
Selamat Membaca😘
"Sayang, aku minta maaf ya. Karena tadi pagi aku pulang lebih dulu!"
Tepat pukul tujuh malam, Firman bertandang ke kediaman Jenar. Secara langsung meminta maaf karena dengan sepihak, ia meninggalkan kekasihnya itu di taman kota. Pemuda itu berdalih sedang ada keperluan mendadak, padahal kenyataannya, ia sedang asyik menghabiskan waktu bersama sang kekasih gelap. Entah, akan ada berapa banyak kebohongan-kebohongan yang dilakukan oleh Firman. Namun, pemuda itu nampak masih begitu menikmatinya.
Di teras rumah, mereka nampak duduk saling berhadapan. Dengan dua cangkir teh hangat dan satu toples kripik singkong yang menemani obrolan keduanya.
Jenar dengan balutan piyama dan juga cardigan warna putih, hanya bisa tersenyum simpul. Seringnya mendapatkan perlakuan seperti ini dari Firman, membuatnya sedikit kebal. Kebal dalam artian, ia tidak terlalu berharap banyak dari pemuda ini.
"Tidak apa-apa Bang. Jika memang Abang tiba-tiba ada keperluan mendadak ya mau bagaimana lagi? Aku hanya bisa mencoba untuk selalu mengerti."
Meski ada setitik rasa kecewa dalam hati, namun Jenar mencoba untuk menutupi. Menganggapnya angin lalu yang tidak perlu ia pikirkan dalam-dalam. Ia selalu berupaya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa kekasihnya ini merupakan salah satu orang sibuk, yang tiba-tiba didatangi oleh urusan dadakan.
"Kamu di jalan baik-baik saja kan Sayang? Maksudku, driver ojek yang mengantarmu, mengendarai motornya dengan pelan dan hati-hati. Aku sungguh khawatir jika sampai kamu kenapa-kenapa Sayang."
Bak seorang kekasih yang begitu perduli dengan keselamatan sang kekasih, Firman melontarkan sebuah pertanyaan yang terkesan so sweet.
__ADS_1
Jenar tersenyum kikuk. Diusapnya kedua lengan tangannya kala hawa dingin sudah mulai menelusup masuk ke dalam tubuh. Ingin rasanya ia tidak mengatakan bahwa ketika pulang, ia diantar oleh Wisnu. Namun, bagi Jenar pantang untuk berbohong. Oleh karenanya ia memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. "Aku pulang tidak naik ojek online, Bang..."
"Apa? Kamu pulang tidak naik ojek online? Lalu naik apa kamu Jen?"
Belum selesai Jenar menjawab pertanyaan sang kekasih, pemuda itu justru sudah memangkas kata-kata yang dilontarkan oleh Jenar.
"A-ku pulang di..."
Firman memindai ekspresi wajah Jenar dengan tatapan membidik bak seekor singa betina yang terancam keselamatannya. "Apakah kamu pulang diantar oleh lelaki itu? Lelaki yang sebelumnya juga mengantar kamu pulang?"
Jenar sedikit terkesiap kala mendengar intonasi Firman yang sudah naik satu oktaf. Ada sedikit rasa takut yang bergelayut manja di sudut hatinya. Namun, kepalanya mengangguk jua.
"Mengapa Jen? Mengapa kamu melakukan hal itu lagi? Mengapa kamu tidak menurut dengan apa yang aku katakan?"
Firman berteriak lantang sehingga membuat teman-teman Jenar yang kebetulan berada di ruang tamu, seketika berdiri dan mengintip dari balik jendala. Mencari tahu akan apa yang terjadi. Nafas lelaki itu terdengar semakin memburu. Sepertinya lelaki itu sudah dikuasai oleh api amarah yang membara. Membakar akal sehat. Sehingga membuatnya lupa bahwa gadis yang tidak lain kekasihnya ini tidak bisa diperlakukan kasar.
Jenar menundukkan kepala semakin dalam. Tubuhnya sedikit bergetar, ketakutan karena lelaki di hadapannya ini bak seseorang yang tengah murka. Dan bagi Jenar sendiri, ini adalah kali pertama ia diperlukan kasar oleh lelaki.
"A-aku minta maaf Bang. Aku tidak bermaksud untuk tidak menuruti kemauan Abang, namun aku...."
__ADS_1
"Namun kamu tidak bisa menolak karena dia mengendarai mobil untuk mengantarmu pulang? Dan karena dia naik mobil kamu merasa bangga dibandingkan diantar pulang oleh driver ojek online?"
Lagi-lagi Firman memangkas ucapan Jenar. Entah sudah berapa kali lelaki itu memotong ucapan sang kekasih. Hal itulah yang semakin menegaskan jika Firman tengah dikuasai oleh cemburu buta. Sedang Jenar semakin larut dalam rasa takut, rasa bersalah yang kian mendera. Meski gadis itu nampak ketakutan, nyatanya tetap tidak bisa menghentikan Firman yang memperlakukan Jenar dengan penuh intimidasi. Lelaki itu justru semakin menatap lekat netra Jenar dengan tatapan sinis.
"Apakah ini sebagai pertanda bahwa kamu adalah perempuan matre?"
.
.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Mohon maaf pendek dulu ya kak.. Masih banyak acara di tempat saudara.. InshaAllah setelah balik ke Jogja, rutin update lagi 😌😌
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺
Salam Love, love, love❤❤❤
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca
__ADS_1