
Selamat Membaca 😘😘😘
"Bang Firman!!! Brengsek kamu Bang!!!"
Jenar berteriak lantang setelah berhasil menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh dua manusia yang tengah menyatukan raga dan saling bertukar keringat ini.
Tubuh gadis itu terhuyung ke belakang ke arah salah satu sudut tembok yang berada di ruangan. Pandangannya masih terpaku pada sosok dua manusia yang tengah bertelanjang bulat dan saling berpeluk erat. Keduanya tidak lantas terperanjat dan justru semakin merapatkan tubuh mereka dengan lekat. Sungguh, pemandangan yang tersaji di depan netra Jenar ini seakan membuatnya sekarat akibat pil pahit perselingkuhan sang kekasih yang harus ia telan bulat-bulat.
"Jenar!!"
Tak jauh berbeda dari Jenar yang terkejut setengah mati melihat adegan ranjang yang tersaji, Firman dan Stevi juga turut terkejut melihat kedatangan Jenar yang tiba-tiba ini. Kedua manusia itu mencoba untuk saling melepaskan diri dari penetrasi yang terjadi namun nampaknya ada yang salah. Tubuh mereka saling menempel, tidak dapat terlepas dan tetap berada di dalam posisi saling menindih seakan tidak mau terpisah.
"Happy birth..... Aaaaaaa .... Ayahhhh!!!"
Firman terkesiap. Lagi-lagi lelaki itupun hanya bisa membelalakkan mata. "Tante Rukmana?!"
Rukmana berteriak histeris kala melihat secara langsung sajian blue film di depannya. Sebuah adegan yang selama ini ia anggap tabu, nyatanya saat ini tersaji di depan mata. Membuatnya bergidik ngeri dan memilih untuk berbalik badan dan menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan sang suami yang saat ini masih berada di depan pintu yang terbuka.
"Bunda, ada apa? Mengapa Bunda berteriak seperti ini?"
Sutha begitu keheranan dengan apa yang menimpa sang istri. Sebelumnya, Rukmana begitu happy tatkala akan bertemu dengan Firman, namun sekarang justru seperti seseorang yang mendapat shock therapy dan membuatnya terkejut setengah mati.
"Firman Yah, Firman. Lihatlah calon menantu kita itu!"
Perkataan Rukmana sukses membuat dahi Sutha dan Sutopo mengerut seketika. Mereka pun mengayunkan kaki untuk sama-sama masuk ke dalam. Dan...
"Firman!!!!!"
Kedua bola mata Firman kembali membulat sempurna. "Papa, Om Sutha!"
Firman semakin dibuat terkejut dengan kehadiran orang-orang di kamar miliknya yang serba tiba-tiba ini. Ia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa karena pada kenyataannya, tubuh telanjangnya tidak bisa terlepas dari tubuh Stevi.
"Stev, ini bagaimana? Mengapa tubuh kita tidak bisa terlepas?"
"A-aku juga tidak tahu Sayang. Aku juga tidak paham."
Firman berupaya untuk melepaskan diri namun sayang, mereka tetap berada di dalam posisi seperti itu.
Plak... Plak... Plak!!!!
__ADS_1
"Aaaawwwwwhhh..."
Masih dalam posisi menindih Stevi, Firman mendapatkan tamparan kuat dari telapak tangan Sutopo. Nafas pria paruh baya itu terdengar memburu seolah meluapkan segala amarah yang menggebu.
"Dasar anak kurang ajar! Bisa-bisanya kamu melakukan hal ini, hah!"
"Pa, ampun Pa, ampun. Firman khilaf Pa."
"Khilaf, khilaf, khilaf matamu?! Kamu melakukan hal semacam ini kamu bilang khilaf? Khilaf yang bikin ketagihan? Dasar menjijikkan!"
Plak... Plak... Plak...
"Aaahhh .... ampun Pa!"
Lagi, Sutopo memberikan bogem mentah ke wajah Firman. Pria itu nampak sudah dikuasai oleh emosi dan membuat Sutha langsung bergerak cepat. Sutha melerai pelukannya dari tubuh Rukmana, dan seketika mencoba untuk menghentikan kekalapan calon besannya ini. Sedangkan Rukmana, ia begitu terkejut tatkala melihat tubuh Sang putri yang berdiri terpaku dan membeku di sudut kamar tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun. Wanita itu kemudian memeluk tubuh Jenar yang terlihat bergetar hebat untuk ia bawa ke dalam pelukannya.
"Po, sudah Po. Kendalikan emosimu!"
Sutha mencoba untuk menarik tubuh Sutopo agar jauh dari jangkauan Firman. Sutopo berontak seakan ingin memberikan pelajaran untuk Firman lagi, namun sekuat tenaga Sutha menahan sehingga hal itu tidak sampai terjadi.
"Tidak bisa Tha, tidak bisa. Aku harus menghajar anak itu. Karena perbuatannya sungguh sangat menjijikkan!"
"Sabar Po, sabar. Kita selesaikan semuanya baik-baik. Lihatlah, saat ini putramu dalam keadaan seperti itu yang pasti sangat menyiksanya. Sekarang, kita bantu mereka untuk bisa terlepas satu sama lain terlebih dahulu."
"Biarkan saja seperti itu Tha. Ini karma untuk mereka karena telah berbuat tindakan yang melanggar norma asusila. Biar mereka merasakan akibatnya."
Dilanda oleh amarah dan rasa kecewa yang menjadi satu, membuat Sutopo bahkan tidak perduli dengan apa yang dialami oleh Firman. Bahkan ia membuang muka seakan begitu jijk melihat putra semata wayang yang selama ini ia harapkan untuk bisa menjadi tumpuan tubuhnya yang semakin renta karena tergerus oleh zaman.
Sutha melerai pelukannya. Dengan perlahan, ia menepuk pundak sahabatnya ini. "Buang jauh segala amarahmu terlebih dahulu, Po. Kasihan putramu. Mari kita bantu sama-sama."
Sutopo mencoba untuk menimbang-nimbang apa yang diucapkan oleh Sutha dan akhirnya hati pria paruh baya itu sedikit melunak. Sutha dan Sutopo mendekat ke arah dua manusia yang masih dalam posisi saling menindih itu dan buru-buru Sutopo tutupi tubuh keduanya dengan selimut. Sutha dan Sutopo sama-sama memegang bahu Firman dan perlahan menariknya.
Aneh, sungguh aneh. Tubuh keduanya bahkan sama sekali tidak bisa terlepas. Sekuat tenaga kedua lelaki paruh baya itu menarik tubuh Firman namun sama sekali tidak menghasilkan apa-apa. Sepuluh menit mereka bergulat dalam pertarungan melepas tubuh Firman yang melekat di atas tubuh Stevi, namun sama saja. Semua sia-sia.
"Tha, ini bagaimana? Tubuh Firman sama sekali tidak bisa terlepas?"
Sutha juga hanya bisa mengedikkan bahu. Sejatinya, ia juga tidak tahu harus melakukan apa. "Aku juga tidak tahu Po. Ini susah sekali. Atau apa lebih baik kita panggil dokter saja ya?"
Sutopo menggelengkan kepala. "Tidak, tidak, Tha, aku tidak ingin jika kejadian memalukan ini dilihat oleh lebih banyak orang lagi. Biarkan mereka seperti ini. Ini hukuman untuk mereka."
Meski dirinya juga dilanda oleh rasa marah dan kecewa karena putrinya telah dihianati, namun tetap saja Sutha merasa iba dengan kejadian gancet, yang dialami oleh Firman ini.
__ADS_1
"Fir, usahakan tetap tenang dan tidak panik. Setelah itu coba tarik napas panjang selama beberapa kali dan hembuskan perlahan agar otot-otot kemal*uanmu dan juga kekasihmu sedikit rileks. Tunggu beberapa saat dan jangan sampai melakukan apapun yang bisa menyakitimu dan juga kekasihmu ini."
Firman menuruti instruksi yang diberikan oleh Sutha. Pemuda itu mencoba untuk merilekskan otot-otot tubuhnya dengan cara tidak lagi memikirkan apapun. Meski saat ini ia teramat malu karena perbuatannya ini diketahui oleh papa dan calon mertuanya, namun ia coba untuk membuang jauh. Saat ini yang terpenting, tubuhnya bisa terlepas dari tubuh Stevi terlebih dahulu.
Suasana hening menyelimuti atmosfer ruangan ini. Hanya sesekali terdengar isakan tangis Jenar yang berada di sudut kamar. Gadis itu bahkan tidak dapat berbuat apa-apa ketika dengan tega sang calon suami melakukan perbuatan ini. Hanya tangis pilu dari bibir yang terkatup dan tubuh yang sedikit bergetar lah yang seolah menjadi bukti jika saat ini, hatinya tengah patah untuk pertama kali. Sensasi rasa nyeri yang baru sekali ia alami dan hanya membuatnya tiada berdaya sama sekali.
"Sayang, yang kuat ya. Semua akan baik-baik saja, oke?"
Dengan penuh kelembutan, Rukmana mencoba untuk menenangkan jiwa sang putri yang sedikit terguncang akan sebuah perselingkuhan. Sejauh ini Jenar hidup bersama sosok lelaki yang memegang teguh apa itu kesetiaan, namun pada kenyataannya, lelaki yang didaulat menjadi calon suami putrinya ini jauh berbeda dengan apa yang ada di dalam angan dan apa yang menjadi harapan.
Meski teramat sakit tatkala melihat sang putri sang begitu shock, namun Rukmana bersyukur karena saat ini Tuhan memperlihatkan tabiat Firman yang sebenarnya sebelum lelaki itu berhasil mempersunting Jenar.
Sepuluh menit Firman mencoba untuk merilekskan otot-otot tubuhnya. Setelah ia merasa lebih rileks, ia mencoba untuk menarik tubuhnya dari tubuh Stevi dan....
"Aaahhh ... akhirnya lepas juga."
Firman seketika bangkit dari posisinya ketika tubuhnya bisa terlepas dari tubuh Stevi. Ia memunguti pakaian yang berserakan di atas lantai dan gegas memakainya. Jenar hanya bisa menenggelamkan wajahnya di atas pundak sang bunda agar tidak lebih jauh melihat apa saja yang ada di tubuh Firman. Meski bukan ia yang melakukan perbuatan ini, namun sebagai seorang perempuan ia juga merasa malu.
Sedangkan Stevi, ia masih memilih untuk tetap berbaring di atas sofa sembari menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Namun, baru beberapa saat ia mencoba untuk memenangkan diri dan menutupi rasa malunya, tiba-tiba perutnya terasa begitu mual seakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari dalam sana.
Stevi bangkit masih dengan selimut yang menutupinya dan mengambil langkah kaki lebar untuk bisa menjangkau kamar mandi.
Hoekkk .... hoekkkk ... hoek ....
Stevi memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi.
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁
Kakak-kakak pasti pernah mendengar istilah gancet kan ya? Jadi gancet ini adalah kondisi Mr P yang terjepit di dalam Ms V. Penyebabnya adalah : Normalnya, saat berhubungan seksual, Mr P akan terisi dengan darah dan ukurannya terus membesar hingga ejakulasi. Di sisi lain, saat wanita mengalami orgasme, otot-otot dinding Ms V akan berkontraksi. Nah, kontraksi ini dapat mempersempit lubang Ms V sehingga menyulitkan pria untuk mengeluarkan Mr P nya, terutama jika masih membesar dan mengalami ereksi.
Hehehe hehe sedikit pengetahuan tentang gancet ya Kak. Semoga bermanfaat. 🥰🥰🥰
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺
Salam Love, love, love❤❤❤
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca
__ADS_1