Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 77 : Kejutan?


__ADS_3


Selamat Membaca 😘😘😘😘


"Ayah ... Bunda...!!!"


Pekikan suara Jenar terdengar nyaring di telinga tatkala sorot matanya menangkap dua sosok paruh baya yang teramat ia rindukan berjalan memasuki halaman.


"Jenar ku!!!"


Tak mau kalah dari sang putri, Rukmana juga memekik kegirangan tatkala gadis yang ia rindukan berdiri di depan teras. Wanita paruh baya itu menghempaskan tas pakaian yang ia genggam hingga terjatuh di tanah. Gegas, ia berlari kecil ke arah Jenar yang juga tengah berlari ke arahnya. (Adegan ini seperti adegan Cinta dan Rangga waktu di bandara ketika akan berpisah ya Kak.. Bedanya kalau ini adegan antara ibu dan anak, hihihihi)


Keduanya saling berpeluk, menenggelamkan tubuh masing-masing ke dalam hangatnya dekapan untuk mengikis segala kerinduan. Meski belum ada dua bulan berpisah, namun bagi keduanya sudah seperti satu tahun tiada bersua.


"MashaAllah ... ternyata kamu bahagia Jen, tinggal jauh dari Bunda?"


Ucapan Rukmana yang terdengar sedikit frontal membuat Jenar terperangah seketika. Mana ada seorang anak gadis yang jauh dari keluarganya hidup bahagia? Meski terlihat bahagia namun pastinya hanya sebagai kamuflase bukan? Di dalam hati, ia pasti juga merasa tersiksa karena terbelenggu oleh rindu.


"Maksud Bunda bagaimana? Kok bisa mengatakan bahwa Jenar bahagia?"


Wanita paruh baya itu sedikit mengurai pelukannya dan kemudian menatap wajah sang putri dengan intens. "Lihatlah, tubuh kamu nampak berisi dan jauh terlihat lebih segar, Jen. Kata orang, jika seorang anak tinggal jauh dari orang tuanya dan tubuh si anak itu terlihat jauh lebih berisi, itu pertanda dia bahagia. Maka dari itu, Bunda berpikir kamu jauh lebih bahagia ketika jauh dari Bunda."


"Astaga Bunda .... mana ada Jenar bahagia ketika berjauhan dari ayah dan Bunda? Yang ada Jenar setiap hari merindukan kalian."


"Tapi badan kamu nampak lebih berisi Jen."


Jenar hanya terkikik geli mendengar alasan sang Bunda. Masa hanya karena terlihat sedikit berisi bisa disimpulkan ia bahagia jauh dari orang tuanya.


"Badan Jenar nampak jauh lebih berisi bukan karena bahagia, Bunda. Itu karena selalu ada yang mengirimkan makanan untuk Jenar."


"Mengirimkan makanan untukmu? Maksud kamu Firman?"


Rasa kikuk tetiba bergelayut manja di dasar hati Jenar. Karena sejatinya bukan Firman yang sering mengirimkannya makanan, melainkan pimpinan perusahaan. Hampir setiap malam, bos perusahaannya itu mengirimkan makanan via gofood, entah martabak, entah seblak, entah siomay, entah batagor dan pastinya tidak hanya untuk ia seorang, namun juga untuk para penghuni kontrakan.


Sehingga di mata teman-teman Jenar, keberadaan Jenar ini bisa dikatakan sebagai pembawa berkah. Belum lagi di saat jam istirahat siang. Wisnu juga kerap kali menitipkan thaitea, bobba, es oyen, es doger kepada Kahar untuk diberikan kepada Jenar. Tidak mengherankan bukan jika selama berada jauh dari Sutha dan Rukmana, badannya nampak berisi?


"Emmmmm ... eh Ayah .... ya ampun, Jenar sampai lupa belum memeluk ayah!"


Pada akhirnya, Jenar mengalihkan topik pembicaraan. Ia tidak ingin mengatakan apapun perihal Wisnu kepada sang Bunda karena ia takut jika akan memunculkan kesalahpahaman. Terlebih, di sini juga ada Sutopo yang tak lain adalah ayah Firman.


"Ahhh ... anak Ayah ternyata dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Ayah senang melihatnya Sayang."


"Tentu Ayah. Karena Jenar harus pandai menjaga diri agar tidak membuat Ayah dan Bunda khawatir."


Jenar memeluk erat tubuh tegap Sutha, seakan menumpahkan segala kerinduan yang terasa meletup-letup di dalam dada. Rasa rindu yang teramat besar untuk cinta pertamanya. Ya, bagi anak gadis, sampai kapanpun sang ayah tetaplah menjadi cinta pertama bukan?


"Bagaimana pekerjaanmu Nak? Lancar? Apakah orang-orang di tempatmu bekerja memperlakukanmu dengan baik?"


"Semua lancar, Ayah. Dan di sana Jenar juga diperlakukan secara baik. Bahkan sangat baik terlebih ...."


Jenar kembali memangkas perkataannya ketika nama Wisnu hampir terucap. Ia tersadar jika di sini ada Sutopo sehingga tidak etis jika ia membicarakan lelaki lain di hadapan calon mertuanya ini.

__ADS_1


"Terlebih apa Nak?"


Sutha menaruh sedikit rasa curiga karena sedari tadi Jenar memangkas ucapannya. Ia merasa ada hal lain yang tengah dirasakan oleh putrinya ini. Namun, ia sendiri pun tidak tahu, apa itu.


"Ah, maksud Jenar, terlebih dua security yang ada di kantor, Yah. Mereka baik sekali bahkan sering menemani Jenar main remi, hihihihi."


Pada akhirnya Kahar dan Komar lah yang dijadikan tumbal untuk menyembunyikan nama Wisnu. Karena sejatinya Wisnu lah yang Jenar maksud selalu memperlakukannya dengan baik.


"Hahaha kamu ini. Tidak di rumah, tidak di sini ternyata kamu tidak lupa untuk bermain remi?"


Jenar hanya tergelak sembari menganggukkan kepala. Ia menoleh ke arah Sutopo dan kemudian menunduk takdzim untuk bersalaman dan mencium punggung tangan calon mertuanya ini.


"Apa kabar Om?"


"Kabar Om baik Jen. Kamu dan Firman bagaimana? Baik-baik saja kan?"


Jenar tersenyum kikuk kala mendengar Sutopo menanyakan kabar Firman. Sejatinya keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja karena di saat terakhir mereka bertemu di mall, mereka sempat terlibat cek-cok. Namun Jenar berupaya untuk menutupinya.


"Baik Om. Namun untuk beberapa hari ini Jenar memang sengaja tidak berkomunikasi dengan bang Firman karena Jenar ingin memberinya kejutan tepat di hari ulang tahunnya."


Sutopo mengangguk-anggukkan kepala. "Ide bagus itu Jen. Nanti malam tepat jam dua belas, kita ke kos Firman sama-sama ya. Nah, di sana kita akan berikan kejutan untuk Firman."


"Iya Om, nanti kita semua ke sana. Jenar yakin, bang Firman pasti akan menyukai kejutan kita ini."


Jenar kembali mengedarkan pandangan ke arah Rukmana dan Sutha. Ia bisa melihat jika kedua orang tuanya ini begitu kelelahan. "Ya sudah, mari kita masuk. Ayah dan Bunda beristirahat di kamar Jenar ya. Dan Om Sutopo istirahat di kamar sebelah Jenar, yang kebetulan masih kosong."


Pada akhirnya keempat orang itu memasuki area dalam kontrakan yang di tempati oleh Jenar. Mengistirahatkan tubuh masing-masing dan mempersiapkan untuk memberikan kejutan untuk lelaki bernama Firman.


🍁🍁🍁🍁🍁


Happy birthday to you...


"Yeeeeee .... selamat ulang tahun Sayang. Semoga panjang umur, bahagia selalu dan segera menikahiku!"


Di sebuah kamar kos, Stevi membawa cake lengkap dengan lilinnya untuk ia berikan kepada sang kekasih. Sebuah cake kecil yang ia beli di bakery shop yang terletak tidak jauh dari kos milik Firman sebagai salah satu wujud rasa cintanya kepada lelaki ini. Dan benar saja, kejutan Stevi ini sungguh membuat Firman merasa begitu dicintai.


"Terima kasih Sayang!"


Selepas meniup lilin dengan angka dua puluh lima tahun itu, Firman memberikan kecupan singkat di bibir sang kekasih. Mungkin sebagai ucapan terimakasih atas kejutan yang telah diberikan.


"Bagaimana? Apakah kamu menyukai kejutanku ini Sayang?"


Firman tersenyum lebar seraya menganggukkan kepala. "Tentu Sayang. Aku sangat menyukainya. Karena kamu adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku dan memberiku kejutan."


Dipuji oleh Firman, membuat hati Stevi seakan terbang ke awan. Senyum di bibirnya pun tiada henti mengembang. "Sekarang kamu bisa melihat bukan jika aku lebih baik dari Jenar yang katamu akan menjadi calon istrimu itu? Lihatlah, dia bahkan tidak memberimu kejutan apapun di hari ulang tahunmu. Sungguh tidak perhatian sama sekali."


Jenar, nama yang hampir dilupakan oleh Firman di mana gadis itu merupakan calon istrinya. Namun entah mengapa, akhir-akhir ini ia begitu malas untuk mengingat-ingat perihal Jenar. Dan hasrat untuk memiliki gadis itu tidak lagi menggebu seperti dulu. Entah, mungkin ia sudah kecanduan dengan tubuh Stevi yang berulang kali memuaskannya.


"Sudahlah Sayang. Jangan bahas lagi perihal Jenar. Dia pasti lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunku. Jadi tidak perlu dibahas lagi. Bisa-bisa aku kehilangan mood."


Mendengar Firman yang seolah tidak ingin membicarakan Jenar, semakin membuat Stevi melambung tinggi. Ia yakin jika perasaan Firman untuk Jenar lambat laun akan terkikis habis dan tidak akan tersisa sedikitpun. Ia pun meletakkan cake yang masih berada di tangannya ke atas nakas. Kemudian bergelayut manja di dekapan Firman.

__ADS_1


"Ya sudah, agar mood kamu tetap baik, kamu mau meminta kado apa dariku Sayang? Tapi malam ini aku belum membawa apapun. Jadi mungkin baru besok aku bisa membelikanmu kado."


Firman menyeringai nakal. Entah mengapa, malam ini hasrat untuk menjamah tubuh Stevi seakan kian menggebu. Tangannya pun mulai nakal dan menelusup masuk ke dalam blouse ketat yang dipakai oleh Stevi.


"Aku mau ini Sayang!" Firman berujar sembari mer*emas-re*mas kedua gundukan sintal milik Stevi yang sukses membuat tubuh wanita itu menegang seketika.


"Aaahhh .... Sayang, apakah hanya itu saja yang kamu mau?"


Tubuh Stevi sudah bergeliat layaknya cacing kepanasan kala lelaki ini begitu lihai memainkan jemari tangannya.


"Tentu tidak Sayang, aku juga mau ini!"


Firman membisikkan kata-kata manja di telinga Stevi dan hembusan napas lelaki itu juga terasa semakin membuat bulu kuduk sang wanita meremang dan berdiri. Ditambah jemari tangan Firman yang sudah bergeser di area paha Stevi yang semakin membuat wanita itu hilang kendali.


Tanpa membuang banyak waktu, Stevi mendorong tubuh Firman hingga kini posisinya berbaring di atas sofa kemudian dengan penuh na*fsu wanita itu melucuti pakaian Firman dan pakaian yang ia kenakan sendiri hingga tidak ada sehelai benang pun yang menutupinya. Gegas, wanita itu menindih tubuh Firman dan memimpin permainannya.


Sementara itu di halaman depan kos milik Firman, Jenar, Rukmana, Sutha dan Sutopo baru saja tiba di mana Firman berada. Gegara Jenar yang susah dibangunkan, membuat rencana mereka untuk tiba di kos milik Firman di jam dua belas tepat menjadi sedikit berantakan. Dan baru di jam setengah satu dini hari, mereka tiba di sini.


"Nah Jenar, kamar Firman ada di pojok belakang itu. Kamu nanti lebih dulu masuk ke kamar Firman, biarkan Om dan juga ayah bundamu berada di belakang."


Jenar menganggukkan kepala. "Baik Om."


"Ya sudah, ayo kita segera ke sana."


Sembari membawa Black Forest, Jenar berjalan menyusuri kamar-kamar kos yang ada di sini. Salah satu kos bebas yang siapa saja bisa memasuki tempat ini dan tidak terbatas oleh waktu. Sedangkan Sutopo dan kedua orang tua Jenar berada sedikit lebih jauh di belakang punggung Jenar.


Tiba di depan pintu kamar yang dimaksud oleh Sutopo, Jenar lebih dulu menghirup napas dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan. Rasa-rasanya ia juga gugup akan ekspresi apa yang ditampakkan oleh Firman ketika mendapatkan kejutan ini. Perlahan, ia memutar knop pintu yang kebetulan tidak di kunci dan yang nampak hanyalah suasana remang-remang.


"Ahhh .... aahhh .... ssshhh ... yeeaahh.... baby.. "


"Emmphh .... sshhh .... sshhh ... uhhh... Sayang...."


Dahi Jenar sedikit mengerut ketika indera pendengarannya menangkap gelombang suara yang terdengar begitu aneh. Untuk memupus segala rasa ingin tahunya, tangan Jenar meraba di salah satu sudut dinding dan ia berhasil menemukan saklar lampu.


Suasana yang sebelumnya remang-remang kini berubah benderang setelah lampu di ruangan ini menyala. Dan betapa terkejutnya Jenar ketika sapuan pandangannya berhenti di sebuah selimut tebal yang bergerak-gerak di atas sofa.


Dada Jenar terasa bergemuruh dan kakinya sedikit bergetar. Suara ******* yang semakin terdengar jelas itulah yang seakan menuntun langkah kaki Jenar untuk bisa lebih dekat ke arah sofa itu.


Gadis itu tidak lagi dapat menahan air matanya. Ia letakkan kue yang ia bawa di samping kue yang diberikan oleh Stevi dan....


"Bang Firman!!!!! Breng*sek kamu Bang!!!"


Jenar berteriak lantang setelah ia menyibak selimut tebal yang menutupi dua manusia yang tengah menyatukan raga dan saling bertukar keringat ini.


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Duda Tampan Pemikat Hati ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya.. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik gift atau jika memiliki vote yang masih belum terpakai bisa diberikan di sini... ☺☺

__ADS_1


Salam Love, love, love❀❀❀


🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca


__ADS_2