Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 88 : Jahil


__ADS_3


Selamat membaca😘😘


Hiruk pikuk keramaian kota nampak menghiasi ruas-ruas jalan protokol di kota ini. Dipenuhi oleh kuda-kuda besi yang berbaris rapi melaju di jalanan beraspal ini. Tak sedikit pula pasangan muda-mudi yang meramaikan suasana malam dengan saling berboncengan dan mengeratkan lingkar lengan di pinggang. Suasana semakin syahdu di kala pantulan lampu-lampu jalan nampak berjajar menerangi kendaraan yang melaju. Dan suasana seperti ini semakin menegaskan, jika malam ini adalah malam minggu.


"Papa, kita akan pergi ke mana?"


Suara lembut Citra berhasil memecah keheningan yang menyelimuti atmosfer dalam mobil yang dikendarai oleh Wisnu. Layaknya para kawula muda lainnya, ia pun juga tidak ingin melewatkan malam minggu ini dengan mengajak keluar orang yang ia cintai. Malam ini ada yang berbeda. Jika biasanya ia hanya menikmati malam minggu bersama Citra, namun mulai malam ini akan ada Jenar yang selalu menemani.


"Emmmm ... kemana ya Sayang? Papa malah belum memiliki rencana apapun."


Sembari fokus dengan kemudinya, Wisnu mencoba untuk merespon apa yang menjadi pertanyaan sang putri. Namun ia tidak dapat menjawab apapun karena sejatinya ia juga belum tahu, akan ke mana malam ini.


"Ckckckck ... Papa itu bagaimana? Masa Papa hanya berputar-putar sambil menaiki mobil? Nanti kalau bensinnya habis di tengah jalan bagaimana Pa?"


Dengan polosnya Citra memprotes apa yang dilakukan oleh papanya ini. Bisa-bisanya sang papa belum menentukan kemana mereka akan pergi. Padahal malam sudah terasa dingin sekali.


Wisnu dan Jenar hanya terkekeh geli. Melihat wajah Citra yang sedikit kesal, bibir mengerucut dan pipi menggembung seakan menjadi sensasi tersendiri. Wajah gadis kecil itu justru nampak menggemaskan sekali.


"Hmmmm ... coba Citra tanya sama Mama. Barangkali Mama punya tempat tujuan yang asyik sekali."


Bak mendapatkan usulan yang sangat berarti, Citra mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Jenar. "Mama, mau kemana kita malam ini? Apakah Mama punya tempat yang asyik untuk dituju?"


Mendengar Citra memanggilnya dengan sebutan Mama, hanya membuat Jenar tergelak seketika. Rasanya masih begitu aneh jika terdengar, namun ia harus membiasakan diri untuk dipanggil dengan sebutan itu karena sejatinya sebentar lagi, ia akan menjadi seorang Mama sambung. Ditambah lagi Wisnu lah yang memprovokasi Citra untuk bersegera memanggilnya Mama. Alhasil, setelah ia mendapatkan kabar bahwa kakak cantiknya akan menjadi mama, gadis kecil itu bersemangat sekali untuk bersegera memanggilnya dengan sebutan mama.


"Emmmm ... kemana ya Sayang? Sebenarnya Mama juga belum memiliki rencana apapun, tapi bagaimana kalau kita ke pasar malam saja? Sepertinya akan sangat mengasyikkan."


Gadis itu nampak sejenak berpikir, dan pada akhirnya kepalanya mengangguk. "Mau Ma, mau."


Citra berganti mencondongkan tubuhnya ke arah Wisnu. "Kita ke pasar malam ya Pa."


"Siap Tuan putri!"


🍁🍁🍁🍁🍁


Calon keluarga kecil itu melangkahkan kaki mengelilingi setiap sudut yang berada di pasar malam. Selain menyediakan wahana-wahana permainan yang merakyat, juga terlihat para penjual yang mencoba menjemput rezeki di perhelatan seperti ini. Mulai dari pedagang baju, sandal, selimut, sprei, sepatu, aksesoris dan untuk kulinernya seperti bakso, mie ayam, sate, martabak, dan yang menjadi ciri khas dari sebuah pasar malam adalah penjual Arum Manis atau yang sering disebut cotton candy.


"Sayang, kamu mau naik yang mana?"

__ADS_1


Diapit oleh sang papa dan calon mama, Citra nampak memperhatikan beberapa wahana yang tersaji. Sejenak ia berpikir pada akhirnya ....


"Citra mau naik semuanya Pa!"


"Semua?"


"Iya, boleh kan?"


"Tentu boleh Sayang."


Dimulai dari komidi putar, Citra nampak begitu asyik menaiki wahana itu. Permainan sejenis atraksi kuda-kudaan yang bisa dinaiki dan berputar dalam sebuah platform datar. Dengan iringan musik serta lampu yang menyala terang dan warna warni semakin menambah meriahnya wahana ini.


Puas dengan komidi putar, lanjut ke wahana ontang anting. Merupakan ragam dari komidi putar dimana bangku digantung dan berputar dari bagian atas komidi putar. Pada beberapa versi, bagian atas yang berputar dari komidi putar tersebut juga memiliki ragam gerakan tambahan.


"Papa, Papa, Citra mau duduk istirahat sebentar, capek."


Seusai bermain wahana ontang anting, nampaknya gadis kecil itu sedikit merasa kelelahan. Ia pun meminta sang papa untuk beristirahat sejenak.


Jenar mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Terlihat sebuah bangku yang terbuat dari besi masih kosong yang berada di dekat penjual cotton candy.


"Kita duduk di sana dulu ya Sayang. Sekalian beristirahat."


Calon ibu dan anak itu mengayunkan kaki mereka untuk dapat menjangkau bangku besi itu. Sedangkan Wisnu, berinisiatif untuk mengantre membeli jajanan khas pasar malam seperti ini. Dan dua cotton candy berhasil ia dapatkan. Dan, duda yang sebentar lagi akan melepas masa dudanya itupun turut mendaratkan bokongnya di bangku yang diduduki oleh anak dan calon istrinya.


"Waaah .... Papa beli cotton candy? Citra mau Pa, Citra mau!"


Wisnu mengulas senyum. Sembari mengulurkan satu cotton candy untuk Citra. "Nah, satu untuk Citra. Satu lagi untuk Mama."


Jenar hanya terkik geli. "Makasih Pak."


"Loh kok Pak sih Ma? Panggil yang romantis lah ya."


"Panggil yang romantis? Apa itu Pak?"


"Hmmmm, aku mau kamu memanggilku Mas. Bagaimana? Tidak keberatan kan?"


Lagi-lagi Jenar hanya terkikik geli. Mau tak mau ia hanya mengangguk pelan. Karena tidak ada salahnya juga bukan.


"Baiklah Mas."

__ADS_1


Jenar dan Citra nampak menikmati cotton candy pemberian Wisnu. Sembari menikmati suasana malam khas pasar malam seperti ini. Meski nampak begitu sederhana namun sama sekali tidak mengurangi kehangatan yang ada.


"Papa, kita foto bareng yuk!"


"Foto bareng bagaimana Sayang?"


Wisnu sedikit keheranan melihat permintaan Citra yang aneh ini. Karena tidak biasanya ia meminta foto bareng di tempat seperti ini.


"Jadi seperti ini Pa. Nanti Papa dan Mama di hitungan ketiga cium pipi Citra sama-sama ya."


Layaknya sang fotografer profesional, Citra memberikan instruksi kepada Jenar dan Wisnu. Dua orang itu pun hanya bisa menganggukkan kepala, menyetujui permintaan Citra.


"Sini Pa, handphone Papa biar Citra yang bawa."


Dengan diapit Wisnu dan Jenar, Citra memulai aksinya.


"Siap ya Pa, Ma. Satu, dua, ti..."


Cup....


"Yeaaaay ... Papa dan Mama ciuman!!!"


Kedua bola mata Wisnu dan Jenar terbelalak sempurna di saat bibir mereka bersentuhan. Ternyata, tepat di hitungan ketiga Citra merendahkan tubuhnya. Alhasil, bukan pipi gadis kecil itu yang dicium oleh Wisnu dan Jenar, melainkan bibir keduanya yang bersentuhan.


"Citra ..... jahil kamu Nak!"


.


.


🍁🍁🍁🍁


Mohon maaf pendek dulu ya Kak.. Ini sedang perjalanan ke Semarang. Mohon maaf juga jika banyak typo yang bertebaran ☺☺☺


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❤❤❤


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca

__ADS_1


__ADS_2