapi oleh sang ibu, Citra tiada henti berteriak kegirangan ketika Jenar dengan telaten menyuapinya. Hal itulah yang membuat Jenar dan Wisnu juga merasakan kebahagiaan itu.


Gadis kecil itu nampak sejenak berpikir. Namun, tak lama kemudian ia menggelengkan kepala. "Tidak Pa. Citra sudah kenyang. Lagipula kata ibu guru di sekolah Citra, kita tidak boleh makan terlalu kenyang."


"Oh ya? Memang alasannya apa Sayang?" Wisnu bertanya seakan-akan ia begitu tertarik dengan apa yang diucapkan oleh putrinya ini.


"Hmmm... karena apa ya?" Citra menoleh ke arah Jenar. "Memang alasannya apa Kakak cantik bahwa kita tidak boleh makan terlalu kenyang?"


"Karena, di dalam perut kita terbagi menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk udara. Nah, jika kita kekenyangan akibat terlalu banyak makan, maka perut kita akan terasa begah. Begitu Sayang."


"Nah, dengar apa yang dikatakan oleh kakak cantik ini ya Pa. Jadi Papa tidak boleh makan terlalu kenyang."


"Siap tuan putri!"


Citra kembali melanjutkan aktivitas mengunyahnya. "Papa mengapa tidak ikut makan? Apa Papa tidak menyukai ayam goreng ini?"


"Tidak Sayang. Papa hanya sedang malas untuk makan. Jadi hanya ingin minum saja."

__ADS_1


"Ckckckck tidak baik Pa jika seperti itu. Jika Papa malas makan, mengapa Papa memesan ayam goreng ini?" sungut Citra sedikit galak.


"Eh, itu anu Sayang...."


"Kakak cantik, bisakah Kakak cantik menyuapi Papa? Siapa tahu setelah disuapi oleh Kakak cantik, Papa Citra ini tidak malas makan lagi?"


Jenar terkesiap kala mendengar permintaan Citra ini. "Eh, tapi Sayang...."


"Tolong ya Kak. Citra tidak mau jika sampai Papa sakit karena tidak makan. Jadi tolong suapi Papa ya Kak!"


Tidak ingin membuat Citra merengek ataupun menangis seperti yang ia lakukan di outlet-outlet tadi pada akhirnya Jenar menyetujui permintaan Citra. Jenar mencondongkan tubuhnya untuk mengarah ke Wisnu dan mulai mengulurkan sendok dan yang sudah berisi ayam dan juga nasi.


Nak, kamu sungguh pintar. Kamu selalu saja tahu akan apa yang Papa inginkan.Doakan Papa. Semoga setelah ini hubungan Papa dengan kakak cantik bisa semakin dekat ya.


Wisnu masih dalam mode hening, sama sekali tidak merespon sendok yang diulurkan oleh Jenar.


"Ada apa Pa? Mengapa Papa tidak mau makan juga?"


"Papa tidak mau disuapi memakai sendok Sayang. Papa maunya disuapi langsung dengan tangan kakak cantik."


Jenar semakin dibuat terperangah dengan permintaan Wisnu ini.


Pak Wisnu ini apa-apaan sih? Masa iya jemariku menyentuh bibir lelaki ini? Eh tapi, bukankah bibirku juga pernah menyentuh bibir pak Wisnu? Ya ampun Jenar, nasibmu kayak gini banget ya.


"Kakak cantik, tolong suapi Papa langsung menggunakan tangan Kakak cantik ya. Kasihan Papa kalau sampai tidak makan."


Pada akhirnya, Jenar menurut. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Jenar dan Wisnu saling bersitatap, yang seketika menimbulkan sensasi rasa yang begitu luar biasa. Perlahan jemarinya masuk ke dalam rongga mulut Wisnu dan....


"Apa-apaan kamu Jen!!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hayolohhh siapa itu yang datang? Hihihi hihihi pasti sudah tahu jawabannya kan Kak?? 😘😘😘


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2