
Selamat membacaπππ
"Yakin, bahwa saya tidak memiliki bukti-bukti otentik kecurangan yang Bapak lakukan? Di dalam ponsel ini sudah terdapat video, foto, dan rekaman suara yang kelak bisa menjadi barang bukti. Pertama, Video Anda bersama driver mobil box itu. Kedua, foto rol-rol kain yang masih berada di dalam box mobil. Dan yang ketiga adalah rekaman pengakuan Anda sendiri atas kecurangan yang Anda lakukan."
Bak mendengar petir di siang hari. Kilat yang menyambar batang pepohonan tinggi dan juga angin ribut yang melanda rumah-rumah penduduk bumi, Arya begitu terkejut kala bibir gadis itu melisankan bukti demi bukti yang bisa menjadi sebuah kunci. Kunci untuk membongkar kebusukan yang telah bertahun-tahun ia tutupi dan kini seakan hilang dan musnah hanya karena strategi yang kurang hati-hati.
Ya, Arya memang kurang hati-hati dalam berucap. Hingga mungkin hanya menyisakan sebuah kehancuran yang akan akan ia sesap. Tubuh yang sebelumnya berdiri tegap penuh rasa percaya diri bahwa permainannya ini tidak akan terbongkar, kini justru melemparkannya ke dasar jurang yang menganga lebar. Mungkin saat hal itu ia alami, tidak ada lagi yang membuatnya kembali berdiri tegar. Karena semua yang ia genggam, satu per satu akan memudar. Hal ini juga membuat kita tersadar bahwa sesuatu yang kita dapatkan dengan cara yang tidak wajar bahkan cenderung merampas apa yang menjadi milik orang lain, tentunya tidak akan lama bertahan.
"Dasar gadis kurang ajar!"
Arya mengayunkan langkah kakinya untuk lebih dekat dengan Jenar. Tangan kokoh lelaki itu mengintai ponsel yang berada di dalam genggaman tangan sang gadis. Berharap, ia dapat merebutnya, ia lempar dan kemudian ia injak-injak tanpa bersisa selain hanya tersisa kepingan-kepingan ponsel yang telah remuk redam.
Dengan sigap, Jenar menghalau pergerakan Arya dengan sebuah gerakan yang begitu membuat lelaki itu tercengang dan otot-otot di sekujur tubuhnya menegang. Perlahan, lelaki itu bisa merasakan sensasi rasa nyeri kemudian tubuhnya tumbang. Dengan pekikan suara yang terdengar lantang.
Dug!!! Auuuhhhhhh...
Tanpa ampun, Jenar menendang pusat inti dari keperkasaan seorang laki-laki. Akibat tendangan itu, membuat Arya hanya bisa meringis kesakitan seakan ingin mati saja. Bagaimana tidak ingin mati jika pusaka paling berharga yang ia punya diperlakukan seperti ini? Ditendang tanpa kata ampun.
"Awas saja jika Anda berani terhadap saya. Meski saya ini seorang wanita, namun jika hanya untuk membuat Anda tumbang saja hanyalah pekerjaan yang sangat mudah."
__ADS_1
Arya sungguh tidak menyangka jika gadis yang ia hadapi ini merupakan salah satu gadis pemberani. Ia terkesan tidak takut sama sekali meski berhadapan langsung dengan seorang laki-laki.
"Sekarang, mari ikut saya. Kita ke ruang pak Wisnu dan segeralah untuk membuat pengakuan. Saya pastikan, setelah ini Anda akan dipenjara, untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan Anda."
Mendengar kata penjara, mendadak tubuh Arya dilumuri oleh perasaan takut dan kalut. Lelaki itu tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya tinggal di balik jeruji besi di mana dinding-dindingnya terasa dingin. Lantai yang merupakan alas untuk berbaring juga hanya membuat nyeri dan belum lagi tingkah laku para napi yang terkadang di luar kendali. Nyali Arya benar-benar menciut dan ingin rasanya segera melarikan diri.
Masih dalam posisi terkapar di lantai, ekor mata Arya menyapu ke seluruh penjuru. Ia menyaksikan bahwa keadaan saat ini begitu aman untuk melarikan diri. Rasa nyeri yang terasa menghujam senjata pamungkas miliknya seakan membuat lelaki itu tiada berdaya sama sekali. Melihat Jenar sedikit lengah, dengan susah payah Arya bangkit dan mulai mengambil langkah kaki seribu untuk melarikan diri.
Jenar lah yang saat ini terkesiap. Ternyata Arya memakai titik ketidakfokusannya untuk bangkit dan melarikan diri. Gadis itu pun hanya bisa membuang nafas kasar dan sedikit mengacak rambutnya frustrasi.
"Dasar Jenar, sudah dibilangin kalau terlalu berbangga diri itu tidaklah baik. Eh, kamunya malah melakukan hal itu. Kamu santai-santai pada saat pak Arya lemah dan akhirnya lepas juga kan? Hah, setelah ini kamu mau bagaimana?"
Jenar hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri sembari bermonolog lirih. Satu hal yang bisa dipetik ya kakak-kakak semua, terlalu mudah berbangga diri memanglah salah satu hal yang kurang baik. Karena bisa jadi dengan kita mudah untuk berbangga diri, barangkali kita justru lengah akan kemungkinan-kemungkinan yang merugikan kita.
πππππ
Jenar menunjukkan file yang berisikan video, foto, dan rekaman yang baru saja ia dapat di hadapan Wisnu dan Bima. Keduanya fokus dengan apa yang ditunjukkan oleh Jenar itu dan seketika pimpinan dan sang asisten tersenyum sumringah sebagai pertanda bahwa mereka begitu puas dengan hasil kerja Jenar.
"Hebat kamu Jen. Aku benar-benar tidak salah telah memintamu untuk menjadi tim pengintai. Dengan bukti-bukti ini, aku yakin, bisa menyeret lelaki itu ke dalam penjara."
"Seharusnya, saat ini pak Arya bisa tertangkap Pak. Saya tadi sempat menendang 'anu' nya sehingga membuat pak Arya terkapar di lantai dan kesakitan. Namun sayangnya ia bisa meloloskan diri."
__ADS_1
"Apa Jen? Kamu menendang 'anu'nya? Anunya itu apa? Saya tidak paham."
Tidak tertarik dengan Arya yang berhasil melarikan diri, Wisnu justru tertarik akan 'anu' yang dibicarakan oleh Jenar. Ia sedikit tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh gadis ini.
"Itu Pak!" Jenar hanya menunjuk ke arah celana Wisnu dan diiringi dengan Wisnu yang melirik ke arah senjata pamungkas yang menjadi miliknya.
"Astaga, kamu berani menendang milik pak Arya, Jen?"
Jenar hanya mengangguk pelan. "Iya Pak. Ayah saya pernah memberi tahu, seandainya saya berada di dalam bahaya, dan jika berhubungan dengan laki-laki, maka saya harus menendang 'anunya'. Karena dengan begitu, ia bisa terkapar tiada berdaya."
Wisnu terkejut dong saat mendengar perkataan ini. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja pikiran Wisnu melanglang buana jauh sekali.
Ya Tuhan, gadis ini berani sekali melukai milik orang lain. Kira-kira besok ketika Jenar telah memiliki seorang suami, akan ganas juga tidak ya? Ah, aku semakin merasa ngeri. Bagaimana besok ketika di ranjang Jenar juga melakukan hal ganas seperti itu kepadaku? Astaga Wisnu, pikiranmu sudah sangat jauh sekali. Lagipula, yakin sekali kalau Jenar ini akan menjadi istrimu.
Lagi, dua sisi batin Wisnu berperang tiada terkendali. Duda itupun hanya geleng-geleng kepala dengan raut wajah yang tiada terbaca.
"Bim, segera buat laporan kepada pihak yang berwajib. Setelah itu kita sergap kediaman Arya ramai-ramai."
"Baik Tuan."
.
__ADS_1
.
ππππππ