
Selamat Membaca πππ
Saya bisa mengatakan kamuflase karena saya lihat, Jenar sedikit risih dengan perlakuan kekasihnya itu, Tuan. Dia sepertinya tidak terlalu suka diperlakukan romantis di depan umum.
Percakapannya bersama Bima tatkala menyusuri lorong kantor kembali terngiang di telinga. Sebuah penilaian dari sang asisten yang membuat hati duda berusia empat puluh tahun itu sedikit lega, karena setidaknya gadis itu tidak berbahagia tatkala mendapatkan perlakuan manis dari sang kekasih. Entah apa yang terjadi dengan duda itu. Ia sepertinya tidak rela jika ada orang lain yang membahagiakan sang gadis.
Wisnu yang sedang duduk di kursi kebesaran dan sebelumnya sibuk berkutat dengan file-file yang berada di hadapannya, mendadak hilang konsentrasi. Ia justru lebih memilih membenamkan pikirannya di dalam pesona yang dimiliki oleh sang gadis. Sungguh kehadirannya mampu mengalihkan dunianya. Ia yang pernah berjanji bahwa tidak akan lagi terpikat oleh makhluk bernama wanita dan memilih menutup rapat-rapat pintu hati bahkan menguncinya, kini seolah berbalik seratus delapan puluh derajat. Tetiba ia disibukkan dengan bayang-bayang wajah gadis itu. Bahkan, nama sang gadis dengan gerak cepat sanggup menggeser nama Dira, yang tidak lain adalah mantan istrinya.
Wisnu beranjak dari posisi duduknya. Sedikit ia mengacak rambutnya asal. Sesekali, ia menghembuskan napas sedikit kasar untuk bisa lari dari kekalutan. Dan, ia pun memilih untuk mencari angin segar dengan cara mengelilingi serta melihat semua aktivitas pekerja pabrik ini.
πππππ
Suara air dari kran wastafel terdengar memenuhi sudut-sudut toilet ini. Di depan cermin, Jenar nampak sedang membasuh wajah untuk dapat menghilangkan rasa kantuknya. Ini sudah kali ketiga ia mencuci wajah. Berharap rasa kantuk yang ia rasakan itu tidak lagi mendatanginya.
"Ayo Jenar, semangat. Ingat harapan yang digantungkan oleh ayah dan bunda. Jika kamu selalu ngantuk di jam kerja seperti ini, lalu bagaimana bisa kamu meraih mimpimu?"
Jenar menepuk pipinya pelan untuk bisa lebih bersemangat dan melawan rasa kantuk yang menyerangnya. Beruntung ia di bagian pengawas produksi. Jika ia sampai terjun langsung ke bagian cutting, sewing, ataupun packing, bisa-bisa ia terkena SP karena sering izin ke toilet untuk mencuci wajah.
Setelah dirasa cukup untuk menghapus rasa kantuknya, ia arahkan tumitnya untuk kembali ka ruang produksi. Namun di saat kakinya melintas di sebuah lorong kecil yang menghubungkan dengan area luar pabrik, ia nampak begitu keheranan saat melihat Arya yang tidak lain kepala produksi PT ini berdiri di ambang pintu. Di depan lelaki itu terlihat mobil yang membawa bahan baku yang baru beberapa saat yang lalu dropping bahan.
"Apa yang dilakukan pak Arya ya? Mengapa ia terlihat berbincang-bincang dengan driver mobil yang membawa bahan baku di luar area pabrik? Dan sepertinya dia juga memberikan uang kepada orang driver itu?"
Jenar nampak larut dalam pikirannya sendiri. Saking larutnya ia tidak sadar jika Arya sudah berjalan mendekat ke arahnya.
"Kamu? Anak magang kan?"
__ADS_1
Ucapan Arya sedikit membuat tubuh Jenar terperanjat. Seketika, gadis itu kembali meraih kesadarannya. "Eh, iya Pak. Saya peserta magang di sini."
Arya memindai tubuh Jenar dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. "Ada keperluan apa kamu di tempat ini? Bukankah ini masih jam kerja? Mengapa kamu malah keluyuran?"
"Saya baru saja dari toilet, Pak. Dan ketika ingin kembali ke ruang kerja, saya melihat Bapak berdiri di sana dan mengobrol dengan driver mobil suplier bahan baku pabrik. Memang Bapak sedang membicarakan apa? Dan mengapa Bapak lakukan di luar area pabrik?"
Mendadak Arman diserang oleh rasa terkejut setengah mati. Tidak menyangka jika anak magang di depannya ini melihat apa yang ia lakukan dengan driver suplier bahan baku. Tubuhnya sedikit gemetar, namun buru-buru ia tepis itu.
"Bukan urusan kamu. Aku hanya sedang mengobrol dengan driver itu. Memang ada yang salah? Tidak kan?"
Untuk menutupi keterkejutannya, Arya bersuara dengan intonasi tinggi. Saat ini ia benar-benar merasa keselamatannya terancam.
Jenar menggelengkan kepala. "Memang tidak ada yang salah Pak. Namun tadi sepertinya Bapak juga mengeluarkan uang dari dalam dompet kemudian Bapak berikan ke driver itu. Memang uang apa yang Bapak berikan kepada driver?"
Arya semakin tersudut. Tidak menyangka jika anak magang ini begitu detail mengetahui apa yang ia lakukan. "Jangan kurang ajar denganku ya. Itu semua bukanlah urusanmu. Jadi lebih baik kamu segera kembali ke tempatmu." Arya menepuk-nepuk pundak Jenar dengan sorot mata sinis. "Jangan coba-coba ikut campur dengan apa yang aku kerjakan jika kamu masih ingin magang di perusahaan ini!"
Ini sungguh aneh. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pak Arya? Dan apa hubungannya dengan driver itu?"
πππππ
Di sebuah kafe dengan konsep garden, terlihat seorang pemuda tengah duduk di salah satu sofa yang terletak di bagian belakang kafe yang langsung berhadapan dengan area persawahan yang menghijau.
"Sayang, tadi pagi kamu kemana? Biasanya jam enam pagi kamu sudah menjemputku untuk ke kosan mu sebelum ke kampus? Tapi mengapa tadi kamu sama sekali tidak menjemputku?"
Seorang wanita cantik nan seksi dengan rok mini dan tank top warna putih nampak duduk dipangkuan sang pemuda sembari mengalungkan lengan tangannya di leher pemuda itu.
Menanggapi ucapan sang wanita, pemuda itu hanya tersenyum simpul sembari mencumbu bagian ceruk leher milik wanitanya ini. "Mulai hari ini, kita ketemuannya ketika jam-jam siang dan malam saja ya Sayang."
__ADS_1
Wanita itu mere*mas rambut si lelaki saat merasakan gelenyar aneh di sekujur tubuhnya. "Tapi kenapa Sayang? Mengapa tiba-tiba kamu mengubah kebiasaanmu?"
"Tidak ada yang berubah Sayang. Hanya aku atur ulang kapan jadwal kita bisa bertemu."
Sang wanita menatap manik mata lelaki di depannya ini dengan tatapan membidik. "Tunggu, tunggu, apa ini ada hubungannya dengan seseorang yang kata kamu akan dijodohkan denganmu Fir?"
Pemuda bernama Firman itu hanya tersenyum tipis seraya mengangguk pelan. "Iya Stevi, sayang. Perempuan yang akan dijodohkan denganku magang di kota ini. Jadi aku juga harus memprioritaskanya."
Wanita bernama Stevi itu mendengus kesal. Ia sudah tahu jika Firman telah memiliki calon istri. Namun, selama ia berpacaran dengan Firman, lelaki itu selalu memanjakannya. Sehingga ia begitu tergila-gila dan tidak ingin lepas darinya.
"Lebih prioritas mana antara aku dengan dia Fir? Aku tidak mau jika kamu lebih perhatian dengannya."
Firman tergelak pelan. Ia cubit hidung mancung milik Stevi dengan gemas. "Tentu kamu prioritasku Sayang. Secara kamu lebih cantik, lebih modis, dan pastinya lebih bisa menyenangkan aku." Firman kembali mendekatkan bibirnya di telinga Stevi, kemudian ia berikan gigitan kecil di sana. Lirih ia berbisik. "Bagaimana jika nanti malam kita kembali bersenang-senang? Seperti kebiasaan kita?"
Tubuh Stevi kembali merinding seperti dialiri oleh aliran listrik. Dengan sedikit mendes*ah, ia pun menganggukkan kepala. "Apapun untukmu Sayang!"
.
.
πππππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
Salam Love, love, loveβ€β€β€
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca
__ADS_1