
Selamat Membacaπππ
"Terima kasih banyak untuk hari ini, Jen!"
Di bahu jalan yang tidak terlalu lebar, Wisnu menghentikan laju mobil yang ia kemudikan untuk menurunkan Jenar. Apakah Wisnu merupakan salah satu lelaki yang tidak sopan karena menurunkan seorang gadis di pinggir jalan? Mungkin bagi sebagian orang menganggapnya seperti itu. Namun, apa yang terjadi kepada Jenar ini murni merupakan permintaan gadis itu sendiri. Selepas menghadiri acara tutup tahun, Jenar meminta Wisnu untuk mengantarkan pulang namun cukup diturunkan di tepi jalan saja. Gadis itu berdalih, ingin berjalan kaki hingga sampai kontrakan di mana ia tinggal.
"Sama-sama Pak. Saya juga berterima kasih karena sudah diberi tumpangan."
Jenar melepaskan safety belt yang ia kenakan. Sekilas, gadis itu melirik ke arah Citra yang sudah terlelap di dalam tidurnya. Setelah berceloteh ke sana kemari, pada akhirnya gadis itu menyerah, tidak mampu untuk menghalau rasa kantuk yang begitu hebat. Dipejamkannya kedua jendela hati miliknya dan tertidur pulas.
"Jen, kamu yakin tidak mau saya antar sampai kontrakan?"
Sebelum Jenar membuka pintu mobil, Wisnu kembali menanyakan akan keputusan yang telah diambil oleh Jenar bahwa gadis itu tidak mau untuk diantar sampai kontrakan.
Jenar sekilas menoleh dan menggelengkan kepala pelan. "Tidak perlu, Pak. Biarkan saya berjalan kaki, sambil berolahraga. Kalau begitu, saya pamit ya Pak."
Pintu mobil sudah terbuka. Kaki gadis itu sedikit bergeser untuk bersegera turun. Namun...
"Jen!"
Lagi, Jenar sedikit menoleh ke arah Wisnu. "Ya Pak?"
"Yakin, tidak mau saya antar sampai depan kontrakan?"
"Tidak perlu Pak, sampai sini saja."
Wisnu mendengus lirih. "Baiklah kalau begitu."
Jenar kembali mengayunkan tungkainya. Dan...
"Jen!"
Jenar merotasikan dua bola matanya seolah jengah karena Wisnu seakan ingin bermain-main dengannya. "Ada apa lagi sih Pak? Ini loh saya mau turun tapi terhambat melulu."
Tanpa merasa berdosa ataupun bersalah, Wisnu nyengir kuda. "Hati-hati!"
"Iya Pak, iya. Nanti saya kabari pak Wisnu kalau sudah sampai."
"Oke, saya tunggu kabar dari kamu."
__ADS_1
"Ya sudah, saya turun Pak!" Jenar kembali berpamitan dan Wisnu menganggukkan kepala.
Baru saja gadis itu menggeser bokongnya, tiba-tiba...
"Jenar Budhiani Candrakanti!"
Kali ini Jenar membelalakkan mata dengan bibir mencebik, mengerucut dengan pipi yang menggembung. Jelas, wajah gadis itu menampakkan rasa kesalnya karena lagi-lagi Wisnu menjadi penghambat yang sangat nyata di kala ia akan turun dari mobil ini. Jenar kembali membalikkan tubuhnya.
"Astaghfirullahalazim .... ada apa lagi sih Pak? Kalau seperti ini, kapan saya bisa segera sampai kontrakan?"
Wisnu lagi-lagi hanya bisa tersenyum simpul sembari menggaruk tengkuknya yang tiada gatal. "Selamat beristirahat Jenar!"
"Iya Pak Wisnu, terima kasih!"
Tidak ingin lagi dipermainkan oleh duda berusia empat puluh tahun ini, gegas Jenar turun dari mobil dan mengambil langkah kaki lebar untuk menyusuri jalanan ini. Sedangkan Wisnu, hanya bisa menatap punggung sang gadis hingga bayangnya tidak lagi nampak di kedua bola matanya.
"Hanya dengan menggodamu seperti itu saja entah mengapa aku sudah sebahagia ini Jen!"
ππππ
Jenar melangkahkan kaki lebar-lebar menyusuri jalan beraspal menuju kediamannya. Dua hari ia tidak pulang ke tempat tinggalnya, seakan membuat gadis belia itu semakin rindu saja dengan suasana kontrakan. Terlebih dengan teman-temannya yang lain.
Klontang.... Klontang... Klontang...
"Hei Mbak, tunggu!"
Jenar sedikit terkejut kala indera pendengarannya menangkap gelombang suara seorang wanita yang berada di balik punggungnya. Gegas, gadis belia itu bersegera untuk menoleh ke arah sumber suara.
"Iya Bu, ada apa ya?"
Nampak di hadapan Jenar seorang ibu muda yang tengah menggendong bayi berusia sekitar tiga bulan melangkahkan kaki lebar ke arahnya. Bayi itu terdengar menangis histeris dan seakan tidak mau berhenti.
"Ada apa, ada apa. Lihatlah Mbak, anak saya menangis gara-gara Mbaknya ini!"
Jenar terperangah tiada percaya. Wajah gadis itu menampakkan ekspresi keterkejutannya. "Saya? Yang membuat anak Ibu menangis? Bagaimana bisa Bu? Saya sama sekali tidak berinteraksi dengan anak Ibu ini tapi mengapa saya yang Ibu salahkan karena membuat anak Ibu menangis?"
Hal yang masuk akal bukan jika Jenar mempertanyakan hal itu. Karena sedari tadi ia tidak berinteraksi dengan Ibu dan anak ini. Lalu, bagaimana bisa ia yang disalahkan atas tangis anaknya ini? Sungguh sangat membingungkan.
Ibu itu terlihat menimpali pertanyaan Jenar sembari menimang-nimang sang anak. Nampaknya ia juga terlihat begitu kesusahan untuk memenangkan tangis si bayi ini.
"Jika bukan Mbaknya yang membuat anak saya menangis lalu siapa lagi? Bukankah Mbak ini yang sedari tadi menendang-nendang kaleng bekas itu? Itulah yang membuat anak saya menangis."
__ADS_1
Jenar semakin dibuat bengong oleh ucapan Ibu ini. Otaknya masih belum mampu untuk memahami perkataan Ibu muda ini. Bagaimana bisa si bayi menangis sedang ia sendiri tidak melakukan apapun terhadap bayi ini.
"Sebentar, sebentar, bisa Ibu jelaskan bagaimana ceritanya saya lah yang bersalah akan bayi Ibu yang sedang menangis ini? Saya tidak melakukan apapun loh ya Bu. Tidak mecubit, tidak menoel pipi dan melakukan hal-hal lain yang bisa membuat anak Ibu menangis. Lalu bagaimana bisa Ibu menyalahkan saya?"
Jenar sampai berpikir jika ibu muda ini sedang ngelindur ataupun bermimpi. Ia datang dan kemudian menyalahkannya begitu saja.
"Ckckckck ckckckck... Mbak memanglah tidak melakukan hal-hal itu. Namun gara-gara kaleng bekas yang Mbak tendang ini membuat anak saya terbangun dari tidurnya karena merasa terganggu dan kemudian menangis."
"Apa? Jadi anak Ibu menangis karena merasa terganggu?"
"Memang seperti itu kenyataannya. Suara kaleng bekas ini sungguh sangat membuat gaduh. Sekarang, Mbak harus bertanggung jawab atas kegaduhan ini!"
Jenar semakin tersudut dengan perkataan sang ibu. Tanggung jawab seperti apa yang diinginkan oleh Ibu muda ini. "Sebentar Bu. Ibu meminta saya bertanggung jawab seperti apa? Apa yang harus saya lakukan?"
Nampak Ibu muda itu mendekat ke arah Jenar. Tanpa basa-basi Ibu ini mengulurkan si bayi ke arahnya. Dan dengan gerak cepat, Jenar menerima sosok bayi mungil yang tengah dibedong ini.
"Gendong anak saya sampai ia tertidur lagi Mbak. Gegara Mbak inilah yang membuat saya sampai mengesampingkan keperluan saya di kamar mandi untuk membuang hajat. Ini saya sedang menahan sesuatu yang sudah ingin keluar, tahu?!" Ibu ini berancang-ancang untuk kembali ke dalam rumah. "Sudah, ayo ikut saya ke dalam. Dan ketika saya keluar dari dalam kamar mandi, anak saya ini sudah terdiam dan terlelap!"
Jenar hanya bisa membuang nafas kasar. Mau tidak mau ia harus menuruti permintaan Ibu muda ini. Ia pun mengikuti kemana sang ibu berjalan sembari menggendong bayi mungil ini.
"Oalah nasib, nasib. Mau cepat-cepat pulang biar bisa segera beristirahat tapi malah diminta untuk jadi baby sitter dulu! Semua gara-gara kaleng nih!"
Dengan menahan sedikit rasa kesal, Jenar kembali menendang kaleng bekas itu. Dan...
Wuiiinggggggg!!!!!
Kali ini kaleng yang ditendang Jenar melambung jauh dan tinggi dong. Sampai berhasil masuk ke dalam pekarangan rumah dan tiba-tiba...
Pletak!!!
"Aduuhhhhhh.... Siapa yang melempari kepalaku dengan kaleng ini?!!!!! Dasar kurang ajar!!!!"
Fiks, kaleng yang ditendang Jenar kini menjatuhkan korban. Kepala seorang bapak-bapak yang sedang menjemur burung di dekat pagar rumah miliknya yang tiba-tiba memar karena balada kaleng bekas yang ditendang oleh Jenar ini.
ππππππππ
Intermezo dulu ya Kak.. InshaAllah jika memungkinkan, nanti lanjut lagiπ₯°π₯°π₯°
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
Salam Love, love, loveβ€β€β€
__ADS_1
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca