Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 36 : Ditinggal


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘


"Hai Sayang!"


Sapaan manja yang keluar dari bibir seorang wanita yang sedang berdiri di balik tembok toilet membuat tubuh Firman sedikit terperanjat. Ia yang biasanya begitu bahagia kala bertemu dengan Stevi hari ini mendadak salah tingkah.


Stevi merapatkan tubuhnya di tubuh Firman namun buru-buru ditepis oleh pemuda itu. Sorot mata Firman mengedar ke sekeliling. Khawatir jika Jenar ataupun yang mengenalnya memergoki apa yang telah ia lakukan.


"Menjauhlah Stev, jangan sampai Jenar tahu akan keberadaanmu di sini."


Firman sedikit mendorong tubuh Stevi yang sontak membuat wanita itu terkejut setengah mati. Firman yang biasa memperlakukannya dengan penuh kelembutan, hari ini berubah seratus delapan puluh derajat. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah Stevi untuk tetap merapatkan tubuhnya ke arah sang kekasih.


"Sayang, ada apa? Mengapa kamu bersikap seperti ini? Kamu sudah menyakitiku Sayang."


Stevi mengusap-usap lengan tangannya yang sempat ditepis oleh Firman sedikit kasar. Pastinya sembari menampakkan raut wajah yang seakan-akan ia kesakitan mendapat perlakuan sedikit kasar dari Firman. Padahal sesungguhnya hanya biasa saja.


"Bukan begitu maksudku Sayang. Kalau seperti ini aku hanya khawatir jika sampai Jenar melihat semuanya. Kamu paham kan apa yang terjadi jika sampai Jenar melihatnya? Lagipula, mengapa kamu ikut menyusulku kemari Sayang?"


Stevi hanya tersenyum sinis. Jika melihat ekspresi wajah Firman, ia dapat menyimpulkan bahwa saat ini pemuda itu merasa bersalah karena telah berperilaku kasar. Akan ia gunakan kesempatan ini untuk bisa membuat Firman mengabaikan Jenar.


"Memang ada yang salah jika aku ikut menyusulmu ke sini Sayang? Tidak kan? Aku ke sini ingin menemui kekasihku. Jadi, tidak salah kan?"


"Tapi di sini ada Jenar, Sayang. Aku tidak mau jika sampai Jenar tahu akan keberadaanmu. Akan runyam semuanya jika sampai ia tahu."


"Cih, memang Jenar itu siapa?"


Stevi berdecih lirih seakan meremehkan keberadaan Jenar. Meski ia tahu bahwa dirinyalah yang menjadi orang ketiga, namun ia tidak terima jika sampai Firman mengabaikan keberadaannya.


"Dia itu kekasihku Sayang. Dia kekasihku."


"Bukankah aku juga kekasihmu Sayang? Apa kamu lupa bahwa aku juga kekasihmu, hah?"


Stevi sedikit meninggikan intonasi suaranya. Ada rasa tidak rela kala mendengar Firman menyebut-nyebut Jenar sebagai kekasih. Karena bagaimanapun juga, apa yang telah ia berikan untuk Firman melebihi apa yang diberikan oleh Jenar. Bahkan tubuhnya pun juga sudah ia berikan untuk dapat dinikmati oleh lelaki itu.

__ADS_1


Firman mengacak rambutnya sedikit kasar. Tidak menyangka jika Stevi membuatnya tersudut dengan pertanyaan yang keluar dari bibirnya.


"Iya Sayang, kamu juga kekasihku. Lalu, mau kamu bagaimana?"


Mengikuti kemauan Stevi adalah salah satu cara paling mujarab untuk menghentikan perdebatan ini. Ia mencoba untuk bernegosiasi akan apa yang diinginkan oleh kekasih gelapnya ini.


Seakan mendapatkan angin surga, senyum seringai terbit di bibir Stevi. Tubuh yang sempat ditepis oleh Firman, kini kembali ia rapatkan. Lengan tangan Stevi menggamit lengan tangan Firman sembari bergelayut manja di pundak Firman.


"Aku ingin ke kosanmu, Sayang. Setelah itu kita habiskan waktu kita di sana."


Firman sedikit terhenyak dengan apa yang menjadi kemauan Stevi. Kemauan Stevi ini sungguh membuatnya berada di posisi yang begitu sulit. "Tapi Sayang, masih ada Jenar di sini. Mana bisa aku menuruti keinginan kamu ini."


"Oh, jadi kamu ingin mengabaikan dan tidak mau memenuhi permintaanku?"


"Bukan, bukan begitu Sayang." Firman membuang nafas kasar. "Begini saja. Sekarang, kamu naik ojek online sampai kosanku. Kamu tunggu aku di sana. Aku antar pulang Jenar terlebih dahulu."


Lagi-lagi Stevi hanya menggelengkan kepala. "Tidak Sayang, aku tidak mau. Apa bedanya kalau Jenar yang kamu suruh pulang naik ojek online? Secara dia sudah dari tadi bersamamu. Dan sekarang giliranku."


"Tapi Sayang..."


Bak sebuah titah yang tak bisa terbantah, Firman mengangguk pasrah. Ia rogoh saku celana yang ia kenakan, dan ia ambil ponsel dari dalam sana. Dengan gerak cepat, Firman mengirimkan pesan untuk Jenar.


Melihat sang kekasih menuruti apa yang menjadi keinginannya, Stevi seakan dibuat melayang tinggi. Ia semakin bersikap manja di depan kekasihnya ini. Tidak tanggung-tanggung, wanita itupun memberikan kecupan-kecupan di ceruk leher Firman yang seketika membuat orang-orang yang berlalu lalang melayangkan tatapan penuh cibiran.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara itu, Jenar yang sedang duduk di salah satu kursi taman, sedikit terkejut kala mendengar bunyi sebuah notif pesan masuk ke ponselnya. Gegas, ia buka pesan itu dan ternyata dari Firman. Wajah yang sudah dihiasi oleh rona kekesalan karena ditinggal oleh Firman dalam waktu yang lumayan lama, kini kekesalan itu semakin bertambah kala membaca pesan yang dikirimkan oleh Firman.


"Hah, tiba-tiba bang Firman memintaku untuk pulang naik ojek online? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa serba dadakan seperti ini?"


Tidak ingin larut dalam kekesalannya, Jenar bangkit dari posisi duduknya. Dan bermaksud untuk segera meninggalkan tempat ini. Dengan langkah gontai, gadis itu menyusuri jalanan beraspal untuk menuju ke arah tempat parkir.


"Kakak cantik!"


Pandangan mata yang sebelumnya fokus menekuri jejak-jejak langkah kaki, kini ia geser untuk menoleh ke arah di mana sumber suara itu berasal. Seorang gadis kecil yang berada di dalam mobil, yang tak lain adalah Citra lah yang memanggilnya.

__ADS_1


"Hai Sayang?"


"Kakak cantik mau kemana? Mengapa jalan kaki? Dan di mana abang yang Kakak cantik bilang sebagai pacar Kakak cantik?"


Seperti seorang ibu yang menginterogasi sang anak, Citra terdengar memberondongi Jenar dengan rentetan-rentetan pertanyaan yang semakin membuat gadis ini tersenyum kikuk. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab dari mana pertanyaan gadis kecil ini.


"Oh itu tadi abang..."


"Kakak cantik ditinggal pulang ya? Sudah, Kakak cantik ikut Citra sama papa saja. Daripada kakak cantik kepanasan naik ojek online."


Jenar terkesiap. Celotehan kecil gadis ini sungguh hanya membuatnya tidak dapat menyanggah sama sekali.


"Eh, itu tadi abang memang ada keperlu..."


"Sudah, ayo lekas naik." Citra tiba-tiba turun dari mobil, dan mendekat ke arah Jenar. Ia tarik lengan tangan Jenar untuk masuk ke dalam mobil. "Nah, sekarang Kakak cantik duduk di sebelah Papa ya. Citra biar duduk di belakang."


Tanpa meminta persetujuan dari Jenar sendiri, Citra sudah mendorong tubuh Jenar untuk bisa masuk ke dalam mobil. Hal itulah yang sukses membuat Jenar terkejut setengah mati.


Berbeda dengan raut wajah yang ditampakkan oleh Jenar yang dipenuhi oleh kebingungan, Citra justru menampakkan wajah penuh kegirangan.


"Papa, bawa mobilnya pelan-pelan ya. Jadi biar kita bisa lebih lama lagi bertemu dengan kakak cantik."


Wisnu hanya terkekeh geli. Ia merasa putrinya ini bisa menjadi partner yang baik untuk lebih dekat dengan Jenar. "Siap Tuan putri!"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Mohon maaf jika banyak typo ya kak.. Dan mohon maaf juga jika belum bisa membalas komentar dari kakak-kakak semua satu per satu... πŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒ


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❀❀❀

__ADS_1


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2