
Selamat Membaca😘😘
"Huhh ... haaahhh .... ssshhhhh ....!!"
Slruuppppppp...
"Hhhmmmmm ... ssshhhh ... aahhhh..."
Des*ahan demi de*sahan terdengar menguar memenuhi tiap sudut ruangan Wisnu. De*sahan yang bukan menggambarkan sepasang suami-istri yang tengah mereguk manis madu bercinta, namun sebuah de*sahan yang menjadi ekspresi seseorang yang tengah kepedasan. Siapa lagi orang itu jika bukan Jenar. Di antara ketiga orang yang berkumpul di ruangan Wisnu, ekspresi kepedasan Jenar lah yang terdengar paling heboh. Nampaknya gadis itu masih berupaya keras untuk menaklukkan sensasi rasa pedas yang terasa membakar rongga mulutnya itu.
Setelah mendapat todongan traktiran seblak dari Bima dan Jenar, pada akhirnya Wisnu mengiyakan apa yang menjadi kemauan dua orang itu. Dan setelah jam pulang kerja, ketiga orang itu tetap stay di ruangan Wisnu untuk mengeksekusi seblak yang mereka pesan via go-food.
Wisnu dan Bima saling melempar pandangan. Kedua lelaki itu sama-sama terkikik geli melihat wajah Jenar yang sudah dipenuhi oleh bulir-bulir keringat. Persis seseorang yang baru saja selesai melakukan senam aerobik saja.
"Kalau sudah tidak kuat kepedasan, lebih baik kamu menyerah Jen!"
Wisnu mencoba untuk memberikan sebuah usulan kepada gadis ini agar berhenti memakan seblak ini. Rasa-rasanya sangat tidak tega melihat wajah Jenar yang sudah memerah dan dipenuhi oleh keringat. Bukan hanya itu saja, Wisnu juga khawatir akibat kepedasan gadis itu terserang diare. Siapa tahu, perut gadis belia ini tidak kuat untuk menerima makanan pedas bukan?
Masih mengeluarkan suara de*sahan-de*sahan, Jenar menggelengkan kepala. Ia masih intens menikmati makaroni dan ceker ayam yang ada di menu seblak pesanannya ini.
"Sshhhh ... huuhhh .... haaahhh ... Tidak Pak. Ini teramat sayang jika tidak dihabiskan. Namanya mubadzir Pak. Bisa jadi orang-orang di luar sana menginginkan makanan seperti ini namun tidak kesampaian karena keterbatasan. Maka dari itu harus saya habiskan."
"Tapi saya khawatir kalau sampai perut kamu sakit Jen. Bisa saja setelah ini kamu bolak balik kamar mandi karena diare. Sudahlah, berhenti saja jika kamu tidak kuat!"
Entah mengapa tiba-tiba Wisnu dihinggapi oleh rasa cemas yang berlebihan. Mengingat Jenar di kota ini sebagai perantau dan jauh dari keluarga, membuat Wisnu tidak tega jika Jenar sampai jatuh sakit.
__ADS_1
"Tenang pak Wisnu. Saya masih sanggup untuk menghabiskannya."
"Hahahaha, biarkan saja Tuan. Jenar sepertinya masih ingin menghabiskan seblak ini hingga tandas tanpa bekas." Bima melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Jen, kamu tidak pulang? Ini sudah mau menjelang maghrib. Apakah kamu masih menunggu kekasihnmu?"
Jenar yang sibuk dengan aktivitas mengunyah, ia hentikan seketika. Gegas ia mengambil ponsel dari dalam tas dan melihat penunjuk waktu yang ada di sana. Benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam. Dan sampai saat ini, Firman pun tidak memberikan kabar sama sekali.
"Iya Pak, saya memang masih menunggu bang Firman. Semoga sebentar lagi dia sampai. Mungkin jalanan tengah macet, sehingga membuatnya terlambat untuk menjemput saya."
"Hmmm ... kamu masih setia dengan lelaki itu Jen? Padahal aku merasa dia tidak sebaik yang kamu kira."
"Oh ya? Mengapa Pak Bima bisa menyimpulkan hal semacam itu?"
"Entahlah. Itu hanya menurut pandanganku saja. Dan kenyataannya sudah berkali-kali bukan lelaki itu batal menjemput kamu. Dan membiarkanmu pulang sendirian?"
Jenar memasukkan kemasan seblak yang ia makan ke dalam kantong plastik setelah berhasil ia taklukkan. Gadis itu hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Bima ini.
Bima hanya tersenyum tipis. Sejatinya lelaki itu prihatin melihat gadis sebaik dan setulus Jenar malah memiliki seorang kekasih yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Namun hanya bisa ia tahan untuk tidak terlalu dalam ikut campur perihal kehidupan pribadi Jenar. Bima sampai berpikir, seharusnya lelaki yang menjadi kekasih Jenar harus banyak bersyukur. Karena di mata Bima sendiri, gadis sebaik, sesupel, dan setulus Jenar ini sudah sangat jarang ditemui. Namun, lagi-lagi yang terjadi sebaliknya. Firman yang tak lain adalah kekasih Jenar justru lebih sering berbuat semaunya sendiri.
"Ya, aku hanya bisa mendoakan semoga di depan nanti kamu tidak dikecewakan oleh kekasihmu itu Jen. Namun jika kamu takut untuk kecewa, lebih baik kamu lepaskan saja. Masih banyak lelaki baik yang ada di dunia ini. Termasuk...."
Bima menjeda ucapannya seraya melirik ke arah Wisnu sembari mengeringkan mata. Sedangkan Wisnu hanya dibuat terperangah dengan kerlingan mata asistennya ini. Ia justru merasa geli sendiri mendapati Bima yang terkesan seperti wanita penggoda ini.
"Apa Bim? Mengapa kamu malah bermain mata denganku? Jangan coba-coba menggodaku ya. Aku masih normal dan masih tertarik dengan wanita."
"Hahahaha.... Anda terlalu percaya diri Tuan. Saya juga mana mau dengan Tuan. Lebih baik sama Jenar."
Wisnu menjitak kening asistennya ini. Hingga membuat lelaki itu meringis, menahan sensasi rasa nyeri. Sedangkan Jenar, raut wajah gadis itu terlihat sedikit berbeda. Kedua bola mata gadis itu menyipit kala merasakan perutnya sedikit melilit. Hal itulah yang membuat Bima dan Wisnu sama-sama terkesiap.
__ADS_1
"Ada apa Jen? Mengapa tiba-tiba wajah kamu seperti itu?"
"Pak, saya ingin ke kamar mandi. Bolehlah pak Wisnu atau pak Bima mengantar saya? Saya takut."
Pertemuannya dengan mbak Kunti, membuatnya sampai saat ini masih ketakutan. Oleh karenanya, ia memberanikan diri untuk meminta Wisnu ataupun Bima mengantarkannya ke kamar mandi.
"Biarkan pak Wisnu yang mengantarkanmu Jen. Beliau pasti akan menjaga kamu ketika berada di kamar mandi." Bima menjeda sejenak ucapannya dan melirik ke arah Wisnu. "Benar begitu kan Pak?"
Wisnu yang mendengarkan semua perkataan Bima hanya bisa tertawa dalam hati. Sepertinya asistennya ini sengaja untuk bisa mendekatkan dirinya dengan Jenar. Namun, tidaklah masalah bagi Wisnu sendiri. Karena hal itulah yang diinginkan oleh Wisnu. Dengan begitu, ia bisa lebih dekat dengan salah satu karyawan magangnya ini.
"Mari saya antar ke kamar mandi Jen. Saya pastikan kamu akan aman dan nyaman berada di sana."
"Terima kasih Pak."
Jenar bangkit dari posisi duduknya. Sudah begitu tidak tahan, gadis itupun sedikit berlari untuk bisa segera tiba di kamar mandi, diikuti oleh Wisnu di belakangnya. Kini bisa kita lihat bagaimana sang pemimpin perusahaan mengantarkan karyawannya untuk menongkrong di kamar mandi. Mungkin baru kali ini terjadi dan itu hanya ada di tulisan recehnya Rasti. Hihihihi hihihihi...
.
.
🍁🍁🍁🍁
Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺
Salam Love, love, love❤❤❤
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca
__ADS_1