Duda Tampan Pemikat Hati

Duda Tampan Pemikat Hati
DTPH 15 : Pos Ronda


__ADS_3


"Ya Allah Gusti, Jenarrrr!!!"


Malam ini di pos ronda, Jenar yang tengah duduk diantara kumpulan bapak-bapak komplek seketika tubuhnya terperanjat kala mendengar suara teriakan seorang wanita yang terdengar begitu familiar di telinganya. Kepalanya terangakat dan ia tautkan pandangannya ke arah sumber suara. Nampak seorang wanita hampir memasuki usia paruh baya berdaster dan wajahnya diolesi dengan masker, mengambil langkah kaki lebar untuk bisa segera tiba di mana Jenar berada. Tidak hanya itu saja, wanita itu juga membawa seblak kasur yang entah akan ia gunakan untuk apa.


"Ya Tuhan, itu sepertinya makhluk halus. Lihatlah, wajahnya putih semua seperti itu."


Salah seorang bapak ikut menoleh ke arah sumber suara. Ia bahkan sampai mengucek-ucek mata karena dari kejauhan terlihat sesosok makhluk yang wajahnya nampak begitu menyeramkan. Wajahnya putih seperti kuntilanak. Ia berpikir jika itu hanyalah halusinasinya saja, namun sosok itu malah terlihat semakin mendekat.


Sutha yang mendengar ucapan tetangganya ini hanya bisa menghela nafas dalam dan ia hembuskan sedikit kasar. Ia tidak habis pikir jika wanita tercantik yang ia miliki dan yang begitu ia cintai dianggap sebagai makhluk halus.


"Pak, itu bukan makhluk halus. Itu istri saya."


"Ah pak Sutha ini becanda saja. Mana mungkin itu ibu Rukmana Pak. Bu Rukmana cantik, tapi itu." Lelaki itu menjeda ucapannya dan sedikit bergidik ngeri. "Sungguh menakutkan."


"Kalau pak Samsul ini takut, mengapa tidak langsung lari? Dia itu istri saya Pak. Masa iya ada makhluk halus yang berdaster seperti itu? Dan lihatlah, kaki wanita itu menapak di atas tanah."


Lelaki bernama Samsul itu menggeser pandangannya ke arah bawah. Ia sedikit lega karena kaki makhluk yang ia kira sebagai kuntilanak itu menapak di tanah bahkan sandal swallow juga terlihat membalut telapak kakinya.


"Ahahahaha saya kira hantu beneran Pak."


Jenar yang sempat terpaku hanya bisa menatap tubuh wanita yang semakin mendekat ke arahnya itu dengan tatapan nanar. Apalagi saat melihat amunisi apa yang berada di dalam genggaman tangan sang bunda. Bulu kuduk Jenar terasa semakin meremang.


"Aduh Yah, Bunda menyusul kita. Ayo kita segera pulang dari sini Yah. Kalau tidak segera lari, bisa-bisa pos ronda ini rubuh karena teriakan Bunda."


Jenar, gadis belia itu nampak begitu panik. Pasalnya, seumur-umur ia ikut nimbrung bapak-bapak komplek ketika ronda, baru kali ini ia melihat sang bunda mendatanginya dengan membawa seblak kasur. Ia begitu takut jika seblak kasur itu akan mendarat mulus di bokongnya. Ia ingin segera beranjak dari posisi duduknya, namun ditahan oleh Sutha.


"Tetaplah di sini Jen. Tidak perlu kemana-mana."


"Tapi Yah, bunda kalau sudah mengamuk pasti akan sangat mengerikan. Jenar takut jika sampai pos ronda ini roboh Yah."

__ADS_1


Terdengar begitu hiperbola, namun ucapan Jenar inilah yang membuat kumpulan bapak komplek ini tergelak bersamaan. Gadis ini memang berbeda dengan gadis-gadis seusianya. Jika kebanyakan gadis seusianya sibuk dengan aktivitas mereka sendiri-sendiri seperti berselancar di dunia maya. Posting foto-foto di instagram, ber-tiktok ria atau apapun itu, putri pasangan Sutha dan Rukmana ini justru banyak menghabiskan waktu yang ia miliki untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan seperti ini. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika nama Jenar begitu terkenal di seantero komplek ini.


Sutha hanya tersenyum simpul. "Tidak akan terjadi apapun Jen. Percaya sama Ayah!"


Tak selang lama, Rukmana berhasil menjangkau pos ronda ini. Ia berdiri tepat di depan kumpulan bapak-bapak komplek yang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk mereka artikan.


"Bunda cari kemana-mana bahkan sampai ke kolong tempat tidur ternyata kamu di sini Jen?"


Napas Rukmana sedikit tersengal-sengal. Jarak pos ronda dengan rumahnya yang lumayan jauh, membuat wanita itu kelelahan. Beruntung masker wajah yang ia pakai tidak luntur karena tetes-tetes keringat yang berjatuhan di wajahnya.


Jenar tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tiada gatal. Sebelumnya, ia memang mengatakan ingin segera tidur, namun ternyata diam-diam menyusul sang ayah yang sedang kebagian jatah jaga ronda. "Maaf Bun, tadinya Jenar ingin tidur. Tapi mata Jenar ini tidak bisa terpejam sama sekali. Maka dari itu Jenar menyusul ayah kemari."


"Ckkckkckk... Ini juga gara-gara Ayah. Kenapa Ayah tidak langsung membawa Jenar pulang? Malah membiarkannya berkumpul di sini?"


Rukmana sungguh tidak habis pikir. Suaminya ini terlihat begitu bahagia jika Jenar selalu menemaninya di pos ronda. Padahal esok adalah hari yang begitu menegangkan untuk Jenar sendiri.


"Sudahlah Bun, tidak apa-apa. Biarkan Jenar tetap di sini, mumpung masih bisa menemani Ayah. Jika dia sudah dipersunting oleh Firman, pasti tidak akan bisa lagi menemani Ayah dan bapak-bapak ini ronda bukan?"


Jenar hanya mengerutkan kening. Bisa-bisanya sang Bunda menanyakan perihal hari. Jelas ia sangat ingat besok hari apa. "Hari Senin, Bunda!"


"Astaga ini anak." Rukmana hanya bisa mengelus dada. "Besok itu kamu ujian akhir Jenar. Masa masih nongkrong di pos ronda seperti ini?"


"Tenang Bunda, Jenar sudah belajar maksimal. Jenar pasti bisa mengerjakan soal-soal ujian besok dengan lancar."


Rukmana hanya menatap malas putri semata wayangnya ini. Karena sejatinya bukan itu yang membuat Rukmana diliputi oleh perasaan ketar-ketir. Ia khawatir jika sampai Jenar bangun kesiangan.


"Sudah, sudah, ayo lekas pulang. Ini sudah jam setengah satu, Jenar. Apa mau besok Bunda siram pakai air kamar mandi lagi, hmmmm?"


Mendengar kata-kata disiram air kamar mandi, membuat nyali Jenar menciut. Pada akhirnya, ia bangkit dari posisi duduknya dan mulai bergelayut manja sembari mengapit lengan sang bunda. "Ayo Bunda kita pulang. Jenar janji deh ini terakhir kali Jenar ikut nimbrung bapak-bapak komplek. Setelah ini tidak akan lagi!"


"Huh, sudah telat janji-janjimu itu Jen!"

__ADS_1


Jenar hanya tergelak lirih. Ia semakin bergelayut manja di lengan sang bunda sembari ia giring langkah kaki Rukmana untuk segera meninggalkan tempat ini. Pada akhirnya, ibu dan anak itu sudah tidak lagi nampak di pandangan Sutha dan bapak-bapak komplek yang lain.


"Keluarga pak Sutha ini selalu nampak harmonis ya, memang apa rahasianya Pak?" ucap salah seorang bapak sembari ngemil kacang kulit yang ada di hadapannya.


Sutha yang mendengar ucapan tetangganya ini hanya bisa tersenyum simpul. Karena sejatinya ia tidak memiliki rahasia-rahasia khusus untuk memelihara keharmonisan keluarganya.


"Pak, kita hidup di dunia ini hanya sekali, jadi akan sangat merugi jika kesempatan kita hidup di dunia ini tidak kita gunakan dengan sebaik mungkin terutama dalam menjaga keharmonisan rumah tangga."


"Apakah itu artinya pak Sutha dan bu Rukmana tidak pernah berselisih paham?" sambung salah seorang bapak yang juga ingin tahu.


"Pak, yang namanya rumah tangga pasti tidak akan pernah lepas dari apa itu selisih paham. Namun semuanya kembali lagi kepada kita tentang bagaimana cara penyelesaiannya. Kita selesaikan secara baik-baik yaitu dengan kepala dingin ataukah dengan cara ekstrim yaitu dengan cara teriak-teriak dan mengedepankan ego juga emosi."


"Tapi saya lihat pak Sutha ini begitu cocok dengan bu Rukmana. Mungkin kecocokan itulah yang membuat keluarga pak Sutha begitu harmonis seperti itu."


Sutha hanya terkekeh lirih. Ia juga ikut ngemil kacang kulit di depannya ini. "Bukan cocok Pak, namun berupaya untuk saling mencocokkan. Bagaimanapun juga rumah tangga itu terdiri dari dua kepala, dua hati dan dua perasaan. Pastinya akan banyak membawa perbedaan perihal apapun. Entah di dalam cara mendidik anak, menghadapi segala permasalahan atau apapun itu. Namun dengan upaya saling mencocokkan antara keinginan saya dan juga istri, pada akhirnya bisa menemukan dan membuka jalan keluar terbaik."


Kumpulan bapak komplek hanya mengangguk-anggukkan kepala, seakan menjadi isyarat bahwa mereka sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Sutha.


"Lalu, menurut pandangan pak Sutha sendiri, peran keluarga itu seperti apa untuk kita sebagai pemimpin rumah tangga?"


"Bagi saya, keluarga merupakan tempat paling nyaman untuk kita pulang. Setelah kita disibukkan dengan hiruk pikuk permasalahan hidup yang kita temui di luar sana, yang membuat kita merasa lelah, keluarga adalah satu-satunya tempat yang bisa menerima kepulangan kita dengan tangan terbuka. Dekapan dan senyum mereka lah yang menjadikan kita kuat dan bersemangat untuk menjalani kerasnya sebuah kehidupan. Jadi akan sangat merugi bukan jika kita sebagai pemimpin tidak bisa menciptakan dan menjaga keharmonisan keluarga itu sendiri?"


.


.


🍁🍁🍁🍁🍁


Thor, kapan Wisnu dan Jenar bertemu??


Hihihi sabar ya Kak.. inshaAllah di part 20 mereka akan kembali dipertemukan.... 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2