Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 51 : Hati yang Sedikit Goyah


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘😘


"Sekarang masuk dan segeralah beristirahat Jen."


Bak sebuah titah yang tidak bisa dibantah, dilayangkan oleh Wisnu kepada Jenar yang saat ini berada dalam mode terperangah. Bagaimana tidak terperangah jika martabak asin, martabak manis dan obat diare yang diberikan oleh atasannya ini cukup membuat hatinya gundah. Gundah karena ia merasakan sedikit goyah akan hubungan yang telah ia rajut bersama anak dari sahabat sang ayah.


Jenar hanyalah gadis biasa dan mungkin sama dengan gadis-gadis belia di luar sana. Seorang gadis belia yang mungkin merasa begitu bahagia diperlakukan secara istimewa oleh seorang pria dewasa. Perlakuan tidak biasa yang bisa dipastikan jauh berbeda dari lelaki yang saat ini menjadi kekasihnya. Firman memang manis namun hanya sebatas untaian kata saja. Sedangkan atasannya ini lebih condong ke sifat dan sikap yang ia punya. Sifat dan sikap itulah yang membuat Jenar merasakan sesuatu yang berbeda dalam dada.


Jantungnya seakan senantiasa berdegup kencang kala berdekatan dengan Wisnu. Seakan bertalu-talu dan selalu berhasil membuatnya termangu. Termangu untuk mencoba mengerti dan memahami akan perasaan asing yang tiba-tiba merasuk ke dalam kalbu.


"Sekali lagi terima kasih banyak Pak. Lagi-lagi saya merepotkan Bapak!"


Jenar mencoba menetralisir akan getaran-getaran yang muncul di relung hati. Getaran-getaran yang ia akui tidak pernah terjadi dan ia rasakan kala bersama dengan sang kekasih hati dan kini justru ia rasakan kala berdekatan dengan lelaki ini. Lelaki yang ia kenal melalui jalan ketidaksengajaan, di mana ia mengecup bibir lelaki ini kala terbuai di dalam mimpi. Dan ternyata takdir kembali mempertemukan mereka. Bukankah skenario dari penulis cerita ini terasa begitu manis? Jawab 'iya' gitu ya Kak.. Hihihihi hihihihi ☺


"Jen, seharian ini sudah berapa kali kamu mengucapkan kata kasih? Saya sampai tidak memiliki kembalian lagi karena sudah habis untuk mengembalikan ucapan terima kasih darimu itu. Apa perlu saya berikan kembalian dengan menggunakan permen?"


Mendengar Wisnu mencoba untuk bercanda hanya membuat Jenar tergelak lirih. Meski terdengar receh, namun benar-benar bisa merubah suasana hati yang sebelumnya terasa sedikit kesal. Kesal karena lagi-lagi Firman mengingkari janjinya.


"Tidak perlu dikembalikan Pak. Cukup Bapak simpan saja. Lagipula Pak Wisnu ini seperti tidak punya pekerjaan lain saja. Sempat-sempatnya menghitung ucapan terima kasih dari saya."


"Kali ini kamu benar Jen. Saya memang sedang tidak banyak pekerjaan. Maka dari itu saya bisa menunggui kamu di depan kamar mandi sampai kamu merasa lega."


Mendadak, pipi Jenar bersemu merah. Jika mengingat perihal kamar mandi, ia seperti tidak memiliki sopan santun karena telah berani meminta atasannya berdiri di depan toilet bak seorang penjaga toilet.


"Saya benar-benar merasa tidak enak hati Pak. Saya ucapkan terima kasih banyak."


"Nah, nah, nah muncul lagi kan kata-kata terima kasihnya?" Wisnu terkekeh geli melihat raut wajah karyawannya ini. Rasa-rasanya ia ingin menghentikan waktu saat ini juga untuk bisa menikmati keindahan wajah yang dimiliki oleh Jenar di balik senyumnya itu. Namun, ia sadar jika ia harus segera pulang, mengingat hari semakin larut malam.


"Masuklah Jen. Setelah itu beristirahatlah!"


Jenar menganggukkan kepala sebagai isyarat memenuhi permintaan atasannya ini. "Baik Pak. Emmm ... apakah boleh jika saya menghabiskan martabak ini bersama teman-teman saya? Rasa-rasanya saya tidak sanggup untuk menghabiskan ini semua sendirian."

__ADS_1


"Silakan Jen. Martabak ini sudah menjadi milikmu jadi terserah padamu mau kamu makan bersama siapa. Asal jangan sampai kamu buang."


"Pastinya tidak Pak. Bagi saya, pantang untuk menbuang-buang makanan."


"Ya sudah, masuklah. Kemudian nikmati martabak ini bersama teman-temanmu. Saya pamit terlebih dahulu."


"Hati-hati di jalan Pak."


Dengan sedikit menundukkan kepala, Jenar memberikan penghormatan kepada atasannya ini. Tak selang lama, mobil yang dikemudikan oleh Wisnu bergerak perlahan dan mulai hilang dari pandangannya. Gadis itu pun ikut mengayunkan kaki untuk memasuki area dalam rumah. Nampak beberapa teman-teman Jenar berkumpul di ruang tamu.


"Diantar pak Wisnu lagi Jen?"


Salah seorang teman Jenar yang bernama Tasya menyambut kepulangan Jenar dengan sebuah pertanyaan sembari fokus ke layar ponsel yang ada di tangannya.


"Tidak Sya, aku pulang naik ojek online."


"Tapi aku lihat ada pak Wisnu di depan tadi?"


"Pak Wisnu hanya memberikanku ini Sya." Jenar menunjukkan kantong plastik yang ia bawa ke arah Tasya dan teman-temannya.


"Wah, apa itu Jen? Sepertinya nikmat sekali."


Jenar mengayunkan kakinya menuju dapur untuk mengambil piring. Setelah itu ia kembali berkumpul bersama teman-temannya di ruang tamu untuk menyajikan martabak itu.


"Nah, ini untuk kalian. Aku cukup ini saja."


Jenar mengambil dua potong martabak manis dan martabak asin untuk ia bawa ke kamar. Rasanya empat potong kecil martabak itu sudah cukup untuk mengganjal perutnya yang sudah terasa sedikit keroncongan.


"Wah, wah, wah ada angin apa Pak Wisnu membelikanmu martabak Jen? Apakah beliau sedang berulang tahun?" salah seorang teman Jenar nampaknya begitu kepo dengan sikap atasannya yang sedikit aneh itu. Tentunya sembari memasukkan potongan martabak ke dalam mulutnya.


Jenar menggeleng pelan. "Sepertinya tidak. Kalau memang Pak Wisnu berulang tahun, pastinya di perusahaan akan mengadakan acara yang meriah bukan?"


"Benar juga ya. Tapi aku penasaran, dalam rangka apa ya pak Wisnu membelikanmu martabak?" Tasya tidak kalah ingin mencari tahu perkara martabak ini. Ia menjeda sejenak ucapannya dan seketika membelalakkan mata. "Jangan-jangan dia suka sama kamu Jen?"

__ADS_1


Jenar hanya terkekeh geli mendengarkan ucapan salah satu temannya ini. Karena memang terdengar begitu menggelitik telinga.


"Kamu bicara apa sih Sya? Mana mungkin Pak Wisnu menyukaiku?"


"Memang ada yang salah kalau Pak Wisnu menyukaimu Jen? Dia itu seorang duda jadi tidak salah kan kalau mau mencari pasangan hidup lagi?"


Argumentasi yang logis. Namun Jenar tetap tidak berpikiran sampai sana. Meski Jenar sempat membandingkan perilaku Wisnu dan sang kekasih namun ia tetap berusaha menjaga hatinya untuk Firman seorang.


"Ah kamu ini ada-ada saja Sya. Ya sudah, aku ke kamar dulu ya. Mau istirahat. Lemas sekali badanku karena diare. Berkali-kali keluar masuk kamar mandi. Ngeluarin isi perut."


Teman-teman Jenar yang sibuk mengunyah seketika menghentikan aktivitas mereka dong, kala mendengar kata diare dari mulut Jenar. Seketika otak mereka berkelana ke sesuatu yang berada di dalam closet.


"Jenaarrrrrr.... Jijik sekali kamu!!"


"Iya iiihhh.... Ngomongin diare di depan orang makan!!"


"Dasar somplak!!"


"Uppssss ... hihihihi maaf, kelepasan!!"


Gegas, teman-teman Jenar mengambil bantal-bantal sofa dan mereka lemparkan ke arah gadis itu. Hal itulah yang membuat Jenar mengambil langkah seribu untuk bersegera menjauh dari ruangan ini.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Pendek dulu ya Kak.. Kita lanjutkan besok lagi.. Mohon maaf, untuk satu minggu ke depan mungkin saya akan jarang balas komentar kakak-kakak semua. Doakan selama satu minggu ke depan saya bisa update 3 bab/hari ya... Untuk memenuhi permintaan dari Platform...


Sehat-sehat selalu untuk kakak-kakak semua ya... πŸ˜™πŸ˜™


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2