Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 20 : Kelulusan


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘😘


"Hore kita lulus!!!"


Derap langkah kaki berpuluh-puluh orang terdengar memekak memenuhi koridor-koridor sekolah. Layaknya jiwa-jiwa muda yang masih dibalut oleh semangat yang membara, mereka berhamburan menuju lapangan. Berteriak kencang, melempar topi tinggi-tinggi untuk melakukan apa itu selebrasi. Selebrasi untuk mengabarkan kepada dunia jika saat ini mereka telah berhasil dan sukses melewati apa itu ujian akhir. Mendapatkan nilai terbaik untuk bisa menjadi amunisi awal untuk meraih kesuksesan. Dan rumput hijau yang membentang di tanah lapang menjadi saksi di mana anak-anak didik itu tengah kegirangan.


"Aaaaa Jenar.... akhirnya kita lulus!!!"


Nania berteriak kencang sembari memeluk tubuh Jenar dengan erat. Ia teramat bahagia karena pada akhirnya, ia dapat lulus dengan nilai yang cukup baik. Saking bahagianya, tidak mengherankan jika sedari tadi ia memeluk tubuh sahabatnya ini. Entah memeluk karena bahagia atau sebaliknya. Kesedihan nampaknya juga menelusup dalam jiwa kala tersadar jika sebentar lagi, ia akan berpisah dengan sahabat terbaik yang ia miliki ini.


Uhuukk.. Uhukkk... Uhukkkk..


"Nan, menjauhlah dari tubuhku! Aku tidak bisa bernapas!"


Begitu eratnya Nania memeluk tubuh Jenar, Jenar sampai terbatuk-batuk. Pelukan sahabatnya ini sudah seperti seorang anak yang akan ditinggal sang ibu bekerja di tempat yang sangat jauh. Sedangkan Nania, gegas ia menjauhkan tubuhnya dari Jenar, pastinya sembari nyengir kuda.


"Ahahahaha maafkan aku Jen. Aku bahagia karena bisa lulus, tapi aku juga sedih, sebentar lagi kita akan dipisahkan oleh ruang dan jarak. Aku sungguh belum siap Jen. Bagaimana nasibku kelak di tanah perantauan jika aku tidak memiliki sahabat seperti kamu Jen? Bagaimana?"


Jenar yang mendengar ucapan Nania yang terdengar begitu sendu dan juga melihat wajah sang sahabat yang terlihat begitu menyedihkan hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Ia merasa jika sahabatnya ini sedikit berlebihan.


Jenar mengayunkan langkah kakinya dan duduk di tepi lapangan. Sedangkan Nania juga turut mengekor dan duduk di samping Jenar. "Mengapa kamu terlalu takut dengan sesuatu yang memang belum terjadi sih Nan? Percaya padaku, mau di kota kita sendiri, di kota perantauan, jika kita bisa membawa diri kita, pasti akan banyak yang akan menjadi teman kita. Kamu ingat bukan? Sebelumnya kita juga tidak saling mengenal tapi kenyataannya kita bisa bersahabat baik sampai sekarang?"


Nania hanya menganggukkan kepalanya lirih, membenarkan apa yang diucapkan oleh sahabatnya ini. "Itu benar Jen, tapi aku benar-benar takut jika tidak mendapatkan teman sebaik kamu."


Jenar hanya tersenyum simpul. Ia yang sebelumnya menatap lekat teman-teman lain yang masih berada di tengah lapangan sembari berselebrasi dengan cara mereka masing-masing, kini ia tautkan pandangannya ke arah Nania.


"Percayalah Nan, selama kita menjadi orang baik, kita pasti akan dikelilingi oleh orang-orang baik pula. Maka selalu berbuatlah baik sehingga kebaikan-kebaikan itu mengelilingi kita."


Mendadak hati Nania diselimuti oleh keharuan yang terasa begitu menyeruak dalam dada. Inilah salah satu kelebihan yang Jenar miliki. Meski sahabatnya ini terkenal dengan polah tingkahnya yang sedikit bar-bar, namun Jenar selalu memiliki kata-kata bijak yang bisa semakin membuat pikirannya terbuka. Entah belajar dari mana sahabatnya ini. Mungkin itu semua salah satu pengaruh positif sering berkumpul dengan para bapak komplek yang sudah banyak memakan asam garam kehidupan.


"Aahhhh ... sahabatku ini benar-benar cerdas jika perihal quotes of the day seperti ini. Tidak heran jika kamu bisa lulus dengan nilai terbaik di sekolah ini Jen. Aku rasa pak Wisnu akan sangat bangga, di perusahaannya kedatangan siswa dengan prestasi terbaik."


Ucapan Nania sukses membuat Jenar terhenyak. "Sebentar, sebentar. Maksud kamu pak Wisnu siapa Nan?"

__ADS_1


"Pak Wisnu yang minggu lalu mengisi acara talkshow itu Jenar. Masa kamu lupa?"


Dahi Jenar mengerut dan kedua alisnya saling bertaut. Nampaknya gadis itu belum paham sepenuhnya dengan apa yang diucapkan oleh Nania. "Nan, kamu itu bicara apa sih? Apa hubungannya pak Wisnu yang kemarin mengisi acara talkshow dengan perusahaan yang akan aku tempati? Kamu jangan mengarang cerita deh Nan!"


Nania hanya bisa berdecak lirih dan bibirnya mencebik. Ia mencondongkan tubuhnya untuk bisa lebih dekat dengan Jenar dan menangkupkan telapak tangannya di kedua pipi sahabatnya ini. "Jen, pak Wisnu itu pimpinan PT WUW tempat kamu prakerin. Kok bisa-bisanya kamu masih bertanya apa hubungannya?"


"Nan, pimpinan PT WUW itu namanya pak Rangga Danabrata Dewandaru yang kerap dipanggil pak Dewa. Bukan pak Wisnu!"


Seketika Nania mencubit kedua pipi Jenar karena terlanjur gemas.


"Adudududu... Sakit Nan!"


"Salah sendiri mengapa kamu mendadak jadi oon seperti ini sih Jen?"


"Oon bagaimana Nan? Pimpinan PT WUW itu namanya pak Dewa. Bukan pak Wisnu."


Nania membuang napas sedikit kasar. Ternyata sampai detik-detik sahabatnya ini akan magang di PT WUW, ia belum tahu siapa pimpinan PT itu.


"Makannya kalau ikut acara talkshow itu jangan tidur, Jen. PT itu sebelumnya memang dipimpin oleh pak Dewa, namun saat ini pak Dewa tengah fokus dengan PT Demara yang ada di Jogja. Maka dari itu PT WUW diambil alih oleh pak Wisnu yang merupakan kakak kandung dari pak Dewa."


Tubuh Jenar terperanjat seketika. Buru-buru ia buka resleting tas yang ia bawa untuk mengambil sesuatu yang ia simpan di dalam sana. Ia raih secarik kertas kecil berbentuk kartu nama itu dan ia baca penuh dengan penghayatan.


"Kok malah seperti itu sih ekspresi kamu Jen? Bukankah seharusnya kamu bahagia ya karena magang dibawah seorang pimpinan yang tampan, mapan, berwibawa dan single pula. Kalau aku jadi kamu sih akan sujud syukur setiap hari Jen!"


Pletak!!!


"Adududuh..." pekik Nania karena dahinya disentil oleh Jenar.


"Sujud syukur bagaimana Nan? Yang ada aku malu. Malu karena bertemu dengan lelaki yang sudah aku fitnah mentah-mentah. Apa coba yang harus aku lakukan jika bertemu langsung dengannya? Bisa-bisa setiap hari aku bekerja dibawah tekanan karena dia dendam terhadapku!"


"Ahahahaha Jenar, Jenar. Pikiranmu itu terlalu jauh. Pak Wisnu bukanlah tipe lelaki pendendam seperti itu. Lagipula kamu bisa langsung minta maaf ke pak Wisnu langsung bukan perihal kesalahpahaman kemarin?"


Jenar mencoba menelaah apa yang terucap dari bibir Nania. Ia menganggukkan kepala pelan, sependapat dengan apa yang diucapkannya. "Iya juga ya. Benar apa kata kamu Nan. Mungkin ini salah satu jalan bagiku untuk bisa minta maaf atas kesalahan pahaman itu."


"Bisa juga menjadi jalan bagi kamu untuk berjodoh dengan pak Wisnu, Jen!" celetuk Nania sembari menaik turunkan alis matanya, menggoda Jenar.

__ADS_1


Jenar terkesiap. Ia menatap lekat kedua manik mata Nania dengan tatapan membidik. "Nania?"


Saat menyadari tatapan sang sahabat sudah seperti seekor singa betina yang tengah kelaparan, Nania kembali nyengir kuda. Ia bangkit dari posisi duduknya dan....


"Lariiiiiiii!!!"


"Nania!!!! Awas kamu ya!!!"


Melihat sahabatnya lari tunggang langgang, Jenar juga turut mengejar sahabatnya itu. Dan pada akhirnya keduanya saling berlarian di lapangan sembari tertawa-tertawa untuk mengakhiri masa-masa SMA dengan penuh rasa bahagia.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Jadi ada berapa orang yang akan magang di sini Bim?"


Sembari berjibaku dengan lembaran-lembaran kertas yang ada di depannya, Wisnu mencoba mencari tahu akan informasi perihal sekolah-sekolah yang bekerja sama dengan perusahaannya. Di mana sekolah-sekolah itu mengirimkan anak didik terbaik yang mereka miliki untuk praktek langsung di dunia kerja.


Sekilas, Bima membaca dengan seksama lembar kertas yang diberikan langsung oleh bagian HRD. "Ada lima belas orang, Tuan. Dan dari almamater Tuan Wisnu ada lima orang, sedangkan sisanya dari sekolah lain."


Wisnu menghentikan aktivitasnya. Ia letakkan pena yang ia pakai untuk membubuhkan tanda tangan di atas lembar-lembar kertas itu. "Bisa aku lihat berkas-berkas yang dari almamaterku Bim?"


Bima menganggukkan kepala seraya memberikan sebuah map ke arah sang bos. "Map biru ini berisi tentang data siswa dari almamater Tuan Wisnu."


Wisnu menerima map yang diulurkan oleh Bima. Ia buka lembar demi lembar kertas yang berada di dalam map itu dan ia perhatikan lekat-lekat. Hingga perhatiannya pun terhenti pada satu lembar kertas di mana ia melihat sebuah foto seorang gadis yang seperti tidak asing di penglihatannya. Mata Wisnu sedikit menyipit seraya berupaya untuk mengingat siapakah gadis ini. Hingga pada akhirnya Wisnu tersenyum simpul dan... "Ah, ternyata namanya Jenar Budhiani Candrakanthi."


Bima yang mendengar sang bos mengucapkan sesuatu hanya bisa mengernyitkan dahi. Ia heran, dari beberapa data diri siswa yang sudah dibaca oleh Wisnu mengapa baru nama inilah yang dilisankan oleh bosnya ini. "Jenar? Jenar siapa, Bos?"


Kini giliran Wisnu yang terkesiap. Mendadak ia salah tingkah setelah Bima mendengar sebuah nama yang ia lisankan. "Eh, bukan siapa-siapa Bim. Serius bukan siapa-siapa."


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift, atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2