
Selamat membacaπππ
Rembulan bersembunyi di balik awan. Membiaskan rona temaram di atas kanvas langit kehidupan. Meski lukisan langit sedikit muram namun sekalipun tidak akan pernah menyurutkan kehangatan yang tersimpan.
Di balik selimut tebal, dua manusia itu tengah mengarungi samudera cinta. Hanyut dalam gelombang asmara dan lautan hasrat yang menggelora. Diiringi dengan deru nafas yang menggebu layaknya ombak pantai yang bergulung-gulung menuju dermaga rasa.
"Mmmhhhh .... Sayang, aku mau sampai .... mmmhhh..."
Drrrtttt.... Drrrtttt.... Drrrtttt....
"Mas, ada telepon!"
Drrrtttt .... drrrtttt .... drrrtttt ....
"Biarkan saja Sayang .... mmmhhh .... mmmmhhh .... Sebentar lagi aku mau sampai."
Drrrtttt .... drrrtttt ..... drrrtttt .....
"Tapi Mas, barangkali itu telepon penting. Ayo diangkat dulu."
Ponsel yang bergetar di atas nakas, sukses membuyarkan kenikmatan yang hampir saja di raih oleh seorang laki-laki yang tengah mengungkung tubuh seorang wanita di bawahnya. Ia membuang napas kasar dan menggeser posisinya. Rasa kesal tetiba menyergap hatinya saat itu juga.
"Ini orang apa tidak tahu jam berapa? Bisa-bisanya mengganggu ritualku."
Dengan tatapan jengah dan malas, lelaki itu mengulurkan tangan untuk meraih ponsel yang teronggok di atas nakas. Ingin rasanya ia mengabaikan panggilan telepon itu, namun jika sang istri sudah bertitah, ia sama sekali tidak bisa membantah ataupun berkilah. Jika sampai ia melakukan hal itu, bisa-bisa hari berikutnya tidak akan mendapatkan jatah.
"Kak Wisnu? Ada apa tengah malam seperti ini dia telepon?"
Dengan sedikit bergumam dan dihiasi dahi mengerut, Dewa nampak meminta jawaban yang semakin menuntut. Perlahan, ia mengurut pelipisnya yang juga terasa berdenyut. Pening, itulah yang ia rasakan. Karena belum sempurna mencapai puncak kenikmatan, aktivitasnya harus terhenti oleh deringan ponsel yang Dewa anggap begitu sialan.
"Cepat diangkat Mas. Barangkali darurat."
Pada akhirnya, Dewa menggeser icon hijau di layar ponselnya dan mulai bercakap-cakap dengan seseorang yang berada di sebrang sana.
Panggilan via telepon...
"Hallo Wa!"
"Kakak ini tahu waktu atau tidak? Aku baru bermesraan dengan istriku, Kakak malah jadi pengganggu. Dasar kakak tidak punya akhlak."
"Hahahaha ... maaf Wa, maaf. Aku tidak tahu kalau kamu sedang ***-***."
__ADS_1
"Hah, Kakak ini. Maka dari itu, cepat cari istri, biar tiap malam tidak mengganggu orang yang lagi bercinta. Dasar duda tidak laku!"
"Nah, justru itu malam-malam seperti ini aku meneleponmu Wa. Aku ingin meminta sesuatu dari kamu!"
"Meminta sesuatu? Apa itu?"
"Esok pulanglah ke Bogor. Karena lusa aku akan menikah."
"Apa? Lusa Kakak akan menikah? Kakak sedang mengigau? Atau sedang ngelindur? Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba memberi kabar lusa akan menikah!"
Dewa terkejut setengah mati. Sang kakak yang sejauh ini adem ayem tanpa sedikitpun terdengar kabar percintaannya, kini tiba-tiba mengatakan akan menikah. Dan yang lebih membuatnya terkejut, Wisnu akan menikah lusa? Apa ia pikir pernikahannya itu seperti sunatan? Yang bisa dilakukan kapan saja?
"Justru karena belum ada angin dan belum ada hujan itu, aku ingin segera menikah, Wa. Jadi ketika ada angin dan ada hujan, aku tidak merasakan kedinginan. Hahahaha."
"Ckckckck ... tapi Kakak serius akan menikah? Dengan siapa?"
"Kamu pasti akan tahu, Wa. Maka dari itu, esok segeralah pulang ke Bogor. Akan aku perlihatkan calon istriku secara langsung ke kamu."
"Ceh, pasti calon istri Kakak itu wanita tua yang sudah hampir keriput. Pastinya jauh berbeda dari istriku yang masih muda ini kan?"
"Hahaha hahaha ... kamu ingin tahu? Atau ingin tahu sekali? Maka dari itu, cepat pulang, agar kamu bisa melihat secara langsung!"
"Haaah ... baiklah, besok aku akan pulang. Ingat, lain kali kalau Kakak ingin menelponku, jangan tengah malam seperti ini. Ganggu orang lagi bercinta saja!"
"Iddiihhhh ... jijik sekali aku!"
Tuutt... Tutt... tut....
Dewa kembali meletakkan ponselnya di atas nakas, sebagai pertanda jika perbincangannya dengan sang kakak telah tuntas.
"Kak Wisnu?" Mara bertanya sembari membenarkan posisi selimut agar lebih sempurna menutupi tubuh polosnya.
"Iya Sayang. Besok kita harus pulang ke Bogor karena lusa dia akan menikah."
Sama halnya dengan Dewa, kedua bola mata Mara juga ikut terbelalak sempurna. Ia pikir, apa yang menjadi percakapan sang suami dengan kakaknya itu hanya sebuah candaan semata.
"Sungguh? Kak Wisnu tidak sedang nge-prank kita kan Mas?"
Dewa mengendikkan bahu. Sejatinya, ia juga sedikit tidak percaya jika tiba-tiba sang kakak akan menikah. Namun dari nada bicara Wisnu benar-benar menunjukkan bahwa apa yang dikatakannya bukanlah gurauan semata.
"Aku pikir juga begitu Sayang, tapi aku rasa kak Wisnu benar-benar serius. Untung saja Nendra sudah sembuh dari pileknya, jadi besok bisa kita bawa serta." Dewa menatap manik mata istrinya ini dengan lekat. "Kamu tidak ada agenda apapun kan Sayang?"
"Tidak Mas, aku tidak ada agenda apapun. Pagi tadi merupakan seminar terakhir yang harus aku datangi. Sedangkan minggu depan mulai lagi mengisi seminar-seminar di beberapa sekolah."
__ADS_1
"Baiklah, besok kita pulang ke Bogor ya Sayang. Kasihan juga kakakku itu kalau sampai tidak ada keluarga yang mendampingi ketika acara pernikahan nanti."
"Iya Mas."
Dewa tersenyum penuh arti. Ia belai wajah sang istri dengan lembut dan ia dekatkan wajahnya di pipi. Menciumi tiap sudut pahatan cantik dalam bingkai wajah yang berseri sang istri, sebagai isyarat bahwa ia masih ingin melanjutkan nikmat bercinta yang sebelumnya sempat terhenti. Ingin mereguknya lagi, hingga peluh puncak kenikmatan itu kembali membasahi diri.
"Eemmmhh .... Sayang ..."
Suara Dewa terdengar parau, sebagai pertanda jika aliran darahnya telah dialiri oleh derasnya hasrat ingin menyatukan raga. Merengkuh dan membenamkan tubuh sang istri dalam rasa nikmat tiada tara seakan mencapai puncak nirwana.
"Eemmmhh ... Mas Dewa ...."
Mata sang istri yang terpejam, dengan tubuh yang sedikit meliuk-liuk layaknya cacing kepanasan, justru membuat libido Dewa semakin tertantang. Ditambah cengkeraman kuat di rambutnya dan de*sahan sensual yang keluar dari bibir Mara semakin membuat lelaki itu tidak lagi dapat menahan. Menahan segala api asamara yang membara di dalam dada.
Dewa kembali mengambil posisi mengungkung tubuh sang istri. Apa yang berdiri di bawah sana, kembali ia arahkan ke arah lembah surgawi yang sudah siap untuk dijelajahi.
"Aaahhh .... Sayang...."
Meski belum sepenuhnya tenggelam, namun lelaki itu sudah merasakan begitu keenakan. Tidak sabar ia ingin cepat-cepat menenggelamkan seutuhnya. Baru saja ia ingin menghentakkan tubuhnya, tiba-tiba....
Oeee .... ooeee ..... oeeeee.....
Lengkingan suara tangis bayi laki-laki berusia enam bulan itu berhasil membuat Mara dan Dewa terkesiap. Sang putra yang biasanya begitu anteng di jam-jam seperti ini, entah mengapa malam ini ia seperti tidak bisa diajak bernegosiasi.
Dewa kembali menundukkan kepala. Dengan mengusap wajahnya sedikit kasar. Bisa dipastikan, ritualnya kali ini akan kembali gagal.
"Apakah kali ini harus aku tahan lagi, Sayang?"
Mara hanya terkikik geli. Ia belai pipi Dewa dengan lembut dan sedikit ia labuhkan kecupan di bibir suaminya ini.
"Yang sabar ya Mas. Hihihihi hihihihi."
.
.
ππππππ
Untuk Kak Novi Aryani yang minta part Dewa, ini aku selipkan ya Kak... Hihihihi semoga bisa sedikit mengobati kerinduan ya.. πππ Dan untuk pernikahan Wi-Jen InshaAllah di part selanjutnya ya Kak... β€οΈβ€οΈβ€οΈ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
Salam Love, love, loveβ€β€β€
__ADS_1
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca