
Selamat Membacaπππ
"Pak Wisnu masih di situ kan? Jangan tinggalin saya!"
Suara teriakan polos dari seorang gadis yang sedang berada di dalam bilik toilet, hanya membuat pria yang saat ini berdiri dan berjaga di depan pintu layaknya penjaga toilet hanya bisa terkikik geli. Ini sudah setengah jam gadis itu berada di dalam sana dan jika dihitung-hitung sudah dua puluh dua kali gadis itu meneriakkan dan mempertanyakan hal yang sama. Barang tentu untuk memastikan bahwa dirinya masih berada di tempat ini, menunggu sang gadis.
"Iya Jen, saya masih ada di sini. Apakah kamu masih lama berada di dalam sana?"
"Sebentar lagi ya Pak. Ini perut saya masih terasa mulas. Sepertinya saya benar-benar diare. Pak Wisnu tetap di situ ya. Saya takut."
"Iya Jen, iya. Saya tetap di sini."
Wisnu hanya bisa Menggeleng-gelengkan kepala mendengar permintaan Jenar ini. Nampaknya pertemuannya dengan sosok kuntilanak di gudang siang tadi benar-benar menyisakan trauma untuk gadis itu. Namun, Wisnu sedikit keheranan, setelah sekian lama pabrik ini berdiri, baru kali ini ada kasus penampakan makhluk tak kasat mata. Dan entah mengapa Jenar yang merupakan orang baru yang melihat penampakan itu.
"Loh, pak Bos mengapa ada di kamar mandi wanita?"
Kedatangan Kahar, berhasil menyadarkan Wisnu dari lamunannya. Pria itu hanya bisa tersenyum simpul ke arah security pabrik yang sudah bertahun-tahun bekerja di sini.
"Saya sedang menunggu Jenar, Pak. Dia sedang berada di dalam kamar mandi."
Dahi Kahar seketika mengerut. Lelaki itu sedikit terperangah tiada percaya mendengar perkataan Wisnu. "Menunggu neng Jenar?"
"Iya Pak, dia takut ke kamar mandi. Maka dari itu minta diantar."
Kahar hanya bisa tersenyum kikuk. Di dalam hati, security itu benar-benar terkejut dengan sikap bos nya ini. Ia berpikir se istimewa apa gadis belia bernama Jenar ini, sampai-sampai membuat orang nomor satu di perusahaan ini bersedia untuk mengantarkannya ke kamar mandi dan menunggunya hingga selesai membuang hajat. Sungguh sangat menarik untuk dikupas dan dicari jawabannya.
Apakah mungkin Pak Wisnu jatuh cinta kepada neng Jenar? Sampai-sampai membuatnya bersikap manis seperti ini? Manis? Iya, bagiku sikap manis tidak hanya ditampakkan melalui kata-kata cinta ataupun lewat bunga. Menunggu seorang gadis yang sedang membuang hajat justru terlihat semakin manis. Karena itu artinya lelaki itu bisa menerima keadaan si gadis apa adanya bahkan dalam kondisi bau sekalipun. Astaga Kahar, kamu ini bicara apa? Sungguh sudah melantur sampai mana-mana.
"Pak, pak Kahar? Mengapa malah bengong sendiri?"
__ADS_1
Wisnu melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Kahar. Ia sedikit keheranan karena security ini malah larut dalam lamunannya.
"Ah, tidak apa-apa Pak. Saya hanya terkesima dengan sikap pak Bos ini. Rasa-rasanya sangat manis. Terlebih pak Bos lakukan untuk gadis cantik seperti neng Jenar."
Kini giliran Wisnu yang tergelak. Perkataan Kahar terdengar sedikit menggelitik telinga. "Manis bagaimana sih Pak. Ini hanya perkara biasa."
"Ya sudah, silakan dilanjutkan pak Bos. Saya berkeliling dulu untuk memastikan keamanan pabrik ini."
Dengan sopan, Kahar berpamitan kepada bosnya ini. Namun baru beberapa langkah ia mengayunkan kakinya...
"Pak tunggu!"
Kahar berbalik arah dan kembali merapat ke tubuh Wisnu. "Ada apa Pak? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Pak, tolong besok hari Minggu, gudang belakang pabrik dibersihkan dan dirapikan ya. Kalau perlu cari tukang sekalian untuk membongkar gudang itu. Mungkin bisa dijadikan taman belakang."
"Dijadikan taman? Pak Bos serius?"
"Iya Pak. Daripada terbengkalai dan tidak terpakai, lebih baik dijadikan taman saja. Bisa dijadikan tempat untuk melepas penat para karyawan saat jam istirahat."
Kahar hanya mengangguk patuh. Ia percaya jika apa yang menjadi rencana bos nya ini merupakan rencana terbaik untuk perusahaan sendiri. "Baiklah Pak Bos, nanti akan saya carikan tukang untuk membongkar gudang dan menjadikannya taman."
"Terima kasih Pak."
Kahar kembali mengayunkan kakinya untuk berkeliling dan berjaga untuk memastikan keamanan pabrik. Tak selang lama terdengar suara kenop pintu yang diputar dan setelahnya keluar seorang gadis yang sudah setengah jam lebih berada di kamar mandi.
"Haduh ... sepertinya saya memang diare. Saya baru ingat kalau tidak bisa makan makanan terlalu pedas. Dan seperti ini hasilnya."
Jenar menyenderkan punggungnya di dinding kamar mandi. Berkali-kali ia membuang nafas lega. Lega karena pada akhirnya, acara jongkok di kamar mandi telah usai. Jika sampai setengah jam jongkok di atas closet, rasa-rasanya ia ingin memakai closet duduk saja meski sebenarnya ia lebih nyaman jika menggunakan closet jongkok. Namun tiga puluh menit jongkok di kamar mandi, sudah cukup membuat kaki Jenar terasa pegal. Beruntung tidak sampai kram.
"Sudah saya bilang bukan, lebih baik tidak kamu habiskan seblak itu Jen. Tapi kamu masih ngeyel. Jadinya seperti ini kan?"
__ADS_1
Wisnu sedikit gemas melihat raut wajah Jenar yang justru terlihat semakin memesona ini. Apalagi saat gadis itu menyeka bulir-bulir keringat yang menetes di dahinya. Ingin sekali rasanya ia yang menyeka. Namun Wisnu sudah cukup sadar diri siapalah dirinya ini.
"Issshh ... ishhhh ... ishhhh ... sudah saya katakan mubazir kan Pak kalau tidak dihabiskan? Ayah pernah berpesan, jangan pernah membuang-buang makanan dan apa yang kita makan harus dihabiskan tanpa sisa, karena bisa jadi keberkahan makanan baru kita dapatkan di akhir suapan makanan yang masuk ke dalam mulut kita."
"Namun, jika sampai diare seperti ini, bukan keberkahan yang kamu dapatkan kan Jen? Kamu malah mendapatkan kesialan?"
Jenar hanya berdecak lirih mendengar ucapan Wisnu. Mana bisa diare yang menyerangnya dianggap sebagai kesialan. Padahal ketika manusia diberikan jatah sakit, sakit itu bisa menjadi perantara untuk menggugurkan dosa, selama ia selalu bersabar dan beristighfar.
"Pak, tidak ada kesialan dalam hidup ini, yang ada hanyalah berbeda dari ekspektasi. Lagipula diare ini tidak saya anggap sebagai kesialan. Ini salah satu peringatan agar saya lebih berhati-hati dalam memakan makanan."
"Hmmmm ... baik, baik, baik. Lalu setelah ini kamu mau bagaimana? Apakah kamu masih ingin menunggu kekasihmu?"
Kala Jenar memikirkan ucapan Wisnu, lagi-lagi perut gadis itu terasa melilit. Nampaknya, sesuatu yang berada di dalam perutnya ingin keluar lagi. Gadis itupun hanya bisa meringis.
"Pak, tungguin saya lagi ya. Sepertinya saya ingin...."
Sudah tidak tahan untuk menahan gejolak perutnya, gegas Jenar kembali mengambil langkah kaki lebar untuk memasuki salah satu bilik kamar mandi. Sedangkan Wisnu, lagi-lagi lelaki itu hanya bisa terperangah, menggelengkan kepala lirih dan memijit-mijit pelipisnya.
"Ya Tuhan, apakah ini dapat diartikan pacaran di kamar mandi?"
.
.
πππππ
Lanjut nanti lagi ya Kak... Hihihihihi... Kapan sih Thor, kelakuan Firman bisa terbongkar? Hehehehe sabar ya Kak.. Semua pasti akan terbongkar kok... Tapi sabar dulu ya... πππ
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... βΊβΊ
Salam Love, love, loveβ€β€β€
__ADS_1
πΉTetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca