Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 70 : Acara Tutup Tahun


__ADS_3


Selamat Membaca 😘😘😘


Mobil yang dikemudikan oleh Wisnu berhenti tepat di pelataran depan gedung kesenian yang berada di kota ini. Suasana sudah terlihat begitu ramai. Hal itu bisa terlihat dari banyaknya mobil yang masuk di area ini, pastinya untuk menghadiri acara tutup tahun sekolah milik Citra.


Kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan setiap pergantian tahun ajaran baru, untuk menjadi salah satu ajang kreativitas murid-murid. Di sini, bagi murid yang memiliki bakat-bakat terpendam seakan memiliki wadah untuk menunjukkan kemampuan mereka di depan orang banyak. Dan tentunya masih banyak hal-hal positif lain yang tersimpan dengan diadakannya acara ini.


"Hore, kita sampai!!"


Citra memekik kegirangan kala sang papa sudah memberikan instruksi kepadanya untuk segera turun. Gadis itu terlihat sudah tidak sabar bisa segera tampil di atas panggung untuk menunjukkan bakat yang ia miliki. Wisnu mengarahkan setir mobil ke area parkir yang letaknya di sisi kiri gedung. Setelah dipastikan mobil milik Wisnu terparkir sempurna, ketiga orang itupun keluar dari sana. Citra berjalan diapit oleh Wisnu dan Jenar yang seakan memperlihatkan sebuah bingkai keluarga bahagia.


"Selamat pagi Citra cantik, selamat pagi pak Wisnu dan selamat pagi...."


Viona yang bertugas sebagai penjaga buku tamu menyambut kedatangan Wisnu dan keluarga dengan ramah. Namun ucapannya sempat terhenti kala manik matanya menangkap sosok wanita yang terlihat cantik dan anggun dengan A-line dress berwarna lavender. Wanita yang baru pertama kali ia temui karena selama ini, Citra pergi ke sekolah hanya diantar oleh Wisnu dan jika tidak, diantar oleh Darmi juga Kasim.


"Namanya Jenar, Bu."


Sembari tersenyum simpul, Wisnu memperkenalkan Jenar di depan Viona. Dan seketika menganggukkan kepala sebagai salah satu isyarat perkenalan juga sebagai tanda hormat.


"Ah iya, selamat datang bu Jenar."


Jenar yang baru kali pertama dipanggil dengan sebutan Bu, hanya bisa tersenyum kikuk. Perasaannya mengatakan bahwa dirinya belum terlalu tua, bahkan wajahnya terkesan begitu muda namun guru di sekolah Citra ini memanggilnya 'Bu'? Sungguh terdengar begitu menggelikan.


"Terima kasih Bu."


"Bu guru Viona!"


"Ya Sayang?"


Citra merapatkan tubuhnya di tubuh Jenar. Ia raih telapak tangan Jenar dan menggenggamnya erat.


"Kakak cantik ini akan menjadi bunda Citra loh. Bagaimana? Cantik kan Bu?"


"Oh ya? Benarkah seperti itu Sayang?"


Tanpa ragu, Citra menganggukkan kepala. "Benar bu Guru. Kakak cantik ini akan menjadi bunda Citra. Doakan ya bu Viona!"


Viona hanya bisa tersenyum tipis. Ternyata di dekapan wanita seperti Jenar inilah hati Wisnu tertambat. Sudah pasti akan tertambat karena di mata Viona, gadis bernama Jenar ini terlihat begitu cantik. Bentuk tubuh dengan tinggi badannya proporsional sehingga membuat aura kecantikannya semakin keluar.


"Aamiin, bu Viona doakan semoga papa dan kakak cantik ini bisa segera menikah. Sehingga, Citra ketika berada di rumah tidak merasakan kesepian lagi."


"Iya bu Guru."

__ADS_1


Menyaksikan celotehan Citra dengan guru di sekolahnya ini hanya bisa membuat Jenar terperangah tiada percaya. Ternyata se-total itu gadis kecil ini berupaya untuk menjadikannya seorang bunda. Bahkan sampai meminta doa juga. Sungguh di luar dugaan sama sekali.


Jenar seharusnya merasa risih ketika Citra membicarakan perihal jodoh untuk sang papa, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Jenar merasa biasa saja saat Citra terkesan menjadi makcomblang cilik untuk hubungan Wisnu dengan dirinya sendiri. Bahkan Jenar nampak tersenyum bahagia saat mendengarkannya.


Sedangkan Wisnu, tiada henti memuji sikap Citra ini di dalam hati. Bahkan perasaannya bersorak-sorai karena Citra mendukung penuh jika kakak cantiknya ini akan menjadi istrinya.


Papa hanya berharap di sekeliling Papa ini ada ribuan malaikat yang meng-aamiin-kan doa kamu, Nak.


"Ya sudah, sekarang Citra masuk ya. Papa dan kakak cantik biarkan menunggu di depan panggung, sedangkan Citra nanti ikut sama bu guru Popy dan juga bu guru Elsa untuk berganti kostum ya."


"Baik bu Guru!"


Viona kembali menautkan pandangannya ke arah Wisnu dan Jenar secara bergantian sembari memberikan dua buah paperbag yang berisikan snack dan air mineral.


"Silakan masuk pak Wisnu dan bu Jenar. Semoga Anda bisa menikmati apa yang akan tersaji nanti."


"Terima kasih banyak Bu."


Pada akhirnya, ketiga orang itu kembali mengayunkan langkah kaki masing-masing untuk memasuki area dalam di mana telah tersusun rapi kursi-kursi yang diberi cover berwarna putih dan dihiasi dengan pita berwarna gold. Sungguh nampak begitu memesona. Jenar dan Wisnu memilih tempat duduk di bagian depan sedangkan Citra, mengikuti Poppy dan Elsa untuk berganti kostum.


🍁🍁🍁🍁


Oh Bunda ada dan tiada dirimu kan selalu


Plok.. Plok... Plok....


Acara demi acara telah selesai dilaksanakan, dan sebagai penampilan pamungkas, terlihat Citra menyanyikan sebuah lagu yang cukup terkenal di negeri ini. Tidak hanya itu saja, gadis kecil berusia enam tahun itu duduk manis di depan piano dan jemari-jemari kecilnya begitu piawai dalam membelai tuts-tusts berwarna hitam putih itu hingga hanya menyisakan sebuah alunan melodi nan indah. Dan benar saja, seluruh yang hadir di gedung kesenian ini, memberikan standing applause untuk gadis kecil penuh talenta itu.


Jenar dan Wisnu hanya bisa terperangah menyaksikan apa yang ada di atas panggung itu. Bibir keduanya sama-sama menganga lebar seakan menjadi isyarat bahwa mereka begitu terkesima dengan penampilan Citra.


"Pak, apakah sejauh ini Citra mengikuti les piano ataupun les vocal?"


Begitu terkesimanya Jenar terhadap Citra, ia sampai ingin tahu banyak perihal Citra. Citra, seorang gadis kecil yang ia kenal hanya sebatas gadis periang, ternyata memiliki bakat yang begitu luar biasa.


Wisnu menggelengkan kepala. "Tidak Jen, Citra sama sekali tidak mengikuti les apapun."


"Jadi, Bapak juga baru pertama melihat kemampuan Citra ini?"


"Ya, memang begitu kenyataannya. Beberapa saat yang lalu, Citra hanya mengatakan akan tampil untuk bernyanyi di acara ini. Saya kira, ia menyanyi bersama teman-teman yang lain. Tapi ternyata ia bernyanyi sendiri. Dan yang lebih menakjubkan lagi, dia bisa bermain piano. Saya benar-benar tidak menyangka."


Orang-orang yang berada di sini kembali duduk di posisi semula. Dari raut wajah mereka juga begitu menyisakan rasa takjub yang tiada terkira. Mereka mungkin sama-sama berpikir jika siapapun orang tua Citra, pasti akan sangat bangga.


"Nah, ini dia adik kecil kita yang memiliki bakat yang begitu luar biasa!"

__ADS_1


Terdengar suara MC yang mendekat ke arah Citra yang saat ini sudah berdiri di atas panggung dan didampingi oleh ibu Hilda sebagai kepala sekolah. Lagi, suara tepuk tangan terdengar membahana di ruangan ini.


"Sayang?" sapa MC itu kepada Citra.


"Ya Kak."


"Usia Citra sekarang berapa?"


Citra memperlihatkan seluruh jari di telapak tangan kanannya kemudian ia tambah dengan ibu jari yang berada di telapak tangan kirinya. "Enam tahun!"


"Waaah enam tahun tapi sudah pandai bernyanyi dan memainkan piano ya? Memang di rumah, belajar bernyanyi dan belajar piano bersama siapa?"


Citra hanya menggeleng pelan. "Tidak Kakak. Di rumah, Citra sama sekali tidak belajar bernyanyi dan bermain piano."


"Di rumah, Citra sama sekali tidak belajar menyanyi dan memainkan piano, lalu mengapa bisa begitu piawai seperti ini?" Sang MC menjeda sejenak ucapannya dan menautkan pandangannya ke arah Hilda. "Ibu kepala sekolah, bisakah Ibu memberikan penjelasan?"


Hilda menganggukkan kepala dan mulai memberikan senyum terbaik yang ia miliki ke arah seluruh yang berada di ruangan ini.


"Nah, Bapak, Ibu semua, ananda Citra merupakan salah satu murid yang memiliki multi talenta. Saya beserta guru yang lain baru pertama kali mengetahui kemampuan ananda Citra ini, setelah beberapa hari Citra tercatat sebagai anak didik kami. Melihat itu semua, di sekolah kita berikan motivasi untuk memperdalam bakat ini. Bukan hanya motivasi, kami berikan sarana juga untuk mendukung kemampuannya ini."


Plok.. plok... plok..


"Waa hebat sekali. Kakak benar-benar tidak menyangka." MC itu mensejajarkan tinggi badannya dengan tinggi Citra. Ia usap rambut Citra ini dengan lembut. "Nah, bagi Citra sendiri, siapa orang-orang yang begitu berharga dalam hidup Citra? Apakah Kakak boleh tahu?"


Citra mengangguk pelan. "Ada nenek dan bunda Citra yang saat ini sudah berada di surga. Dan juga papa Wisnu dan Kakak cantik yang begitu Citra sayangi."


"Papa Wisnu dan Kakak cantik? Apakah mereka hadir di acara ini?"


"Iya Kakak. Mereka ada di sini."


MC itu tersenyum penuh arti dan ia lanjutkan kembali ucapannya. "Nah pak Wisnu dan kakak cantik, silakan naik ke atas panggung untuk menemani Citra!"


.


.


🍁🍁🍁🍁


Mohon maaf atas keterlambatan ini ya Kak. Dan mohon maaf pula karena hari ini saya update 1 episode saja karena memang ada sesuatu yang tidak bisa saya tinggalkan. Harap maklum ya kak 😘😘😘😘


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❀❀❀

__ADS_1


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2