
"Papa!!"
Wisnu yang baru saja selesai mencuci muka menautkan pandangannya ke arah sumber suara. Terlihat Citra dengan piyama kecil dengan gambar karakter pikachu itu mengayunkan langkah kakinya ke arahnya. Rambut gadis kecil itu juga masih nampak berantakan. Yang semakin mempertegas bahwa ia baru saja terbangun dari lelap tidurnya.
"Hai Sayang!"
Wisnu juga mendekat ke arah Citra. Memangkas jarak yang sebelumnya terbentang. Hingga kini, duda berusia empat puluh tahun itu berdiri tepat di hadapan sang putri. Ia rengkuh tubuh kecil Citra dan ia bawa ke dalam gendongannya.
"Papa sudah mandi?" tanya gadis kecil itu sembari mengalungkan lengan tangannya di leher sang papa. Kepalanya ia letakkan di ceruk leher Wisnu, dan bergelayut manja di sana.
Wisnu menggeleng pelan seraya tersenyum simpul di hadapan putrinya ini. "Belum Sayang. Putri Papa ini juga belum mandi kan?"
"Belum Papa."
"Ya sudah, sekarang Citra mandi sama mbok Darmi ya. Papa juga akan mandi, siap-siap, setelah itu Papa antar ke sekolah, oke?"
Bibir gadis kecil itu sedikit mencebik. Pipinya menggembung bak ikan buntal yang ada di laut. "Tapi Citra mau dimandikan Papa, bukan mbok Darmi. Papa saja ya yang memandikan Citra?"
Melihat begitu manjanya Citra, hanya membuat Wisnu tergelak lirih. Ia menowel gemas hidung mungil putri angkatnya ini. "Ya sudah, mari Papa mandikan. Setelah itu kita sarapan, dan berangkat sekolah!"
"Hore!!!"
Sembari menggendong Citra, Wisnu melenggang pergi keluar dari kamar. Ia memasuki kamar Citra dan ia awali pagi ini dengan ritual memandikan sang putri.
🍁🍁🍁🍁🍁
Kuda-kuda besi mulai nampak memenuhi ruas-ruas jalan perkotaan pagi hari ini. Hiruk pikuk suasana kota mulai terasa dengan suara-suara klakson kendaraan yang melintasi jalanan. Bak raja jalanan, para pengemudi kendaraan itu seakan saling berebut tempat untuk dapat menguasai jalanan yang mereka lintasi. Para bos, para karyawan, para buruh, semua berbaur menjadi satu dalam menggunakan akses jalan protokol kota ini untuk dapat segera mengatakan mereka ke tempat tujuan masing-masing.
Setelah beegelut dengan waktu dan suasana keramaian kota, pada akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Wisnu berhasil tiba di sekolah Citra dengan selamat. Ia menepikan mobilnya di depan pintu gerbang sekolah Citra, dan mulai melepas safety belt yang ia kenakan dan juga yang dikenakan oleh Citra.
"Ayo Sayang kita turun. Lihatlah, ibu-ibu guru Citra sudah menyambut kedatangan Citra dan teman-teman yang lain."
__ADS_1
Citra menganggkkan kepala dengan girang. Menghabiskan hari di sekolah seperti inilah yang begitu ia sukai. Di sini, ia memiliki banyak teman dan juga bisa bermain dan belajar dengan cara yang menyenangkan.
"Ayo Papa!"
Dua orang berbeda generasi itu turun dari mobil. Dan di depan pintu gerbang sudah nampak tiga orang guru muda yang berdiri dengan memberikan senyum termanis yang mereka miliki menyambut kedatangan para siswa. Hal ini mereka lakukan sebagai salah satu upaya untuk lebih dekat dengan anak-anak didik dan sekaligus untuk bisa lebih mengenal orang tua dari para murid.
"Selamat pagi Citra, selamat pagi pak Wisnu." sapa salah seorang guru muda bernama Poppy kepada ayah dan anak yang baru saja tiba di tempat ini dengan ramah.
"Selamat pagi bu Guru."
"Selamat pagi bu Poppy. Selamat pagi bu Viona. Selamat pagi bu Elsa," jawab Wisnu tak kalah ramah di depan guru muda itu.
Setiap hari disambut oleh guru-guru muda ini membuat Wisnu sampai hafal siapa nama mereka. Terlebih ketiga orang guru ini memiliki cara-cara mengajar yang begitu baik dan menyenangkan, sehingga Citra sendiri pun merasa begitu nyaman berada di sekolah.
Mendengar nama mereka disebut satu persatu oleh Wisnu, membuat ketiga guru muda itu tersipu malu. Mendadak, mereka jadi salah tingkah saat senyum manis dari bibir Wisnu terlihat membingkai wajahnya. Sumpah demi apapun, senyuman Wisnu ini terlihat begitu manis yang membuat tingkat ketampanan lelaki itu bertambah berkali-kali lipat.
"Bagaimana kabar pak Wisnu dan Citra hari ini? Baik dan juga sehat bukan?"
Dengan raut wajah yang diliputi oleh perasaan bahagia yang membuncah, Viona mencoba untuk membuka obrolan dengan Wisnu. Sedangkan Wisnu hanya bisa tersenyum kecil sembari menganggukkan kepala.
"Wah, Citra sepertinya nampak begitu ceria dan semangat hari ini. Apakah kemarin Citra baru saja berlibur dengan Papa? Sehingga membuat Citra nampak begitu bahagia seperti ini?"
Elsa yang tidak mau kalah, juga ikut menyapa Citra dengan beberapa pertanyaan. Ia merasa pertanyaan yang ia layangkan terdengar jauh lebih berbobot daripada yang dilontarkan oleh teman sejawatnya ini.
Citra yang masih erat menggandeng tangan Wisnu itu hanya bisa mengangguk kecil. "Iya bu Guru, Citra kemarin jalan-jalan ke taman kota sama Papa."
"Wah asyik sekali ya Sayang. Besok kalau Citra mau ke sana lagi, Ibu dikasih kabar ya, biar bu Guru dan Citra bisa bertemu dan bisa berlibur sama-sama," timpal Popy yang nampak begitu antusias menyahut obrolan Citra dengan Elsa.
Kali ini, Poppy yang tidak mau kalah. Ia memberikan sebuah usulan yang seakan menunjukkan bahwa ia sangat berharap bisa berlibur bersama Citra dan sang Papa. Ucapan Poppy yang seolah sok kenal dan sok dekat itu, sontak membuat Viona dan Elsa saling melempar pandangan. Mereka sama-sama membelalakkan mata seolah tiada percaya jika Poppy mencuri strart untuk bersaing mendapatkan hati sang duda dengan pertanyaan seperti itu.
Wisnu yang mendengar pembicaraan sang putri dengan para gurunya ini hanya bisa tersenyum kikuk. Ia terperangah dan bengong sendiri karena sangat tidak paham, mengapa guru-guru Citra ini nampak begitu baik dan dekat dengan Citra? Padahal baru satu minggu Citra masuk di sekolah ini.
Tidak ingin terlalu lama berada di tempat ini karena memang sebentar lagi ia akan mengadakan meeting dengan salah satu relasi, akhirnya Wisnu bermaksud untuk meninggalkan sekolah Citra. Ia mengambil posisi jongkok agar tinggi tubuhnya sejajar dengan Citra. Dengan penuh kasih sayang, ia mengusap rambut Citra seraya berpamitan.
__ADS_1
"Papa berangkat ke kantor dulu ya Sayang. Nanti Citra dijemput mbok Darmi dan pak Kasim ya."
"Iya Papa. Papa hati-hati di jalan ya."
"Itu pasti Sayang, Papa akan berhati-hati."
Setelah mencium pipi dan kening sang putri, Wisnu kembali ke posisi semula. Ia tautkan pandangannya ke arah tiga orang guru muda Citra itu.
"Bu Poppy, bu Viona, bu Elsa, saya pamit terlebih dahulu. Saya titip Citra selama ada di sekolah."
"Itu sudah pasti Pak. Saya akan menjaga Citra."
"Saya juga akan mengajari Citra sampai ia menjadi anak yang pintar."
"Dan saya juga akan memastikan Citra merasa tenang, bahagia dan nyaman di sekolah ini Pak."
Seperti seseorang yang tengah ber presentasi, Viona, Poppy dan juga Elsa mengutarakan apa yang menjadi nilai plus yang ia miliki. Mereka saling bergantian mempromosikan kelebihan yang ada dalam diri mereka masing-masing. Hal itulah yang membuat Wisnu semakin tertawa kikuk dan pikirannya diliputi oleh beberapa macam pertanyaan yang membuatnya kebingungan.
"Mari semua, saya pamit terlebih dahulu."
Wisnu mengayunkan kakinya untuk menuju mobil. Ia masuk ke dalam kendaraan yang ia tumpangi itu dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Perlahan namun pasti. Pelan-pelan, mobil yang dikendarai oleh Wisnu itu sudah tidak lagi nampak di indera penglihatan Viona, Elsa dan juga Poppy.
"Oh ya Tuhan ... sungguh sempurna ciptaanMu itu. Aku sungguh mengodolakannya," lirih Poppy.
"Aku tidak hanya mengidolakannya, namun juga ingin menjadi pendamping hidupnya," sambung Elsa pula.
"Sungguh, kehadiran pak Wisnu itu benar-benar mengalihkan duniaku," ucap Viona yang juga tidak ingin kalah.
Sedangkan Citra hanya bisa terbengong melihat ekspresi wajah guru-guru nya ini. Mereka nampak senyum-senyum sendiri. Tak selang lama, Citra pun berlalu melenggang pergi meninggalkan para guru yang masih dalam mode terkesima itu.
.
.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁