Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 76 : Merah Merona


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘😘


"Jen, mengapa dari kemarin lusa wajahmu nampak murung seperti itu? Bukankah seharusnya kamu berbahagia karena berkat usahamu, Arya bisa tertangkap?"


Sudah dua hari semenjak penangkapan Arya, Wisnu melihat raut wajah Jenar berbeda dari biasanya. Gadis itu nampak tidak seceria biasanya, seperti sedang dirundung oleh duka. Entah, duka apa. Namun sungguh terlihat jelas di kedua mata Wisnu yang membuat lelaki itu dihinggapi oleh rasa ingin tahu yang begitu menggebu. Bahkan Wisnu sampai mengikuti ke mana gadis itu menghabiskan jam istirahat yang ia miliki di area rooftop. Rooftop gedung seakan menjadi tempat paling mengerikan bagi Wisnu karena ia berpikir jika Jenar akan melakukan suatu hal di luar logika akibat beban pikiran yang ia tanggung sendiri.


"Saya sedang bingung Pak."


Jenar hanya menjawab pertanyaan Wisnu dengan jawaban yang membuat Wisnu justru semakin penasaran. "Bingung? Bingung perihal apa? Coba katakan kepada saya. Barangkali saya bisa membantumu."


Jenar menghela nafas sedikit berat dan ia hembuskan perlahan. "Besok bang Firman berulang tahun, saya bingung harus memberinya apa. Apakah Bapak ada ide kado apa yang harus saya berikan? Atau mungkin kejutan apa yang harus saya persiapkan?"


Nyuuutttt....


Jantung milik Wisnu seakan diremas dan hanya menyisakan sensasi denyut nyeri kala mendengar tiap kata yang terucap dari bibir Jenar. Ternyata, gadis ini tengah sibuk merencanakan sebuah kejutan untuk Firman. Bukan perkara kejutan apa yang akan diberikan oleh Jenar yang membuat Wisnu serasa tertohok, namun lebih cenderung ke arah personality Firman sendiri. Wisnu merasa Firman tidak pantas untuk mendapatkan semua kebaikan dan kepedulian yang diberikan oleh Jenar itu.


"Oh, jadi perihal kejutan dan hadiah yang akan kamu berikan untuk Firman yang membuatmu kebingungan dan nampak murung seperti ini?"


Jenar mengangguk pelan. "Iya Pak, itulah yang membuat saya bingung setengah mati. Terlebih lagi, besok pada saat bang Firman berulang tahun, kedua orang tua saya dan juga bang Firman akan datang ke kota ini untuk sekaligus membicarakan hubungan kami selanjutnya."


Kini, wajah Wisnu lah yang nampak begitu sendu. Ternyata sudah seserius itu kedua orang tua Jenar dan juga Firman menjodohkan keduanya. Jika seperti ini, ia merasa sudah tidak memiliki sedikitpun celah untuk menikung Jenar.


Atau aku perlihatkan secara langsung saja ya perihal video yang sempat direkam oleh Bima? Dengan begitu, aku bisa melindungi hati Jenar dari rasa sakit itu? Namun, entah Jenar melihat perselingkuhan Firman secara langsung ataupun dari rekaman video ini, pasti sama-sama akan membuat Jenar terluka. Ya Tuhan, sekarang aku harus bagaimana?


"Emmmmm ... bagaimana kalau kamu buatkan kue ulang tahun untuk Firman, Jen? Saya rasa kue buatan kamu akan menjadi kado paling spesial untuk Firman sendiri."

__ADS_1


Pada akhirnya, Wisnu memilih untuk tetap bungkam akan apa yang pernah ia saksikan di mana Firman berselingkuh di belakang Jenar. Ia memiliki keyakinan bahwa cepat atau lambat kebusukan lelaki biawak itu akan segera terbongkar.


Sepersekian menit, Jenar terlihat menimbang apa yang diusulkan oleh Wisnu dan tiba-tiba....


"Aaaaaa .... pak Wisnu .... ide Anda sungguh sangat cemerlang. Saya malah tidak terpikirkan sampai sana. Terima kasih Pak, terima kasih."


Tubuh Wisnu sedikit terhenyak kala tiba-tiba Jenar menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukannya. Wisnu hanya bisa membelalakkan mata akibat ulah spontanitas gadis ini. Ingin rasanya ia berteriak bahagia karena dipeluk oleh seorang gadis yang telah berhasil membuatnya terjatuh ke dalam lautan pesona. Namun ia sadar jika gadis ini memeluknya bukan karena sama-sama memiliki perasaan cinta, sehingga hanya membuat bibir Wisnu terkatup saja.


Jenar justru semakin erat memeluk tubuh Wisnu, layaknya seseorang yang berhasil menemukan tempat paling nyaman. Entah sadar atau tidak, Jenar seperti tidak ingin lepas dari pelukan spontanitas itu. Namun tatkala kesadarannya berangsur pulih, kening Jenar sedikit mengerut. Ia mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu yang dirasa sedikit aneh.


Eh, sebentar, sebentar. Ini aku sedang memeluk siapa? Kok aku tetiba ada di posisi seperti ini? Sebentar, tadi aku hanya berdua bersama pak Wisnu di tempat ini. Itu artinya aku memeluk....


Jenar melerai sedikit pelukannya seraya bergegas untuk menjauhkan tubuhnya dari tubuh Wisnu dengan mundur beberapa langkah. Gadis itu sekilas menatap wajah Wisnu dengan intens namun kemudian wajahnya kembali menunduk.


"M-Maaf Pak Wisnu ... saya sungguh tidak sengaja memeluk Anda. Saya reflek melakukannya. Sekali lagi saya minta maaf Pak."


"Tidak perlu minta maaf Jen. Saya justru mempersilakan jika kamu ingin memeluk saya lagi." Wisnu menjeda sejenak ucapannya dan merentangkan kedua tangannya. "Kemarilah, biar kamu bisa memeluk saya lagi!"


Perkataan Wisnu sukses membuat tubuh Jenar berjingkat. Lagi-lagi ia merasakan pipinya menghangat dan bisa dipastikan tercetak warna semburat buah tomat yang semakin terlihat. Gadis itupun hanya bisa memegang dada layaknya penderita jantung yang sedang kumat karena merasakan getaran rasa yang teramat dahsyat.


"Pak Wisnu bicara apa? Maaf, saya tadi benar-benar reflek memeluk Bapak, dan hal itu merupakan salah unsur ketidaksengajaan."


Wisnu hanya mengedikkan bahu dan bersikap sesantai mungkin. "Meski bukan unsur ketidaksengajaan, tapi saya tetap mempersilakan kamu untuk memeluk saya, Jen."


Kali ini Jenar benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya dan pada akhirnya, gadis itu berlari kecil mencoba untuk menghindari Wisnu. Sedangkan duda berusia empat puluh tahun itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia sadar jika apa yang ia lakukan merupakan salah satu kekonyolan namun bisa apa dia jika dengan cara seperti itu saja bisa membuatnya juga bahagia.


Seperti inikah rasanya jatuh cinta? Ah, aku seperti tidak ingat umur saja. Bukankah cara-cara seperti ini menjadi ciri khas anak muda? Sedangkan aku sudah tua. Sungguh sangat memalukan, Wisnu!

__ADS_1


🍁🍁🍁


Dengan langkah kaki lebar, Jenar mulai memasuki area toilet. Buru-buru ia menuju wastafel dan mulai membasuh wajahnya. Kepalanya mendongak dan ia tatap lekat pantulan wajahnya yang berada di dalam cermin.


"Astaga Jenar, mengapa wajah kamu memerah seperti ini? Ingat ya Jen, yang diucapkan oleh pak Wisnu itu hanyalah candaan semata, jadi jangan kamu anggap serius. Oke?"


Jenar sibuk bermonolog lirih sembari mengingat akan apa yang baru saja terjadi. Rasanya ia ingin merutuki diri karena tidak berhati-hati dalam bertindak hingga pada akhirnya kejadian memeluk tubuh pimpinan itu tidak dapat terelakkan. Pikiran dan pandangan Jenar terlihat menerawang.


"Tapi apa yang sebenarnya aku rasakan? Mengapa aku merasakan gugup sekali? Dan rasanya pelukan pak Wisnu itu terasa begitu nyaman dan sulit untuk aku hindari."


Jenar menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak, tidak, tidak. Ingat Jenar, kamu sudah memiliki bang Firman. Jadi kamu tidak boleh jika sampai terpikat oleh pesona lelaki lain. Itu sama saja kamu tidak setia, Jenar. Apa kata orang nanti jika sampai kamu mempermainkan perasaan kekasihmu?"


Lagi-lagi Jenar malah merasa bersalah terhadap Firman atas rasa yang sempat muncul di kala sedang berinteraksi dengan Wisnu. Tanpa ia tahu bahwa sejatinya, hatinya lah yang telah ditusuk oleh Firman sendiri lewat belakang.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Tahan sebentar ya Kak. Niat hati akan menggabungkan part Firman ketahuan dengan bab ini tapi pasti panjang sekali. Jadi kita lanjutkan besok ya Kak.. 😍😍😍


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca

__ADS_1


__ADS_2