Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 44 : Mengintai


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘😘


Telapak kaki Jenar berjinjit melintas lorong-lorong pabrik yang terlihat sepi di jam dua siang ini. Sebuah kewajaran jika sepi, mengingat saat ini masih merupakan jam kerja, sehingga hanya beberapa orang saja yang berlalu lalang di sini, termasuk para office boy dan office girl yang memang bertugas untuk menjaga kebersihan dan kerapihan kantor. Sedangkan para karyawan lainnya masih berkutat pada pekerjaan mereka masing-masing dan di tempat masing-masing pula.


Jenar yang sebelumnya berniat untuk kembali ke ruang kerja, mendadak ia urungkan niat itu. Ia berbelok arah untuk mengikuti ke mana perginya seorang laki-laki yang nampak sedikit mencurigakan. Laki-laki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Arya. Hari ini, ia melakukan sesuatu yang sama persis dengan apa yang pernah ia lakukan beberapa waktu yang lalu. Dari balik dinding sebuah gudang yang sudah lama terbengkalai dan letaknya tidak terlalu jauh dari tempat Arya berdiri, Jenar mulai untuk mencari tahu tentang apa yang dilakukan oleh lelaki itu.


"Bagaimana? Apa sudah beres semua?"


Dengan suara lirih, Arya melontarkan kalimat tanya kepada seorang laki-laki yang tak lain adalah driver mobil pengangkut bahan baku pembuatan underwear pabrik milik Wisnu.


Lelaki bernama Heri itu menganggukkan kepala, sebagai sebuah isyarat bahwa semua berjalan lancar. "Tenang pak Arya. Di dalam boks mobil, sudah ada beberapa roll kain seperti yang pak Arya minta."


"Bagus. Setelah ini kamu tahu bukan apa yang harus kamu kerjakan?"


Masih diliputi oleh rasa cemas jika sampai yang ia lakukan ini dipergoki oleh orang lain, sesekali Arya terlihat mengedarkan pandangannya untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang mengintai.


Lagi-lagi Heri menganggukkan kepala, bak seseorang yang begitu profesional dalam melakukan pekerjaannya. "Sangat tahu Pak. Setelah ini saya ke rumah Bapak dan meletakkan puluhan roll kain-kain ini ke tempat biasa."


"Bagus Her, kamu memang dapat aku andalkan." Arya merogoh sesuatu yang berada di balik saku celananya. Segepok lembaran-lembaran merah bernilai sepuluh juta rupiah, Arya berikan kepada Heri. "Itu hasil kerja kerasmu selama membantuku. Jadi, silakan dinikmati!"


Bola mata Heri yang sebelumnya meredup, kini menyala bak lentera yang bersinar terang. Harum aroma lembaran-lembaran merah bernilai sepuluh juta yang berada di tangannya ini bak menjadi suplay semangat untuk setia bekerja sama dengan Arya.


"Ahaaa ... ini yang saya suka Pak. Semangat saya bertambah berkali-kali lipat jika sudah menerima lembaran-lembaran merah seperti ini." Heri memasukkan gepokan uang itu ke dalam tas yang ia bawa. "Setelah ini saya akan ke rumah Bapak."


"Bagus Her. Nanti di sana kamu akan bertemu dengan anakku. Dan dia lah yang akan mengatur semuanya."


"Baik Pak, saya mengerti. Kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu."

__ADS_1


"Ya, segerlah tiba di rumahku. Karena sebentar lagi akan ada yang mengambil kain-kain ini."


Heri menganggukkan kepala dan berbalik badan. Ia berjalan mengitari mobil boks untuk kembali masuk ke dalam mobil. Lelaki itu telah siap dengan kemudinya. Ia nyalakan mesin, menginjak kopling, menggeser persneling, menginjak pedal gas dan mulai melajukan laju kendaraannya.


Jenar yang memanjat tumpukan meja untuk dapat menjangkau lubang ventilasi yang ada di bagian atas dinding, fokus dengan ponsel yang diam-diam ia pergunakan untuk merekam apa yang dilakukan oleh Arya. Meski hasil rekaman itu sama sekali tidak dapat mendeteksi gelombang suara yang diucapkan oleh Arya dan driver mobil pengangkut bahan baku, namun dari rekaman video itu nampak jelas di mana Arya memberikan segepok lembaran-lembaran merah kepada Heri. Hal inilah yang membuat rasa ingin tahu Jenar semakin menjadi-jadi.


"Kira-kira uang itu untuk apa ya? Apakah mungkin pak Arya memiliki urusan bisnis bersama driver itu? Atau justru malah kongkalikong untuk melakukan kecurangan bersama driver itu? Ah, sungguh aku tidak mengerti. Andai saja handphone ku ini bisa merekam percakapan mereka, pasti aku tidak akan sepenasaran ini."


Jenar sedikit kecewa kala tidak dapat mendengar secara langsung percakapan kedua orang itu. Seandainya dapat mendengar pasti ia akan segera mengetahui ada percakapan apa diantara kedua orang itu.


Jenar masih menatap intens tubuh Arya yang masih berdiri tegap di tempatnya berada. Meski mobil yang dikemudikan sang driver telah menghilang dari pandangan mata, namun Arya masih tetap setia berdiri di sana. Lelaki itu sesekali terlihat memainkan jemarinya di atas benda pipih yang ada di dalam genggaman tangan. Namun tiba-tiba, Jenar merasakan ada sesuatu yang menggelikan merangkak naik melalui tulang bbetis. Kepala gadis itu sedikit menunduk dan....


"Aaaaaaa ......"


Jenar berteriak kencang sembari turun dari tumpukan meja itu kala melihat tiga ekor hewan berwarna cokelat yang mengerubungi kakinya. Tubuh hewan yang nampak glowing meski tidak pernah mandi dan memakai skincare nyatanya sama sekali tidak membuat Jenar terkagum-kagum ataupun mengidolakannya. Ia justru lebih takut berhadapan langsung dengan kecoa daripada tikus.


"Kecoa .... hush... hush... hush... pergi kalian. Pergi!"


"Dasar Jenar. Mengapa pakai acara berteriak sih? Kalau pak Arya menyadari keberadaanmu bagaimana? Huh dasar anaknya pak Sutha, selalu saja lola!"


Jenar justru sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Tanpa ia sadari jika teriakannya itu sudah menggema, menembus kokohnya dinding gudang tempatnya mengintai. Dan lelaki yang berdiri tegap di luar sana sontak menoleh ke arah sumber suara. Dahinya sedikit mengernyit kala gelombang suara seorang wanita merembet masuk ke dalam indera pendengarannya.


"Sial, sepertinya ada yang menguntit di belakangku!"


Arya mengayunkan langkah kakinya untuk menuju gudang. Ia mengambil langkah kaki lebar agar bisa segera sampai ke tempat yang ia yakini tempat persembunyian seseorang yang membuntutinya. Jenar yang masih berada di dalam ruangan dan mendengar derap langkah kaki seseorang menuju gudang mendadak terkejut setengah mati.


"Mati aku, sepertinya aku akan ketahuan. Aku harus bagaimana sekarang?"


Pandangan mata Jenar menyapu ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada satupun tempat yang bisa untuk ia jadikan tempat bersembunyi. Hal itulah yang membuat gadis itu kebingungan. Di saat ia hampir menyerah karena berada dalam kebuntuan, manik matanya menangkap bayang sebuah benda yang tak lain adalah kain berwarna putih. Seketika otaknya bekerja untuk menggunakan kain putih itu.

__ADS_1


"Ya Allah, tolong selamatkan aku!"


Jenar berdoa dalam hati. Meminta agar sang Maha pelindung, melindunginya dari segala mara bahaya termasuk dari Arya yang mungkin mengetahui pengintaiannya. Jenar menutupi tubuhnya dengan kain putih itu sambil melepas ikatan rambut yang bersembunyi di balik hairnet yang ia pakai. Kini rambut sang gadis yang panjang itu terurai. Sedikit ia acak rambutnya kasar sampai menutupi wajah hingga menyisakan kesan berantakan. Saat ini, gadis itu persis seperti makhluk tak kasat mata yang menjadi penunggu gudang. Ia arahkan tubuhnya untuk menghadap tembok, sehingga Arya tidak bisa mengenali wajahnya.


Ia berdiri di pojok ruangan sembari searching suara kuntilanak. Ia berharap Arya ketakutan saat mendengar suara itu. Dengan deru nafas yang menderu antara rasa takut akan ketahuan oleh Arya dan juga rasa takut jika ia benar-benar bertemu dengan sosok makhluk tak kasat mata yang menunggu gudang ini, Jenar berpasrah diri. Ia pasrahkan semuanya kepada sang pemilik alam semesta ini. Namun ia yakin bahwa Tuhannya akan senantiasa melindunginya.


Jeglerrrr!!!


Menggunakan kaki, Arya menghempaskan pintu gudang dengan kasar. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dengan sorot mata tajam. Ruangan yang begitu gelap dan hanya ada sedikit sinar matahari yang masuk, membuatnya kesulitan untuk mengetahui ada apa saja di ruangan ini.


Ia mengayunkan langkah kakinya. Meski ada sedikit rasa takut, namun coba untuk ia lawan. Hingga manik matanya tertambat pada sesuatu yang berada di sudut ruangan. Bersamaan dengan itu, Jenar menekan icon play dari handphone yang ia genggam.


Suara kuntilanak seketika memenuhi atmosfer gudang yang telah lama terbengkalai ini. Kedua bola mata Arya terbelalak dan membulat sempurna. Dan...


"Aaaaaaa .... kuntilanak!!!!!"


Ya, Arya tetaplah manusia biasa. Meski ia tidak memiliki rasa takut berbuat curang terhadap perusahaan, namun nyatanya ia takut bertemu dengan makhluk tak kasat mata. Lelaki itu lari tunggang langgang, untuk bisa segera pergi dari gudang ini.


"Alhamdulillah ... terima kasih Engkau telah menyelamatkan aku ya Allah..." lirih Jenar mengungkapkan rasa syukurnya. Tanpa ia sadari jika di dekat pintu juga terdapat sesosok makhluk yang tidak dapat terlihat oleh indera penglihatan manusia biasa.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hihihi hihihi jadi inget Dewa pas ketemu kuntilanak yang nyangkut di atas pohon.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2