Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 25 : Pemilik Id Card


__ADS_3


Selamat Membaca😘😘😘


Langkah Jenar terhenti kala jejak kaki yang berbalut flatshoes itu mengantarkannya tiba di rooftop perusahaan. Sebuah tempat yang berada di paling puncak yang ia ketahui dari salah satu office boy yang bekerja di tempat ini. Kata office boy itu area rooftop memang menjadi area yang paling diincar oleh para pekerja terlebih di saat jam istirahat seperti ini. Maka dari itu, tanpa banyak berpikir, ia mengayunkan kakinya untuk menuju tempat ini.


Hembusan sang bayu terasa begitu kencang menerpa wajahnya. Dari tempatnya berdiri saat ini nampak jelas gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dengan hiasan awan putih yang bergerombol membentuk bulu-bulu domba dan juga seberkas terik sinar matahari yang terpancar menembus awan-awan. Pemandangan yang tersaji layaknya goresan tinta keindahan sang Pencipta di atas kanvas kehidupan. Siapapun yang melihatnya, pastinya akan terkesima seketika.


Jenar menghirup udara dalam-dalam seraya memejamkan mata. Ia nikmati betul suasana siang hari ini. Pikirannya kembali menerawang, teringat akan percakapan yang ia lakukan bersama pimpinan perusahaan beberapa saat yang lalu.


"Mulai hari ini, Anda bekerja tidak di bagian produksi, namun menjadi sekretaris pribadi saya."


Ucapan Wisnu sukses membuat Jenar kalut setengah mati. Posisi sekretaris, merupakan salah satu posisi yang diimpi-impikan para calon pekerja di luar sana. Jenar merasa akan sangat menguntungkan bagi dirinya sendiri jika menerima posisi itu. Namun, ia sendiri masih belum mampu dan belum pantas untuk menduduki posisi itu.


"Jangan melamun di tempat ini. Banyak yang kesurupan ketika menyendiri dan melamun di tempat ini."


Suara seseorang yang tiba-tiba hadir, sukses membuat tubuh Jenar terkejut setengah mati. Ia menoleh ke arah sumber suara dan terlihat, Wisnu sudah berada di sampingnya.


"Pak Wisnu?"


Dua cup bobba yang ada ditangannya, satu ia ulurkan ke arah Jenar. "Untukmu!"


Dahi Jenar sedikit mengerut. "Untuk saya?"


"Apakah perkataan saya kurang jelas?"


"Terima kasih Pak."


Pada akhirnya, Jenar menerima bobba pemberian Wisnu. Perlahan, mulai ia seruput kenikmatan bobba itu melalui sedotan yang masuk ke dalam mulutnya. Menyegarkan. Itulah yang dirasakan oleh Jenar kala tetes demi tetes bobba itu mengalir dan membasahi kerongkongannya.


"Jadi bagaimana dengan tawaran saya? Apakah kamu setuju untuk menjadi sekretaris pribadi saya?"


Jenar kembali disergap oleh rasa kalut. Ingin rasanya ia menganggukkan kepala namun ia merasa masih perlu banyak pertimbangan.


"Saya rasa sangat tidak pantas jika saya langsung menempati posisi sekretaris pribadi pak Wisnu. Saya hanya peserta magang, jadi seharusnya posisi saya bukan di sana."


"Meski kamu sebagai peserta magang, namun tidak ada salahnya jika kamu menempati posisi itu. Saya rasa kamu pantas menempatinya."


Jenar tetap menggelengkan kepala. "Tidak Pak. Tetap tempatkan saya di mana seharusnya saya berada. Yaitu di bagian produksi."


Wisnu hanya bisa membuang nafas sedikit kasar. Nampaknya gadis ini memang tidak mudah untuk dibujuk. "Baiklah. Akan saya pantau kamu tiga bulan ke depan. Jika pekerjaan kamu memang memuaskan, maka saya akan langsung memintamu untuk menjadi sekretaris pribadi saya. Bagaimana? Deal ya?"


Wisnu menjulurkan tangannya. Sedangkan Jenar masih saja menimbang-nimbang tawaran Wisnu ini. Namun pada akhirnya, ia menjabat tangan Wisnu. Waktu tiga bulan ia rasa waktu yang tidak terlalu buruk bagi seorang pimpinan untuk memberikan penilaian terhadap pekerjanya.


"Baik Pak. Deal."


Keduanya mulai larut dalam sebuah obralan ringan hingga percakapan mereka terpangkas kala dering ponsel milik Jenar mulai terdengar menggema di telinga.


Jenar sedikit menjauh dari tubuh Wisnu. Ia angkat telepon dari seseorang yang sudah begitu ia rindukan itu.

__ADS_1


"Hallo Bang!"


"..... "


"Iya baru kemarin aku tiba di sini. Abang bagaimana? Mengapa baru hari ini ban Firman menghubungiku?"


"...."


"Oh seperti itu? Ya sudah, tidak apa-apa Bang."


"...."


Wajah Jenar seketika berbinar. "Apa? Ketemuan? Bisa Bang, bisa. Kapan itu Bang?"


"....."


"Baik Bang. Nanti aku shareloc ya."


"...."


"Oke Bang. Bang Firman hati-hati ya."


"...."


Mendadak pipi Jenar bersemu merah. Ia sedikit menundukkan wajah karena tersipu malu. "Love you too Bang!"


"Kekasih kamu?" tanya Wisnu setelah menandaskan satu cup bobba tanpa bekas. Dan hanya tersisa kemasannya saja.


Dengan malu-malu, Jenar menganggukkan kepala. "Iya Pak, calon suami saya."


Wisnu mengangguk lirih. "Oh, calon suami? Selamat ya, semoga diberikan kelancaran sampai tiba hari H. Kalau begitu, saya duluan."


"Baik Pak, terima kasih untuk bobba nya."


Senyum tipis terbit di bibir Wisnu sembari ia langkahkan kakinya dengan gontai. Ia meninggalkan Jenar yang masih berdiri di tempat rooftop ini. Entah apa yang sedang terjadi dengan hatinya. Namun saat gadis itu mengucapkan kata calon suami, jantungnya seakan berdenyut nyeri.


Tidak seharusnya aku merasakan seperti ini mengingat ia sudah memiliki calon suami. Namun mau bagaimana lagi jika kehadirannya benar-benar telah mengusik ketentraman batinku sejak kejadian itu. Hah, Wisnu!!! Bangunlah! Ingat, dia sudah memiliki calon suami. Ingat itu, ingat!!


🍁🍁🍁🍁🍁


"Papa!!!"


Raga Wisnu yang terasa begitu lelah setelah berkutat dengan segala kesibukan yang ada di kantor, mendadak musnah kala sang putri menyambut kepulangannya dengan raut wajah yang sumringah. Gadis kecil itu terlihat berlari kecil untuk dapat segera memeluk tubuh sang papa.


"Apakah putri Papa ini sudah mandi?"


Citra menganggukkan kepala. "Sudah dong Pa. Apakah Papa tidak mencium badan Citra yang sudah wangi seperti ini?"


Wisnu tergelak lirih. Ia angkat tubuh kecil Citra untuk ia bawa ke dalam gendongannya. "Aaahhh iya, ternyata putri Papa ini sudah wangi. Dan apakah Citra sudah makan?"

__ADS_1


"Belum Pa. Citra mau makan bareng Papa," jawab gadis kecil itu seraya meletakkan kepalanya di dada bidang sang Papa.


"Baiklah, Papa bersih-bersih badan terlebih dahulu setelah itu kita makan ya Sayang?"


"Oke Pa!"


"Tadi belajar apa saja di sekolah Sayang?" tanya Wisnu sembari mengayunkan kakinya untuk memasuki area dalam rumah.


"Tadi hanya menyanyi Pa. Kata bu guru, sebentar lagi akan diadakan acara tutup tahun. Dan setelah itu Citra libur panjang."


Wisnu nampak mengangguk-anggukkan kepala. Ia baru ingat jika ia memasukkan Citra ke sekolah menjelang akhir tahun ajaran. Tidak mengherankan jika setelah ini sang putri libur panjang.


"Biar Citra tidak bosan, besok ketika libur panjang, sesekali Citra ikut Papa ke kantor ya."


Bibir Citra menganga lebar seakan tiada percaya. "Boleh Pa?"


"Tentu boleh Sayang. Besok Papa ajak ke kantor Papa."


"Asyiikkk!!!"


Wisnu hanya terkekeh geli melihat putrinya yang begitu kegirangan ini. Hingga dahinya sedikit mengernyit kala melihat sesuatu yang menggantung di leher sang putri.


Wisnu dudukkan bokongnya di atas sofa kala melintas di ruang tengah. Pastinya sembari memangku putrinya ini.


"Sayang, ini apa?" Wisnu bertanya saat melihat ada semacam id card yang menggantung di leher sang putri.


Citra melepas id card yang ia kalungkan di lehernya. "Ini milik kakak cantik yang tadi menolong Citra untuk berangkat ke sekolah, Pa."


"Menolong? Menolong bagaimana Sayang?"


"Tadi sewaktu Pak Kasim mengantar Citra ke sekolah, mobil yang dikemudikan oleh Pak Kasim mogok di tepi jalan. Setelah itu ada kakak cantik yang menolong Citra untuk bisa sampai ke sekolah."


Deg.. Deg.. Deg...


Jantung Wisnu berdetak tiada beraturan. Ucapan sang putri seketika mengingatkannya pada penjelasan yang diucapkan oleh Jenar ketika terlambat tiba di kantor. Buru-buru ia lihat dengan seksama pemilik id card ini. Wisnu membelalakkan mata seakan tiada percaya bahwa salah satu peserta magang lah yang menolong putrinya ini. Dan jantung Wisnu kian berdegup kencang tiada terkendali kala membaca kata yang terangkai sehingga membentuk sebuah nama Jenar Budhiani Candrakanti.


Ya Tuhan, lagi-lagi kejadian demi kejadian yang aku alami berhubungan langsung dengan gadis itu. Pertanda apakah ini Tuhan?


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca

__ADS_1


__ADS_2