
Selamat Membaca πππ
"Ahahahaha .... ternyata pak Arya takut dengan suara kuntilanak dari handphone ini. Dasar payah. Lagaknya saja garang, tapi ternyata takut sama kuntilanak KW."
Perut Jenar seakan dikocok habis-habisan. Membuatnya terbahak tiada henti membayangkan bagaimana wajah lelaki paruh baya yang dipenuhi rona ketakutan itu. Ada sedikit rasa bersalah yang menghampiri hati, takut jika tiba-tiba lelaki itu terkena serangan jantung karena terkejut. Namun Jenar sama sekali tidak perduli akan hal itu. Karena dengan cara seperti ini, ia bisa mendapatkan salah satu informasi yang bisa ia berikan kepada Bima, sesuai dengan tugas tambahan yang diberikan oleh lelaki itu kepadanya.
Jenar melepaskan kain berwarna putih yang membalut tubuhnya. Ia lipat kembali seperti bentuk asal dan ia kembalikan ke tempat semula. Jemari tangan yang lentik, kembali ia fungsikan untuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan kemudian ia cepol rambut hitamnya di bagian belakang kepala dan ia apliksakan sebuah hairnet di sana. Seketika tatanan rambut gadis itu rapi kembali.
"Ya Allah, alhamdulillah karena Engkau menganugerahiku otak yang sedikit encer, sehingga aku bisa merencanakan sesuatu untuk menjadi kuntilanak jadi-jadian di detik-detik terakhir akan ketahuan mengintai." Jenar menghembuskan nafas lega. "Ah, ternyata anak pak Sutha ini tidak lola-lola amat. Nyatanya, dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari sergapan lelaki paruh baya itu. Boleh lah jika aku memberikan aplaus untuk diriku sendiri?"
Plok... plok... plok...
Jenar bertepuk tangan untuk memberikan apresiasi kepada dirinya sendiri akan keberhasilan yang ia raih. Berhasil menyelamatkan diri di detik-detik terakhir ia akan kepergok kala bersembunyi. Jenar tertawa puas, seakan mengabarkan kepada dunia bahwa ia merupakan salah satu orang yang memiliki otak yang begitu cerdik.
Plok.. plok.. plok...
Jenar yang tengah tertawa, seketika menghentikan tawanya kala mendengar suara tepuk tangan yang menggema di ruangan ini. Dahinya mengernyit sembari merotasikan kedua bola mata miliknya.
Aneh, perasaan di sini hanya ada aku sendirian. Namun itu suara tepuk tangan dari siapa? Aku kan sudah berhenti bertepuk tangan?
"Hei, siapa itu?"
Masih membelakangi bagian pintu, Jenar mencoba berteriak untuk mengetahui suara tepuk tangan dari siapa yang ia dengar ini.
"Kucing...."
Jenar sedikit terkesiap kala terdengar sebuah jawaban mulai merembet memasuki indera pendengarannya.
"Oh, kucing? Aku kira siapa kamu Cing."
__ADS_1
Jenar mengangguk-anggukkan kepala sebagai isyarat bahwa ia sedikit tenang, karena suara itu berasal dari kucing. Gadis itu pun kembali membuang nafas sedikit lega. Namun, baru beberapa detik ia merasakan kelegaan itu, tiba-tiba kedua bola matanya membulat sempurna. Bibirnya menganga lebar kala menyadari satu hal.
Kucing? Bukankah suara kucing itu meong? Tapi mengapa dia bisa mengucapkan kata kucing? Dan, bukankah kucing tidak bisa bertepuk tangan? Lalu itu tadi suara apa?
Jenar membalikkan tubuh. Kembali ia sapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Betapa terkejutnya dia kala melihat sosok wanita berbaju putih, berambut panjang menatapnya intens. Wajah wanita itu nampak cantik sekali.
"Ya ampun, ternyata ada orang di sini?" Jenar malah semakin mendekat ke arah sosok wanita berbaju putih itu. "Jadi itu tadi suara kamu? Aku kira beneran kucing, hahahaha."
Wanita itu menganggukkan kepala pelan, seraya masih setia menatap wajah Jenar dengan lekat.
"Kamu sejak kapan ada di sini? Rasa-rasanya tadi aku di sini sendirian, tapi ternyata ada temannya. Tahu seperti itu kan tadi kita bisa bekerja sama untuk menakut-nakuti pak Arya. Hahahaha."
Jenar sedikit heran karena wanita ini hanya terdiam dan hanya tersenyum tipis. Tidak berucap sepatah katapun. Namun, ia berpikir mungkin wanita ini masih malu-malu karena bertemu dengan teman baru. Sehingga ia hanya membisu.
"Namaku Jenar, kalau kamu siapa?"
Jenar mengulurkan tangannya bermaksud untuk berkenalan dengan sosok wanita ini. Namun, lagi-lagi ia tidak memberikan respon apapun. Hal itulah yang membuat Jenar semakin termangu. Ia memutar otak, untuk mencari tahu mengapa wanita ini masih saja terdiam dan membisu.
"Kok dari tadi diam saja? Apakah kamu sedang sariawan? Sehingga tidak mood untuk berbicara?"
"Ahaaaa, aku punya tablet hisap vitamin C. Hisaplah ini, aku yakin setelah ini sariawanmu langsung sembuh. Khasiat tablet hisap ini tidak diragukan lagi. Aku kalau lagi sariawan juga mengkonsumsi ini kok. Ayo terimalah!"
Lagi-lagi wanita itu hanya terdiam tanpa melepaskan tatapan matanya dari wajah Jenar. Yang dilakukan wanita itu sungguh hanya membuat Jenar semakin salah tingkah.
"Mengapa kamu menatapku terus menerus? Apakah kamu sedang membanding-bandingkan kecantikan kita masing-masing? Tenang kita sama-sama cantik kok. Namun, jika perkara wangi, sepertinya aku jauh lebih wangi dari kamu. Hahaha hahahaha."
Niat hati ingin mengajak wanita ini bercanda namun tetap saja tidak ada respon sama sekali, hingga tanpa sengaja manik mata Jenar melihat ke arah bawah, tepatnya ke arah kaki wanita di hadapannya ini. Dan kedua bola mata Jenar kembali dibuat membulat penuh. Bibirnya pun kembali menganga lebar. Gegas, ia menegakkan kembali pandangannya dan melihat ke arah wajah wanita ini.
"K-kakimu mengapa tidak menapak di lantai? Apakah itu artinya kamu ini .... kunti ori?"
Ihiihihhiihiiihiii
__ADS_1
Suara sosok wanita ini sudah cukup membuat Jenar tersadar bahwa ia dan wanita ini bukanlah makhluk yang sama. Mendadak bulu kuduk Jenar meremang. Ia yang sebelumnya begitu cerewet mengajak bicara sosok makhluk ini bahkan sempat menawarinya tablet hisap vitamin C, mendadak lidahnya menjadi kelu. Sepatah katapun tidak mampu ia ucapkan.
Ia hanya bisa nyengir kuda dengan kaki yang sudah mulai gemetaran. Meski gemetaran namun ia berusaha untuk bisa melarikan diri dari tempat ini.
Jenar mengambil start untuk bisa berlari. Ia condongkan tubuhnya untuk mengarah ke arah pintu keluar, dan.... "Maaf ya Kun, aku permisi dulu. Lariiiiii!!!!!!"
Pada akhirnya Jenar mengikuti jejak Arya dengan berlari tunggang langgang menjauh dari gudang. Sesekali ia menoleh ke arah belakang, untuk memastikan jika sosok wanita itu tidak mengikutinya. Sampai-sampai ia tidak fokus dengan medan yang ia lalui. Hingga...
Bugh!!!
"Aaaahhhhh..."
Tubuh Jenar menubruk tubuh seorang laki-laki dengan balutan jas. Membuat kepalanya kepentok di dada bidang lelaki ini. Jenar merasa keadaannya aman karena telah bertemu dengan sosok manusia, sama seperti dirinya. Sepersekian menit, ia mencoba untuk menenangkan diri dan mengendalikan debaran dalam dada akibat rasa takut yang ia rasakan di dalam pelukan lelaki ini. Entah energi apa yang dimiliki oleh lelaki ini sehingga bisa mentransfer rasa tenang dan menghalau rasa takut yang ia rasakan.
Sedangkan lelaki yang ditabrak oleh Jenar hanya sedikit terkesiap karena tiba-tiba ada seorang wanita yang berada di dalam dekapannya. Dahinya sedikit mengernyit, mencoba mencari tahu siapa wanita ini. Namun, harum aroma tubuh wanita ini berhasil membuat lelaki itu teringat akan sosok gadis yang telah berhasil mencuri perhatiannya.
"Apakah kamu masih ingin memeluk saya? Jika masih ingin, mari ke ruangan saya. Akan saya peluk kamu sampai kamu merasa tenang."
Jenar terperangah seketika. Ia yang sempat terbuai akan rasa nyaman yang dihadirkan oleh tubuh lelaki ini, kini otaknya kembali bekerja maksimal yang membuatnya tersadar jika posisinya saat ini tidaklah elok jika dilihat oleh orang lain.
Buru-buru Jenar mendorong tubuh lelaki ini dan... "Anda jangan mesum pak Wisnu!"
.
.
πππππ
πππππππ part ini hanya fiktif belaka ya Kak.. Percakapan antara Jenar dengan Kunti ori, anggap saja sebagai hiburan di malam hari... πππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
__ADS_1
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca